
Kakinya terasa amat sakit tatkala dia merasakan ada seekor binatang yang menggigit kakinya, bahkan serasa sampai pada tulang-tulangnya.
Rasanya seluruh tulang di kakinya retak, dan amat sakit lagi, saat dia merasa ada gigi-gigi tajam yang mulai menusuk area kakinya, dan mencoba memotong alat berjalannya dengan sekuat tenaga.
"Arkh!!" dia memekik kesakitan, dan tak lagi mampu bertahan, untuk sampai ke seberang.
"Sial!" umpatnya, sambil mencoba melepaskan diri dari jeratan binatang buas di dalam air.
"Apa yang menggigit kakiku ini!?"
Jayden terlihat mencoba mengangkat kakinya, meskipun binatang itu rasanya sekuat tenaga ingin menariknya ke dasar sungai, dan ingin sekali menghabisinya.
"Rrrrrrrrrrtttt!!! Arkh!!"
Dia berhasil menarik kaki kirinya, dan mulai terlihatlah binatang buas bergigi tajam dan runcing, yang tidak lain adalah seekor buaya.
"Buaya!? bagaimana buaya bisa ada di sini? bukankah semula tempat ini sama sekali tidak berpenghuni??"
"Rrrtt!! kau memang mengira kami tidak ada, tapi nyonya telah membuat kami ada, dan telah membangkitkan yang berhak hidup!" buaya itu terlihat berbicara sambil menggigit kaki Jayden.
"Arkh!! dasar kau bocah kecil kutu! kau hanya seekor kecoa bagiku! menyingkir lah!"
Buk!
Buk!
Buk!
Jayden terlihat mengomel sambil menendang area mulut buaya itu sampai pada akhirnya, ia pun berhasil terlepas dari maut.
Huhh!
Sayang sekali..
"Rasakan kau!" umpat Jayden sambil meludah, mengenai mulut buaya itu, lalu dengan cepat, pria itu terlihat berenang dengan cepat menuju pesisir sungai.
Sang buaya telah pergi, dan itu artinya Jayden sudah aman sekarang. Semoga saja ajal cepat menjemputnya.
"Arkh!!" dia memekik lagi, sambil mencoba terduduk di atas rumput nan hijau, dan bersandarlah dia di batang pohon nan besar dan kokoh.
"Arkh! sial sekali nasibku!" ucapnya dengan kesal.
Dia melihat kakinya, yang ternyata sudah berdarah-darah, bahkan terlihat membiru akibat gigitan dari gigi-gigi buaya yang amat tajam.
__ADS_1
Tak dapat di pungkiri, seberapa kuatnya Jayden, tetap saja saat berada dalam situasi seperti itu, dia pasti akan terluka.
Dia melihat kakinya yang sedikit memar, mungkin saja bagian dalamnya bermasalah, tidak ada yang tahu.
Tapi dia hanya mengabaikannya saja, padahal rasa sakitnya sungguh luar biasa, seakan kakinya hampir saja putus, dan terpisah dari tubuhnya.
"Huhh!"
Dia beristirahat sejenak, rasanya tidak bisa kalau terus di paksakan untuk berjalan lagi, dia sungguh tidak lagi mampu melanjutkannya.
Mungkin beristirahat sejenak bisa mengurangi rasa sakit yang luar biasa itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Sementara itu, Lucifer dan beberapa kawannya terlihat berhenti di sebuah tempat. Tempat yang gelap, dan tidak terdapat cahaya sama sekali. Mereka semua terlihat berhenti, dan memaku di tempat tersebut.
"Lucifer, apa kita tidak salah jalan?" tanya William pada Lucifer.
"Kata sang peramal, kita hanya harus berjalan ke arah barat, menurut aku kita tidak salah arah!" ucap Lucifer yakin.
"Jadi, apa mungkin Andrea juga masuk ke dalam kabut ini!?" tanya Rosella.
"Kita memang harus memastikannya sendiri, lagi pula aroma tubuh mereka sudah tidak dapat aku cium lagi, ada baiknya kita masuk saja dan memastikan semuanya sendiri!" ucap Lucifer, yang kemudian mendapat anggukkan tanda setuju dari semua kawan-kawannya.
"Jalan ini bahkan terasa tak berujung, bagaimana kalau di depan sana ada jurang, dan kita jatuh ke dalamnya?" tanya Wilson pada kakak kandungnya.
"Aku yakin jalan ini adalah jalan satu-satunya, tidak mungkin ada jalan lain selain ini!" ucap Lucifer begitu yakin dengan keputusannya.
Kau akan melalui kabut yang hitam, tempat yang sangat gelap, tak bercahaya sedikitpun, ikuti tempat yang tak berembun, tapi daun-daunnya terlihat hijau, bahkan binatang pun menunduk padanya, karena itulah jalan yang di lalui gadis itu sebelumnya.
Dia masih ingat betul ucapan dari sang peramal saat dia hendak berangkat berpetualang. Karena itulah dia amat yakin jalan ini hanyalah jalan satu-satunya yang harus mereka telusuri.
"Kita mungkin saja akan menemukan ujung jalan di depan sana, tapi tidak ada yang bisa memungkiri pula, kalau kita juga bisa mati di depan sana, jadi bersiaplah untuk segala hal yang akan terjadi pada kita!" ucap Lucifer terlihat amat gagah dengan ucapannya sendiri.
Semua orang akhirnya hanya bisa diam, dan terus berjalan menuju lebih dalam lagi, sampai akhirnya, mereka menemukan darah kental yang berceceran di atas tanah nan tandus.
"Tunggu dulu!" ucap Lucifer pada mereka semua, sambil mengangkat tangannya tanda untuk berhenti.
"Ada darah di sini!" ucap William.
Semuanya berhenti, dan William memutuskan untuk turun dari kudanya.
Kretak!
__ADS_1
William mendekati darah kental tersebut, dan berjongkok untuk memastikan darah apa yang mereka temui itu.
Darah yang kental, dan terlihat amat banyak berceceran di atas tanah, tentu saja dia harus mengambil sedikit dengan jarinya, lalu menciumnya untuk memastikan aroma darah darah itu benar-benar milik seekor binatang.
"Ini darah binatang!" ucap William yakin. Dia memang pengendus yang sangat baik.
Manora dan Vincent tersentak. Yang ada dalam otak mereka saat itu adalah, Jayden pasti dalam bahaya, atau mungkin itu adalah darah Jayden? begitulah pikir mereka.
"Apa itu darah Jayden!?" tanya Manora dengan cemas.
"Bukan! ini darah binatang lain, mungkin seekor beruang besar." Jawab William yang ternyata tidak salah menerka.
"Tapi itu artinya, Jayden dan Andrea berada dalam bahaya saat itu." Ucap Rosella dengan cemas.
"Jika darah beruang berceceran sebanyak ini, mungkin beruang itu sudah mati karena kehabisan darah, tapi pertanyaannya, kemana kiranya beruang itu pergi!?" tanya Wilson si cerdas yang luar biasa.
"Bukankah kau paling pintar di antara kami? kalau begitu, cari yang bisa memberi kamu petunjuk!" ucap Lucifer pada adiknya.
Wilson tersenyum, dan mulai yakin untuk turun dari kudanya, usai Lucifer mengatakan hal demikian padanya.
"Kau benar, aku akan memastikannya!" ucap Wilson.
Pemuda itu nampak gagah berani mendekati darah itu, lalu mencari jejak yang mungkin bisa memberi dia sebuah petunjuk.
Dia meneliti di sekelilingnya, terdapat jejak kaki beruang memang, yang terlihat menjauh, dan meninggalkan tempat itu, tapi di lihat dari jejak kakinya, dia tahu beruang itu tidak terseok-seok saat berjalan, padahal seharusnya beruang itu merasakan sakit yang luar biasa, dan jika pun berjalan, pasti akan sesekali terjatuh, dan akhirnya tewas.
Tapi yang dia lihat saat itu, jejak kaki beruang nampak biasa-biasa saja, bahkan tidak terlihat apapun yang bisa menandakan kematian beruang itu.
Sebenarnya kemana beruang itu hilang?
"Kau menemukan sesuatu!?" tanya Lucifer dari atas kudanya.
Sejenak Wilson terdiam, sebelum akhirnya mencoba menjawab pertanyaan dari kakaknya, "mungkin aku masih butuh pemasukan otak."
"Haha.. baiklah, naik saja! kita akan segera tahu jawabannya!!"
"Baik!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kasihan juga sama Wilson, padahal dia hampir bisa nebak apa maksud hati author, tapi ya gak papa lah, nanti aja taunya π€π€π€
Salam sayang semuanya..
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ