Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Jayden yang Bodoh


__ADS_3

Pemuda itu terlihat terus berjalan terseok-seok di antara semak belukar hutan belantara.


Dia sudah hampir turun dari puncak gunung, tapi ternyata, perjalanannya masih begitu jauh. Sebenarnya luka serius di tubuhnya yang membuat perjalanan kelompoknya terasa sangat panjang.


"Hahh! hahh!" nafas Jayden terdengar memburu, seolah ikut kelelahan saja.


Sementara, dia hanya pergi turun gunung dengan beberapa anggotanya. Mungkin sekitar lima atau enam anggota saja.


Dan itu sungguh sangat menyusahkan..


Luka di tubuhnya masih terasa sakit, dan dia bahkan tidak mampu melangkah terlalu cepat. Tapi sang ayah, apa ayahnya masih peduli meskipun Jayden mengeluh di depan pria itu?


Dia rasa tidak! bahkan tidak akan pernah!


Pria itu tidak akan pernah mencemaskan putranya meskipun Jayden tengah berada di ambang kematian sekalipun.


Karena yang ada dalam otak Zhagler hanyalah, kekuasaan dan keserakahan. Isi kepalanya hanya ada dua macam itu, dan selebihnya tidak ada lagi.


Dia tidak punya belas kasihan, pun tidak memiliki rasa cinta walaupun pada putra satu-satunya sendiri.


Namun begitu bodohnya Jayden yang selalu memilih setia dan bertahan dalam kaki sang ayah.


Dia bahkan tidak pernah tahu, hidup dan matinya, ayahnya benar-benar tidak lagi peduli. Karena yang dia pikirkan adalah, hanya Zhagler satu satunya orang yang dia miliki.


Hahh!


Dia kini kerasa lelah. Jatuhlah tubuhnya di bawah pohon, dan bersandarlah dirinya di sana. Sekarang dia hampir berada di ujung kematian.


Sang rekannya yang berjumlah enam orang itu terlihat langsung mengerumuni Jayden. Ada si serigala betina, bernama Manora, lalu rekan setia Jayden, Vincent, dan empat anggota lain juga yang terlihat bersiap mendirikan tempat istirahat sementara.


"Jay! kau baik-baik saja?" tanya Vincent agak cemas.


Dengan nafas yang terpenggal-penggal, bersamaan dengan keringat dingin yang terus mengucur di kening Jayden, pria itu hanya bisa mengangguk saja, seolah dia benar-benar tidak sanggup meskipun hanya sekedar untuk bicara.


"Baiklah! aku akan cari tanaman obat di sekitar sini, lukamu sungguh parah," melihat luka di perut Jayden yang lebam sana sini, di campur beberapa bekas taring Lucifer yang membekas dengan indahnya di sana.


Vincent kemudian pergi ke tempat yang jauh, setelah dia selesai berbicara. Dia meninggalkan Jayden bersama dengan Manora di sana, hingga akhirnya dia tenggelam dalam kegelapan yang sangat pekat.


"Jay!" panggil Manora lirih.


Dia begitu iba melihat pemuda yang dia cintai ini selalu mengalah pada ayahnya, tak pernah sedikitpun merasa bahagia atas perlakuan sang ayah padanya.

__ADS_1


Dan sebaliknya, dia hanya bisa mendapat tamparan-tamparan keras dari tangan Zhagler meskipun dia telah berusaha menjadi anak yang setia, dan menuruti semua yang di inginkan oleh ayahnya.


Kadang hidup memang tidak adil. Kau berusaha menjaga hati orang lain, tapi orang lain bahkan tidak pernah mengerti akan itu, membalasnya pun tidak.


Mungkin itulah yang di alami Jayden selama puluhan tahun hidup. Hanya sebagai pedang, yang siap menjadi senjata dalam peperangan ayahnya, tapi saat gagal, dengan keras Zhagler mematahkan pedangnya, hingga tak tersisa.


Mungkinkah Jayden agak menyesal telah mengikuti ayahnya selama beberapa tahun?


"Jay!?" panggil Manora lagi, setelah mendapati Jayden yang sama sekali tidak bergeming merespon panggilan darinya.


Pemuda itu menoleh, meskipun begitu dia tetap saja acuh. Entah apa yang membuat dirinya begitu dingin terhadap Manora. Meskipun gadis itu selalu setia mendampinginya, tapi dia bahkan tidak pernah sedikitpun menyukai Manora, selain sebagai rekan untuk bertempur.


"Kenapa kau masih berada di jalan ini? kenapa kau tidak memilih untuk pergi dan memilih jalan kamu sendiri!?" tanya Manora dengan rasa sakit uang menyayat hatinya tatkala melihat sekujur tubuh Jayden yang di penuhi luka sayatan.


Sejenak Jayden terdiam. Dia tak mampu berkata-kata, karena memang dia sendiri pun merasa bodoh selalu mengikuti jalan ini.


Dia merasa seolah dirinya di kendalikan, dan diberi ketakutan yang amat dalam pada sosok ayahnya. Namun bodohnya lagi, dia tidak mampu melawan semua itu. Dan Jayden, tetap sombong, dengan memilih jalannya sendiri di samping seorang Zhagler.


"Dia ayahku! mana mungkin aku akan membangkang! meskipun dia membunuh aku sekalipun, dia tidak lain adalah orang yang membuat aku ada di dunia ini!" ucap Jayden dengan mantap, seolah membuat hati Manora makin teriris saja.


"Dan kau! kau bukanlah siapa-siapa di sini! jangan merasa dirimu unggul bagiku, karena siapapun kamu, sama sekali tidak penting bagiku!!" begitulah ucapan menyakitkan yang baru saja keluar dari mulut Jayden, pria yang sangat Manora cintai.


Namun benar kata pepatah, kau bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta, namun kau tidak bisa mengatur siapa yang akan mencintaimu.


Dia tak mampu berkata-kata lagi, selain hanya bisa mengalah, dan mundur.


Kau sudah tahu kalau dirimu tidak ada artinya bagi laki-laki ini! lalu kenapa kamu masih saja terus berharap!?


Terkadang benaknya berbisik-bisik, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, untuk mundur dari posisi mencintai anak tetua yang tidak menganggap keberadaan dirinya sama sekali.


Tapi sekali lagi, hati juga tidak bisa kau bohongi. Begitu dalam cinta yang dia tanam hanya untuk laki-laki semacam itu.


Pertanyaannya, jika Jayden bodoh karena lebih memilih bertahan di sisi ayahnya, lalu apa bedanya dengan Manora yang juga memilih untuk bertahan meski tidak pernah di anggap?


Mungkin kata hati mereka sama, kau mungkin tidak memiliki hatinya sekarang, tapi ada saatnya dia membutuhkan hatimu kelak.


Ya!


Mereka memang memiliki satu pemikiran yang sama, hingga keduanya memilih tetap bertahan di dalam posisi masing-masing.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Di malam itu, angin begitu kencang menerpa. Andrea yang kini tengah tertidur di rumah Rosella, agaknya memang sangat ketakutan.


Dia tertidur di atas kasur wanita itu sendirian, karena entah kenapa Rosella belum juga pulang dari rumah William.


Huhh!


Tidak bisa di bayangkan, sampai larut malam begini, Rosella belum juga pulang, berapa banyak mereka bermain hingga menghabiskan waktu hampir semalaman penuh ini?


Huhh!


Wanita itu bersembunyi ketakutan di dalam balita selimut milik Rosella. Dia belum bisa memejamkan mata. Keringat dingin bercucuran keras membasahi seluruh tubuhnya.


"Rosella, apa lagi yang kamu lakukan si? apa mungkin kamu masih bermain dengan Will?" tanyanya merecoh sendiri seperti orang gila.


Dia semakin rapat dalam persembunyiannya. Karena memang pada dasarnya Andrea tidak pernah berada di tempat gelap dan seperti ini kondisinya, hingga akhirnya, sesuatu di luar nalar terjadi..


Kriettt!


Pintu terbuka, tapi agaknya bukan Rosella yang datang.


Karena pintu itu, terdengar seperti angin yang meniupnya. Andrea memicingkan mata, dan menajamkan pendengaran, meskipun peluhnya bercucuran amat deras di sana.


"Siapa itu?" bisiknya lirih..


Dan kemudian, sebuah suara mendadak terdengar dengan lirih di kedua telinganya...


"Andrea....."


"Ah?"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Huhh!


Gemetar!! 😱😱


Kira-kira yang dateng siapa ya?? 🤔🤔


Bikin takut aja.


Yuk yang penasaran ikutin terus ya ceritanya 🤗🤗

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


__ADS_2