
Namun acara itu hanya sebentar saja, sebelum akhirnya Andrea tersadar akan kelancangannya, lalu melepas kecupan singkatnya di bibir Lucifer.
"Ugh..."
Lucifer hanya menatap gadis itu dengan bingung. Baru saja sekejap dia merasakan betapa indahnya bersentuhan antara bibir mereka, tapi kenapa mendadak anak itu malah melepasnya?
"Andrea?"
Gadis itu tidak menghiraukan Lucifer. Dia hanya mencoba berbalik, dan pergi meninggalkan pria itu di sana.
Dia sadar betapa bodohnya ia saat memilih untuk memberikan kecupan manisnya pada Lucifer.
Namun....
"Andrea!!!"
Suara itu terdengar memanggilnya, dan membuat langkah kakinya terhenti.
Terdiamlah dia di tempat, tanpa memiliki daya untuk bergerak, apa lagi menoleh, dan menghadap pria itu.
Samar-samar terdengar langkah kaki Lucifer yang mendekat ke arahnya dengan perlahan, hingga akhirnya..
Srettt!
Pria itu terlihat menarik tangan Andrea, membuat tubuh Andrea berbalik secara otomatis, lalu jatuhlah gadis itu dalam pelukan Lucifer.
"Ah?"
Dua mata tajam Lucifer yang menyorot tajam ke arahnya, seolah menghujam jantung dan hatinya, hingga membuat dirinya memaku dan menjadi patung dalam pelukan pria itu.
Pelukan dari tangan Lucifer yang erat, dan tangguh, hingga dia tak lagi mampu untuk melepas jeratan yang di berikan oleh Lucifer pada tubuhnya.
Wajah Lucifer terlihat makin mendekat ke arahnya, sampai pada akhirnya, nafas mereka saling beradu, dan menjadi awal cerita ciuman panas penuh nafsu.
Cup!!
"Umhh..."
Suara lenguhan itu, entah kenapa bisa keluar dari mulut Andrea dengan sendirinya, bahkan seolah memberinya dorongan untuk terus melanjutkan aksi ini.
Tidak lagi sama seperti saat dia bersama Gilbert, yang terus saja di hantui oleh sosok ayah dan ibunya, ciuman bersama Lucifer ini, sungguh membuat dirinya lupa akan segalanya.
Lupa akan bagaimana dia pulang, atau bagaimana dia akan menjelaskan semua kesalahan pada ayah dan ibunya.
__ADS_1
Sentuhan dari Lucifer, dengan lidah yang terus bermain manja di dalam bibir Andrea yang ranum, seakan membius gadis itu, dan memberi peringatan, dia bukan lagi gadis kecil, yang harus terkekang dengan bayangan orang tuanya.
Ciuman itu semaik panas, bahkan semakin menjadi. Di dukung dengan suasana romantis, cahaya senja yang muncul di ujung barat, seolah matahari tenggelam di balik sungai, membuat mereka berdua hanyut dalam indahnya kemesraan ini.
Aku menyesal pernah mencoba melakukannya dengan Gilbert, tapi denganmu, ciuman ini bahkan membuat diriku candu...
*Gadis yang sangat manis, membuat aku merasakan, untuk pertama kalinya aku mengerti alasan kenapa pria jatuh cinta pada gadis mereka ...
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ*
Pria itu masih berdiri di ujung gua, sambil menyaksikan betapa indahnya matahari yang terbenam di ujung barat.
Dari bukit itu, memang bisa di lihat dengan jelas, betapa indahnya suasana senja yang bagi sebagian orang melukiskan beribu-ribu perasaan yang tidak mampu di mengerti.
Rasa cinta, perhatian, atau mungkin sekedar kehangatan yang tidak semua orang bisa memilikinya..
Termasuk dirinya!
Jayden yang selalu saja tidak mendapat apapun dari ayahnya, selain kerakusan dan ketamakan yang di wariskan oleh Zhagler padanya.
Warisan hitam yang membuat putranya menjadi manusia kelam, makhluk berdarah dingin, dan menyedihkan.
Mungkin tidak ada makhluk lain yang memilki nasib buruk semacam Jayden. Namun perlu kalian tahu, dia masih saja setia berada di kaki ayahnya.
"Apa yang tengah kau pikirkan?" tanya Vincent pada sahabatnya.
"Kau bisa bantu aku untuk lebih dekat dengannya," ucap Jayden pada Vincent.
"Kau sungguh akan melakukannya?" wajah Vincent nampak ragu.
Tangan Jayden dengan gesit meraih leher Vincent, dan dengan kerasnya mencekik pemuda itu dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki.
Mungkin dia tersinggung dengan ucapan Vincent barusan.
"Tugas kamu hanya membantuku! soal mampu atau tidaknya aku, mari kita lihat nanti!"
Vincent terlihat mengangguk sebisanya, hingga akhirnya tangan Jayden lepas dari lehernya yang hampir saja di buat putus.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Ada legenda yang mengatakan, burung Phoenix akan mendatangi siapa saja orang yang sudah di takdirkan menjadi tuannya.." ucap seorang peramal, di rumah Tan Ash saat hari sudah agak malam.
"Dan aku melihat sebuah kekuatan yang datang, di saat pagi, saat munculnya matahari, bersamaan dengan berakhirnya malam yang gelap, aku melihat kekuatan itu," ucapnya lagi penuh dengan teka-teki.
__ADS_1
"Aku rasa aku juga merasakan kekuatan Phoenix itu sejak tadi pagi, tapi aku bahkan tidak pernah tahu siapa yang memiliki kekuatan hebat itu? dewa Phoenix telah memberikan kekuatan itu untuk siapa, aku sungguh ingin tahu, kekuatan ini sungguh besar, dan mampu melawan siapa saja, termasuk iblis setinggi Lucas sekalipun.."
"Air matanya bisa menjadi obat penyembuh, sementara seluruh tubuhnya punya kekuatan dan fungsi masing-masing, dan cahaya yang menyorot dari kedua matanya, adalah cahaya keberanian, ketangguhan, yang hanya di miliki oleh orang yang sudah di takdirkan, menjadi tuan dari Phoenix tersebut.." ucap sang peramal.
"Kekuatan yang sangat besar, bahkan rasanya tidak terbatas, ini sungguh sangat langka, seumur hidupku, aku baru pertama kalinya merasakan kekuatan cahaya yang sangat besar seperti ini.." ucap Tan Ash.
"Dan aku rasa, gadis itu yang telah memilikinya.." ucap sang peramal berhasil membuat Yan Ash melongo.
"Apa?" Tan Ash nampak terkejut, "gadis asing itu?"
"Ya, kau benar, dia yang telah memilikinya.."
"Dia tidak punya kekuatan apapun, takutnya kalau dia tiba-tiba mendapat kekuatan besar dari dewa Phoenix, dia menjadi lemah, dan tidak mampu menguasai hal itu, mengingat kekuatan Phoenix butuh keahlian yang besar untuk melatihnya.." ucap Tan Ash agak cemas.
"Tapi yang aku lihat, dia sudah menyatu dengan baik bersama kekuatan itu, Phoenix yang bersemayam di dadanya sungguh tidak memberikan reaksi semacam itu pada gadis itu."
Dewa Phoenix? sebenarnya bagaimana asal-usul anak itu? kenapa dia bahkan bisa mendapat hal semacam itu dari dewa cahaya?
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Srak! srak! srak!
Dua pasang kaki itu masih terdengar menyusuri hutan dan hendak tiba di pedesaan.
Setelah melakukan adegan ciuman yang panas di pesisir sungai, rupanya mereka masih mampu menahan hasrat yang sebenarnya ingin sekali di puaskan.
Arkh!
Yang benar saja....
"Lucifer, ada yang ingin aku tanyakan padamu.."
"Tanyakan saja!"
"Aku merasa agak sakit di bagian dadaku sejak tadi pagi, tapi kenapa aku merasa lebih tangguh dengan rasa sakit itu?" tanya Andrea pada Lucifer.
"Kau sedang sakit? kenapa tidak bilang sejak tadi? kau malah sibuk mengurus anak tidak tahu diri itu!"
"Bukan itu yang jadi masalah, tapi aku merasa ada yang aneh padaku, seperti kata Rosella, aku semakin berbeda dari sejak aku datang ke sini..."
"Jadi bukan hanya aku yang berpikir demikian?"
"Ah? maksud kamu?"
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ