Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Datang Seorang Diri


__ADS_3

"Di mana dia, ya? ini sudah hampir sore, aku masih punya janji sama Jayden, apa jangan-jangan Lucifer lupa?" gumam Andrea di depan rumah Lucifer.


Tan Ash terlihat keluar dari rumahnya, dan mendapati gadis itu tengah berjalan mondar-mandir di depan rumahnya.


Ya, itu sukses membuat Tan Ash menjadi bingung dan di penuhi oleh beragam pertanyaan.


"Ehem.." Namun pria itu agaknya punya gengsi yang lumayan tinggi.


Bahkan memulai bicara pun harus dengan batuk lebih dulu, mungkin dia punya gengsi saat harus menyapa orang dulu kali.


"Ah? Tuan Tan Ash!" ucap Andrea agak terkejut dengan kedatangan pria paruh baya itu.


"Kenapa kau ada di sini? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tan Ash pada Andrea.


"Tuan, apa Lucifer masih belum pulang juga?" tanya Andrea pada Tan Ash.


"Belum!" jawab Tan Ash secara singkat, padat dan jelas.


Huhh!


Rupanya sifat Lucifer benar-benar menurun dari ayahnya. Dingin bak kulkas!


"Oh, jadi Lucifer masih belum pulang, ya? memangnya dia pergi kemana?" tanya Andrea lagi, kali ini dia terlihat amat cerewet.


"Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? kan kalian yang selalu bersama dengan Lucifer, bukan aku.." Jawab Tan Ash terdengar lebih santai dari biasanya.


"Iya juga si," sekarang Andrea malah jadi bingung sendiri.


Gadis itu terlihat semakin di buat bingung.


"Baiklah, Tuan, kalau begitu, saya permisi.." Ucap Andrea terlihat berpamitan dengan Tan Ash.


"Memangnya kau sendiri mau kemana? aku pikir kalian sudah memulai perjalanan!" tanya Tan Ash pada Andrea.


"Ya, sebenarnya kami memang akan melakukannya, tapi saya punya janji lain yang harus saya selesaikan sebelum kami berangkat," jawab Andrea.


Tan Ash hanya membalasnya dengan anggukan sederhana saja.


"Baiklah, Tuan, saya harus pergi."


Pikir Andrea pada saat itu adalah, dia harus menepati janjinya pada Jayden, dia harus menengok dan melihat luka pria itu lagi dan memastikan kalau pria itu sudah baik-baik saja.

__ADS_1


Andrea terlihat berbalik dan meninggalkan Tan Ash di depan rumahnya. Pada saat itu, yang ada di pikiran Andrea hanyalah mengandalkan dirinya sendiri.


Entah apa yang sedang terjadi pada Lucifer, hingga pria itu tidak bisa dia ajak bicara sejak pagi tadi.


Dan sekarang, dia memilih untuk pergi seorang diri menemui Jayden, yang mungkin saja masih di dalam tempat yang sama seperti kemarin.


Mengingat tadi pagi saat pria itu menemui mereka semua, wajah pria itu masih terlihat pucat pasi, dan masih terlihat penuh rasa sakit.


Andrea jadi agak cemas dengan keadaan Jayden.


Dia bergerak menuju hutan yang lebat, dan berjalan seorang diri menuju perbukitan. Sepanjang jalan dia tidak menemui siapapun selain para binatang yang seolah menyapa kedatangannya.


Lucifer, aku harap kamu tidak marah, dan kalau pun kamu marah padaku, aku harap bukan karena aku yang mengecewakan dirimu!


Aku tengah berjalan menuju Jayden, sahabat yang kini telah berubah menjadi musuhmu, semoga kau tahu itu, maaf saja, tidak memberitahu kamu, aku nekad berjalan seorang diri, karena aku pikir, kau mungkin sedang tidak ingin di ganggu olehku!


Benak Andrea terus saja meyakinkan dirinya bahwa dia akan baik-baik saja nanti. Dia bahkan tidak berniat mencari Lucifer, atau pun mencari kawan lain untuk dia ajak pergi bersama menuju Jayden.


Mengingat ini adalah janjinya, ini adalah tanggung jawabnya seorang diri. Yang dia pikirkan saat itu hanyalah, semoga saat dia tiba, Jayden sudah dalam keadaan yang lebih baik, dan tidak perlu lagi dia khawatirkan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Sementara itu, Lucifer terlihat telah kembali ke rumahnya, dengan tangan kosong dan tak membawa apapun.


Pikiran yang kacau, di tambah lagi keadaan di atas tebing yang sangat menenangkan, membuat dirinya bahkan lupa kulitnya menjadi semakin hitam karena sinar matahari.


Pria itu baru saja tiba, tapi dia melihat sang ayah yang masih saja berdiri di depan pintu, dengan penopang sebuah tongkat di kedua tangannya.


Pada mulanya dia terlihat acuh, karena memang tidak ada yang aneh dari ayahnya. Tan Ash memang suka menikmati udara sore hari di luar rumahnya, dan itu sudah menjadi rutinitas bagi Tan Ash. Karena itulah Lucifer tidak terlalu di buat cemas.


Lucifer langsung saja terduduk di sebuah batu yang terletak di depan rumahnya, tepatnya berada persis di samping tempat ayah tengah berdiri.


Pria itu terlihat mengambil pedang dari dalam wadahnya, dan berniat membersihkan benda miliknya itu.


Namun, sang ayah lebih dulu memberitahu dia sesuatu hal.


"Dia mencarimu!" ucap Tan Ash pada putra sulungnya.


"Siapa?!" Lucifer masih saja acuh, tidak berpikir kalau Andrea yang mencarinya barusan.


"Gadis itu, dia mencarimu!" ucap Tan Ash lebih tegas.

__ADS_1


Sontak saja Lucifer mengangkat pandangannya, dan menatap sang ayah dengan cemas dan penuh pertanyaan.


"Dia bilang dia masih punya janji dengan seseorang."


"Apa!?"


Gubrak!


Tanpa berpikir panjang, Lucifer terlihat langsung beranjak dari tempatnya, dan berlari ke arah hutan.


Roarrrrr!!


Suara gaharnya saat dia berubah menjadi si loreng dengan warna khas gaharnya membuat sekelompok burung-burung yang bertengger di pepohonan akhirnya memilih untuk terbang.


Kretak! kretak! kretak!


Suara ke empat kakinya yang berlari dengan cepat, secepat kilat menyambar ( hanya perumpaan ) terdengar menginjak ranting kering bercampur dedaunan dan semak belukar.


Pria itu berlari dan akan menempuh jarak lebih dari sepuluh kilo meter untuk menggapai tempat keberadaan Jayden.


Dan seharusnya, langkah kaki Andrea yang perlahan, tidak bisa di bandingkan dengan langkah kaki Lucifer yang dengan cepat pasti akan segera menyusulnya.


Tapi mungkinkah Lucifer masih bisa mengejar gadis itu? mungkinkah masih ada sedikit waktu untuk bisa mendapatkan Andrea yang hanya bertumpu pada dua kakinya.


Hosh Hosh Hosh!


Nafas Andrea terdengar memburu. Gadis itu sudah hampir tiba di gua tempat Jayden dan pasukannya bersembunyi.


Pria itu terlihat menoleh ke arah Andrea, dan menemukan gadis itu masih berada di antara pepohonan rimbun sejauh dua puluh meteran.


Jayden terlihat mengawaskan pandangannya, dan melihat kalau gadis itu hanya berjalan seorang diri.


"Heng! jadi dia datang seorang diri? di mana kekasih pujaannya?" gumam Jayden, membuat dua sahabatnya terlihat ikut bertanya-tanya.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Manora pada Jayden.


"Lihatlah! dia sendiri yang datang padaku, bisa kalian lihat kalau dia hanya seorang diri untuk menuju ke sini, demi sebuah tanggung jawab, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini! dia harus berada di pihak kita!"


Sorot kedua mata Jayden berubah menjadi tajam, dan dalam sekejap, pria itu bisa menangkap rencana gemilangnya!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Duh, makin penasaran aja πŸ€”


__ADS_2