
"Ssshhh!!" pekik Lucifer setelah sapuan ramuan di oleskan di luka bagian perutnya oleh Andrea.
Seketika gadis itu berhenti dari aktivitasnya, dan memandang Lucifer dengan tatapan datar, "apa rasanya sangat sakit?" tanya Andrea setelah beberapa detik memilih terdiam.
"Sedikit saja, bisakah mengoleskannya dengan pelan? sepertinya luka ini sangat panas, entah apa yang membuatnya terasa panas.." Ucap Lucifer pada Andrea.
Sejenak Andrea terdiam membisu, sampai akhirnya, dia memilih untuk menceritakan mimpinya bertemu dengan Martha.
"Lucifer!"
"Ya?"
"Semalam aku mimpi ketemu Martha, ibu kandung kamu.." ucap Andrea.
Lucifer terlihat diam sebentar, sebelum akhirnya dia meladeni pertanyaan Andrea.
"Lalu? apa yang terjadi?"
Kini tangan Andrea terlihat meletakkan wadah ramuan di atas alas, dan mulai sedikit bercerita tentang pertemuan keduanya dengan Martha.
"Dia memang sungguh mirip denganku, bahkan hampir tidak ada bedanya," ucap Andrea sambil membersitkan senyuman manis di bibirnya.
Lucifer mendadak tertunduk. Ada sekelebat bayangan masa lalu antara dia dan ibunya saat dia mendengar Andrea mengucapkan hal barusan.
Kau memang benar Andrea! dia sungguh sama persis dengan dirimu!
"Dia berkata padaku, tentang suatu hal yang sama sekali tidak aku mengerti.."
Mendengar ucapan Andrea, Lucifer jadi penasaran. Menengoklah dia ke arah wajah Andrea, dan memasang wajah penuh tanda tanya.
"Apa yang dia katakan padamu?"
"Dia bilang, ini sudah takdirku, aku datang bukan karena terjebak, tapi memang ini jalan yang telah di tetapkan oleh takdir!" ucap Andrea lalu berhenti, "dia mengajari aku, bagaimana ke depannya menghadapi ini semua, dan aku tahu, jalanku yang harus aku pilih di masa depan.."
Lucifer terdiam membisu. Di palingkan saja wajahnya membelakangi Andrea, sampai akhirnya, tangan mungil Andrea terasa menyentuh tangan kanan Lucifer.
"Lucifer!"
Pria itu kemudian memilih untuk menoleh kembali, "ya?"
"Dia meminta aku untuk mengambil mutiara itu.." ucap Andrea pada Lucifer.
Lucifer memalingkan mukanya lagi. Sejujurnya kontak fisik yang di lakukan oleh mereka berdua, sedikit mengganggu Lucifer, dan membuat pria itu merasa risih.
"Sejak awal kau memang ditakdirkan untuk mengambilnya," jawab Lucifer dengan singkat.
Andrea mengangguk, lalu melepas tangannya dari punggung tangan Lucifer. Setelah lama dia membuat Lucifer bergejolak, rupanya dia baru sadar kalau perbuatannya sudah membuat Lucifer tidak merasa nyaman.
"Aku tahu, aku hanya, aku hanya ragu, apa aku bisa melakukan semua ini atau tidak, hanya itu saja.."
__ADS_1
Lama keduanya terdiam canggung, sampai pada akhirnya, Andrea tidak punya keputusan lain selain bangkit dan meninggalkan Lucifer sendirian.
Tak tak tak tak tak!
Suara langkah kaki Andrea terdengar sampai ke arah kamar Lucifer, dan kemudian dia terlihat keluar lagi membawa satu lembar pakaian untuk Lucifer.
Mengobati luka di bagian perut Lucifer barusan memang mengharuskan pria itu untuk tidak mengenakan satu helai benang pun.
"Ini, pakailah bajumu! aku harus keluar..." ucap Andrea, dengan wajah yang sedikit bimbang.
Tanpa basa-basi lagi, Andrea memilih untuk berbalik dan melangkah pergi.
"Andrea..."
Namun panggilan Lucifer yang terdengar dalam itu, seketika menghentikan langkah kakinya yang telah berada di ambang pintu.
Dia menoleh, dan menatap Lucifer dengan tatapan sayunya.
"Terima kasih sudah merawat lukaku.."
Oh!
Rupanya hanya ucapan terima kasih saja?
Andrea tersenyum songar. Wajah yang barusan terlihat sayu, kini semakin terlihat kesedihannya.
Lucifer mengangguk mendengar penjelasan dari Andrea.
Entah mengapa, dua insan ini terasa semakin canggung saja. Seolah ada sebuah tirai yang menghalangi mereka dari aktivitas pertengkaran yang biasa mereka berdua lakukan.
Ini sungguh sangat aneh.
"Kalau begitu, aku pergi, harus membersihkan bekas angin semalam.."
Lucifer hanya menundukkan kepalanya saja, tanpa melihat gadis asing itu pergi dari rumahnya, dan akhirnya ikut menimbrung para penduduk yang tengah melakukan pembersihan.
"Hai Andrea!" sapa Rosella yang tengah membersihkan pedangnya..
Andrea terduduk di sisi Rosella, lalu dengan kasarnya menghembuskan nafas.
"Hahhh!!" merasa ada yang menindih bagian dadanya dengan benda berat.
"Ada apa denganmu?" tanya Rosella padanya.
"Hanya merasa bingung," jawab Andrea dengan singkat.
"Bingung? apa hanya aku yang tidak terkejut mendengar jawaban darimu?" tanya Rosella sedikit terkekeh.
"Ish! kau ini! aku memang sedang sangat bingung, kau tahu, keberadaan aku di sini, sebenarnya masih tidak membuat aku tahu apa yang harus aku lakukan! mutiara? aku sungguh tidak memahaminya sama sekali.." ucap Andrea agak kesal.
__ADS_1
"Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan Mutiara itu, atau bahkan bagaimana caraku mengambilnya ."
"Andrea, yang aku dengar, mutiara itu tersimpan dan tersegel dalam sebuah kerang di lautan dalam, tidak ada yang bisa mengambilnya selain dua wanita yang telah di takdirkan." Jawab Rosella pada Andrea.
"Aku tahu, tapi salahnya, kenapa malah orang seperti aku yang mendapat tantangan semacam ini? orang yang tidak pernah tahu bagaimana hutan? apa lagi apa isi di dalamnya, yang lebih membuat aku bingung lagi, aku bahkan bukan seorang petualang! lahir dari dua orang yang selalu memanjakan aku, selalu over protective padaku, dan sekarang, aku harus menjalani takdirku sebagai petualang hebat. Wow! terkadang aku sungguh merasa diri ini sangat hebat." Ucapnya terkekeh.
"Kau tahu? petualang hebat bukan yang lahir dari seorang petualang juga, ada sebagian dari mereka yang hebat di luar sana, tapi punya keluarga yang tidak sama."
"Hahh! mungkin memang aku harus segera menyelesaikan tugas berat ini," dia menoleh ke arah Rosella, dan tersenyum pada wanita itu.
Keduanya terkekeh untuk sementara..
"Bagaimana dengan William?"
"Apanya?"
"Dia harus segera melamarmu, atau kamu akan hamil di luar nikah nantinya."
"Tidak ada hukum yang melarangnya bukan?" dia kembali terkekeh, "lalu bagaimana soal malam panjang kamu dengan Lucifer?" sekarang malah Rosella yang meledek Andrea.
"Ah? kenapa memangnya!?" wajah bingung.
"Aku tahu, kau mulai tertarik dengan otot-otot dia yang kekar kan? mengaku sajalah..." nada ini sungguh sangat keterlaluan.
"Apaan si kamu! aku bukannya menyukai dia, hanya saja, luka di perutnya perlu aku olesi ramuan, hanya itu saja.."
Namun tatapan Rosella padanya nampak lain. Ada tatapan menelisik yang tergambar di bola mata Rosella padanya. Dan itu sukses membuat Andrea merasa canggung.
"Apaan si kamu?" salah tingkah.
"Jangan bohong, kalau padaku, kenapa harus berbohong?"
"Bohong apa?"
"Jujurlah..."
"Dasar aneh!!"
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Arkh!!!" pekik pemuda yang kini terlihat terbaring dengan lemah di dalam goa yang gelap.
Wanita di sampingnya terus mengoleskan ramuan hasil pencarian sang sahabat di luka pemuda itu.
Sorot matanya penuh dengan rasa iba. Tapi apalah daya, dia tak cukup nyali untuk memperingatkan pemuda ini.
Jayden! kau sungguh bodoh!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1