Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#POV Lucifer


__ADS_3

POV!


Lucifer!!


Pertama kali aku jumpai dia di tengah hutan, gadis itu tidak bisa aku lihat dengan jelas bagaimana wajahnya.


Tidak ada sinar rembulan yang menyorot, atau sekedar cahaya bintang-bintang yang membantu aku melihat bagian wajahnya.


Dia terlihat amat menawan, saat pagi mulai menjelang. Barulah aku lihat wajahnya yang anggun, terkena sinar mentari di pagi hari, dan itu, sejujurnya, membuat perasaan di hatiku, agak membingungkan..


Aku yang mulanya tidak pernah jatuh cinta, bahkan tertarik pada seorang wanita pun rasanya tidak pernah, namun kehadiran Andrea, jujur saja membuat hatiku berubah, tentunya jadi lebih baik.


Dia yang datang dengan sejuta senyuman penuh luka, yang tertawa di kala dia sendiri bahkan bingung harus berbuat apa di tempat ini, semua yang dia lakukan, sungguh membuat aku terkagum-kagum padanya..


Sosoknya yang konyol, pada mulanya, iya, sekarang gadis itu jauh lebih pintar dari yang aku kira. Entah mungkin dia pintar sejak dia datang, atau dia memang pintar sebelum dia datang ke sini, aku tidak tahu pasti.


Yang jelas, aku tahu dia punya sisi yang sangat menarik, cerdas, dan penuh dengan senyuman penuh arti..


"Gadis itu akan kembali ke tempat asalnya!!"


Namun kata-kata dari sang peramal di pagi ini, berhasil membuat hatiku terguncang hebat.


Haha..


Mungkin memang aku yang bodoh, yang tahunya hanya suka dan nyaman dengan kehadiran Andrea, sejujurnya dalam hatiku, aku lebih suka memanggilnya si cantik.


Hanya saja, rasanya kenapa canggung juga saat mau memanggilnya dengan panggilan itu, ya?


Sang peramal mendefinisikan masa depan yang kelam pada gadis itu. Masa depan yang di dalamnya, juga terdapat cerita kembalinya Andrea dalam dunianya..


Aku, sungguh tidak tahu bagaimana caraku menggambarkan suasana hatiku yang kelabu. Antara takut kehilangan, namun tahu dia bukanlah gadis yang bisa aku miliki.


Dunia kami berbeda, dia yang bukan termasuk ras kami, dan aku yang apalah daya telah ditakdirkan untuk lahir sebagai manusia harimau.


Kami berdua pun datang di waktu yang berbeda, dan jarak waktu yang terlampau jauh.


Tapi sungguh, hati ini terasa kacau saat mendengar perkataan dari sang peramal barusan.


Srak! srak! srak!

__ADS_1


Suara dua kakiku yang melangkah ke hutan, dan menginjak rumput-rumput liar nan hijau di sana.


Aku terpaksa dingin padanya, mencoba acuh tak acuh dengan gadis itu, berharap dia mampu terbiasa dengan sikap dinginku, lalu kembali ke asalnya tanpa bergelayut pada kenangan kami berdua.


Mungkin hal itu jauh lebih baik, dari pada harus membuat dia mengingat aku, pria yang tidak pernah di takdirkan untuknya.


Sama halnya seperti Andrea, yang aku buat tidak peduli padaku, aku juga sama, pada diri ini, aku hanya ingin mampu terbiasa tanpa gadis itu..


Aku hanya ingin lupa bagaimana rasanya saat pertama kali dia mencium bibirku, dan aku kembali menghabisi bibir ranumnya yang amat manis.


Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, tidak akan menyentuh seorang gadis, sampai aku benar-benar memilikinya.


Tapi Andrea? gadis itu sungguh berhasil membuat otakku gila! gila seutuhnya!


Membuat aku melanggar janji pada diriku sendiri, dan membuat aku menjadi sosok pria yang lemah saat di hadapannya.


Kini aku telah berdiri di puncak bukit nan tinggi. Masih dalam kawasan kami memang, karena itulah, aku tidak berpikir untuk kembali lebih cepat.


Meskipun aku pernah berjanji pada Andrea, untuk menemani dia selama satu Minggu penuh saat dia melihat keadaan Jayden, tapi, apa salah, kalau aku justru merasa terbebani akan hal itu.


Iya, sebenarnya bukan soal menemani dia yang menjadi beban, tapi soal di mana aku melihat dua pasang mata yang saling beradu, dengan tatapan yang sungguh, membuat hatiku teriris.


Cemburu!?


Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak.


Arkh! aku sungguh tidak tahu sama sekali!


Apa aku ini sudah jatuh cinta pada Andrea, atau aku masih dalam perjalanan menuju kata-kata itu? apa aku masih sempat untuk mundur, dan melupakan Andrea dari otakku, dan kembali berpikir waras untuk ke depannya, atau aku tidak akan pernah bisa melakukannya lagi?


Arkh!


Kesal sekali pada perasaan dalam hatiku ini.


Aku terduduk di atas tebing, bebatuan terjal yang sangat tajam, sedikit saja salah melangkah, maka kakiku akan terluka dan kemudian berdarah-darah di sana.


Tapi, entah terkena angin dari mana, rasanya mudah sekali menaiki tebing ini, bahkan tidak membuat aku menggunakan waktu lama untuk menuju ke atas sana.


"Aahhhh.." perasaan ini aku coba legakan dengan pemandangan indah di tempat itu.

__ADS_1


Dari atas sini, bisa aku lihat luasnya Padang rumput yang hijau, dengan puluhan kawanan rusa yang tengah asik memakan segala tumbuhan di sana.


Sinar matahari yang terik, menandakan waktu yang sudah siang, tidak membuat aku bergeming dari tempat itu, bahkan sampai rasanya ubun-ubun di kepalaku terbakar, aku masih saja tidak mau bergerak.


Cuit.. cuit.. cuit...


Kicauan burung-burung yang riuh di atas pepohonan, lalu secara bergerombol terbang ke langit, menyibakkan angin yang lumayan membuat kulitku merasa dingin.


"Terima kasih alam.." ucapku sambil tersenyum menikmati suasana alam yang sangat indah ini.


Meskipun jauh lebih indah momen di mana aku mencium bibirnya dengan lembut, dan merasakan sebuah hawa panas di sekujur tubuhku.


Arkh!


Andai bukan aku orangnya, aku tidak yakin gadis itu akan selamat. Jika jatuhnya pada Wilson atau pun William, aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi pada Andrea.


Aku pun merasa beruntung, karena saat itu aku mampu mengendalikan diriku, tidak lagi berharap lebih padanya, atau sekedar berpikir mengenai hal yang lebih jauh lagi.


Menurut aku, itu sebuah pencapaian yang amat tinggi untukku.


Dan kini, kedua mataku masih setia menatapi sekelilingku yang benar-benar indah, tak mampu aku katakan betapa indahnya pemandangan dari atas tebing ini.


Semua yang aku lihat membuat aku terkesima. Iya, sejujurnya itu hanya pelarian saja, karena otakku masih di buat beku oleh gadis itu.


Tahukah kalian bagaimana perasaan aku saat mendengar gadis itu harus kembali?


Aku hanya tidak mampu berkata-kata, tidak mampu membayangkan, dan tidak lagi mampu menahan rasa sesak di dadaku.


Karena itulah aku lebih memilih untuk pergi, tidak mencoba lagi memberi ruang kedekatan antara kami, mungkin dengan cara seperti itu, bisa membuat kami tahu, kami memang tidak di takdirkan untuk bersama..


Sama sekali tidak..


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Galau banget gak si Lucifer ini?


Gak pernah suka sama cewe, eh sekalinya suka, mereka malah punya perbedaan yang jauh banget...


Jadi kasian deh sama dia, kira-kira mereka bisa bersatu gak ya?

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2