Kisah ABG

Kisah ABG
Hasil


__ADS_3

Dengan tenang Endru bersama kursi rodanya kini sudah berada di depan podium lapangan memegang mikrofon untu menyampailan sesuatu, Pak Brama yang mendorong kursi roda menyingkir.


Semua pandangan menatapnya berbagai macam arah, ada yang fokus melihat kakinya, ada yang menatapnya datar, ada juga yang menatapnya benci. Endru tersenyum tipis, ini wajar karena insiden pertunangan waktu itu.


Ada satu senyuman manis di antara deretan siswa di hadapannya, Neva mengangkat jempol tersenyum manis ke arahnya, pacar memberi semangat terap kuat di depan sini. Mendesah pelan, ia akan memulai pidatonya. Mengemgam mikrofon, suara beratnya menggema di seluruh lapangan.


Secara tulus dan hormat ia mewakili keluarganya dan Inggrisa meminta maaf tentang kejadian memalulan sekolah. Endru tanpa teks, mampu mengungkapkan mengaku semua kesalaha selama di sekolah ini, dengan rasa bersalah ia memohon maaf sebesar-besarnya telah mencemarkan nama sekolah terlebih ia adalah anak dari pemilik yayasan. Tidak menyebut sekali pun bama Arifin, lekaki itu katanya sudah mati, yang sudah pergi biarlah pergi meski pun dengan kenangan buruk. Endru tidak ingin membuat nama Arifin lebih buruk lagi.


Setelahnya ia mohon pamit pada sekolah, ikut dengan orang tuanya melakukan pengobatan kakinya, memohon doa dari teman-teman untuk kelancaran usaha penyembuhan. Mengucapkan terima kasih, memundurkan kursi rodanya.


Suara tepuk tangan mengakhiri pidato Endru, ada beberapa siswa yang memang mengenalnya turut sedih. Yulan mengemgam tangan Neva menguatkan temannya, mengusapnya penuh sayang.


Acara selanjutnya, ada beberapa pengumuman dari kepala sekolah dan pembacaan juara-juara umum serta memberi motivasi semangat belajar.


"Cewek gue itu!! Yyehhhheeee!" teriak Willangga heboh bergembira mendengar nama Yulan dipanggil menjadi juara pertama umum kelas XI IPS.


"akakau aku yang jadi Yulan, rugi banget punya cowok sebloon kayak ellu!" ejek Rio mendapat lirikan tajam dari Will. Yang lain ikut terbahak, ini memang fakta.


"Untung diselamatkan sama harta bokap." sahutan Andreas semakin mengocok perut menertawai Willangga, Will juga sumringah ucapan Andreas adalah pembelaan untuknya.


Di barisan kelas Neva juga sedang terjadi kehebohan. Chatryn berjingkrak senang mendengar nama Daniel dipanggil sebagai juara satu umum dari kelas XI IPA, cewek itu bahkan sudah menyiapkan kado khusus untuk Daniel.


Masing-masing juara satu umum berdiri berjejer memarkan piala dan piagam penghargaan, tersenyum untuk diabadikan dalam kamera.


Wali kelas menghampiri muridnya membagikan rapor tebal pada satu-per satu nurid, saling menyalam penutup tidak berjumpa selama libur nanti. Setelahnya ketua barisan paling sudut memimpin penghormatan membubarkan barisan, sudah boleh pulang meninggalkan sekolah.


Neva bersama gerombolannya duduk di teras aula saling tukar membaca nilai, Aslika datang dari kantin membawa beberapa minuman dingin haus juga hampir satu jam berdiri di bawah teriknya matahari.


"Pasti nilai Yulan 9 semua, secara dia juara umum." Aslika menyeruput minunannya.


Yulan tersenyum manis, "Terima kasih." Itu jawaban yang lebih baik tidak menolak pujian tidak membanggakan pujian.


"Lumayan lah, naik tiga peringkat dari sekolah sebelumnya. Berkat kalian otaklu jadi lebih encer terima pelajaran." Neva Menutup rapornya biasa saja membacakan hasil nilainya.


Apa lagi Aslika, sudah menebak peringkat terus diposisi yang sama.


Chatryn fokus membaca deretan nilainya, mengesah panjang membaca peringkatnya turun satu posisi, ia paham betul bahwa skandal olimpiade itu telah membuat nilai karakternya menurun drastis. "Santai, santai! Enggak.apa-apa kok kalau peringkatku turun, cuma satu angka doang. Lagian pun, orang tuaku tidak mungkin langsung kengusirku dari rumah hanya karena ini," ucap Chatryn mencairkan suasana apa lagi Yulan pandangan tidak enak hati padanya.


"Yok la, kita jemput Endru di ruang kepsek!" Neva membereskan barangnya beranjak pergi disusul teman lainnya.


Di tempat cowok-cowok, Will tidak henti-hentinya memuji nilai Bembi naik empat peringkat, satu dibawah peringkatnya.


"Kalau memang kita serius belajar, pasti kita bisa," ucap Daniel bangga merangkul Bembi.

__ADS_1


"Ini semua jufa berkat bantuan kalian semua, udah mau ngajarin gue mengarjakan soal-soal, dukungan kaluan sangat berarti bagi gue," ungkap Bembi menyeka air mata haru.


Kebahagian Bembi adalah kebangaan teman-temannya, mereka semua bahu-membahu bergantian membantu Bembi belajar agar tidak diremehkan oleh guru menganggap dia murid paling bodoh di kelas. Memberi aliran positif pada diri Bembi bukanlah hal gampang, cowok gemulai ini selalu menganggap dirinya memang bodoh terima saja diremehkan, ucapan itu justru menekan otak Bembi beranfgapan dirinya tidak.akan mampu sepintar temannya. Namun sekarang? Bembi mampu melampaui keterbatasan kecerdasan dirinya, nasuk 15 besar sudah sebuqh kemajuan untuknya.


"Tapi tetap bantuin gue ya, jangan bosan-bosan ngajarinnya," ucap Bembi berharap.


Meski pun pada dasarnya ia adalah orang yang berketergantungan pada temannya, sadar diri Bembi tidak pernah berpikir untuk menghianati persahabatan, ia paling menururlt di antara mereka. Dan mereka semua tidak mempermasalahkan itu.


Giliran Andreas menyampaikan rangkingnya, juara 2! Semua berteriak heboh mendengarnya, Jhena turun peringkat menjadi juara 3 yang biasanya mendapat juara 2. Andreas pun mampu membuktikan tekatnya untuk melomba prestasi Jhena, cowok itu membuat nama Jhena sebagai motivasi terdorong untuk belajar lebih giat lagi. Tugasnya hanya tinggal satu lagi, yaitu mempertahankan peringkatnya atau jika boleh merebut posisi Daniel bila sanggup.


🌹🌹🌹


Chatryn bersikeras tetap ikut ke tempat kost Daniel, cewek itu ingin memberikan sesuatu sebagai hadiah juara umum untuknya. Padahal dari kelas X pun semua guru sudah tahu anak ini, tetapi tidak satu pun dari mereka memberi hadiah atau samacamnya kecuali penghargaan dari sekolah, Chatryn juga pasti tahu.


"Tapi untuk tahun ini beda, Dan. Kado ini khusus buat cowok yang gue suka kan kita juga baru dekatnya setelah gue gabung sama kaliaan. Gimana sih," ucap Chatryn mencabik bibir menjawab pertanyaan konyol Daniel.


"Iya deh, suka-suka lo," jawabnya datar seraya melepas sepatunya.


"Gue enggak diizinkan masuk?" Chatryn masih berdiri di depan pintu.


"Masuk!" seru Daniel dari dalam.


Makin cinta Chatryn begini. Mana ada cowok kost yang ruangan bersih dan serapi ini, ada pewangi ruangannya lagi. Wahhh, tersenyum kagum tidak salah ia menaruh hati.


"Woii, melamun." Daniel menepuk pundak Chatryn.


"Jangan aneh-aneh, pikirin belajar sekolah dulu. Nikah itu masih jauh, paham."


"Jadi lo nggak mau nikah sama gue?"


"Chatryn, tolong fokus. Jalani dulu apa yang ada di depanmu, Ok. Sekarang, apa yang mau lo kasaih ke gue?" Sepertinya Chatryn menangkap lain maksud ucapannya barusan, Daniel menghela napas berat sulit menghadapi rasa cinta dari cewek ini.


"Oh, hampir lupa. Gue itu mau kasih kado berupa masakan, gue mau masakin makan siang buat lo di sini. Suka tidak suka, terima tidak terima, gue memaksa harus masakin lo makan siang!"


"Jadi itu alasan lo merengek minta ikut ke kosan gue."


"He'em!" jawabnya antusias.


"Enggak usah repot-repot, gue bisa masak sendiri."


"Tidak merepotkan sama sekali, justru gue senang melakukan ini. Hitung-hitung lagi masa trening menjadi istri kamu," ucapnya mengedipkan mata genit.


"I-iya udah, masak sana. Gue tunggu di teras," ucapnya tergagap melihat kedipan itu. Tidak kuat ia berlari duduk menunggu di kurai teras, jantung ayolah bekerja sama.

__ADS_1


Daniel sudah terbiasa dengan kehadiran Chatryn di sampingnya, rayuan dan tindakan konyol cewek itu mampu menghiasi senyumannya. Suara berisik dan ucapan nyeleneh sudah menjadi hiburan sendiri baginya, tidak ada satu pun dari Chatryn yang luput dari perhatiannya. Meski pun kadang membuatnya jengah, tetapi memang itulah Chatryn.


Perlahan ia membuka hati untuk Chatryn. Hanya saja latar belakang keluarga mereka berbeda, itu yang menjadi pertimbangan untuk menjalin hubungan berpacaran.


Dekat seperti ini pun ia sangat menikmatinya.


"Nasi goreng siap!" pekik Chatryn dari dapur membawa ke depan teras meletakkannya di atas meja.


Daniel masih memperhatikan bentuk nasi goreng, lumayanlah tidak buruk, tidak menyampur sempurna jadi warnanya sedikit pucat. Mengambil sendok mencicipi dulu.


Seperti menunggu lomba memasak, eksresi Chstryn membuat Daniel menahan senyum. "Gimana rasanya?"


Menyuap sekali lagi, Daniel tampak menikmati hasil masakan Chatryn.


"Lumayan lah, setidaknya berasa garamnya," jawabnya jujur. Untuk seukuran Chatryn anak gadisnya orang kaya, ini sudah luar biasa, berarti Chatryn masih diajarkan dasar-dasar memasak.


"Hehe, bagus deh," Chatryn terkekeh merasa lega.


"zlo enggak makan?"


"Eh. Tadi gue buat cuma sepiring doang, takut ebggak enak. Nanti aja deh, makan di rumah," ungkapnya jujur buang muka merasa malu.


"Tryn, coba lihat sini."


"Enggak ahk, malu gue."


"Lihat ke mari. Tumben lo tahu bilang jalu di depan gue, buasanya lo pd-pd aja. Chatryn, ayo dong lihat ke sini!" bujuk Daniel tersenyum lucu suka Chatryn cemberut seperti ini.


"Huff." Menghadap Daniel, di depan wajah tangan Daniel terulur mengangkat sendok nasi goreng mengarah ke bibirnya.


"Aaaaa!"


Ada yang menerah bukan kepiting rebus, pipinya memanas mendaoat perlakuan romantis Daniel. Pada akhirnya sejoli ini makan sepiring berdua perasaan bahagia, semakin dekat semakin intim seperti orang benar-bebar pacaran saja. Daniel sangat menikmati waktu ini, kalau boleh egois, Chatryn mau menunggunya sampai ia siap untuk memantaskan diri bersanding dengan Chatryn.


"Beri gue waktu untuk memantaskan diri, Tryn. Agar kedepannya tidak ada kesengangan yang membandingkan kita," ucap Daniel mengemgam telapak tangan Chatryn.


Ucapan Daniel memang benar sekali pun ke dua orang tuanya tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga dari orang yang mencintai anak-anaknya, tetapi denfan mereka ber dua sudah oantas bersanding dengan kerja keras Daniel itu membuktikan ia lelaki bertanggung jawab mampu mendampingi Chatryn yang nitabenenya terlahir dari keluarga terpandang.


"Baiklah. Tapi janji jangan berpaling sama cewek lain ya. Jangan buat gue cemburu, kan lo ganteng banyak yang naksir," ucap Chatryn.


Daniel mengangguk yakin. Ia mengusap pucuk kepala Chatryn tatapan lembut.


Semoga mereka mampu!

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


Menuju........


__ADS_2