
Dua pria itu masih terlihat terus bertempur dan melawan dengan senjata mereka masing-masing.
Jayden yang terus mengayunkan pedangnya menuju arah Zhagler dan Zhagler yang juga terus menangkis dan melawan putra angkatnya.
Keduanya terlihat saling memiliki kekuatan yang tidak mudah untuk di patahkan, hingga pertempuran pun terjadi cukup lama.
"Kau hanya anak kecil yang meringkuk di pinggir pantai, yang kemudian dengan kasih sayangku, aku angkat kau menjadi putraku!"
Trang!
"Tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayangmu padaku, Zhagler, dan sekarang barulah aku tahu, kau hanya melihat dan menganggap aku sebagai budakmu!"
Swosh!!
Trang!!
Lagi dan lagi serangan bertubi-tubi dari Jayden berhasil di tangkis oleh Zhagler, dan dengan gagah beraninya, dia melawan putra angkatnya di depan singgasana miliknya.
"Lihatlah dirimu yang sekarang, kau bahkan jauh lebih kejam dariku, aku tidak menyangka anak angkatku yang polos, kini berubah menjadi kejam seperti binatang!"
"Cih! aku memang binatang!!"
Hiyaaaaaa!!
Swosh!!
Blam?!
Dan kali ini serangan mengejutkan dari Jayden berhasil mengenai kaki Zhagler, dan membuat pria itu meringkuk di tanah.
Brukk!
Jayden dengan senyum puasnya mendekati sang ayah, dan kemudian berdiri di sisinya tanpa rasa sopan.
Baginya ayahnya telah mati, lagi pula sudah jelas sekali pria ini mengatakan kalau dia bukanlah ayahnya, jadi untuk apa menghormati dan berlaku sopan saat di depan dia.
"Aku sadar kau bukanlah Jayden putraku, yang aku kenal dulu!!" ucap Zhagler bergumam.
"Aku memang bukan Jayden, semenjak kau mengatakan padaku, kau hanya ayah angkatku saja, dan semenjak itu pula, aku menjadi orang lain, yang siap untuk membunuh kamu!!"
Jayden mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mencoba mengambil ancang-ancang untuk membunuh ayahnya dengan pedang yang ia miliki.
"Jayden! kau sungguh akan membunuh aku?"
"Heng! mencoba mengulur waktu kematian kamu?"
"Hidup dan matiku sudah di tentukan waktunya, kau boleh merampas dan membunuh tubuhku untuk sekarang, namun jika takdir belum mengatakan aku akan mati, maka itu artinya bukan takdirku!!"
__ADS_1
Swosh!!
Dengan gerakan cepat, Zhagler mencoba bangkit dan bergerak menjauh dari Jayden, menyelamatkan dirinya dari serangan yang selalu saja di lakukan putranya pada dirinya.
"Cih! kau takut?"
Ledek Jayden, sambil menurunkan pedangnya.
Dengan tatapan malaikat maut, Jayden akhirnya kembali bergerak, mencoba menjatuhkan sang ayah, dan menghabisinya.
Ia maju ke depan, mengambil langkah cepat, dan kemudian mengarahkan pedangnya tepat di dada sang ayah.
Shutttt!!
Namun sang ayah berhasil menggenggam pedang miliknya, dan menahan serangan darinya yang amat mematikan.
"Sudah aku bilang, jika ini belum waktunya aku akan mati!!"
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zhagler membuat Jayden semakin kesal. Pria ini bahkan terlihat tidak terjadi apa-apa di depan dia sekarang, padahal yang ia tahu, Zhagler adalah seseorang yang berani mengendalikan dirinya.
"Matilah kau, Zhagler!!!"
Hiyaaaaaa!!!
Kini pertempuran semakin memanas, menjadi beringas dan hasrat untuk menghabisi semakin liar. Dua pria yang pada mulanya tidak pernah terlibat konflik sama sekali, hingga akhirnya bertarung lah mereka sampai di titik darah penghabisan.
Dan Zhagler yang memang harus menangkis serangan Jayden, dan kalau bisa membunuh pria muda itu, supaya dia tetap hidup dan menjadi penguasa di muka bumi. Soal mutiara itu, dia pasti akan menemukan cara untuk kembali merebutnya dari Lucifer.
Trang!
Wosh!
Blam!!
Pada menit yang ke sekian kalinya, terdengarlah dengan keras Zhagler yang lagi-lagi harus tumbang, karena kekuatan Jayden yang entah bisa sekuat itu, bahkan melebihi dirinya sendiri.
Zhagler menjadi bingung, ada setan apa yang merasuki jiwa bocah ini, hingga dengan segala kekuatannya, dia bahkan masih belum bisa melawan Jayden.
"Kau tumbang lagi pak tua!"
"Cuih!!" meludah, dan dari sana terlihat darahnya yang merah kental ikut keluar, rupanya dia juga telah terluka di bagian dalam tubuhnya.
"Sudah aku katakan, kau tidak akan mampu melawan aku, jadi menyerah saja!"
"Anak tidak tahu balas budi!!"
Zhagler kembali bangkit, seolah tiada habisnya perlawanan ini, namun kali ini, sudah terlihat begitu jelas siapa yang kiranya akan memenangkan pertempuran.
__ADS_1
Zhagler maju dengan menyiapkan pedangnya, namun pada detik berikutnya, nampak Jayden yang mengeluarkan sebuah pisau kecil, yang kemudian dia arahkan menuju jantung sang ayah.
Bless!!
Belum juga si pak tua menyerang, dia sudah jatuh lebih dulu, dan ambruklah tubuh pria pemimpin itu di atas tanah, tepat di depan singgasana megah miliknya.
Brukk!
Jayden tersenyum, tertawa dengan gembira menyaksikan jatuhnya sang ketua kelompok, hingga terlihat dengan jelas bagaimana dia menginjak tubuh sang ayah, lalu menusuk tubuh itu kembali, seolah senang sekali melihat sang ayah tewas dengan beberapa tusukan pedang di tangannya.
Kini adalah giliran dia untuk menggerakkan musuh, namun sebelum dia pergi menggerakkan musuh, rasanya terus membiarkan Tuan Zhagler berada di sini agak menyulitkan, bisa saja semua orang akan mengatakan kalau dirinya adalah seorang pengkhianat.
Arkh!
Baiklah, baringkan saja tubuh si gemuk itu di atas kasur, dan tutupi saja dengan selimut, buat alibi seolah-olah Tuan Zhagler sedang tertidur di kamarnya.
Ya!
Jayden mengambil kesempatan untuk menyelesaikan semua pekerjaan dia secepat mungkin.
Anak itu dengan bergegas mencabut pisau yang telah berdarah di dada sang ayah, dan kemudian menggendong jasad ayahnya untuk ia baringkan di atas tempat tidur.
Bruk!
Jasad telah terkapar di atas kasur dengan posisi yang amat rapi, memang terlihat seperti orang yang tidur biasa.
Jayden menutupi tubuh Zhagler dari bawah leher hingga ke ujung kaki pria itu, dan kemudian akhirnya pergi untuk rencana selanjutnya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Semua bangsa serigala di kumpulkan menjadi satu, di sebuah aula besar yang kemudian dari balik tirai, muncullah sosok Jayden dengan pakaian penuh kewibawaan ayahnya.
Dia keluar dengan baju kebesaran yang di kenakan ayahnya sebelum ayahnya tewas, dan baju itu kini ia gunakan untuk memimpin para pejuang besar.
"Di mana Tuan Zhagler?" tanya salah seorang pada yang lainnya.
"Entahlah! kita dengarkan saja!"
Jayden terlihat mengangkat tangan kanannya, dan seketika ribuan pasukan yang ada di depan dia berhenti secara serempak.
Di sinilah dia mulai berbicara..
"Ayahku telah mewariskan baju dan kekuasaannya padaku, beliau terlihat tidak baik-baik saja, beliau sedang sakit, dan aku bahkan tak bisa membangunkan ayahku dari ranjang, lalu dia menyerahkan jubah dan pedang istimewa ini padaku, tak lupa juga singgasananya, do'akan saja supaya ayahku dan pemimpin kalian semua cepat pulih dari sakitnya!!"
"Ah? bukankah kita baru saja menemui Tuan Zhagler, dan melihat dia baik-baik saja?" tanya salah seorang pada yang lainnya lagi..
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1