
Dua pria itu terlihat menuju ke dalam gua, dan melihat kerumunan orang di sana.
"Wow! aku tidak menyangka kalian bisa tidak bermusuhan.." ucap Lucifer meledek.
Namun matanya di buat terkesan oleh pemandangan seorang pria yang tengah bertubuh polos di samping Andrea, tengah memekik kesakitan akibat luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Hei, sobat! ada apa denganmu? kau sudah tumbang hanya karena luka-luka itu?" tanya Lucifer dengan nada meledek.
"Ssshhh!! semua ini ulahmu! kau yang telah melukai aku!!" ucap Jayden dengan kesal.
"Hahaha... aku pikir kau sudah cukup tangguh untuk datang melawanku, jadi tidak ada pemikiran dalam otakku kalau kamu akan tumbang hanya karena luka cakaran itu.."
"Dasar gila!!!" umpat Jayden padanya.
"Kau bilang apa barusan?"
"Sudahlah! ini bukan saatnya berkelahi! kau lihat sendiri, kan, Lucifer! dia sungguh kesakitan, lukanya hampir membunuh nyawanya, apa kau izinkan aku untuk menolongnya?" tanya Andrea pada Lucifer.
"Menolong anak ini?"
Andrea hanya mengangguk saja.
"Cihh! kau pikir aku peduli? yang benar saja, kalau mau ya lakukan saja.." ucap Lucifer tidak terlalu peduli.
"Baiklah! kalau begitu, mari kita lakukan!!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Sssshhhhh!!
"Tahanlah sebentar! ini tidak akan lama!" ucap Andrea pada Jayden.
"Kau sudah hampir menghabiskan waktu dua jam untuk mengoleskannya, apa bagimu itu singkat?" ucap Jayden kesal.
"Dasar pengecut! rasanya bahkan sama seperti di sayat pakai pisau, apa bagimu ini sangat sakit?"
"Apa kau tidak pernah merasakan sakitnya di sayat pisau? dasar bodoh!" umpatnya pada gadis itu.
"Aku tidak pernah di sayat menggunakan pisau, tapi aku pernah merasakan betapa sakitnya saat di cambuk oleh ayahmu, cambuk besi yang di panaskan dengan api lebih dulu, sampai aku tidak sadar selama satu hari satu malam.." ucap gadis itu membuat Jayden terdiam.
Dia sendiri bahkan tidak pernah merasakan cambuk ayahnya yang sangat mengerikan. Tapi gadis ini, dengan tubuh sekecil ini, dia bahkan begitu tangguh saat tubuhnya hampir hancur karena cambuk itu.
"Kau tahu? betapa bodohnya kau, yang mengikuti jejak ayahmu, aku tahu di kota kalian, hanya ada dua nasib di sana.."
"Apa maksud kamu?"
"Yang pertama, bisa kenyang kalau lebih tangguh, dan mati kalau tidak cukup kekuatan untuk bertanding." Gadis itu masih setia mengoleskan ramuan di luka Jayden, "jujur saja, aku miris melihatnya, bahkan kehidupan kalian jauh lebih menyedihkan dari pada ras harimau, hahh, apa kau tidak pernah berpikir untuk mengubah hidup kalian menjadi lebih baik?"
"Di gunung es tidak banyak makanan, sekalinya ada, kelompok kami terlalu banyak, hanya bertanding sampai mati yang bisa mengurangi jumlah populasi kami.." jawab Jayden atas pertanyaan dari Andrea.
"Itu artinya ayahmu orang payah! tidak tahu caranya memimpin rakyat, dan tidak tahu caranya membuat rakyat hidup enak!" gadis itu masih fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Apa ras mu? kenapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya Jayden, menjadi lebih ramah.
"Apa kau akan mengejarku sampai ke rumah kalau aku beri tahu kamu siapa aku sebenarnya?" tanya Andrea langsung saja pada arah ketakutannya.
"Cih!" terkekeh, "hanya ingin berterima kasih, apa itu salah?"
"Kau sama seperti Gilbert, suka menghancurkan orang lain," ucap gadis itu membuat Jayden bertambah bingung.
"Siapa Gilbert? dia kekasihmu?" tanya Jayden pada gadis itu.
"Pada awalnya, aku tidak tahu kalau nanti aku pulang, apa dia masih pantas aku panggil kekasih atau tidak lagi.."
"Kenapa memangnya?"
"Bukan urusan kamu! lagi pula kita bukan orang yang sangat dekat.." ucapnya sambil tersenyum ke arah Jayden, "sudah selesai, lebih baik sering keluar terkena cahaya matahari, supaya lukanya tidak selalu basah," pesan Andrea pada Jayden, sebelum dia memutuskan untuk beranjak dari sana.
"Kau," dia memanggil Andrea yang hendak bangkit dari duduknya.
"Ya?!" menoleh.
"Terima kasih.." bahkan wajah itu masih saja datar, tak berekspresi.
Berbeda dengan Jayden yang hanya datar saja, Andrea nampak tersenyum manis, memperlihatkan gigi gingsul di sebelah kiri miliknya, "tidak masalah, sesama makhluk hidup memang harus saling menolong, kan?"
"Kau benar!"
Gadis itu nampak pergi menjauh dari Jayden, dan mendekati Lucifer yang tengah terduduk di atas batu.
"Sudah selesai?" tanya Lucifer pada Andrea.
"Hahh! aku akan menemani kamu setiap hari.."
"Benarkah?"
Hanya mengangguk saja.
"Terima kasih atas kebaikan kamu, Lucifer," jawabnya penuh kegembiraan.
"Hei!! kau!!" bicara lantang pada Jayden.
Seketika Jayden terlihat mendongak, menatap Lucifer dari dari dalam gua.
"Kau berhutang budi pada gadis ini! jadi jangan mengganggunya!!"
Selepas dia mengatakan hal itu pada Jayden, bergegas saja dia pergi dengan Andrea dari gua itu.
"Hahh!" nafas Jayden yang berhembus kasar.
Dua sahabatnya terlihat mulai mendekat, dan duduk di sampingnya.
"Bukankah gadis itu yang di minta Tuan Zhagler?" tanya Manora pada Jayden.
__ADS_1
"Aku tidak yakin apa aku bisa menangkapnya atau tidak.." jawab anak itu.
"Memangnya kenapa tidak bisa?" tanya Manora pada Jayden.
"Dia sungguh berubah tidak seperti di awal saat aku menculiknya," ucap anak itu.
"Apa kau merasakan seperti aku? yang merasa kekuatan gadis itu semakin besar?"
"Besar dan tidak terkendali! ada Phoenix yang bersemayam dengan nyaman di dadanya, aku merasakan gemuruh jantungnya yang berdetak seirama dengan kekuatan itu, dan itu sungguh membuat aku takut.."
"Jayden, jika kau ragu, maka kita bisa memilih jalan lain untuk lari dari masalah ini.." ucap Manora memberi saran.
"Aku perlu lebih dekat dengan gadis itu, supaya aku tahu di mana letak kelemahannya.."
"Jay! kau tahu dewa Phoenix dan kekuatannya sangat sulit untuk di kalahkan! kau harus tahu nyawamu yang akan jadi taruhannya, kalau sampai berani melawannya!"
"Tapi dia juga harusnya punya kelemahan! apa kalian takut dosa karena dia telah membantuku?" tanyanya menohok pada dua sahabatnya.
"Dia bukan hanya membantumu, dia juga menyelamatkan nyawamu!" jawab Vincent dengan gagahnya, "kau mau berdamai dengan mereka, atau mau jadi budak oleh ayahmu sendiri!?"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk mengobati anak itu.." ucap Andrea dalam perjalanan pulang.
"Hanya bantuan kecil, seharusnya kau tidak perlu meminta izin padaku." Jawab Lucifer mencoba tetap acuh.
"Tapi kau sungguh sangat baik kali ini, sebenarnya dia juga anak yang baik.." memuji.
"Baik katamu?" entah kenapa perasaan Lucifer tidak terlalu senang saat Andrea memuji pria itu.
"Hu'um, dia tidak terlalu dingin seperti kau.." meledek.
"Apa maksud kamu? kau sedang berusaha menghinaku? hah?" kesal.
"Kau menang dingin! dasar es kutub Utara!!"
Hahahaha..
"Apa kau bilang? coba ulangi lagi!??"
"Kutub Utara!! hahahaha..."
"Kemari kau! aku tangkap dan ku cincang kau!!!"
Berlarian..
Saling tertawa riang..
Hahahaha....
"Coba saja tangkap aku..."
__ADS_1
"Awas kau!!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ