
Mereka tergeletak tak bernyawa, usai para kelompok musuh menusuk tubuhnya berulang kali, hingga mereka harus kehilangan nyawa mereka di Medan pertempuran.
Dengan gagah berani para pasukan musuh menghabisi kelompok harimau, hanya dengan satu sapuan pedangnya.
Di ruang bawah tanah, para wanita dan anak-anaknya pun terlihat sudah tidak ada lagi yang bernyawa.
Mereka semua berhasil di taklukkan dengan kegagahan pedang para serigala yang memang bukan tandingannya.
Kini rasa senang dan bangga akhirnya tercipta dari wajah Jayden, melukis kepuasan di wajahnya sendiri, dan menanti apa yang akan jadi rencana dia berikutnya.
Menghabisi para kelompok harimau yang memang tidak ada separuh dari anggotanya memang terasa lebih mudah.
Kini rombongan Jayden pun terlihat kembali, meninggalkan kelompok harimau, dengan meninggalkan jejak di tubuh Tan Ash yang telah tewas.
Sebuah kapak di tancapkan di dada Tan Ash yang telah tiada, di beri sedikit tanda dengan darahnya, simbol kekuasaan dari Serigala.
Mereka semua pergi dari tempat itu, usai berhasil memporak porandakan seisi pemukiman itu.
Hingga akhirnya, Lucifer kini datang ke tempat pemukimannya. Meski dia berlari cukup kencang, tapi tetap saja, dia terlambat tiba di tempat kejadian.
Dia melihat suasana desa yang penuh dengan kesenyapan. Tak ada suara apapun, hanya suara api yang tertiup angin.
Dia ambruk di depan semua jasad yang telah bergelimpangan tak bernyawa di depannya. Hatinya amat hancur tatkala melihat semua orang tidak ada lagi yang hidup, dan tewas dengan luka parah di sekujur tubuh mereka.
Luka sayatan pedang, luka cakaran, dan luka gigitan pertarungan yang amat dahsyat. Mereka semua terdiam membisu, tak menyambut Lucifer dengan penuh kehangatan lagi.
Hingga akhirnya mata berkaca-kaca Lucifer menangkap sebuah pemandangan dari seorang pria.
Pria tua yang pada mulanya menjadi harapan terakhirnya, menjadi tujuan dia pulang lebih cepat, meninggalkan kawan-kawannya, namun yang dia lihat pada saat itu, pria itu telah tewas, bersimbah darah di atas batu yang di buat untuk pengingat tanda bahaya.
Di tancapkan sebuah kapak di dada ayahnya, dan di gambarkan sebuah simbol kekuasaan dan kemenangan bangsa serigala.
Amarah Lucifer memuncak, membuat nyala api di tubuhnya berkobar dengan gahar, dan dari matanya terlihat pula api itu menyala-nyala tak tertandingi.
"Jayden! kau harus mati malam ini!!!" ucapnya dengan lirih.
Dia bertekad bulat, mengambil pedang di tempatnya, dan seketika pedang yang ia pegang pun berkobar, juga menyalakan api dengan begitu gaharnya.
Lucifer berlari secepat kilat, mencoba menyusul Jayden yang mungkin saja masih belum jauh dari pelariannya.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Andrea terlihat bingung, sekarang semuanya sudah terlihat mengikis, terbang di bawa angin, dan ke arah langit.
Pada mulanya dia begitu takut, namun kini dia sadari, kalau malam ini adalah waktunya.
Rembulan menyala begitu cerah, dan seolah menampar wajahnya yang kebingungan, entah harus benar-benar kembali, atau dia akan tetap berada di sini, namun takdir memaksa dia, memaksa dia untuk sadar, bahwa tempat ini bukanlah tempat dia yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Lucifer.."
Dia terus memanggil sang kekasih, meskipun dia tahu Lucifer tidak ada di sana, hilang atau pergi entah kemana, dia tak tahu.
Air matanya berderai, menghiasi pipinya yang semakin terlihat mengikis sedikit demi sedikit, hingga akhirnya, dia tak lagi utuh.
Dia berubah menjadi bayangan yang kasat mata, tak terlihat dengan jelas, sampai pada titik terakhir, tubuhnya terbawa angin dengan sempurna...
"Aku mencintai kamu, Lucifer...."
Rosella terbangun dari tidurnya, merasa ada hal yang terjadi dan tidak beres di sana, dia akhirnya bergegas bangun, dan akhirnya dia terkejut saat melihat debu-debu yang bertaburan di atas alas tikar tempat Andrea beristirahat.
"Dre!?"
Dia menyadari sesuatu telah terjadi, namun dia terlambat mengetahuinya. Sekarang gadis itu telah pergi, gadis itu telah kembali, dan meninggalkan mereka semua.
Namun yang masih mengganjal di benaknya adalah, tidak adanya Lucifer di sana, di mana anak itu, dia tak tahu sama sekali.
Merasa butuh penjelasan, Rosella akhirnya membangunkan kedua sahabatnya, dan mencoba mengajak mereka mencari keberadaan Lucifer.
"Manora! Wilson!"
Dua orang itu terbangun dari tidurnya, dan menatap Rosella dengan tatapan penuh kecemasan.
"Mereka berdua tidak ada! aku menemukan debu-debu yang berserakan di tempat tidur mereka!!"
"Aku pikir juga begitu.." Rosella menganggukkan kepalanya.
"Tapi Lucifer ada di mana? dia tidak mungkin ikut Andrea ke tempat itu, bukan?" tanya Manora.
"Atau mungkin, dia juga belum tahu kepergian Andrea, karena dia, bergerak seorang diri!" ucap Rosella.
"Baiklah, kita susul Lucifer!!" ucap Manora sambil merubah dirinya menjadi sosok serigala betina yang hitam.
Kini mereka semua berubah menjadi sosok masing-masing, dan berlari sebisa mereka untuk segera tiba di hutan kawasan serigala.
Mereka tak lagi takut akan kematian, yang jelas, saat ini Lucifer harus mereka dampingi, dan Lucifer harus tahu apa kabar dengan gadis itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kretak!
Tangan Jayden terlihat di angkat, pertanda mereka harus berhenti.
Ada pergerakan mencurigakan di sekitar kelompoknya, mereka akhirnya memasang senjata mereka ke seluruh arah.
Wosh!
__ADS_1
Suara angin meniup, dan di iringi dengan sebuah benda yang jatuh melesat di anggota yang menaiki kuda di samping Jayden.
Bruk!!
Pria di sebelah Jayden ambruk, jatuh dari kudanya usai panah beracun menembus dadanya, dan membuat dia mati seketika.
Semuanya jadi waspada, melihat situasi sekeliling, hingga akhirnya, sesuatu terlihat melewati mereka.
Woshh!!
Bak angin yang menerpa, mereka merasa bak di hantui oleh angin yang sebenarnya entah apa itu.
Jayden mengawaskan dirinya, berhati-hati dari segala arah, dan juga memberi kode pada para anggota untuk tetap berjaga.
Hingga di panahan kedua..
Syuttt!!
Brakhhh!!
Api menimpa tubuh mereka yang tengah berjaga, dan dari api itulah, membuat keributan hingga beberapa anggota yang ada di sampingnya ikut terbakar.
"Api!!!!!"
"Aaaaaaaaa!!"
Jayden semakin di buat cemas. Dia bawalah kudanya beserta rombongan yang tersisa untuk segera pergi dari sana, dan meninggalkan kelompoknya yang sedang terbakar.
"Cepat pergi!!!"
Kretak! kretak! kretak!
Namun bayangan dan angin yang kencang itu terus mengikuti mereka, hingga pada beberapa detik setelah itu, sesuatu yang berlari kencang itu menendang tubuh Jayden, membuat dia terjatuh dari kudanya.
Bukk!
"Arkh!!"
Gubrak!
Gubrak!!
Semua anggota berkumpul mengelilingi Jayden, dan berusaha melindunginya, namun seberapapun mereka berusaha untuk melindungi tuannya, mereka masih tetap tidak tahu di mana keberadaan musuh mereka.
Sampai akhirnya, angin itu berputar mengelilingi mereka, dan kemudian, jatuhlah mereka satu per satu, akibat luka pedang berapi yang menyayat tubuh mereka semua.
"Ah?"
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ