Kisah ABG

Kisah ABG
Simpanan Priska


__ADS_3

"Nev, aku antar ya," ucap Endrun tanpa melepaskan cekalan tangannya.


"Nggak, Ndru. Aku naik angkot aja, nggak enak sama mamah kamu yang udah nunggu di parkiran," tolaknya halus melepaskan eratan tangan Endru.


Wajah cowok ini masam karena permintaanya ditolak, ia menghela napas panjang. "Nev," bujuknya lagi.


Neva tersenyum kecil memandang ekspresi memelas pacarnya ini, tetapi memang hari ini mungkin hari sial bagi mereka.


Rencana kencan ala mereka ditunda karena tiba-tiba mamahnya Endru datang menjemput Endru pulang sekolah, dan Inggrisa yang lagi dan lagi cari perhatian.


"Ndru, pulang sana! Aku percaya kok sama kamu, kamu nggak mungkin macem-macem sama si Inggri. Tante Mhita udah relain sakitnya loh demi kamu," kata Neva memperingati.


"Iya. Tapi ada Inggrisa, aku malas ada cewek itu. Hobinya caper mulu sama nyokap," tukasnya.


"Kerjain kek, jailin kek. Ya buatlah dia nggak nyaman deket-deket sama kamu, gampang'kan? Intinya, awas aja kalau sampai kalian ada buat sesuatu yang buat aku cemburu! Huunggg!!" ucap Neva posesif menirukan gerakan meninju udara.


Endru tertawa renyah, ia mulai tenang meninggalkan Neva. Cewek ini memang pemgertian dan paham situasi, tahu porsi hubungan mereka dan tahu batasannya.


Menoleh ke belakang melihat Inggrisa yang sedari tadi mencoba menggandeng Endru, namun Endru terus menghindar, sampai bayangan mereka menghilang bersama mobil yang membawa pulang.


"E-em! Bu Priska tunggu!" panggilnya sedikit canggung berlari kecil menghampiri wanita itu yang sudah menghentikan langkahnya.


Saat di sekolah Neva memang memanggil auntynya BU Priska.


"Kamu belum berhenti kerja di kios itu?" pertanyaan aunty Priska membuatnya gemetar. Tatapanya yang tajam membuat nyalinya ciut. Hubungannya dengan auntynya menjadi buruk saat Neva minta izin untuk tetap kerja paruh waktu, aunty menolak dan Neva tetap keukeh untuk bekerja.


"Tapi, Bu. Aku ingin membant-"


"Cukup Neva!" Priska memotong ucapan Neva. Merogoh tasnya dan mengambil ponsel lalu memberikannya pada Neva. "Baca!"


"Transferan uang, banyak banget!" gumamnya heran. Netranya mendelik menghitung deretan angka yang tertera di layar ponsel.


Priska memperhatikan situasi sekitar, sedang sepi.


"Itu transferan uang dari papahmu dari sana. Itu cukup untuk biaya kita, dan juga untuk melunasi tunggakan sekahmu dan Gio. Jadi berhentilah kerja dan fokuslah sekolah. Dan satu lagi! Papahmu dalam keadaan baik-baik saja, untyk sast ini kamu tidak boleh tahu di mana papahmu sekarang." ucapapya tegas.


Gadis ini hanya diam kaku menunduk mendengar kalimat auntynya, pikirannya sedang berkelana. Baru dua hari bekerja di sana dan ia pun sudah nyaman mau izin keluar rasanya tidak enak. Mau bertanya tentang papahnya, auntynya belum mau jujur padanya.


"Ya sudah, ibu masih ada kerjaan. Temui bosmu dan bicaralah baik-baik. Hari ini harus sampai di rumah di jam seperti biasa. Aunty pergi dulu." ponsel sudah berpindah ke tangannya kemudian melangkah meninggalkan Neva.

__ADS_1


"Haehh! Ck!" Neva menggerutu.


Melangkah malas ke depan gerbang utama sekolah, jam masuk kerja masih satu jam lagi. Masih ada beberapa orang berpakain jas almamater universitas yang masih berkumpul duduk di bawah pohon rindang, mereka mengobrol ringan tertawa bahagia. Neva melihatnya sekilas tanpa berniat menyapa, toh dia masih kelas XI.


"Oii!!"


Seruan dari balik helem itu mengagetkannya, berbalik melihat Rio yang turun dari motornya.


"Ngapain?" tanyanya bingung.


"Lo mau ke kios lo kerja'kan? Yoklah gue anterin," ajak Rio mengeluarkan helem satu lagi dari bagasi motor.


"Nanti ngerepotin," jawabnya tidak enak hati.


"Kagak! Lo tahu nggak, si Endru tadi nitip pesan buat ngantetin lo. Biar ceweknya ngirit ongkos."


"Tapi bensin lo yang habis."


"Endru yang ngisi nanti. Lagian kayak sama siapa aja, ayo naik pake helemnya!"


Setelah beberapa waktu mereka tiba di depan kios, dengan gugup Neva masuk menghampiri abang pemilik kios yang sedang bertengger sambil melap kaca steling. Sementara Rio memilih tinggal di motor menunggu.


"Nggakpapa! Semoga lo makin pinter belajarnya. Main sekali-sekali kemari kalau ada waktu, beli kuotanya di sini aja ya, promosikan ke sekolah lo juga kalau boleh," ucap si pemilik kios ramah.


"Udah, pake uangnya buat kebutuhan sekolah!"


"Iya bang."


🌹🌹🌹


Dari pada bosan tidak tahu mau melakulan apa, lebih baik dia bersih-bersih rumah saja. Menyambungkan ponselnya ke laoutspeaker memutar lagu dj yang masih viral dari aplikasi pemutar musik.


Pikirannya pun sedang kacau. Jhena dan Chatryn saling diam, Daniel.dan Andreas saling diam juga, Willangga sibuk dengan pacarnya. Endru? Tenang Neva, jangan berpikir aneh-aneh dulu. Meski pun dari tadi nomor Endri tidak aktif, mungkin saja habis batrenya. Iya, pikir positif saja.


Lagu dj kesukasnya terputar menggema di ruangan, seketika semangatnya bangkit kembali. Neva mulai melap barang di ruangan sampai bersih mengumpulkan sampah dan membuangnya. Di rasa bersih di ruangan, mari berpindah ke dalam kamar auntynya. Dikunci, ternyata tidak.


Pandangannya terpaku melihat betapa bersih dan rapinya kamar auntynya ini. Wawww! Neva tersenyum malu, dia anak gadis tetapi kamarnya tidak sebersih ini. Apa masih ada yang perlu dibersihkan? Mencarinya, ternyata meja nakas terlihat berantakan. Um, hanya di atas mejanya saja, tadi pagi mereka memang terburu-buru berangkat ke sekolah.


Entah kenapa tangannya nekat ingin membuka laci yang sepertinya sangat dijaga, kuncinya juga tumben sekali ada, biasanya antynya selalu menyimpannya. Tetapi ia ingin sekali membukanya, buka tidak buka tidak! Buka, takut ada barang yang hilang mungkin penting. Tidak, tetapi ia sangat penasaran apa isi lacinya.

__ADS_1


Gemetar ia memutuskan membuka laci memutar kunci, tangannya mulai menjelajahi.


Matanya terpaku melihat sebuah foto yang terjatuh dari antara kertas yang dipegangnya, mengambil dan melihat dengan seksama. Ini foto gandeng untuk pernikahan, auntynya masih muda dulu dan pasti ini pamannya dong. Loh kok? Neva menyadari ada kemiripan wajahnya dengan wajah pria yang di samping auntynya. Mirip sekali bahkan, dia saja tidak punya kemiripan dengan orang tuanya. Ahk, mungkin memang hanya mirip biasa. Elaknya.


RAFLI JHANSEN dan PRISKA SINTIA ADIPUTRI....Lebih baik ia menanyakan tentang pamanya nanti saja pada auntynya.


Membuka lembar demi lembar lipatan kertas yang terkumpul di dalam sebuah kotak, hanya berkas lama dan tanggalnya sudah tidak terpakai lagi.


Ini kertas warnanya masih putih sangat mencolok dari warna kertas yang sudah usang, pasti masih baru. Berkas apa ini? Foto copy KTP atas nama MICHAEL RIWON yang sudah mati tanggal, tahun lahirnya seumuran dengan papahnya. Buat apa auntynya menyimpan foto copy KTP orang lain? Tidak mungkin ini pacar rahasianya'kan? Neva mumukul kepalanya sendiri, tebakanya mulai ngaur. Eh tapi foto ini di KTP ini? Meski pun hitam putih, tetapi ia masih bisa melihat foto ini mirip dengan seseorang. Tapi siapa ya?


Huhh! Otaknya mulai terasa sedikit pusing, ia merapikan kembali isi laci. Sekarang ia sedang merogoh satu tempat spesial untuk menyimpan aksesoris, seleranya lumayan ngetren juga. Neva cekikikan membayangkan auntynya yang sedang memakai aksesoris ini, lucu-lucu pasti. Ah, ada ikat rambut cantik, minta boleh kali ya. Melihat-lihat yang lain sampai ia menyadari ada yang janggal. Anting ini? Sama persis seperti foto anting yang ditunjukkan Endru kemarin. Pasangan antingnya tidak ada, ia mulai resah.


Jantungnya berdegup kencang memikirkan kemungkinan yang diperhitungkannya. Neva mengembalikan aksesoris ke tempat semula, lebih baik ia segera keluar dari kamar ini.


Dengan penuh ketelitian ia mengembalikan situasi letak meja nakas seperti semula, agar tidak ketahuan akan kelancangannya berani membongkar isi laci ini.


Menyelesaikan kegiatannya sampai selesai.


Tuttt,,,tutttt,,tuttt,,tutt!


"Kok dari tadi nggak.aktif sih!" ucapnya frustasi.


Mencoba lagi, tetap tidak ada sambungan dari Endru.


Perasaanya mulai tidak tenang, tidak biasanya ponsel Endru dalam keadaan tidak aktif sampai selama ini.


"Halo Ndru-"


"Nev, ini gue Will," sahut orang dari seberang telepon.


"Astaga! Maaf, gue nggak baca namanya. Kenapa?"


"Buka ig sekarang," ujar Willangga.


"I-iya." dengan cepat jarinya sudah berselancar mencari postingan ig membacanya satu per satu.


"Will, ini postingan Inggri? Ngg-nggak mungkin," pekiknya tertahan. Badanya luruh di lantai membaca postingan Inggrisa.


"Neva!! Nevaa!!"

__ADS_1


Menelungkupkan wajahnya menangis terisak, belum percaya dengan apa yang dilihat dalam layar ponselnya.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2