
"Siapa itu Lucas!?" tanya Vincent pada mereka semua.
"Lucas adalah iblis yang pada mulanya aku curigai menyebabkan kekacauan ini, dia bahkan menghipnotis Andrea hanya dengan kedua matanya!" ucap William.
"Tahu apa kau!?" tanya Lucifer.
"Kau pikir aku ini bodoh!? aku juga tahu hal itu, sayangnya aku lebih suka diam, dan menyembunyikan kepandaian ku ini.." Percaya diri yang sangat tinggi.
Mereka asik berbincang, hingga tanpa sadar, malam semakin larut saja. Perut mereka semua terasa kenyang usai memakan daging rusa yang sengaja di bawa Wilson sebagai perbekalan.
Hingga akhirnya, malam pun semakin larut. Semuanya sudah tertidur, kecuali Lucifer. Pria itu akhir-akhir ini memang tidak terlalu cukup tidur, tentu saja karena memikirkan Andrea yang menghilang.
Vincent dan Manora tidak menceritakan semua yang terjadi pada Andrea. Iya, mereka tentunya masih di buat bingung harus memilih jalan yang mana, sedangkan mereka sendiri adalah The Wolf, dan sekarang mereka malah masuk dalam kelompok Lucifer.
Sejujurnya tidak terlalu buruk juga bagi Lucifer, hanya saja, mereka sejak dulu di buat bermusuhan oleh nenek moyang mereka. Dan mungkin, alasan itu juga yang membuat dua ras itu masih saling merasa canggung.
Mata Lucifer terlihat tajam menatap langit-langit gua yang kadang terkena semburat cahaya dari arah luar. Tidak menyangka juga kalau dia akan bertemu dengan dua anggota The Wolf, dan malah bersatu di sini.
Hanya saja, pertanyaannya adalah, apa mereka berdua benar-benar tidak tahu apapun tentang Andrea!?
Kenapa mereka berdua tidak membahas soal Andrea sebelumnya? apa mungkin, mereka hanya kesal pada Jayden saja, dan setelah semua ini mereda, mereka hanya akan kembali pada Jayden!?
Arkh!
Memikirkannya saja rasanya sangat rumit, bagaimana Lucifer akan menyelesaikan semua ini!?
Dia benar-benar tak bisa tidur dengan nyenyak. Dia terus saja membuka matanya, seolah ada kekhawatiran sendiri di hatinya, kalau-kalau Manora dan Vincent akan menyerang kelompoknya saat mereka semua sudah tertidur.
Iya, tidak ada yang salah saat berprasangka buruk pada kelompok musuh, karena memang sejatinya, musuh tetaplah orang yang patut kita waspadai, begitulah pemikiran Lucifer.
Hingga malam hampir berakhir pun, Lucifer masih saja tidak tidur. Dia memilih untuk beranjak dari gua, dan mencari udara segar di luar. Rasanya terus menerus berdiam diri di dalam gua sungguh pengap, seperti ada sesuatu yang menyumpal di ujung hidungnya.
Dia berdiri di pintu gua, dan menatap langit, memandang sinar bulan yang menyala dengan indah, bak lukisan seniman terkenal, bahkan mungkin jauh lebih indah di bandingkan dengan lukisan itu.
Bintang-bintang yang bertaburan di sekeliling bulan, hingga terlihat seluruh permukaan langit tertutup oleh taburan bintang-bintang di malam itu.
__ADS_1
Entah dia harus senang saat melihatnya, atau mungkin dia harus sedih, karena malam yang indah ini, justru ia gambarkan sebagai wajah Andrea yang penuh keluguan dan manis.
Malam ini terasa bahagia jika Andrea berada di sisinya, mengenainya menatapi langit yang sangat indah dan juga menyejukkan mata, hanya saja, di mana gadis itu berada, dia bahkan tidak tahu.
πΊπΊπΊπΊ
Di sisi lain, Andrea pun tak bisa tidur. Dia terduduk di sisi Jayden, dan terus saja menatapi langit, bahkan tanpa berkedip.
Pikirannya runyam, lebih runyam lagi suasana hatinya. Dia tak bisa membedakan pikiran mana yang memang berasal dari jiwanya.
Dia terlihat meragukan semua yang ada di depan mata, termasuk juga soal Jayden sebagai kekasihnya.
Dia juga belum tahu kebenaran yang ada dalam ucapan bayangan yang selalu membayanginya setiap waktu.
Padahal itu adalah sosok Martha, yang selalu siap mendampingi, dan mengingatkan kemana arah yang harus Andrea tuju.
Meski pada akhirnya, Andrea sendiri yang akan menentukan kemana nasib mutiara itu akan berakhir.
Dia terus saja menatap langit, dan mencoba sedikit berkompromi dengan otaknya. Entah kenapa di sana terasa sangat pelik, seolah ada banyak hal yang dia lupakan dan dia tinggalkan.
Dan satu lagi, Jayden mengatakan perjalanan ini ada tujuannya, sedangkan, dia tidak ingat betul tujuan apa yang di maksud oleh Jayden. Dia tidak ingat semuanya, apa mungkin memang benar, Lucifer yang membuat dirinya lupa?
Semua pertanyaan itu membuat dirinya merasa gila. Seolah ada penolakan keras saat dirinya berpikir Lucifer yang membuat dirinya lupa.
Entah apa itu, semuanya serba misteri. Perjalanan ini, kedekatan antara dirinya dengan Jayden, dan pria yang bernama Lucifer, yang katanya telah membuat ingatannya lupa.
Huhh!
Semua ini terasa sangat rumit. Hingga tanpa sadar, saking lamanya Andrea bergelut dengan dirinya sendiri, malam pun sudah berakhir, matahari terlihat muncul dari ufuk timur, dan makin lama makin menyorot tajam ke arah Andrea.
Mata Andrea menyipit, tatkala sinar mentari menyentuh wajahnya, dan mengenai matanya yang sipit.
Tak di sangka, Andrea juga tidak bisa tidur satu malam penuh. Huhh!
Kini dia bangun, beranjak dari duduknya, dan berdiri tepat di sebuah batu nan tinggi, menatap langit, dan mengarah ke arah matahari terbit.
__ADS_1
Senyum sekilas dia tebarkan, lalu terlihatlah sinar cahaya berapi menyentuh tubuhnya. Dia terlihat berwarna terang, seterang mentari pagi.
Cahaya yang keluar di sekujur tubuhnya, dengan berhias kilatan api, seolah membuat dirinya mendapat sebuah kekuatan besar, yang bahkan tiada tandingannya.
Jayden terlihat bangun dari tidurnya, dan tidak mendapati siapapun di sisinya.
Dia langsung beranjak, dan perasaannya berubah menjadi was-was tatkala matanya tidak menangkap sosok Andrea di mana pun.
"Andrea!!" panggilnya dengan keras, "Andrea!!"
Panggilnya ke semua arah, berharap gadis itu masih mendengar dan masih berada di sisinya.
Tapi gadis itu tidak menyahut sama sekali. Dan itu sungguh membuat pikiran Jayden semakin di buat cemas.
"Kemana dia pergi!?"
Dia memutuskan untuk mencari Andrea, dan mulai lah bergerak menuju arah kemana tadi Andrea pergi.
Jayden terpana, saat wanita itu terlihat berwarna terang benderang, menghadap matahari di ufuk timur yang masih terlihat berwarna oranye.
Gadis itu terlihat bersinar, seolah ada cahaya yang terus menemani dan mengelilingi Andrea, apa lagi saat terkena sinar mentari pagi, entah mengapa terlihat indah sekali.
Namun hanya sebentar saja Jayden merasa terpana, karena setelah itu, dia barulah ingat, kekuatan Phoenix itu sudah menjalar ke seluruh tubuh Andrea.
"Gawat!" gumamnya.
Jayden amat ketakutan, dia benar-benar tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, karena jika kekuatan itu sudah mendarah daging di tubuh Andrea, maka semua yang dia angankan, tidak akan pernah terjadi.
"Aku harus membawa kamu pergi sekarang juga!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Semoga Andrea cepat di beri hidayah ππ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1