
Andrea mendongak ke atas, dan matanya menjadi sipit, akibat sinar matahari yang terus menyorot dengan tajam ke arahnya.
"Jangan mendongak!" namun Jayden terlihat melarang Andrea melakukannya.
"Kenapa memangnya?!" tanya Andrea agak bingung.
"Kau akan pusing nanti, jadi jangan mendongak dan menatap langit, tetaplah menghadap ke depan!" ucap Jayden, sedikit memberi perhatian pada gadis ini.
Ya, sejujurnya Andrea bahkan jauh lebih cantik dari yang Jayden bayangkan. Gadis itu bahkan semakin terlihat manis saat wajahnya agak memerah akibat sinar matahari yang menyinari wajahnya.
Gurun pasir yang luas, tanpa adanya tumbuhan, atau tempat untuk berteduh, agak membuat mereka semua menghitam kulitnya karena cuaca panas.
Tapi tubuh Andrea, tubuhnya yang putih bersih bak tidak tersentuh sama sekali oleh cahaya matahari, bahkan semakin terlihat anggun saja saat merah merona di pipinya terlihat mulai basah akibat keringat yang bercucuran di sana.
Jayden terus memperhatikan gadis itu. Gadis yang dia sendiri memang memperkirakan usianya yang terlampau cukup jauh darinya. Tebakannya pada Andrea, gadis ini pasti berumur dua puluh tahunan, melihat dari wajah yang masih segar dan muda, lalu kepolisan dan kekanak-kanakan dari gadis ini.
Kretak! kretak! kretak!
Dan langkah kaki kuda mereka sengaja agak sedikit di perlambat, mengingat cuaca panas yang sangat menusuk kepala, jadi mereka lebih nyaman bergerak dengan sedikit lambat.
Gadis ini memang sangat cantik, tak heran kalau Lucifer sendiri tidak mampu menahan perasaan kagumnya pada bocah ini!
Benak Jayden yang terus saja memuji Andrea, memikirkan segala hal positif di otaknya akan sosok indah bak permata yang kini tengah menjadi kekasihnya, meski untuk sementara waktu.
"Jay, aku sangat lelah, bisakah kita istirahat sebentar!?" tanya Manora, membuat Jayden menghilangkan pikirannya yang menari-nari.
"Tunggulah sebentar, hari sudah mulai sore, agak tanggung kalau kita beristirahat sekarang!" dia bahkan menjawab dengan ketus.
Manora terlihat makin kesal saja. Jayden bahkan tidak menoleh ke arahnya saat berbicara, dan itu sungguh membuat dirinya makin benci pada sosok Andrea.
"Jay, lihatlah!" Andrea terlihat senang saat menunjukkan sebuah lembah yang letaknya tidak terlalu jauh dari mereka.
"Apa yang kau lihat?!" tanya Jayden mendekat ke arah Andrea.
"Lihat di sana! ada lembah!" Andrea terlihat sumringah saat mendapati lembah itu di hadapan mereka.
__ADS_1
"Bagus sekali, kau menemukan kehidupan untuk kita!" ucap Jayden sambil tersenyum lebar.
"Apa!?" tapi Manora nampaknya semakin kesal saja. Dia bahkan tidak bisa memungkiri, kalau Jayden sungguh membuat hatinya terluka.
"Ada apa memangnya!?" tanya Vincent pada Manora.
"Tidak! tidak apa-apa," jawab Manora sedikit kesal, namun masih juga berusaha menyembunyikannya.
"Kau sungguh baik-baik saja!?" tanya Vincent pada Manora.
"Bukan urusan kamu!" namun wanita itu menjawab pertanyaan darinya dengan ketus, dan bahkan langsung saja pergi meninggalkan Vincent di belakang.
"Hahh! aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi aku sendiri tidak pernah kau lihat, padahal ada aku yang selalu mengharapkan kamu!" mendadak Vincent pun mengeluh, mungkin dia juga punya perasaan sama Manora.
Entahlah!
"Kau sungguh pintar!" ucap Jayden sambil mengelus rambut Andrea yang indah.
Andrea tersenyum saja, mengingat otaknya yang melupakan segalanya, dan hanya mengingat Jayden adalah kekasihnya.
Huhh!
"Baiklah, kita tidak perlu lagi minta air pada Manora, kita sudah menemukan sumber kehidupan di sini, dan itu semua berkat kau, sayang.." puji Jayden, seolah tidak ada habisnya membuat hati Andrea berbunga-bunga.
"Jangan berlebihan begitu, aku hanya, seolah mengingat tempat ini, entahlah, padahal aku sendiri, apa pernah datang ke tempat ini!?" tanya Andrea pada Jayden.
"Kau pernah datang, tapi dalam otakmu, jadi ikuti saja apa kata pikiran kamu, dengan begitu, kita akan segera sampai di tempat tujuan!" ucap Jayden pada Andrea dengan segala tipu muslihatnya, supaya Andrea tidak curiga akan semua ini.
"Baiklah, kau benar, seakan otakku yang memimpin langkah kakiku, jadi ada baiknya kita terus mengikuti pemikiran ku saja," jawab Andrea.
"Baiklah, ayo kita minum dan istirahat, kita masih harus mengumpulkan tenaga untuk besok!"
Andrea mengangguk, dan kemudian memacu kudanya untuk kembali bergerak cepat menuju lembah tersebut.
Dari gambaran di atas, sudah bisa di pastikan, kalau tempat yang mereka lalui ini sungguh aneh. Tempat yang mulanya hijau bak hitam lebat tak berujung, mendadak mereka menemui Padang pasir yang tandus, bahkan tiada pepohonan atau semacamnya di sana.
__ADS_1
Lalu sekarang, apa yang mereka dapat? sebuah lembah, dengan mata air yang jernih, seolah menjadi obat kehausan dan menolong mereka dari kematian, setelah berhasil berjuang di Padang pasir nan tandus.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Hosh Hosh Hosh!
Nafas ke empat kelompok di belakang terdengar memburu, semakin penat setelah seharian mereka terus berjalan menyusuri Padang pasir ini.
Tapi mereka masih belum juga mendapat petunjuk akan berakhirnya Padang pasir ini. Yang mereka lihat di pelupuk mata hanyalah, dataran luas tak berpenghuni, apa lagi sampai menumbuhkan pepohonan.
Semua yang mereka lihat di sana hanya pasir, dan pasir saja. Tidak ada yang lain selain itu.
"Lucifer, bagaimana kita akan istirahat malam ini!?" tanya Rosella pada Lucifer, bibirnya mulai mengering, dan seluruh wajahnya hitam dan pucat.
Tiga orang lainnya pun sama, mereka pun terlihat hitam dan pucat. Cuaca dan udara panas di tempat itu membakar kulit dan membuat mereka berada di tingkat kehausan yang amat sangat.
"Terus saja bergerak, jika sampai petang kita belum menemukan tempat berteduh, kita terpaksa istirahat saja di sini!" ucap Lucifer, dengan sangat terpaksa.
Dia sebenarnya tidak tega juga kalau harus membawa sahabat-sahabat untuk melakukan perjalanan ini, mengingat mereka masih belum terlalu lihai dalam melakukan petualangan hebat.
Tapi, mereka sendiri yang menawarkan dirinya. Lagi pula, Lucifer tidak pernah memaksa mereka untuk ikut.
Mereka masih terlihat terus bergerak, dan terus berjalan menyusuri Padang pasir yang luas, hingga akhirnya, terlihat matahari mulai terbenam di ufuk barat, sementara mereka masih belum juga mendapat tempat untuk berteduh.
Lucifer akhirnya memilih untuk berhenti, dan turun dari kudanya.
"Kita turun!" ucapnya memberi arahan pada para sahabat yang menemaninya.
"Baiklah!" ucap Wilson, dan dia pun terlihat ikut menyusul turun dari kudanya, kemudian Rosella dan William juga.
"Kita akan beristirahat di sini, tapi rasanya pasti akan jauh lebih dingin, dan waspada akan badai pasir juga, tidak menentu kapan datangnya," sedikit saran dari Lucifer, yang kemudian di anggukkan saja oleh mereka.
"Baiklah, kami akan mengingatnya!"
"Maaf telah merepotkan kalian semua, aku sungguh tidak melarang jika kalian memang ingin kembali!" ucap Lucifer dengan sesal.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ