
Andrea beranjak dari duduknya, dan menatap siapa yang datang di sana.
"Dre!!" panggil wanita itu lagi dengan penuh deraian air mata bahagia.
"Rosella?!" mata dia sungguh berkaca-kaca.
Rosella terlihat berlari ke arahnya, dan kemudian menangkap tubuh Andrea.
Hap!
Hiks hiks...
Andrea pun tak segan untuk memeluk wanita itu dengan erat. Dua matanya terpejam, hanya hatinya saja yang merasakan betapa senangnya perasaan dia saat ini.
"Aku merindukan kamu, aku sungguh merindukan kamu, Dre, aku sungguh merindukan kamu!!" ucap Rosella dalam pelukannya.
Seorang pria di samping kudanya nampak terpaku, dan tak bergerak sama sekali. Jangankan seluruh tubuhnya, bahkan mulutnya pun tak mampu untuk bergerak.
Dia terpaku dan mematung tak sanggup melihat gadis yang dia cintai ada di depan sana, tengah menangis dalam pelukan sang sahabat.
Dalam hatinya di penuhi rasa sesak dan bersalah yang luar biasa membuat dirinya terpuruk. Namun untuk sekedar berjalan mendekat pada gadis itu pun dia masih tak mampu melakukannya.
Aku ingin memelukmu, ingin sekali..
Berbeda dari dirinya yang masih saja memaku di samping kudanya, adik kandungnya, Wilson nampak bergegas menghampiri Andrea, lalu memeluk wanita itu dengan penuh kerinduan.
Hap!
Dalam pelukan itu, Wilson terlihat mencurahkan semua kerinduan yang ada di hatinya.
"Aku merindukan kamu, Wilson, kau juga merindukan aku?" tanya Andrea pada sosok laki-laki muda yang telah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Aku sangat merindukan kamu, Kak, aku sangat merindukanmu!" laki-laki itu terlihat menitihkan air matanya dengan deras di kedua pipinya.
"Jangan menangis, bukankah kau pria yang tangguh, biarkan aku saja yang menangis bahagia sekarang," ucap Andrea membuat suasana hati Wilson sedikit tenang.
Andrea berhenti mengusap rambut dan baju Wilson, dan mendongak, menatapi siapa yang datang di ujung sana.
Entah dia baru sadar pria itu telah datang, atau memang Lucifer sendiri yang baru datang ke sana, Andrea sama sekali tidak tahu.
Yang jelas, saat dia menemukan wajah pria tampan bertubuh kekar itu, Andrea memilih untuk melepaskan pelukannya pada Wilson, dan beralihlah dia ke arah Lucifer.
"Lucifer!" dua sorot matanya benar-benar terlihat bahagia.
Namun dari rasa bahagia itu menciptakan tetesan-tetesan air mata sebutir biji jagung, yang kemudian menetes di pipinya.
__ADS_1
"Lucifer!"
Hap!
Lucifer tak mampu lagi menunggu lebih lama. Di tangkaplah tubuh kecil mungil di depannya, dan di peluklah dengan erat dalam dekapan tangannya yang kekar.
Keduanya terlihat memejamkan matanya, dan menikmati kontak fisik yang amat hangat antara mereka.
Mereka tidak mau terburu-buru melepas pelukan kerinduan ini, karena hati mereka terlanjur di buat rindu setengah mati.
"Maafkan aku yang pergi tanpa pamit, kalau kau marah, maka jewer saja kupingku, aku terima jika kamu ingin menghukum aku, tapi yang jelas, aku merasa bersalah padamu, aku minta maaf, aku tidak tahu apa salahku hingga kamu diam padaku selama satu hari penuh pada waktu itu, tapi aku sungguh merindukan kamu, Lucifer, aku sungguh merindukan kamu," tangis Andrea benar-benar pecah di sana.
Lucifer semakin erat memeluk gadis itu, gadis yang tengah menangis dalam pelukan tangannya, dan sesekali membelai rambut Andrea yang terlihat masih rapi saja.
"Kau tidak bersalah, aku yang salah, aku pun merindukan kamu," dia masih saja memejamkan kedua matanya.
Cup!
Kecupan singkat di daratkan oleh Lucifer di kening Andrea, kali ini mereka berdua tak lagi merasa malu pada sahabat-sahabatnya.
Pelukan di lepaskan, dan kini tinggal William yang terlihat mendekat ke arah Andrea, lalu memeluk gadis itu singkat saja.
"Selamat bergabung kembali, Dre!" ucap pria itu sambil membersitkan senyuman manisnya.
"Apa sudah selesai acara pertemuannya?" tanya Wilson membuat semua orang menoleh ke arah wajahnya, "kalau sudah, mari kita membakar semua persediaan kita, dan nikmati pestanya malam ini!" ucap anak muda itu, membuat semuanya berhenti menangis dan mulai berjalan mendekat ke arah api unggun.
Di sana, semua orang terlihat terduduk memutar, sampai akhirnya satu per satu bahan makanan pun di masukkan ke dalam api yang panas.
"Kau berjalan dengan mereka?" tanya Wilson pada Andrea.
Andrea hanya tersenyum, lalu mengangguk saja. Dia terduduk di sisi Lucifer, sementara di sisi kanannya, di isi oleh Rosella yang terus saja memeluknya dengan erat.
"Apa kau tidak takut beruang ini akan menerkam kamu? bukankah beruang selalu identik dengan buasnya?" tanya Wilson agak ketakutan.
Groarrrrrr!
Beruang itu terbangun, dan terkejut melihat semua orang yang berkumpul di depannya. Wilson mundur, dan beruang itu pun mencoba mundur, mendekati Andrea, dan meringkuk di belakang Andrea.
"Tidak perlu merasa takut, mereka semua temanku, kau bisa berkenalan dengan mereka sekarang!" ucap Andrea dengan lembut pada sang beruang.
"Apa dia bisa bicara juga?" tanya Lucifer pada Andrea.
"Apa kau bisa bicara juga?" tanya Andrea pada Lucifer.
Pertanyaan menjebak.
__ADS_1
"A?"
"Jadi apa jawaban kamu?" tanya Andrea pada pria itu lagi.
"Hahh! kau benar, aku tahu apa yang kau maksud, terima kasih telah mengingatkan aku!" ucap pria itu nampak datar.
"Hahahaha....."
Semua orang tertawa dengan keras dan terbahak-bahak, merasa bahagia dengan pertemuan mengejutkan ini. Apa lagi Andrea dan Lucifer, mereka berdua nampaknya tak lagi malu untuk menunjukkan perasaan masing-masing.
"Malam ini kita akan buat tenda di sini! jadi bersiaplah untuk kembali bekerja setelah makan malam!" ucap Lucifer pada semua kawan-kawan di sampingnya.
Semuanya terlihat mengangguk, mengiyakan perkataan Lucifer, sambil terus melahap makanan mereka dengan perlahan.
"Apa kau juga makan daging bakar Modi?" tanya Wilson sudah lebih akrab dengan Modi.
Modi nya mengangguk, dan memasang wajah bahagia di sana.
Melihat ekspresi Modi yang senang saat bersama dengannya, membuat Wilson melempar satu lembar daging bakar miliknya untuk Si Modi, sahabat barunya itu.
Kini semuanya telah selesai menyantap makan malam mereka, dan sekarang tinggal bekerja lagi, untuk mendirikan tenda tempat mereka tidur nanti.
Iya, tenda dadakan yang di buat dari apapun yang mereka temukan, bahkan jubah kebesaran Jayden pun terlihat terpasang di sana sebagai atap.
Semuanya telah selesai, dan semua orang juga telah tertidur di tenda masing-masing. Kini tinggal Andrea saja yang kembali makan di samping api unggun, di temani sosok Lucifer yang dia rindukan.
Semua kawan-kawannya memberi mereka berdua kesempatan untuk saling bicara, iya, itu semua memang sudah di sengaja.
"Kau benar merindukan aku?" tanya Andrea pada Lucifer.
"Kau meragukan aku?"
"Hahaha, jujur saja, aku sangat meragukannya, kau bahkan tidak pernah berkata aku temanmu," ucap Andrea sambil tertawa menganggap semua itu lelucon.
"Itu karena....." dia bingung bagaimana melanjutkannya.
"Aku memang tidak ingin jadi temanmu!"
"A?!"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
OMG, gimana kelanjutannya ini, ya?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1