
Chatryn memasuki gerbang sekolah dengan gaya angkuh mengangkat dagu, melewati kerumunan siswa yang masih saja menggosipi dirinya. Tiga hari lalu ia di skors tidak masuk sekolah, hanya tiga hari! Chatryn masuk ke ruang kelasnya.
"Chatryn sekolah?" tanya Priska kepada dirunya sendiri.
"Iya, Bu Priska!" itu suara sahutan dari belakangnya, Bu Winda menghampiri Bu Priska.
"Hebat bukan? Seorang Chatryn mendapat keringan hukuman." tukas Bu Winda kesal. "Apa dia mendapat pembelaan dari kepala sekolah itu lagi?"
"Bisa saja, Bu Win. Kita semua tahu siapa yang menjadi tameng Chatryn di sekolah ini, ayahnya adalah firma hukum yayasan ini."
"Tapi tidak bisa seperti itu, Bu! Semua siswa di sekolah ini sama posisinya apa bila melakukan kesalahan, tanpa pandag bulu tetap harus mendapat hukuman. Kesalahan adalah kesalahan, bila perlu Chatryn dipecat!" cercah Bu Winda.
Bu Priska tersenyum sinis menanggapi perkataan guru seprofesinya ini, wajar saja perempuan ini belum mengenal betul seperti apa tabiat sekolah ini. "Sudah, Bu. Lebih baik fokus mengajar saja, biar saya yang berbicara kepada Pak Brama."
Setelah percakapan mereka selesai, ke dua perempuan ini menuju ruang masing-masing karena jam belajar sudah mulai.
"Endruu!!" seru Priska memanggil Endru yang sedang celingukan entah kemana.
"Ini sudah masuk jam belajar, kenapa kamu masih berkeliaran?" tanyanya tegas.
Endru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah karena ketahuan.
"Nggak, Bu. Ini, apaaa. Aku mau ke ruang osis mau cari buku."
__ADS_1
Sedikit mendongak, Priska memperhatikan gelagat mencurigakan Endru. Dari ekspresi dan tingkah laku muridnya ini, ia sudah tahu ada bahwa Endru sedang berbohong.
"Kamu jangan berbohong pada ibu, Endru. Mau kemana kamu? Hum!"
"Mau menemui kepala sekolah, Bu."
Priska tersentak.
"Mau ngapai kamu ke situ?"
"Bukankah Chatryn harusnya dipecat? Karena ulahnya, sekolah kita hampir kalah. Dan, tindakannya sudah mencoreng nama baik sekolah kita. Berita ini sudah sampai ke luar sekolah, Bu," ucap Endru menjelaskan tujuannya.
"Pulang ke kelasmu sekarang!" Priska menepuk pundak Endru "Biarkan Ibu yang bertanya kepada kepala sekolah."
"Ck," Endru berdecak. Ia berjalan kembaki ke ruangan kelasnya.
Pelan-pelan keinginannya mulai tercapai. Tanpa perlu repot mengotori tangannya ini untuk menuntaskan apa yang menjadi targetnya, cukup diam melihat apa yang terjadi di depan matanya. Semuanya akan tersingkir satu per satu, semoga saja.
"Kalau Anda masih sanggup di bawah tekanan mereka, lanjutkan jabatan anda. Jika tidak, silahkan mengundurkan diri!" dengan sindiran halusnya, ucapan Priska berhasil menusuk Brama.
Wajah lelaki gempal ini pias memucat jika berhadapan dengan Priska, pantas saja Priska dipercaya menjadi guru BK di sekolah ini. Perempuan ini cukup pintar mengintimidasi lawannya.
"Ayah Chatryn adalah pemegang firma hukum di yayasan ini, itu berarti saya juga harus hormat pada beliau."
__ADS_1
"Dengan melindungi anaknya dari kesalahan?"
"Saya kira hukuman tiga hari tidak masuk sekolah itu cukup untuk Chatryn. Saya juga memberi hukuman pada anak itu, hanya itu yang dapat saya lakukan."
"Hanya itu?"
"Iya!"
"Kita lihat di dua posisi ini, Pak. Iandika adalah murid yang nakal Bukan? Bukan berarti anak itu tidak bisa dipertahankan di sekolah ini, masih ada yang bisa dinilai dari Ian. Ian sangat pandai dalam bidang olahraga, bahkan dia pernah membawa medali sekolah kita beberapa kali. Lantas, hanya karena dia mempunyai masalah dengan Emdru, Ian dipecat!"
"Ian suka bertengkar dengan siswa yang lain Bu!"
"Saya guru BK di sekolah ini! Tapi kenapa bapak tidak pernah bertanya alasan apa Ian melakulan itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Hanya karena Ian berasal dari keluarga biasa, dengan se enaknya kalian yang ber pangkat memecat anak itu."
"Chatryn! Anak itu memang pintar, juga membawa medali untuk sekolah kita. Tetapi kita tahu seperti apa sikap anak itu yang tidak mau mengalah dan tidak mengakui kekalahan, dia itu sangat sombong. Masih banyak yang lebih pandai dan pantas dari dia. Tetapi dengan uang dari orang tuanya, kalian rela membeli bocoran soal-soal ujian untuk Chatryn agar terlihat pintar!"
"ANDA JANGAN ASAL BICARA!" ucap Brama sarkas.
"Saya tidak asal berbicara dan asal menuduh, Pak Brama yang terhormat! Namun perlu anda garis bawahi sekali lagi, saya yang lebih dulu masuk ke sekolah ini dari pada anda. Anda adalah salah satunya orang yang terjebak dalam jabatan ini," Priska mengeluarkan sebuah berkas dari tasnya kemudian memberikan kepada Brama. "Baca baik-baik semua isi dari berkas ini, dan jangan ada yang tahu. Ini adalah kunci keselematan bapak. Saya permisi!"
TIDAKKKK!!
apa yang harus dilakukan Brama sekarang? Semua isi berkas ini adalah daftar nama guru yang menjabat sebagai orang penting di yayasan dan sekolah ini, dan sebagian dari mereka ada yang dipenjara, ada juga yang dimutasi ke kota terpencil.
__ADS_1
Apakah jika ia tidak melakukan semua permintaan dari atasanya, nasibnya sama seperti nama orang yang di dalam berkas ini?
ššš