Kisah ABG

Kisah ABG
Ancaman


__ADS_3

Dari pada bosan menunggu Yulan yang sedang latihan, Neva duduk pergi ke kantin untuk membeli jajanan snack ringan untuk memgisi perutnya yang mulai lapar. Tadi dia sudah mengabari abangnya terlambat pulang siang ini, lagian Will masih asik latihan bersama tim basketnya.


Jengah juga lama-lama melihat mereka-mereka ini yang selalu memandangnya dengan tatapan sinis. Dari pada tambah emosi apa lagi siang panas begini, mending menyegarkan diri ke kantin.


Di kantin masih ada beberapa siswa yang belum pulang sedang berkumpul dan makan di meja sebelahnya, lagi dan lagi mereka juga sama saja matanya. Julid!


Tapi apa pedulinya, yang penting perutnya kenyang.


Apakah ibu kantin juga memusuhinya? Datang membawa pesanan tidak ada bersuara sama sekali, hanya meletakkan di atas meja lalu pergi. Bodo amattt, si amat aja nggak peduli.


Neva menungkan saos dengan serampangan ke dalam bakso miliknya, kalo nggak pedas nggak bakso namanya. Masih asik dengan baksonya, sampai ia tidak mendengarkan ponselnya yang sudah bergetar di dalam tasnya. Barulah setelah ia menyelesaikan makannya dan meminum es tehnya, ia terbelalak membaca pesan singkat di ponselnya.


Dari mana si Endru tahu nomornya? Perasaan orang sekolah ini belum ada yang bertular nomor ponsel dengannya kecuali Yulan. Itu pun baru semalam mereka tukaran nomor, nggak lah secepat ini tersebar ke cowok yang katanya ter weewww di sekolah ini. Ah, ya sutralah. Lebih baik temui dia.


Setelah selesai dengan pembayaran, Neva berlalu keluar dari kantin.


Lihatlah! Si Endru sudah berdiri dengan gayanya, Neva menghampiri dengan gerakan jalan sedikit lambat.

__ADS_1


"Lo datang juga."


Neva tak menjawab, malah membuang muka ke samping.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


Si Endru tidak melanjutkan pembicaraanya, kaki ini rasanya sudah kebas.


Sekarang posisi mereka sudah berhadapan.


"Gue udah tahu. Lo yang sengaja merusak tombol lift tadi pagi, mau menjebakk kami kan?" Dan--" Endru mendekatkan wajahnya ke wajah Neva "Dan mau menjebak Gue dengan si Chatryn. Gue punya rekaman cctvnya." ujarnya penuh penekanan.


"Lalu?" balas Neva sengit sambil tersenyum enteng. Neva menepuk pipi kiri Endru tiga kali. "Gue nggak takut. Ngancam Gue gitu? SILAHLAN. ditunggu pembalasannya, karena Gue juga punya alat buat nekan Lo, Endru." bisiknya tepat di telinga Endru. Lalu mundur memberi jarak di antara mereka.

__ADS_1


"Oh ya? Apa itu?" Endru seperti tertantang.


"MAP BERWARNA KUNING BERTULISLAN NAMA INGGRISA GELVANI, CEWEK LO." Neva puas melihat pias dari wajah Endru


"Uuuhhhh. Panink nggak panik nggak paniklah masa enggak!" Neva melipat tangan di depan dadanya. "Map itu berisi semuaaaa nilai mata pelajaran Inggri yang asli sudah dipalsukan pihak yayasan selama ini. Kalau itu sampai ketahuan ke public, pasti nama Lo juga bakal ke seret dong." Neva tersenyum mengejek.


"Dari mana Lo tahu semua itu? Dari Bu Priska? Iya?"


"Hooo. Iyappp, tepat sekali!" tepuk tangan dari Neva adalah tepuk tangan mengejek "Gue akuin sih, tante Gue itu agak lengah se-diii-kitt tadi pagi, nggak merhatiin tumpukan file yang berantakan ada di meja kerjanya. RA-HA-SI-A! Jadii. Tolong bikangin sama tante ku yah, agar lebih berhati-hati lagi kalau nyimpen sesuatu." Neva mendapatkan map itu terletak di meja kerja Bu Priska, saat ia menemui beliau tadi pagi. Dan tentu Neva bukan gadis bodoh untuk memberi sedikit kejutan pada map itu. Neva tersenyum misterius. Dan itulah sebabnya dia berani melakukan aksi perusakan liftnya dengan berani. Bukannya ia tidak melihat cctv itu, semua sudah ada perkiraannya.


Sedangkan Endru tidak berkutik sama sekali, rejaman cctv ini tidak ada bandingannya dengan ancaman yang dikatakan Neva. Gadis ini begitu sulit diperdaya, sama seperti Bu Priska. Iya lah, satu keturunan. Bu Priska juga sangat disegani oleh guru-guru, Endru pun bingung kenapa bisa begitu.


Tanpa aba-aba lagi. Endru pergi meninggalkan Neva, remcannya gagal sudah. Padahal dengan ancamannya tadi, ia bermaksud untuk menjerat Neva ke pelukannya. Tepatnya, memaksa gadis itu agar mau berkencan untuk lebih dekat dengan Neva. Tapi justru dirinya yamg terjebak.


Endru mematahkan DVD itu menjadi beberapa bagian lalu membuangnya ke tempat sampah.


Neva melirik arloji di tangannya. Sebentar lagi waktunya Yulan sudah habis, mereka berjanji akan pulang bersama.

__ADS_1


Dan untungnya lagi, pertemuan mereka tidak kecolongan lagi. Tentu, Neva sudah memantau sebelum. saat menemui Endru.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2