
Dengan sedikit ragu, Jayden menyambar apek di tangan Andrea, dan memakannya. Hal sekecil itu, tapi jelas-jelas membuat Andrea merasa senang.
Sedikit demi sedikit, Andrea terlihat terus memakan apel dan pisang di pangkuannya, hingga akhirnya tinggal satu buah apel lagi. Merasa dia sudah makan terlalu banyak, akhirnya Andrea memutuskan untuk memberikannya pada Jayden.
"Makanlah!" ucap Andrea pada Jayden sambil menyodorkan apel terakhir untuknya.
Jayden terlihat menoleh, melihat satu butir apel di tangan Andrea, lalu beralih ke arah wajah gadis itu.
Gadis yang memang sangat anggun, tapi sayang sekali, sejak awal gadis ini hanya memilih kubu harimau, jika saja Andrea memilih dirinya, mungkin jauh lebih menyenangkan kalau membuat gadis ini jatuh cinta secara nyata, dan akhirnya mereka berdua menikah, atau kalau tidak, Andrea akan menjadi santapan lezatnya setiap malam.
Atau mungkin juga, sedikit gigitan kecil, mencoba mengenai kulit dan darahnya yang terlihat amat lezat.
Ugh!
Jadi banyak berangan deh otak Jayden, mulai dari pernikahan, sampai santapan lezat. Daging Andrea memang terlihat mulus dan bersih. Hanya saja dia terlalu cantik untuk di makan, haha, sayang sekali kalau gadis secantik dia hanya akan berakhir menjadi hidangan istimewa.
"Makanlah!" tawar Andrea lagi, melihat Jayden nampak bimbang, "aku tahu kau masih lapar!"
Padahal Jayden sudah kekenyangan karena daging burung yang dia dapat tadi.
Tapi karena Andrea menawarkannya, jadi tidak ada pilihan lain baginya selain menerima apel itu dengan senyuman lebarnya.
"Terima kasih!" ucap Jayden sambil tersenyum.
Andrea lagi-lagi di buat senang oleh Jayden, dia memberikan apelnya, dan kemudian, menatap langit, menatap bintang-bintang yang bertebaran di atas sana.
Hingga akhirnya, sosok wajah yang begitu mirip dengannya kembali terlihat di antara bintang-bintang itu.
"Ah!?" Andrea hanya menampakkan wajah yang tidak terlalu terkejut kala melihatnya.
Andrea menatapi wajah itu, wajah yang seolah memberitahunya, tentang laki-laki bernama Jayden yang kini ada di sampingnya.
"Andrea! dia bukan priamu! dia hanya pria yang ingin menjatuhkan putraku! kau yang di tipu! kau sebenarnya milik putraku, bukan miliknya! kembalilah! cobalah untuk mengingat semuanya! kuasai Phoenix di dalam tubuhmu! dan lawan kejahatan mantra yang mengusik dalam dirimu!"
Bayangan itu mendadak kembali hilang, dan kemudian, Andrea terlihat meringkuk ketakutan, membuat Jayden nampak cemas.
"Ada apa!?" tanya Jayden pada Andrea.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa.." Ucap Andrea sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau yakin!?" tanya Jayden sambil merangkul pundak gadis itu.
"Ya, aku yakin, aku memang baik-baik saja.." Ucap Andrea ketakutan.
"Kalau begitu, tidurlah! kita harus kembali berjalan besok pagi!" ucap Jayden sambil mengusap bahu Andrea.
"Jay," gadis itu terdengar memanggil Jayden.
"Ya!? kenapa!?"
"Apa kita pergi karena suatu tujuan!?" tanya Andrea, seolah sedikit demi sedikit pikirannya mulai terbuka.
Jayden mengalihkan tangannya dari bahu Andrea, dan beranjak mendekati api unggun di depannya, lalu menghangatkan diri.
Sementara itu, Andrea nampak terus memperhatikan Jayden, dan menunggu perkataan Jayden selanjutnya.
"Ya, kau benar, kita memang pergi karena tujuan!" jawab Jayden datar.
"Kenapa aku tidak tahu? kenapa aku seolah lupa segalanya!?" tanya Andrea mulai merasa ada yang tidak beres dari semua ini.
"Lucifer!? apa aku pernah bertemu dengan pria itu!?" tanya Andrea menelisik.
Siapa Lucifer? kenapa aku seperti tidak asing mendengar namanya?
"Dia adalah pria dari ras harimau, yang kemudian berkhianat pada kubu kami, jadi sekarang antara The Wolf, dan The Tiger, kami berdua bermusuhan," jelas Jayden.
"Aku pernah dengar cerita itu..."
Jayden menoleh, dan menatap wajah Andrea tajam. Dia mulai curiga gadis ini bukan gadis biasa. Kata pria tua itu, Andrea hanya akan ingat setelah satu bulan kemudian, tapi nyatanya, gadis ini bahkan mulai terlihat aneh sekarang.
Tidak mau membuka semuanya lebih jauh lagi, Jayden memilih untuk menidurkan Andrea, dan menyuruh wanita itu untuk berbaring di akar pepohonan.
"Tidurlah! jangan terlalu banyak pikiran! kita harus mulai berjalan besok!" ucap Jayden sambil membaringkan Andrea untuk tidur.
"Kau bahkan belum bicara soal tujuan petualangan kita, apa kau akan menjelaskannya dulu!?" tanya Andrea, sambil menolak tangan Jayden.
__ADS_1
"Aku akan ceritakan besok, katamu kau lelah, jadi tidurlah!" ucap Jayden, dan kali ini tidak bisa di tolak oleh Andrea.
Andrea hanya diam dan mencoba menuruti kemauan Jayden. Dia berbaring di akar pepohonan, dan mencoba menutup matanya di sana.
Meskipun perasaannya begitu gusar, tapi dia tidak punya cara lain, selain berbaring dan mencoba memejamkan matanya.
Dalam otaknya, dia merecoh, bertarung dan berdebat hebat di dalam sana. Seolah ada jiwa lain yang bersemayam di dalam tubuhnya, dan menolak dengan keras soal kepergiannya dengan Jayden.
Tapi dia sendiri bahkan tidak pernah tahu, apa jiwa yang selalu bersemayam di dalam tubuhnya, yang seolah terus menentang otaknya, dan selalu saja mengingatkan ada orang lain yang kau tinggalkan.
Aku harap aku tidak sedang gila sekarang! aku bahkan hampir di buat depresi akan hal ini, siapa Jayden, dan siapa Lucifer, entah kenapa dua pria ini selalu saja muncul dalam setiap pemikiran dalam otakku!
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Sementara itu, perjalanan Lucifer dan kawan-kawan pun terpaksa harus berhenti. Mereka berhenti tepat di sisi timur gua yang di jadikan tempat istirahat oleh Vincent dan Rosella.
Sebenarnya, andai mereka berjalan lebih jauh sekitar dua kilometer lagi, mereka akan bertemu dengan Andrea dan Jayden di sana. Tapi nampaknya, kuda mereka terlalu lelah, dan harus membuat Lucifer beristirahat sejenak.
"Kita turun di sini! dan istirahat dulu di sini!" ucap Lucifer pada ketiga kawannya, yang kemudian hanya di anggukkan saja oleh mereka.
Berbeda dengan Jayden, yang memimpin dengan penuh ambisi dan kekerasan, Lucifer memang lebih mementingkan keselamatan, apa lagi mereka semua sahabat Lucifer, mereka tidak akan kelelahan karena mengikuti Lucifer sepanjang hari, tapi Lucifer yang tidak akan tega membuat mereka semua kelelahan.
Di dalam gua, Vincent dan Manora tidak mengetahui kedatangan Lucifer dan kawan-kawannya.
Mereka tengah berbincang, mengenai hal yang sangat menyakiti hati mereka berdua. Jayden yang seolah di buat lupa oleh kekuasaan dan kerakusannya.
"Aku sudah bisa menebak sejak awal, kalau dia pasti akan sangat berambisi untuk misi ini, dan kita juga seharusnya tahu, kalau kita hanya sebatas budak di matanya!" ucap Vincent mencoba bicara pada Manora.
Namun wanita itu lebih memilih untuk memendam kekecewaannya dalam diam.
"Aku tahu dia akan menelan mutiara itu hanya untuk dirinya, bukan untuk Tuan Zhagler, sedangkan kau pun tahu, kita berjalan di sini, juga atas kepercayaan dari Tuan Zhagler!"
"A!?"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Huhh! aku lelah melihat konflik ini.. ππ
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ