
Ya!
Tak terasa air mata menitih, dan jatuhlah menggenang di kelopak mata Lucifer, kemudian beralih lagi, mengalir lagi menuju pipinya yang sudah terlihat legam.
Kesedihan memang terlihat jelas di wajah mereka, bahkan nampak Rosella yang tak mampu menahan rasa kehilangan yang amat dalam di hatinya, hingga ia pun terus bersembunyi, menyembunyikan tangis dan lukanya di ceruk leher Andrea.
Di usaplah rambut Rosella sebisa dia, dan dengan dua tangan mungil yang ia miliki.
Ia tak mampu membayangkan betapa hancurnya hati Rosella yang harus kehilangan William untuk selamanya, dia sendiri bahkan tidak mampu menahan kesedihannya saat Lucifer hampir meregang nyawa di laut dalam beberapa saat yang lalu.
Kini senja terukir dengan indah di langit barat. Daun-daun pepohonan gugur, menjadi saksi atas kekejaman pedang Jayden yang telah merenggut nyawa dua sahabat yang terpisah oleh kebencian nenek moyang mereka.
Dan sekarang, kaki mereka akhirnya mencoba melangkah, meninggalkan dua makam di bawah pohon rindang, yang senantiasa di taburi bunga dari pepohonan sepanjang hari.
Dua sahabat yang telah tenang di alam lain, dan mungkin mereka kini telah bersama, menjadi satu dan tidak lagi terpisahkan..
Karena sahabat sejati tidak akan pernah lepas di makan waktu, meski keduanya sudah berpisah sekian lama, namun persahabatan yang sudah lebih dari saudara itu akhirnya kembali bersama, dan kembali terikat dalam sebuah tali keabadian.
Berjalan lah mereka masuk ke dalam hutan, dan meninggalkan William Vincent di sana, hingga tanpa di sadari, malam pun sudah gelap.
Mereka yang masih belum tiba di tempat mereka, ya, perjalanan untuk sampai ke laut ini membutuhkan waktu lebih dari dua pekan, dan itu artinya, mereka harus kembali berjalan selama dua pekan untuk sampai ke rumah mereka.
Di sisi yang jauh, terlihat pula Jayden yang dengan gagah dan berani terus berlari, menentang arah dan menentang waktu.
Dia berlari dengan ke empat kakinya, untuk segera sampai lebih cepat. Dia harus menginformasikan kegagalan ini pada ayahnya, bukannya dia ingin mati, hanya saja, dia punya rencana yang cukup brilian untuk mengambil kembali mutiara itu.
"Mutiara itu hanya di telan, masih bisa aku ambil kembali!"
Kretak! kretak! kretak!!
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
"Kita istirahat dulu di sini," ucap Lucifer pada ke empat anggotanya, termasuk juga Manora yang kini memilih untuk bergabung dengan mereka.
Mereka semua terlihat lesu dan tidak bersemangat sama sekali. Semenjak kematian dua pemuda itu, rasanya tidak ada lagi yang membuat mereka merasa aman. Dua wanita dengan dua pria, namun tetap saja yang terbaik untuk Rosella dan Manora hanya William dan Vincent seorang.
Duduklah mereka di bawah pohon yang rindang, dan dengan cepat Lucifer mencoba menyalakan api dengan batu.
Tak berselang lama, api pun keluar dari sana, dan membakar kayu bakar yang di tumpuk oleh Wilson, membentuk api unggun yang kemudian bisa menghangatkan mereka semua.
Nampak juga Andrea yang terlihat menarik tangan Manora untuk dekat dengannya dan Rosella.
Manora pada mulanya nampak canggung, tapi Andrea terus meyakinkan dia, untuk mendekat dan duduk bersama di satu akar dengan dirinya dan Rosella.
Manora tidak menolak, ia memang butuh kekuatan dari seorang teman untuk bisa merelakan kepergian Vincent darinya.
Dia dekapkan wajahnya di bahu kiri Andrea, sementara bahu kanan Andrea, terlihat Rosella yang sudah menguasainya.
"Kalian berdua, bukan hanya kalian yang kehilangan mereka, tapi kami semua juga!" ucap Andrea pada dua wanita di dalam pelukannya.
"Aku akan pergi cari makanan!" ucap Wilson sambil bangkit dari duduknya.
"Aku ikut!" Modi terlihat menimbali, dan ikutlah beruang itu bersama Wilson menuju ke pedalaman hutan.
Sementara itu, di sana kini tinggal beberapa orang saja, tiga orang wanita dan satu orang laki-laki yang berjaga di sana.
"Kalian tidur lah, nanti kalau Wilson sudah dapat makanannya, aku akan bangunkan kalian!"
"Kami bukan wanita lemah, Dre!" ucap Rosella yang kemudian menampilkan wajah yang berbeda saat dia memperlihatkan wajahnya.
"Kau benar, kita bukan wanita lemah!" sahut Manora pada Rosella, "siapapun yang sudah membuat kita kehilangan seseorang, maka kita akan membalasnya! aku janji, aku akan menghabisi Jayden dengan pedangku! dia harus mati di tangan kami berdua!" ucap Manora dengan yakin.
Andrea tak mampu berkata-kata lagi, dalam hatinya ia senang, karena dua wanita ini akhirnya mampu untuk bangkit dari keterpurukan.
__ADS_1
Ya, terlalu lama berada dalam jurang kesedihan, rasanya tidak terlalu bagus.
Hingga kini, malam telah amat larut, semua orang beristirahat di bawah pohon besar itu, dan hanya menyisakan dua orang saja, Lucifer dan Andrea.
Mereka berdua yang telah puas memakan buruan Wilson barusan kini masih terduduk menghangatkan diri di samping api unggun.
Terlihat dengan jelas raut wajah kesedihan di sana, tapi mereka berdua juga merasa senang, karena mereka akhirnya bisa selamat, dan bisa bergerak kembali ke desa mereka.
"Aku menyesal telah membiarkan kamu menemui Jayden seorang diri hari itu.." Ucap Lucifer dengan penuh sesal.
"Kenapa memangnya?"
"Jika aku tidak diam dan mengacuhkan kamu, kau tidak akan pergi ke sana seorang diri, kau pasti akan mengajak aku, kau mencari aku ke rumah, dan tidak mendapati aku sama sekali di sana, padahal aku hanya sedang duduk termenung di atas tebing meratapi kesedihan yang mendalam jika harus kehilangan dirimu..." Matanya kemudian menoleh, dan menatap mata Andrea dengan lekat.
Andrea hanya terdiam, rasa senang karena ia tahu Lucifer juga mencemaskan dirinya, ya, Lucifer selalu mencemaskan dia, dia adalah segalanya bagi Lucifer, tapi apakah takdir benar-benar akan mempersatukan mereka?
"Lalu bagaimana jika aku benar-benar pergi darimu?" tanya Andrea dengan kesenduan.
Sejenak Lucifer terdiam, "aku merindukan ibu, kau pasti juga merindukan ibumu!"
Andrea menitihkan air matanya, gadis yang kini sudah genap dua puluh tahun itu akhirnya tak mampu membendung kesedihan di hatinya untuk pria ini.
Bagaimanapun dia berusaha tegar, tetap saja, perpisahan dengan Lucifer bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Andaikata takdir tidak sekejam ini, andai kata takdir berpihak pada mereka.
"Kenapa kau menangis? bukankah sejak awal kau pun ingin segera kembali?" tanya Lucifer sambil mencoba mengusap air mata gadis itu.
"Aku berjanji, akan mengabdikan seumur hidupku, untuk mencintai kamu, Lucifer..."
Mereka bertatapan cukup lama, hingga akhirnya, kecupan mesra kembali mendarat di bibir keduanya..
Cup!!
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹