
Pagi di tempat Lucifer berjalan sudah mulai berubah menjadi siang nan panas. Lucifer melanjutkan perjalanan bersama beberapa rekannya terus menuju ke arah barat, ke arah yang menjadi tujuan mereka sejak awal.
Mereka mendapat dua rekan baru dalam perjalanan, sudah bisa di pastikan mereka adalah Vincent dan Manora.
Dua orang itu akhirnya berjalan satu garis dengan Lucifer dan kelompok The Tiger, menunggangi kuda mereka, dan mencoba menyusuri jalanan terjal menuju tempat tujuan.
"Kita sudah berjalan berhari-hari di sini, dan persediaan kita juga sudah hampir habis, kira-kira masih memerlukan waktu berapa lama untuk bisa sampai di Laut Barat!?" tanya William sedikit lirih pada Lucifer.
Rosella, Wilson, Manora, dan Vincent terlihat sudah berjalan beriringan agak jauh di depan Lucifer dan William. Sementara dua pria itu mengambil garis paling belakang dan hanya berdua saja.
"Aku bahkan tidak lagi ingat kalau perjalanan ini masih tentang mutiara, aku hanya berharap bisa mengantar Andrea pulang dengan selamat, itu saja bagiku sudah lebih dari cukup!" jawab Lucifer.
"Kau bahkan tidak pernah tahu takdir yang akan kau gapai di masa depan, mungkin saja kau berhasil melakukan dua-duanya, tidak ada yang tahu," jawab William sedikit memberi semangat pada Lucifer.
"Kau sungguh pandai menghibur hatiku, tapi kau tidak pernah tahu bagaimana rasa bersalah yang ada di hatiku, yang selalu saja menyalahkan diriku atas takdir Andrea!"
"Dia harus tahu perasaan itu, jangan sampai dia pergi tanpa mengetahui semua yang kamu rasakan, tidak tahu juga apa kalian bisa berjumpa lagi atau tidak."
"Lebih baik aku diam, dari pada bicara, malah membuat beban pikiran dia semakin bertambah," jawab Lucifer sedikit merasa sedih.
"Aku harap kau tidak mengambil jalan yang salah," ucap William, dan setelah itu dua orang tersebut memilih untuk saling diam.
Sementara di depan, empat orang yang sedang berjalan beriringan hanya terlihat diam dan tidak ada suara apapun, selain langkah kaki kuda mereka yang di buat agak pelan.
Entah Rosella, Wilson, atau pun Manora dan Vincent, mereka semua sama sekali tidak bicara.
Suasana di depan sangat hening, sehening malam yang dingin, tanpa hembusan angin, tanpa suara burung hantu, atau pun suara serigala meraung-raung.
Lucifer melihat keadaan yang sangat dingin, namun dia tidak terlalu peduli dengan hal itu. Dia sudah terlalu pusing memikirkan perasaan cemasnya pada Andrea, dan bagaimana caranya mencapai semua tujuannya.
Berbeda dengan Lucifer yang hanya terlihat acuh tak acuh saat mendapati kecanggungan di depan sana, William nampak peduli terhadap situasi itu.
Dia terlihat mulai bergerak maju, dan mendekati ke empat orang di depan, lalu mencoba menimbrung.
"Kalian masih saja saling diam?" tanya William pada ke empat orang itu.
"Aku hanya tidak pernah saja bicara dengan musuh, kecuali saat kami bertarung!" jawab Rosella dengan acuh.
"Sayang, tak perlu merasa canggung, aku dan Vincent dulunya adalah kawan baik, kau bisa menganggap Vincent sebagai kawan dari kekasihmu ini," ucap William pada Rosella.
"Cih, musuh tetap saja musuh, meski dulunya kalian berteman, kalau sekarang sudah berada di pihak musuh, tidak pantas kau sebut dia kawan lama!" ucap Rosella menjatuhkan sang kekasih.
__ADS_1
"Hahh! aku bahkan tidak pernah memusuhi William, dan dia juga tidak pernah memusuhi aku, jadi kenapa sekarang kekasihnya yang jadi musuh aku? ngomong-ngomong tentang musuh, asal kalian tahu saja, aku sungguh pusing saat memikirkannya, bagaimana kalau kita berteman saja sekarang?" tanya Vincent pada semua orang.
"Dasar gila! mau berkawan dengan mereka? kau ini tidak waras apa memang sedang membual yang aneh-aneh? dasar kau!" ucap Manora terlihat kesal.
"Kau bahkan tidak pernah tahu bagaimana kami berkawan di masa lalu, sampai kami harus rela berbagi ibu, aku meny*su ibunya, dan dia sungguh merelakan itu untukku, kau bisa bayangkan betapa dekat kami sewaktu kecil?" tanya Vincent pada Manora, sambil sedikit menceritakan kilas balik kehidupan mereka di masa lalu.
"Baiklah, terserah kau saja, aku tidak lagi peduli!" ucap Manora.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Namun di sisi lain, Andrea masih terlihat rusuh mencoba melepaskan diri dari jeratan tali di tangannya.
Roarrrr!
Brak!
Blam!!!
Suara riuh pertarungan masih terdengar begitu jelas saat Andrea masih terduduk di atas kuda, dan mencoba membuka tali pengikat di tangannya.
"Ayolah! aku mohon!" gumamnya dengan penuh gemetar hebat.
Lama Andrea berusaha melepas talinya, pada akhirnya dia harus gagal, dia akhirnya memilih untuk mengendalikan kuda dengan tangan yang masih tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Krak!
"Arkh!"
Ranting-ranting pepohonan yang kering bahkan dia sambar saja, hingga menggoreskan luka di pipinya, dan mengeluarkan darah yang keluar segar dari sana.
"Aw!" pekik Andrea sambil mengusap darah yang terus saja mengucur keluar itu.
Kretak! kretak! kretak!
Suara lari kudanya terdengar sangat cepat, bahkan bebatuan terjal dan kering pun di sambar saja, tak peduli biarpun di depannya terdapat jurang yang amat dalam!
"Lucifer, aku harap kau tidak terlambat menyusul, maaf telah meninggalkan kamu," ucap Andrea sedikit merasa sedih.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kini Jayden telah terlihat ambruk di atas bebatuan, di hantam di kayu yang kering, dan di jatuhkan di atas tanah berbatu yang keras nan tajam.
__ADS_1
Beruang itu terlihat ganas mencoba menjatuhkan Jayden dan memangsanya, namun sekali lagi, Jayden bukanlah serigala biasa, beberapa kali binatang itu bahkan bisa melepas dirinya dari kematian.
"Kau mau memakan aku?" tanya Jayden, sambil terus mengawasi pergerakan beruang yang terus memutarnya, dan akan segera melahapnya.
Rrrrrrrrrrtttt
"Hehh! baiklah! lihat saja, siapa yang akan jadi santapan siapa!"
Jayden terlihat meraih pedang di sisi bebatuan dengan perlahan, lalu berpikir untuk segera menghabisi beruang tersebut.
Beruang itu menunjukkan gigi dan cakar tajamnya tepat di depan mata Jayden, lalu dia perlahan mencoba menggapai tubuh Jayden yang terkapar.
Roarrrrr!!
Dan saat beruang itu hendak menyerang Jayden, mendadak saja..
Bles!!!!!!!
Pedang Jayden yang tajam berhasil menembus bagian perut beruang tersebut, dan membuat beruang itu terjatuh, lalu akhirnya tewas seketika.
Bruk!
Badan besar nan gemuk, namun juga beringas itu terlihat ambruk menindih tubuh Jayden, dan membuat pria itu tidak mampu bernafas.
"Hahh! kau sangat berat!" ucap Jayden sambil berusaha untuk mengangkat tubuh beruang itu.
"Dasar beruang hitam! aku tidak akan pernah mengampuni kamu! menyingkir saja kau dari sini!!"
Jayden terlihat menyingkirkan tubuh beruang besar itu dengan sekuat tenaga.
"Rrrrrrrrrrtttt!"
Brak!!
"Arkh! akhirnya kau menyingkir juga!" ucap Jayden sambil berdiri dan meluruskan pinggangnya.
"Sial! sekarang aku harus kehilangan gadis itu!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Akhirnya.. ini anak bisa kabur juga.. βΊοΈβΊοΈ
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ