
Sssshhhhh
Suara deras air sungai yang mengalir membuat siapa saja yang mendengarnya merasa lebih tenang.
Gadis itu tengah terduduk dengan manisnya di sebuah batu yang letaknya persis di pesisir sungai.
Dengan setangkai bunga putih molek di kombinasi warna hijau tua dari daunnya. Dia terlihat asik bermain dengan kelopak bunga itu, hingga tanpa sadar, waktu sudah menjelang sore.
Seorang pria yang sejak tadi menunggu gadis itu dengan izin ingin membersihkan muka sebentar, sudah terlihat geram.
Iya, pria itu siapa lagi kalau bukan Lucifer. Dia masih saja setia menemani Andrea meskipun kesal dan suntuk sudah menguasai dirinya.
Namun kini, akhirnya dia mengambil keputusan untuk bangkit dan menghampiri gadis itu.
"Hey, kau!" ucapnya dengan kesal.
Andrea hanya menoleh, dan mendongak saja ke arahnya, "um? ada apa?"
"Apa kau sungguh tidak bosan terus duduk dan bermain bunga sampai kau habiskan beberapa tangkai hanya untuk berada di sungai ini?" hanya Lucifer sedikit kesal memang.
"Aku tidak pernah berbaur dengan alam, tidak bisakah aku mendapatkan kebahagiaan ini sebelum aku pergi?" namun gadis itu malah berbalik tanya pada Lucifer.
"Hahh! terserah padamu saja, tapi hari sudah mulai malam, aku akan segera pulang, bagaimana kalau aku tinggal kamu sendiri di sini, lalu bahaya mendatangimu?" nada datar, tapi mengandung makna yang sangat dalam.
"Kau sedang mencemaskan aku?" gadis itu malah meledek Lucifer dengan gembiranya, "aku pikir kau bukan tipe pria yang peduli."
"A? maksud aku, maksud aku bukan begitu, maksud aku, bagaimana kalau kamu di culik kelompok serigala? nanti kami bisa kehilangan segelnya.."
Andrea hanya mengangguk saja, "kau tahu Lucifer? takdir akan bergerak sendiri tanpa harus ada yang mengaturnya, meskipun aku di culik dan di hipnotis juga oleh musuh kalian, tapi tidak ada yang tahu kemana mutiara itu akan bergerak, bisa saja dia mendekatimu, entahlah, itu pandangan yang masuk akal menurut aku, segel di tubuhku ini hanya kunci biasa, aku hanya kuncinya, sedangkan kendalinya, ada pada takdir, kau tahu maksud ucapan aku, kan?"
"Sebenarnya bicara denganmu agak rumit bagiku, kau punya pemikiran yang sangat sulit untuk dimengerti, apa lagi kalau untuk di urai, tapi bisakah kembali lagi pada topik awal pembicaraan? rasanya aku sudah bosan berada di tempat ini," dia berkeluh kesah.
"Kemarilah!" menepuk batu tempat duduknya.
"A?" ekspresi bingung.
"Kau tidak mendengarku? kemarilah!"
"Kau menyuruh aku untuk duduk?"
"Tentu saja! duduklah di sini!" ucap Andrea dengan senyum simpulnya.
Lucifer hanya menurut saja pada gadis itu, mencoba meletakkan pedang apinya di bebatuan, lalu terduduk di samping Andrea.
"Tenangkan dirimu, rasakan bagaimana angin menyentuhmu.." ucap Andrea sambil memejamkan kedua matanya..
__ADS_1
Namun Lucifer hanya terdiam saja, sambil sesekali matanya menatap wajah Andrea yang molek.
Makin lama, tatapan mata yang dia lakukan secara diam-diam, kini terlihat mulai berani menampakkan diri.
Di tatap lah secara seksama wajah Andrea yang amat mungil, dengan lesung pipi manis di pipi kirinya, bulu mata yang panjang melengkung, lalu bibir tipis nan ranum itu.
Saat gadis itu tersenyum, dan menampakkan gigi putihnya, terlihat jelas betapa cantiknya dia dengan lukisan gingsul di sana, bercampur dengan pipi merah jambu yang khas.
Dia sungguh anggun, pun pemberani. Itulah yang berhasil di tangkap oleh Lucifer, meski hanya tatapan beberapa menit saja, sebelum akhirnya Andrea membuka mata dan mendapati dirinya yang tengah memujinya dalam diam.
"Kenapa kau menatapku?" gadis itu menangkap wajah bingung pada Lucifer.
Mungkin pria itu bingung harus berbuat apa, setelah sekian lama dia mencoba menatap gadis itu.
"Kenapa kau salah tingkah? kau sedang malu berhadapan denganku?" tidak henti-hentinya Andrea melontarkan ucapan-ucapan penuh ledekan untuk Lucifer, hingga membuat pria itu mati gaya.
"Aku akui, kau sungguh mempesona di mataku.." jujur yang terpaksa dia lakukan.
"A?" wajah mulai memerah.
"Kau cantik, pun menarik, tidak ada seorang pria yang bilang aku tidak tertarik padamu, kecuali dia orang yang sangat bodoh!"
"Kau tidak menyebut binatang, karena dirimu juga binatang.." terkekeh.
"Ya, kau benar, aku hanya menyebut mereka sebagai orang yang bodoh, itu yang aku maksud," terdiam sejenak, "kau tahu? aku tidak pernah mengagumi seorang wanita, selain ibuku," ucapnya.
"Yah, bagiku dia sungguh tiada banding, tapi, saat kau datang, dan aku melihat wajah yang sama persis seperti ibuku, aku..." berhenti sejenak, rasanya tidak punya cara lagi bagaimana mengungkapkannya.
"Kau kenapa?" penuh tanda tanya.
"Yah, kau sungguh sama seperti ibuku, jadi, aku kagum padamu.."
Hanya itu?
Sayangnya memang hanya itu..
"Cih, kau sungguh naif! kau pikir aku sama persis seperti ibumu? Lucifer, fisik hanya menampilkan keadaan di luar, tidak bisa melukiskan keadaan di dalam, itu artinya, mungkin saja kami berdua memiliki cukup banyak perbedaan yang tidak di mengerti orang lain.." jelas Andrea pada Lucifer.
"Aku tahu itu, mungkin memang tidak seperti ibuku, tapi setidaknya, kau tidak meniru dia, karena kalau kau sama persis seperti dia, aku tidak yakin apakah aku bisa menganggap kamu teman, atau aku akan memanggilmu dengan sebutan ibu.. haha.."
"Haha... dasar kau ini! ayo pulang!" gadis itu terlihat berdiri dan berjalan menjauh dari Lucifer.
"Kau mau kemana?" dia malah tidak jelas.
"Bukankah kau bilang sudah bosan menunggu aku bermain di sini? aku ajak kamu pulang, kamu tidak mau?" tanya Andrea pada Lucifer.
__ADS_1
"Ouh, tidak, aku baru saja menikmati ketenangan di sini, dan kau malah mengacaukannya begitu saja? ini sungguh tidak adil untukku.."
"Terserah apa katamu, memangnya kita mau menikmati apa lagi di sini? tidak ada hal seru yang bisa kita lakukan, atau..." menatap Lucifer dengan sorot mata menelisik.
"Atau apa?" tatapan aneh.
"Atau jangan-jangan kau berniat untuk menciumku?" percaya diri yang begitu tinggi.
"Mencium kamu?" terkejut, "hahahaha... aku bahkan tidak pernah menyentuh apapun dengan mulutku selain daging dan makanan.. hahaha....."
Andrea hanya membersitkan senyum manis di bibirnya. Ada rasa senang melihat Lucifer yang tertawa puas setelah sekian lama mereka bersama.
Kalau sedang tersenyum begitu, kamu terlihat sangat tampan...
Tanpa sadar dia memuji pria itu di dalam hatinya.
Melihat Lucifer yang tengah di buat asik dalam tawa riangnya, membuat Andrea ingin melakukan sesuatu yang sangat asing.
"Mencium kamu? hahaha.."
Dia mendekat pada Lucifer, dan menekuk tubuhnya menjadi sangat dekat dengan pria itu..
"A? apa yang akan kau lakukan?" Lucifer yang gugup.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, di sambar lah mulut Lucifer yang dingin, dan penuh dengan kesunyian di sana.
Dia cium dan di diamkan saja oleh Andrea dalam pelukan mulutnya yang sudah geram pada pria ini.
Hingga tanpa sadar, dua manusia ini saling terbuai satu sama lain...
"Ugh..."
Kenapa bibirnya sangat manis?
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Ini bakal kebablasan apa nggak, ya? π¬π¬π¬
Tunggu aja deh kelanjutannya, biar gak penasaran πππ
Makasih yang udah ngikutin sampe sekarang, tolong jangan jadi pembaca ghoib ya ππ
setidaknya ya kasih like, komen, biar author makin semangat πͺπͺπͺ
Makasih semuanya.. πππ
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ