Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Keras Kepala


__ADS_3

Kretak! kretak! kretak!


Langkah kaki kuda rombongan Jayden di pacu lebih cepat oleh mereka semua. Mereka merasa takut dengan kedatangan Lucifer yang ternyata mampu menyusul kawanan mereka, dan bahkan bisa sampai sedekat itu.


Tidak ada jalan lain untuk Jayden selain memacu kudanya menjadi beringas, dan lari sejauh yang mereka bisa dari sosok Lucifer.


"Jay! kuda kita sudah kelelahan, jika di paksa terus menerus, mereka tidak bisa lagi bertahan," ucap Manora sedikit memberi saran pada Jayden.


"Tapi kita tidak bisa membiarkan anak itu menyusul! kita harus lari sejauh mungkin dari mereka!" terdengar jawaban keras terlontar dari mulut Jayden.


Manora menjadi diam dan semakin kesal. Dia memendam sebuah kekecewaan di hatinya untuk pria ini.


Namun dia tak mampu berucap, hanya bisa diam, dan berpikir tentang caranya sendiri.


"Aku tidak bisa mengikuti kamu, Jay!" ucap Manora sambil memutar balikkan kudanya, lalu terlihat berisitirahat di sebuah gua.


"Manora!!" Vincent memanggilnya berkali-kali.


"Manora!!" begitu pun Andrea, dia juga terlihat memanggil Manora, dan terus menatap ke belakang.


Namun sayangnya Manora tidak lagi merespon. Wanita itu bahkan lebih memilih masuk ke dalam gua dan tinggal di sana.


"Jay!!! Jay!!!" panggil Vincent lebih keras.


Sementara kuda mereka masih saja berjalan dengan cepat dan keras, tanpa menoleh ke arah lain sedikitpun.


"Jay, kau tidak mendengarku!?" tanya Vincent mulai ikutan kesal.


Jayden pun sama, hanya diam dan terus terdiam sambil terus melajukan lari kudanya, supaya lebih cepat.


"Jay!" Andrea ikut memanggilnya, tapi pria itu pun lagi-lagi tidak menoleh.


Hingga akhirnya, rasa lelah dan penat itu mulai ada. Rasa kesal yang mulanya tidak di rasakan oleh Vincent, akhirnya sekarang timbul juga di hatinya.


"Arkh!"


Pria itu terlihat memutar balikkan arah kudanya, dan memilih untuk lari menuju Manora di sana. Vincent memilih kembali dan bertahan di sisi Manora di dalam gua.


Sementara itu, Andrea terlihat kebingungan. Hari yang sudah mulai kembali gelap, dan mereka bahkan belum makan apapun sejak seharian ini, tapi Jayden sama sekali tidak mengingat hal itu.

__ADS_1


Andrea mulai merasa ada yang aneh dari pria ini. Perhatian yang seharusnya di berikan oleh sepasang kekasih, nyatanya tidak pernah di tunjukkan oleh Jayden padanya.


"Jay!?" panggil Andrea lagi, namun pria itu tetap tidak menoleh ke arahnya.


"Jay mereka berdua sudah pergi ke gua! apa kau tidak mau istirahat sebentar!?" tanya Andrea masih mencoba halus.


"Tidak! tidak ada kata istirahat untuk hari ini, aku tidak mau mereka membuntuti dan mendapatkan kita!"


"Sebenarnya mereka itu siapa, si? kenapa kamu takut saat mereka datang!?" tanya Andrea sambil terus memacu kudanya.


"Mereka itu musuhku, dan kau adalah target mereka, jadi jangan pernah lepas dariku, mereka akan mendapatkan kamu!!"


"Tapi aku lelah, Jay! apa kita bisa beristirahat dulu sejenak!?"


"Tidak ada Andrea!!!" dan pria itu malah terlihat menolak cukup keras, hingga membuat Andrea kaget dan akhirnya berhenti, lalu menangis.


Krak! krak!


Bunyi kaki kudanya yang di paksa berhenti oleh Andrea, hingga akhirnya Jayden terpaksa harus ikut berhenti juga.


"Oh, ayolah, aku bukan bermaksud begitu, maafkan aku.." Ucap Jayden masih memunggungi Andrea.


Jayden akhirnya menarik nafasnya dengan dalam, lalu mengeluarkannya kembali. Ada rasa sesak dan kesal saat dia harus mengalah pada gadis ini.


Namun hanya ini jalan satu-satunya yang harus dia lakukan. Andrea tidak boleh merasa terkekang atau sedih saat berada di sisinya, dan dia juga tidak boleh membuat Andrea curiga kalau sebenarnya, dia lah yang sedang menipu gadis itu.


"Baiklah, aku minta maaf," ucap Jayden menghadap ke arah Andrea.


Pria itu terlihat turun dari kudanya, dan bergerak cepat menuju arah Andrea. Dia menuntun Andrea untuk turun dari kudanya, dan setelah itu mengajak Andrea untuk istirahat sejenak di tempat itu.


"Maafkan aku, lebih baik kita istirahat sekarang," ucap Jayden, sambil memapah Andrea menuju bawah pepohonan yang rindang.


Jayden terlihat mendudukkan gadis itu di bawahnya, dan membuat sebuah garis perlindungan melingkari Andrea dan pohon itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Andrea pada Jayden.


"Aku akan pergi mencari makanan, selagi aku pergi, tolong jangan melewati batasan ini, di sini terlalu berbahaya untukmu!" ucap Jayden, lalu terlihat menyimpan kembali benda putih di tangannya ke dalam saku.


Rupanya benda putih itu adalah salah satu senjata yang di berikan oleh pria di gubuk tua itu. Iya, sebenarnya Lucas yang memberikannya.

__ADS_1


Andrea hanya terlihat menganggukkan kepalanya saja, dan meringkuk ketakutan. Dia melihat Jayden yang berlalu darinya tanpa satu patah katapun yang keluar sebagai tanda pamit.


Tapi tak apa, setidaknya Jayden sudah menuruti keinginannya, dan sekarang tengah berusaha untuk mencarikan makanan untuknya.


Di dalam lingkaran itu, dia tidak cukup kedinginan, karena memang dia masih memakai jubah Jayden yang sejak awal pria itu berikan padanya.


Selain bisa menjadi penghangat, jubah itu bisa juga bermanfaat, iya, salah satunya bisa sedikit menutupi aroma Andrea dari hidungnya.


Jayden memang terkenal beringas dan brutal, kan? jadi bisa saja dia memangsa Andrea kapan pun dia tidak mampu menahannya.


Sebenarnya kalau tidak berpikir betapa pentingnya Andrea dalam perjalanan ini pun, Jayden pasti sudah melahap Andrea sampai habis.


hanya saja, dia harus memperlakukan mangsanya dengan baik, karena Andrea gadis yang akan banyak memberinya sebuah keuntungan.


Beberapa saat kemudian, Jayden terlihat muncul dari balik semak-semak, dan membawa sesuatu dalam bajunya.


Dia terlihat membawa buah-buahan di sana, dan memberikannya pada Andrea.


"Ini, makanlah!" ucap Jayden sambil memberikan beberapa apel dan buah pisang yang dia dapat barusan.


Andrea menerimanya, dan langsung saja memakannya tanpa ragu.


Sementara itu, Jayden masih terlihat di sibukkan dengan acara barunya. Membuat api unggun, dan mencoba membuat badan mereka lebih hangat.


"Kau tidak makan, Jay!?" tanya Andrea menawarkan buah-buahan di tangannya.


"Kau dulu yang makan, selepas kau kenyang, sisanya buat aku!" ucap Jayden sambil membersitkan senyumannya di depan Andrea.


Ya, tentu saja, dia kan harus pandai berakting kalau sedang bicara dengan gadis ini. Itu semua hanya untuk menutupi kebusukannya saja, tidak lebih dari itu.


"Tidak, Jay! aku akan menghabiskan semuanya nanti, jadi kita makan sama-sama," ucap Andrea dengan ramah.


"Aku tidak lapar, makanlah!" ucap Jayden menolak halus, sebenarnya dia memang sudah makan hasil buruannya tadi, karena itulah dia tidak merasa lapar.


"Aku tahu kau pun juga lapar! makanlah!" menyodorkan satu buah apel pada Jayden.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Aduh, jangan makin uwu deh ini si Jayden sama Andrea, ntar bisa ganti judul nih 🀭

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2