
"Kau hidup lagi dengan Lucifer yang baru," ucap Manora mengejutkan mereka semua.
"Apa?!"
"Dia mulanya pasti kehilangan kekuatannya saat masuk ke dalam laut, bukankah katanya kau sudah hampir tewas di dalam sana?" tanya Manora lagi.
"Iya, kau benar, dia tidak bernafas saat itu, aku sangat cemas karena dia tidak bangun juga, sampai akhirnya aku coba untuk memberi mutiara itu, dan meletakkan mutiara itu di dadanya..."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Rosella dengan rasa penasarannya.
"Perlahan dia mulai membuka matanya, dan aku sangat senang, karena akhirnya dia terbangun, luka-luka di tubuhnya pun mulai membaik dalam hitungan detik, apa mungkin kekuatan Lucifer sebagai manusia harimau sudah tiada? dan sekarang dia menjalani hidup sebagai manusia biasa?" tanya Andrea pada mereka semua.
"Mungkin saja, dia kehilangan kekuatan lamanya sebelum mendapat mutiara itu, dan sekarang, karena mutiara itu, dia bangkit lagi, menjadi manusia sepenuhnya, dan dalam kekuatan yang jauh lebih kuat!" ucap Manora meyakinkan.
"Aku mengerti, baiklah, aku akan coba sekarang, apa ada perbedaan antara aku yang dulu dan yang sekarang atau semuanya masih saja sama." Ucap Lucifer.
Dengan mengambil ancang-ancang dari kejauhan, Lucifer terlihat mundur, dan kemudian berlarilah dia sekuat yang dia bisa.
Wushhh!!!
Wohowwwwwww...
Dia sangat senang, bahkan sekarang larinya jauh lebih cepat di banding saat dia masih dengan kekuatan lamanya.
Dia tertawa, menciptakan udara yang penuh dengan debu, dan berlari secepat yang dia bisa.
Semua orang tersenyum, melihat Lucifer gembira, semuanya juga terlihat senang.
"Dia seperti anak kecil saja.." Ucap Rosella pada semua orang.
"Iya," jawab Andrea singkat.
Tak tahu bagaimana suasana hatinya saat itu, antara senang, namun juga begitu sedih. Dia senang mendapati Lucifer yang menjadi lebih baik.
Tapi di sisi lain, dia juga sedih, karena dia akan segera meninggalkan pria itu sendirian. Apa lagi sekarang, William bahkan telah meninggalkan dia, bagaimana nasib Lucifer selanjutnya tanpa adanya seorang teman?
"Kau sedih, Dre?" tanya Rosella pada adiknya.
__ADS_1
"Ya, mungkin perasaanku sama seperti saat kalian kehilangan William dan Vincent, aku pun merasakannya, kita semua akan merasakan kehilangan yang amat berat, aku harap, aku bisa menemui dia lagi, entah pada masa apa, karena aku sungguh mencintainya, aku benar-benar menaruh cintaku padanya, bukan pada Gilbert, atau orang lain! hanya Lucifer yang aku cintai!" Andrea berbicara sambil terus menguatkan hatinya.
Kini terlihat Rosella dan Manora yang merangkul Andrea, dengan penuh kehangatan, berbagi kasih dan sandaran, sama seperti yang Andrea lakukan pada mereka malam tadi.
Sahabat yang di penuhi kehangatan, dan juga kasih sayang, mana mungkin Andrea berani melepas semua itu dengan baik-baik saja?
💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Plak!!
Tamparan keras mendarat di pipi Jayden, yang kemudian membebaskan rona merah di wajah Jayden yang tampan.
Meskipun tampan, tapi dia benar-benar busuk, seperti bangkai yang di biarkan begitu lama, hingga bau tak sedap pun akhirnya muncul dari dirinya.
Kini dia tengah tertunduk di hadapan sang ayah, dan telah selesai menjelaskan semua rencananya yang gagal total.
"Dasar tidak berguna!!" umpat Zhagler di atas singgasananya.
"Sudah aku katakan, kau tidak boleh pulang sebelum kau mendapatkan mutiara itu, tapi kau malah pulang, setelah Lucifer berhasil mendapatkan mutiara itu!"
"Tapi kita mungkin bisa merebut mutiara itu kembali, dia hanya menelannya, mutiara itu pasti masih ada di dalam perutnya dengan utuh!"
Bukk!
Zhagler menendang dengan kakinya, hingga putranya tak bisa berdiri dengan tegak.
"Anak bodoh tetap saja bodoh! kau yang aku rawat sejak kecil, berharap kau lah yang menjadi murid terbaikku, sudah aku angkat menjadi anakku, tapi lihatlah betapa bodohnya dirimu!! ck! aku menyesal mengangkat dirimu sebagai anakku!"
Jlger!!!
Bak di sambar petir di siang bolong, hancurlah hati Jayden saat kedua telinganya mendengar ucapan menyakitkan yang di keluarkan oleh mulut sang ayah.
Oh!
Apa benar dia pria yang pantas ia sebut ayah?
"Apa yang anda katakan?" tanya Jayden, mendadak bangkit dan menatap kedua mata Zhagler di depannya.
__ADS_1
"Kau bukanlah putraku, kau hanya anak yang aku temukan, dan aku asuh menjadi anakku, soal ibumu, aku hanya mengarang cerita, aku buat kau tahu ibumu meninggal, dan kau di besarkan seorang diri oleh ayahmu, tapi nyatanya, semua yang aku katakan padamu, adalah kebohongan besar! kau bukanlah putraku, kau juga bukan penerus kelompokku, karena seumur hidupku, aku tidak pernah menikah dengan siapapun!!"
Dan untuk kedua kalinya, Jayden di buat terkejut setengah mati. Kesombongan dan kerakusan yang di ajarkan oleh sang ayah padanya membuat dia menjadi manusia yang buruk, bahkan dengan senang hati dia mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi seorang yang haus akan kekuasaan, ternyata, dia hanya sebatas budak bagi ayahnya.
Dia hanya seekor anjing yang di perintahkan ke sana kemari, mengambil ini mengambil itu, menghancurkan ini dan membunuh itu, dia hanya sebatas itu di mata ayahnya.
"Aku tidak bisa kehilangan kekuasaan ku, karena itulah, aku memutuskan untuk tidak menikah dengan wanita manapun, dan melahirkan aku seorang anak, apa lagi anak laki-laki," jelas Zhagler pada pemuda di depannya, "tapi pada kenyataannya, aku membutuhkan kaki tangan yang bisa aku gunakan untuk menghancurkan musuh, dan membawa aku kepada mutiara itu, tak ku sangka, aku begitu bodoh hingga mempercayakan semuanya padamu!"
Tatapan Zhagler masih kosong, sementara di depannya, pemuda itu mulai menunjukkan kekesalannya pada dirinya.
Pemuda itu mempererat genggaman tangannya, dan merasa marah dengan sikap Tuan Zhagler.
Dia yang merasa tidak di hargai, jangankan di hargai, bahkan selama ini dia hanya di tipu oleh Zhagler, di manfaatkan oleh seorang pria yang ia anggap sebagai ayah terbaiknya.
Arkh!
Rasanya sakit sekali, bahkan jauh lebih sakit di banding saat ia melihat tubuh Vincent mati akibat pedangnya.
Dia memicingkan matanya, menampilkan aura kebencian pada Zhagler, lalu tanpa berpikir panjang, ia mengambil pedang dari tempatnya, dan bersiap untuk melawan sang ayah apapun yang terjadi.
"Kau bisa menipuku, lalu kenapa aku tidak bisa membunuh seorang penipu?!"
Zhagler melirik pemuda itu, dan mengeluarkan nafasnya dengan kasar.
Hiyaaaaaa!
Trang!
Jayden dengan gesit melayangkan pedangnya menuju ke arah Zhagler, namun Zhagler tidak sebodoh itu. Dia tak diam saja, di ambillah pedang dari samping singgasananya, dan kemudian dengan pedang itu, dia berusaha untuk menangkis serangan dari Jayden.
"Sudah waktunya aku yang berkuasa di sini, Zhagler!" ucap Jayden di tengah-tengah pertempurannya.
"Mimpi saja ingin membunuhku, mari kita lihat di dunia nyata, benarkah kau bisa membunuhku? atau kau hanya akan menjadi daging santapanku untuk malam ini!!"
Swosh!
Trang!
__ADS_1
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜