Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Berada Di Pihak Musuh


__ADS_3

"Perjalanan akan segera kita mulai, sayang.." Ucap Jayden sambil mengikatkan jubah miliknya pada tubuh Andrea.


Gadis itu hanya menurut saja padanya, ternyata memang benar, Andrea akan jadi lebih patuh di penurut pada Jayden. Pria itu telah mengontrol otak dan pikiran Andrea, untuk melupakan Lucifer, dan membuat dirinya bertekuk lutut pada Jayden.


Sungguh suatu rencana yang sangat matang.


"Memangnya kita akan kemana?!" tanya Andrea dengan wajah polosnya.


"Kita akan melakukan perjalanan dan petualangan hebat, kau sendiri sangat menyukai petualangan, jadi mari kita lakukan, aku menyiapkan petualangan ini, karena kamu, kamu yang memaksa aku melakukannya.." Dia benar-benar bak lidah buaya.


"Benarkah? aku yang memaksa kamu melakukan semua ini?!" tanya Andrea merasa sedikit bingung.


"Kenapa kau bingung? bukankah kita hanya harus melakukan perjalanan, dan mencapai puncak yang kita harapkan?" tanya Jayden mencoba mengalihkan pikiran Andrea.


Kuncinya hanya satu untuk mendapat pikiran Andrea runyam, yaitu membolak-balik semua yang ada di masa lalu Andrea.


Dengan begitu, gadis itu akan terpengaruh sendiri dengan bantuan mantra yang di berikan pria tua itu.


"Baiklah, aku suka petualangan! kita akan segera melakukannya, apa Manora dan Vincent juga ikut?" tanya Andrea pada Jayden, yang kini tengah berusaha menguncir rambut Andrea yang tergerai dengan indah.


"Iya, mereka akan ikut bersama kita, mereka juga tidak mau melihat kita berdua dalam kesulitan!" jawab Jayden, lalu menghadap ke arah Andrea, dan tersenyum seramah yang dia bisa.


"Apa kau terlihat cantik?!" tanya Andrea dengan percaya dirinya.


"Ya, kau memang sangat cantik," puji Jayden, tanpa sadar, dia memang mengagumi kecantikan Andrea, "baiklah, mari kita bersiap, aku akan bicara sebentar dengan kakek tua itu," ucap Jayden.


"Pergilah!"


Jayden terlihat bergerak menuju sang pria tua, dan menanyakan suatu hal.


"Bisakah aku minta bantuan kamu lagi?"


"Aku sudah siapkan empat kuda, satu yang paling gahar, hanya kau yang bisa mengendalikannya, dan tiga lainnya, bisa kau lihat sendiri!" jawab pria tua itu.


"Kau sungguh telah banyak membantu aku, tunggu aku merebut semuanya dari Zhagler, aku akan memakmurkan hidup kamu!"


"Aku tidak butuh janji! pergilah! dan jangan kau pikir kau bisa merebut tahta ayah kamu! dia amat sulit untuk kau kalahkan!"

__ADS_1


"Belum pasti juga, baiklah, aku akan pergi!"


Jayden terlihat mengambil kuda dari dalam kandangnya, dan menarik kuda itu keluar.


"Kita akan menunggangi kuda ini?" tanya Andrea dengan Manora dan Vincent di sampingnya.


"Iya sayang, kau benar, kita akan menungganginya, jadi bersiaplah!"


Andrea terlihat senang, tanpa tahu bahwa sekarang otaknya sedang di kendalikan oleh mantra sang pria tua.


Gadis itu terlihat menaiki kudanya dengan bantuan Jayden, lalu setelah itu, semuanya juga terlihat naik.


Perjalanan petaka akan segera di mulai!


Segerombolan kuda Jayden dan kawan-kawan sudah terlihat menjauh dari rumah sang pria tua.


Mereka semua nampak berbondong-bondong dengan pakaian yang tertutup dengan rapi, karena memang cuaca yang amat dingin, membuat mereka harus mengenakan pakaian tebal seperti itu.


Andrea terlihat gagah, dengan pakaian bak pendekar dari negeri timur, yang hendak melakukan perjalanan perang.


Namun yang sangat di sayangkan adalah, dia bergerak bersama musuh, dengan kawalan musuh, dan hendak menuntun musuh untuk mendapat jalan yang ada dalam otaknya.


Penyihir tua itu yang telah membantunya. Karena sebenarnya, pria tua itu adalah..


Lucas!


"Hahh! aku berhutang budi padamu? sejujurnya kau yang harus membayar semua hutang kamu padaku, Jayden! kau harus membawa gadis itu ke tempat yang aku inginkan, dan setelah itu, aku akan membuat kalian semua melunasi hutang dengan lunas!"


Pria tua itu berubah menjadi sosok Lucas dengan segala kegelapan yang dia miliki. Karena sebenarnya, pria tua yang di maksud oleh Jayden, telah tewas, dan jasadnya berada dalam persembunyian.


Tidak akan ada orang yang menemukan sang penyihir, apa lagi sampai berpikir untuk membangkitkannya.


Kini Lucas terlihat terbang, dengan wujud hitam tebalnya, sangat memungkinkan bagi iblis itu untuk terbang, dan meninggalkan tempat si penyihir tua itu dengan cepat, tanpa meninggalkan jejak.


Lucifer dan ke empat kawannya tiba di depan gubuk itu. Tapi aura yang sempat di rasakan Lucifer mengenai makhluk bernama iblis di sana, entah mengapa hilang dalam sekejap.


Mereka terdiam dan berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang aneh, atau mungkin jebakan di sana.

__ADS_1


"Dia tidak ada di sini!" ucap Lucifer.


"Siapa yang kau maksud di sini?" tanya William pada Lucifer.


"Lucas! entah apa yang dia lakukan di tempat ini, tapi ini petunjuk yang jelas, kalau perjalanan Jayden dan Andrea, masih belum terlalu jauh dari sini!"


"Baiklah, itu artinya kita masih bisa mengejar mereka, bukan?" tanya Wilson pada sang kakak.


"Kau benar, bergerak lebih cepat sedikit, maka kita akan segera menemukan Andrea."


Lucifer memacu kudanya lagi, dan bergerak lebih cepat di banding sebelumnya. Pria itu terlihat begitu gahar.


Di matanya, sorot amarah dan dendam pada sosok Jayden membuat dirinya bertambah beringas. Dia ingin sekali tiba dan menghabisi Jayden.


Geretak! geretak! geretak!


Langkah kaki kudanya masih terdengar penuh semangat, mungkin jika di pacu dua atau tiga hari lagi, masih tersisa sedikit tenaganya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara itu, Andrea dan Jayden terlihat sampai di sebuah gurun. Gurun pasir luas, yang entah mengapa bisa ada di sana, bahkan terlihat seakan hutan yang rimbun dan Padang pasir luas itu, terdapat garis yang membentang dengan luas, memisahkan keduanya.


"Wow! kita bahkan tidak tahu akan melalui cuaca panas seperti ini!" ucap Vincent pada semua orang.


"Siapa yang membawa persediaan air?" tanya Jayden pada ketiga anggotanya.


"Aku, tapi hanya cukup untuk diriku sendiri!" jawab Manora, masih sedikit kesal.


"Berbagilah nanti! terutama untuk Andrea, kau tidak akan egois dengan ke empat kawanmu ini, kan?" tanya Jayden pada Manora, dengan tatapan datar.


Ya, sejujurnya hal itu membuat Manora bertambah kesal. Pria itu selalu memaksanya untuk berbagi, berbagi minuman, bahkan berbagi perasaan dengan Andrea.


Bertahun-tahun dia berada di sisi Jayden, tapi benar-benar tidak bisa di bandingkan dengan kedatangan Andrea yang baru saja terjadi beberapa jam terakhir.


Jika saja aku bisa melawan kamu, aku pasti sudah menghabisi gadis ini! awas saja, sampai kamu lupa akan siapa aku, lihatlah apa yang akan aku lakukan pada gadis ini!


Benaknya berbicara, mengutarakan dendamnya, tapi mulutnya diam seribu bahasa, tak mampu menjawab perkataan dari Jayden barusan.

__ADS_1


Bagimu hal ini biasa saja, tapi bagiku, apa mungkin kau pernah memikirkannya?


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2