Kisah ABG

Kisah ABG
Baper!


__ADS_3

Karena hari ini sekolah sedang melaksana geladi bersih untuk perayaan besok, sehingga siswa diberikan jam pelajaran kosong. Sebagai tuan rumah, kepala sekolah memberikan hampir seluruh siswa bertugas mengambil peran dan mengisi kegiatan di acara nanti. Seluruh ruang kelas dikunci dan kosong, semua siswa harus ada di lapangan dan ada juga yang latihan di ruangan yang mereka pilih, ada yang sedang menghias aula. Intinya semua siswa dan guru sedang sibuk menjalankan tugas masing-masing, dan yang tidak kebagian tugas bebas berkeliaran di lapangan asalkan tidak meninggalkan sekolah.


Inggrisa mencabik mulut merasa kesal tidak menemukan Endru di ruang osis, Jhena bilang Endru sedang sibuk melakukan tugas lain. Tidak puas, Inggrisa terus mencari keberadaan Endru diikuti oleh Ratu dan geng mengekor di sampingnya. Mereka turun ke lantai bawah menuju ruang kelas dua, Ratu bilang kemungkinan Endru sedang bersembunyi di ruang kelas Willangga.


"HHHWAAAAAA!!!"


"YAKKKK!!" Inggrisa dan temannya terkejut mendapati sesosok murid laku-laki berbadan tinggi gemuk tiba-tiba muncul di depan pintu ruang kelas.


"Bawang berkulit pohon kenari, eh ada kakel cantik datang di mari. Mau apa ke kelas dua?" tanya murid itu sambil terkekeh.


Inggrisa mengintip dari cela badan lelaki itu, hanya ada beberapa siswa yang tinggal di dalam. "Eh, bukannya biasanya kelas dikunci kalau jamkos. Kenapa kalian masih di kelas?" tanyanya sok tegas.


"Hum, ngapain yah?" Bembi mengedipkan matanya jahil.


"Bem, siapa yang- Oh, ada kakak kelas rupanya," tiba-tiba Dani datang di ikuti dua orang lainnya.


Ratu terbelalak melihat wajah tampan adik kelasnya ini, seketika pandangannya terkunci pada sosok Dani yang berwibawa. Baru saja ingin mengucapkan sesuatu, Inggrisa langsung memberi tanda agar Ratu diam saja, Ratu langsung membungkam mulutnya.


"Nggak penting ngapain kalian masih dalam kelas. Gue mau nanyak, apa Endru bersama kalian?" tanya Inggri tanpa basa-basi. Ia jengah harus berhadapan dengan orang yang tidak penting seperti mereka, tetapi demi Endru.


"Ngapai juga Endru di mari, ketua osis itu pasti lagi sibuk noh di sana," sahut Bembi melirik ke arah luar.


Kalau dilihat dari posisi mereka yang berdiri menutupi ruang kelas berjejer memenuhi ruang pintu, seperti sengaja ingin menutupi sesuatu di dalam kelas. Mencoba mengintip tetapi gerakan mereka begitu mencurigakan. "Boleh minggir lo semua, hum. Gue mau masuk ke dalam." Inggrisa memincingkan matanya.


Sebelum Inggri melangkah maju, terlebih dahulu Dani maju ke depan selangkah. "Maaf, Kak. Tolong patuhi peraturan yang tidak mengizinkan kelas lain sembarangan masuk ke dalam kelas." ucap Dani tegas tidak takut melihat Inggrisa yang mengerikan.


"Kami kan udah permisi mau masuk," Ratu menimpali.


Dani menatap Ratu sengit, nyali Ratu menciut melihat tatapan tidak suka dari lelski yang baru saja ditaksirnya. "Tolong hargai kami, Kak. Silahkan pergi dari sini!" usir Dani menunjuk arah luar kelas.


Inggrisa menggeram, tidak terima diperlakukan begini. "Endru ada di dalam kan?" tanyanya sekali lagi.


"Nggak ada! Sekarang pergi dari sini!" ucap Dani lantang.


"Ck, ahkkk!" Inggri berdecak marah.


Dani menatap nyalang melihat kakak kelas yang pergi dengan bersungut-sungut.


Setelah beberapa saat Endru muncul dari persembunyiannya, mengucapkan terima kasih pada Dani dan yang lainnya. "Makasih yah udah bantuin gue sembunyi dari kejaran Inggrisa, terutama sama lo, Dan."


"Ho oh. Tapi jangan lupa loh ya sama traktirannya." jawab Bembi menyengir kuda.

__ADS_1


"Makan aja di otak lo Bem," Rio ikut menimpali.


"Namanya juga Bembi! Nggak makan nggak Bembi namanya!" Andreas tersenyum jahil.


"Ok, siip!" Endru mengangguk mantap.


"Ya udah pergi sana! Kalau bukan karena Willangga, nggak mau gue berurusan sama orang seperti kalian."


"Dani," bisik Bembi pelan mengingatkan temannya. Dani tidak peduli.


"Its ok, gue pergi ya."


🌹🌹🌹


Neva terkantuk-kantuk duduk di kursi depan kelasnya, tidak tahu mau melakukan apa. Yulan sedang di aula, kebanyakan teman kelasnya sibuk kesana kemari. Neva memilih menyindiri saja, ia memang tidak sula hal yang seperti begitu di sekolah.


Seketila otak cerdasnya memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk membuka pintu kelas, mengendap mengambil kunci kelas di dalam tas ketua kelas yang sedang sibuk di lapangan.


Setelah berhasil masuk ke dalam kelas kemudian tidak lupa menguncinya kembali, mari memulai aksinya.


Memilih ruang paling ujung dekat tembok, menggeser beberapa kursi dibuat sejajar. Mengeluarkan buku paket yang tebal dari dalam tasnya untuk dijadikan bantal, menggunakan switernya sebagai selimut di pahanya, memeluk tasnya pelindung perutnya. Ahk, mari tidur siang!


Sudah hampir setengah jam tertidur pulas di kelas.


"ENDRUU!!" pekik Neva terkejut.


Buk,,buk,,bukk!!


"Auhh, sakit Neva,,ampun,,ampunn!!" ringis Endru drama. Ia mendapatkan bogeman mentah dari buku yang dijadikan Neva bantal.


"KOK LO BISA MASUK KE KELAS GUE, HAH? MAU NGAPAIN LO KESINI, LO MAU BUAT MESUM DI KELAS GUE,,YA KANN??!!" seru Neva sambil mencoba memukul Endru dengan buku lagi. Untung saja Endru berhasil terus menghindar membuat kursi itu perlahan tidak di posisi semula lagi, dan HAP! Buku itu berhasil tertangkap. Tapi!


"AUH,,ENDRU SIALAN!"


mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi menyamping, lengan Endru spontan menahan badan Neva agar tidak membentur lantai, wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal. "Lo nggak apa-apa?" Untuk sesaat Neva terpaku dengan suara lembut Endru, tatapan mereka saling mengunci.


Deg.


Deg.


Deg.

__ADS_1


Jantung Neva berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang, begitu juga dengan Endru seperti darahnya mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala.


Satu detik,,,


Tiga detik,,,


Detik demi detik berlalu..


Bukk!! Endru sekali lagi diberi tinju di lengan kanannya, badan Neva tersentak berdiri.


"LO MAU KURANG AJAR SAMA GUE YA!! RASAKAN INII!!"


"EH, NEVA! EYY, GUE KAN MAU NOLONGIN LO TADI BIAR NGGAK NYENTUH LANTAI!!" Endru terus berlari dari kejaran Neva yang ingin meninjunya lagi mengelilingi kelas.


"GUE JATUH ITU GARA-GARA LO,"


"ENGGAK!"


Neva sudah ngosngosan, dengan sendirinya duduk di kursinya sendiri berhenti mengejar Endru.


"Uluh, uluh! Segitu aja udah ngosngosan" ejek Endru teetawa lepas.


"Diamlah," Neva cemberut.


Endru merapihkan kursi tempat tidur Neva tadi mengembalilan ke mejanya masing-masing, mengambil switer yang tergeletak di lantai, merapihkan tas Neva lalu membawa ke meja langsung duduk manis di samping Neva.


"Makasih," suara Neva tenggelam di bawah meja.


Endru ikutan menenggelamkan kepalanya di bawah meja, tersenyum jahil ke samping.


"Tadi gue nyuri kunci cadangan kelas kalian di ruang perpustakaan sekolah, makanya gue bisa masuk."


"Nggak ada yang nanyak juga."


"Ih. Lo sendiri tadi yang nanyak sebelum," jahilnya Endru berbisik di telinga Neva "Kita jatuh bersama tadi."


Ada yang memerah tapi bulan tomat.


Ada yang mekar tapi bukan bunga.


Tanpa mereka sadari Chatryn baru saja mengintip Neva dan Endru dari lubang pintu.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2