Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Terkena Pisau


__ADS_3

"Come on, Baby... kemarilah, jangan buat aku marah..." Suara Gilbert terdengar begitu lembut, tapi kelembutan itu malah membuat Andrea semakin ketakutan.


Andrea meringkuk di pojok ruangan sempit dan gelap itu, tanpa bergeming sedikitpun. Rasa takut dan cemas di hatinya benar-benar tidak bisa dia lawan, meskipun hanya untuk bergerak dari tempat itu saja.


"Dre!!! jangan buat aku marah!!!"


Di luar sana, nampak Gilbert yang mengambil pistol di saku celananya, dan langsung mengarahkan pistol itu ke arah pintu.


Dor!!


"Aaa..."


Andrea semakin di buat ketakutan setengah mati, dalam hatinya selalu ada harapan kalau Lucifer itu nyata, Lucifer yang selalu menolong dia dalam bahaya...


"Semoga kau nyata Lucifer..."


Satu kali tembakan tidak membuat pintu rapuh, maka Gilbert lagi-lagi menembakkan pelurunya lagi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghujani pintu tersebut menggunakan peluru.


Dor!


Dor!


Dor!!


"Aaaaa!!!"


Brak!!


Pintu di tendang saja oleh Gilbert, dan menampilkan wajah ketakutan Andrea di sana, tengah meringkuk dengan rambut yang sudah acak-acakan tidak jelas.


"Sayang....."


Laki-laki itu mendekat dengan perlahan, sambil terus membersitkan senyuman tipis dan jahatnya pada Andrea..


"Jangan mendekat!"


Ucap Andrea terus mencoba membuat laki-laki Casanova itu menghindar dari tubuhnya. Namun agaknya Gilbert pun tak mau kalah begitu saja dengan gadis ini.


Gadis yang sudah dia incar selama lebih dari satu tahun lamanya, ya, bukan karena dia mencintai Andrea, lebih tepatnya, karena dia ingin menghancurkan gadis ini dan namanya yang sudah populer di kampus mereka.


Kini terlihat dengan jelas Gilbert yang duduk berjongkok di depan Andrea, masih terus menatapi gadis itu di tengah-tengah ketakutannya.


"Sayang, aku tidak akan melukai kamu.... kenapa kau malah pergi dariku? bukankah kita hampir saja menikmatinya?" tanya Gilbert pada sang kekasih.


Sekarang waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, dan itu artinya malam masih sedikit panjang. Lalu bagaimana Andrea akan menghabiskan sisa-sisa malam ini di villa neraka ini?

__ADS_1


"Ta-tapi.. tapi kau membawa pisau, dan kau juga menembakan peluru, kau pasti akan membunuh aku, iya, kan?" tanya Andrea dengan polosnya.


Gilbert terkekeh, di jatuhkan saja pisau di tangan kanannya, dan pistol di tangan kirinya, ke lantai, membiarkan dua senjata itu beristirahat di sana sejenak.


Prak!


"Kau lihat?"


Ya, memang pada saat itu, Andrea melihatnya sendiri, laki-laki itu dengan sengaja membuang dua senjata di kedua tangannya, tapi tentu saja Andrea masih takut. Membuang senjata, bukan berarti Gilbert sudah tidak bisa melukai, kan?


"Sayang, jangan takut, aku ini kekasih kamu, mana mungkin aku akan melukai kamu, kemarilah, mari kita tenangkan pikiran dan jiwa kamu, kau mungkin memang lelah, karena itulah kau marah padaku, aku minta maaf..." Ucap Gilbert sambil mengulurkan tangannya, mencoba mengajak damai dengan Andrea.


Entah ajakan itu memang tulus atau tidak, tiada yang tahu, hanya saja, laki-laki itu memang paling pandai dalam berbohong.


"Tidak! aku tidak mau! kau hampir melecehkan aku! kau hampir...."


Mendengar ocehan ruwet yang keluar dari mulut Andrea membuat Gilbert kesal. Laki-laki itu terlihat marah, dan dengan kesalnya, dia mengambil pisau di atas lantai kembali, dan ia gunakan untuk membungkam mulut Andrea.


Gubrak!!


"Aaaaaaa...."


Teriak Andrea ketakutan, saat Gilbert mengarahkan pisau kecil ke arah ceruk lehernya.


Andrea terus menggeleng ketakutan, menangis terisak, dan tidak mampu berkata-kata lagi.


Malam ini dia pasrahkan semuanya pada Tuhan, dia tidak bisa pergi dari sini tanpa bantuan siapapun, sedangkan Villa ini letaknya di pegunungan, jauh dari tempat tinggal manusia, jadi kesempatan untuk hidup, rasanya kemungkinan kecil saja bisa terjadi.


Aku ingin pulang...


Benak Andrea berkata-kata, mengatakan segala keluh kesahnya, menyesal tidak menuruti ucapan sang ayah, dan menyesal karena telah menjadi gadis yang mengagumi Gilbert.


Dia ingin sekali pulang, dia ingin sekali menemui ayah dan ibunya untuk minta maaf, dan ingin memperbaiki semua yang salah darinya.


"Ayah, aku ingin pulang?!"


Gubrak!


Gubrak!!


Mendadak terdengar langkah kaki dari beberapa orang di luar sana, yang kemudian terlihat berhenti di depan pintu tempat persembunyian Andrea barusan.


"Jatuhkan senjata kamu!!" Ucap pria bermasker hitam, dan bermata sipit, berkulit sedikit putih, ya, sebenarnya kulit pria itu lebih dominan ke kuning Langsat, hanya saja, dia terlihat begitu bersih dan bening.


Rupanya mereka adalah anggota kepolisian, yang telah lama mengawasi Gilbert.

__ADS_1


"Jatuhkan senjatamu!!" ucap pria itu lagi pada Gilbert.


Gilbert bukannya takut, laki-laki itu malah tersenyum menyeringai..


"Hahaha... kalian mau tangkap aku? lihatlah! siapa yang jauh lebih berkuasa di sini? kau membawa banyak anggota, tapi di sini aku punya wanita! kau menembak aku, maka akan aku sayatkan pisau ini ke lehernya!!"


"Tidak! jangan lakukan itu! aku mohon!!" ucap Andrea dengan penuh ketakutan.


Gilbert menyingkap rambut Andrea yang berantakan mengenai wajahnya, lengket karena air mata dan keringat yang bercampur menjadi satu.


Hingga terlihat dengan jelas wajah Andrea yang cantik dan begitu imut oleh mata semua anggota kepolisian.


Mereka semua melihatnya, namun berusaha untuk tetap fokus pada sang pelaku. Salah satu memberi kode, kode lewat lirikan mata, yang kemudian di tangkap saja oleh Gilbert.


"Kenapa harus memberi kode? kenapa kalian tidak langsung menembak aku saja? apa kalian tidak berani melakukannya?" tanya Gilbert sedikit menantang.


"Ayolah! apa kau sungguh tidak ingin berdamai? cobalah untuk bermain dengan kami! kami tawarkan uang sebagai gantinya, kau mau?" tanya salah seorang anggota yang masih bermasker.


Sementara, diam-diam, satu orang anggota polisi mencari sebuah lubang, yang arahnya mengarah pada ruangan kecil itu.


Dia mencoba mencari celah sekecil apapun, asal bisa memasukkan peluru ke dalamnya, hingga pada beberapa detik setelahnya, dia menemukan sebuah tempat terbaik untuk membidik musuhnya.


"Ayolah.. kau tak perlu melakukan semua ini bukan?"


"Jatuhkan senjata kamu!!" ucap Gilbert sudah mulai merasa takut.


Sang polisi menurut saja, di letakkan saja senjata di tangannya di atas lantai, dan di tendang ke samping, hingga letaknya berada jauh darinya.


"Lihat! aku sudah menurut! bisakah kau juga menurut pada kami?"


"Mimpi saja kau!!"


Cresssss!!


"Aaa.."


Dor!!


Pisau kecil di tangan Gilbert berhasil dia sayatkan di leher Andrea, hingga terciptalah luka yang kemudian memunculkan darah segar darinya, bersamaan dengan peluru sang anggota kepolisian yang kemudian mengenai kepala Gilbert tanpa ampun.


Dengan cepat polisi yang bermasker itu meraih tubuh Andrea, dan membawanya keluar dari Villa..


Jangan menyerah! kau harus hidup!


💜💜💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2