
"Baiklah! kalau begitu, ikutlah denganku! tapi kau tidak boleh membuat aku repot! dan satu lagi, kau tidak boleh manja!" ucap Andrea akhirnya memilih mengangkat beruang itu menjadi anak buahnya dengan terpaksa.
"Benarkah, nyonya? aku tahu kau sangat baik. Huhuhu.... terima kasih telah memberi aku kesempatan berada di sisimu!" dia bergelayut dengan manja di kaki Andrea.
"Hah! sudahlah, kau terlalu berlebihan padaku, sekarang aku harus kembali berjalan, kau tetaplah mengikuti kami berdua, benar, kan, kudaku sayang?" tanya Andrea pada kudanya.
"Aku tahu aku akan selalu menjadi kesayangan kamu, nyonya.." Ternyata kuda itu pun bisa bicara.
"Ah? ka-kau, kau juga bisa bicara?" terkejut lagi.
"Kalau beruang bisa bicara, kenapa kuda tidak boleh?"
"Ah? benar juga, aish! aku jadi bingung sebenarnya di dunia ini apa ada manusia biasa seperti aku?" tanya Andrea pada dirinya sendiri sambil kembali mengendalikan kudanya untuk berjalan.
"Tunggu dulu! kau ini kuda yang di berikan pria itu, bukan?" tanya Andrea menaruh sedikit curiga.
"Iya, tapi tuanku sudah tewas! iblis itu menyerangnya, dan seketika tuanku tewas di tangan iblis itu, pada mulanya aku pun sama, di buat setakluk mungkin pada pria yang bersamamu, dan juga dia yang menyamar sebagai tuanku!"
"Iblis? maksud kamu mungkin Lucas.."
"Entahlah, aku tidak tahu namanya, yang pasti, aku melihat tuanku yang terbunuh karena di cekik oleh iblis itu, aku di buat lupa dengan sosok tuanku yang asli, hingga saat kamu ingat siapa dirimu, aku pun akhirnya mengingat siapa aku, aku tahu mungkin kita memang di takdirkan jadi teman perjalanan."
"Kau senang jadi teman perjalananku?" tanya Andrea dengan senyum lebarnya.
"Banyak hal yang aku sukai di dunia ini, tapi saat bertemu denganmu, bagiku kaulah yang terbaik bagiku, kau memberiku ketenangan, mungkin beruang juga merasakan apa yang aku rasakan, hingga dia berani menyusul kamu setelah melalui kehidupan yang baru lagi, benar begitu, kan, beruang?"
"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, tapi perasaanku jadi sangat tenang saat melihat raut wajahmu, nyonya!"
"Haha... baiklah, mulai sekarang, kita jadi rekan perjalanan yang baik, ya! aku senang ada kawan mengobrol selama perjalanan ini!"
Gadis itu merasa senang saat pujian terus terlontar untuknya, ia bahkan tidak menyangka kalau rekan perjalanan dia adalah dua ekor binatang besar nan kuat.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Saat itu, rombongan Lucifer terlihat telah tiba di sungai yang mengalir dengan deras. Mereka berhenti di pesisir timur, karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyeberang menuju arah barat.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka di tempat ini akan ada sungai dan daratan yang terlihat amat hijau di seberang sana!" ucap William merasa bingung.
Sungai itu memang membentang, menjulur dari arah selatan hingga ke Utara, sementara itu, mereka perlu menyeberang melalui aliran deras itu untuk sampai di barat sungai.
Carilah tempat di mana tidak ada embun, tapi daunnya begitu segar dan hijau, bahkan binatang pun menunduk saat berjumpa dengan gadis itu, maka tempat itu adalah tempat yang telah di lalui oleh gadis itu..
"Seharusnya sungai ini memang tidak ada di sini, kecuali memang Andrea telah melalui jalan ini sebelumnya!" ucap Lucas begitu yakin.
Karena itulah dia amat yakin, kalau ini bukanlah sebuah kebetulan, seharusnya, ada bukti lain yang memberatkan keyakinannya, yaitu soal binatang yang merunduk!
Mendadak, sebuah kejadian terjadi pada mereka.
Seekor buaya terlihat muncul ke permukaan, menghadap ke arah mereka semua.
"Ah? ada buaya!" ucap Wilson was-was.
Semuanya mundur, kecuali Lucifer. Entah mengapa dia punya pemikiran sendiri tentang binatang yang ada di hadapannya itu.
"Lucifer, mundur lah! gigi kamu bahkan tidak cukup kuat untuk menggigit ekornya!" ucap Rosella nampak cemas.
Laki-laki itu duduk berjongkok, menghadap mulut buaya itu, dan dari jarak sedekat itu, seharusnya buaya itu sudah menyergapnya selagi ada kesempatan.
Namun, dia lagi-lagi di buat kagum. Buaya itu bahkan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya, dan terlihat menutup mulutnya, seakan memberi hormat pada Lucifer.
"Aku tahu anda adalah orang yang telah di takdirkan!" ucap buaya itu pada Lucifer.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu katakan!" jawab Lucifer dengan lirih.
Sahabat-sahabatnya hanya diam dan penuh rasa was-was yang luar biasa di belakang, mereka hanya terus mencoba mengawasi buaya itu, kali saja dia sedang mencari kesempatan untuk melawan.
"Kau adalah pria yang telah di takdirkan, untuk menemani gadis itu, gadis yang telah memberiku kehidupan, yang telah mengalirkan air di sungai kami yang mulanya telah mengering, sekarang kami tidak lagi kelaparan, udara segar yang dia bawa dari tubuhnya telah membangkitkan kematian kami, dia adalah gadis yang menjadi penolong kami!"
"Kau sedang bicara tentang seorang gadis?"
"Aku melukai dan mencoba mematahkan kaki pria yang terus mencoba mengejarnya! aku tahu cara ini tidak akan bertahan lama, dia pasti akan segera menyusul gadis itu dengan cepat, sebelum dia bangkit dari lukanya, segeralah menyusul gadis itu!"
__ADS_1
"Aku mengerti!" Lucifer terlihat bangkit dari duduknya, "bagaimana aku bisa melalui sungai ini?"
"Ada bagian yang dangkal, yang bisa kamu lalui dengan kuda tunggangan kamu, ikuti aku!"
Buaya itu terlihat kembali ke sungai, dan dengan bergegas, Lucifer mencoba membuntutinya.
"Lucifer, kau mau kemana?" tanya Rosella pada pria itu.
"Dia menunjukkan jalan padaku!"
"Kau percaya pada binatang itu? bagaimana kalau dia hanya sedang menipu kamu?" tanya Rosella lagi dengan wajah penuh kecemasan.
"Aku tidak tahu kalau belum mencobanya!" namun pria itu benar-benar nekad mengikuti buaya itu.
Dia bergegas mengikuti sang buaya, masuk ke dalam sungai, dengan menunggangi kudanya, lalu dengan terpaksa, semua rekannya pun terlihat mengikuti di belakang.
"Kau tahu buaya hanya binatang penipu, kan?" tanya Rosella pada Wilson.
"Kau tahu? sejujurnya aku pun tak yakin dengan jalan ini," jawab Wilson lirih.
Sementara itu, Vincent dan Manora yang berada di garis paling belakang terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mereka sibuk memikirkan bagaimana mereka akan mengambil jalan. Sebenarnya sebelumnya mereka memang sudah yakin akan berjalan dengan Lucifer.
Tapi entah angin dari mana, yang kembali membuat mereka merasa bersalah pada anak Zhagler itu. Mereka saling pandang dan sesekali memberi kode keras, tapi yang sangat di sayangkan adalah, mereka seolah tak punya kekuatan untuk memilih jalan mana yang mereka inginkan.
Hingga akhirnya, tibalah mereka di tepi sungai dengan selamat.
Merasa sudah aman, Lucifer mulai bergerak menuju daratan, dan tanpa sengaja, matanya menangkap keberadaan seseorang di sana.
"Jayden!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kira" si Manora sama Vincent bakalan milih Lucifer apa Jayden ya?
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ