Kisah ABG

Kisah ABG
Olimpiade part 1


__ADS_3

Karena waktu olimpiade diundur 15 menit kemudian entah karena alasan apa, Yulan memutuskan menenangkan diri ke toilet yang tidak jauh dari ruang mereka berkumpul. Gadis itu nekat pergi sendiri karena jaraknya masih dekat tidak perlu pengawasan, ia menolak tawaran guru pendampungnya untuk ikut menemani. Tak sadar bahwa ada seorang lelaki mengendap mengikuti langkahnya.


Klik, pintu dikunci dari luar.


Selesai dari ritualmya Yulan melangkahkan kaki mengemgam engsel pintu "Kok nggak bisa dibuka?" ia masih berpikir positif dan mencoba lagi.


Mulai panik saat ia sadar sudah dikunci dari luar, berkeliling di dalam ruang toilet mencari sesuatu yang bisa membantunya. Nihil, tak ada yang bisa diperbuatnya selain menggedor-gedor pintu sekuat mungkin agar orang mendengar teriakannya dari dalam.


Penampilannya sudah berantakan, keringat membasahi tubuhnya karena kepanikannya, tangannya memerah karena terlalu kuat mengedor pintu, tenggorokannya mulai kering karena terlalu banyak berteriak, ia membutuhkan obatnya segera.


"YULANN, MUNDURLAH. KAMI AKAN MENDOBRAK PINTUNYA!!"


"KAK, ENDRUU!!" yulan membalas ucapan orang dari luar sana.


Seperti mendapat air di padang gurin Yulan mundur mendekati dinding dan bersandar, ia sudah hampir pingsan apa bila tak mendengar suara pertolongan dari luar.


"SATU!! DUA!! TIGA!!"


PRANGGG


Suara engsel pintu yang retak terbentur dinding, Yulan menutup telinga karena terlalu takut.


Endru masuk lalu meranggkul tubuh Yulan yang bergetar dan membawanya keluar, sedangkan Bian langsung menuju ke ruangan mereka sebelumnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Bu Winda selaku pendamping cemas.


Neva yang tanggap situasi langsung merogoh tas milik Yulan dan memberi botol obat kepada Yulan "Ayo, Gue bantuin Lo minum," Neva dengan cekatan memberi Yulan obat dan memberi botol minum.


"Tenanglah." Neva mengusap pundak Yulan dengan lembut. Neva sudah mengetahui tentang Yulan, agar dapat mengendalikan Yulan saat mereka bersama. Kemudian mulai merapikan rambut Yulan dan merapikan pakain Yulan, merangkul Yulan dengan lembut.


"Kita tidak punya waktu banyak, apa kamu masih bisa melanjutkannya Yulan?" tanya Bu Winda.


Yulan menetralkan degup jantungnya, rasa nyeri dari sana mulai berkurang setelah menelan kapsul itu. "Bisa, Bu." jawabnya dengan meyakinkan.


"Lo yakin, Lan?" Neva ikut menanggapi


"Yakin," Lagi Yulan tersenyum meyakinkan.


"Baiklah." Bu Winda tersenyum senang.


Sekarang tinggal lah Neva, Bian dengan Endru, mereka bertiga saling menatap satu sama lain.


"Apa ada yang tidak beres? Kenapa sampai kami tidak tau kalau Yulan terkunci?" tanya Neva penasaran.


"Sepertinya," jawab Bian.


"Gue nggak pernah mengikuti event yang semacam ini, aneh saja liat seperti tadi."

__ADS_1


"Apa maksudmu, Ndru?" tanya Neva penasaran.


"Tadi saat kami datang, semua terlihat ameh. Kami bertemu seorang salah satu peserta murid laki-laki, menanyakan di mana ruangan 03 sesuai kode ruangan sekolah kita, kami ke sana tapi--" Endru melirik ke pintu dan melihat kertas stempel tergantung di pintu lalu menghampiri pintu tersebut


"Lihat! Kertas ini tadi bertuliskan angka 4 bukan 3, nomor ruangannya ditukar!" kemudian Endru membalil kertas tersebut "Tulusan angka 3."


Mereka bertiga tercengang.


"Aku paham. Sepertinya ada yang sengaja menukar nomor ini agar kita berpikir ini bukan ruangan sekolah kita, agar kita tidak mengetahui kalau akan ada salah satu murid dari sekolah kita yang akan dikunci di kamar mandi. Ini disengaja dengan waktu yang kilat." ujar Neva menelisik.


"Bener juga," sahut Bian seadanya.


"Eh, tapi. Kok kalian bisa nggak tertipu yah?" tanya Neva heran.


"Kenapa, Bro. Gue tadi hanya ngikutin Lo doang." Bian menoleh ke arah Endru.


Tidak mungin Endru cerita tentang gelang itu, harus ada alasan lain.


"Ummm. Akku-eh Gue, mau ke kamar mandi bentar tadi, jadi aku jalan ke arah sana. Terus ada suara gedoran pintu, ternyata Yulan."


"Oh, gitu?" jawab Bian heran. Melihat wajah Endru saat mereka berjalan tadi sudah menandakan sesuatu yang mendesak. Bukan mendesak yang itu maksudnya Endru tanpa aba-aba langsung menarik tangan Bian mulai dari parkiran tadi, berjalan tergesa seperti mengejar sesuatu. Tapi ia tidak memperpanjang hal itu.


"Ok lah. Yang terpenting sekarang kita harus ke aula, nanti kita kelamaan di sini. Tetapi tetap. waspada, takutnya ada part 2nya lagi." Neva percaya untuk alasan ini. Tetapi ia masih merasa cemas, ada yang menjanggal di hatinya.

__ADS_1


"Iya, ayo," Endru berjalan mendahului mereka.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2