
Bel istirahat berdenting memecah kesunyian kelas, semua murid berseri-seri berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut, ada juga yang memilih duduk di bawah pohon rindang di pinggir lapangan rumput, bercakap-cakap di depan kelas mereka. Menghibur diri sejenak dari stresnya belajar.
"Ket, ket ket! Lo nggak ke ruang osis? Itu si Admal udah pergi," tunjuk Aslika pada murid cowok yang baru saja melewati merrka menenteng buku besarnya.
Chatryn justru semakin menenggelamkan kepala di meja bertumpu pada ke dua tangannya. "Nggak ah, malas," jawabnya merengut suaranya tenggelam.
Aslika terkekeh geli, cengiran meledek membuat ia harus merasakan pukulan Chatryn yang mendarat di paha kakinya.
"Marahan ya sama si Jhena, gara-gara satu cowok. Uluhhh,,kasihan! Kemarin saingannya si Ratu tante itu, sekarang temennya sendiri. Kok ya pelabuhan cintamu itu menyulitkan banget," cerocos Aslika tanpa merasa iba pada teman sebangkunya ini.
"Ha, diamlah. Bersik banget lo," ucap Chatryn cetus.
Aslika justru semakin melebarkan tawanya, ini adalah hiburan sendiri baginya. "Baikanlah sama Jhena, terus cari cowok baru," nasehat Aslika sok bijak.
"Kalau masalah baikanya, okelah. Cari cowok baru, sussh! Daniel itu paket komplit buat gue. Ganteng, gagah seperti jendral, hidung mancung, badan wangi, suaranya serak gimana gitu," Chatryn memuji Daniel.
"Tapi sayangnya dia nggak tertarik sama lo," sahut Neva menimpali dengan tanpa rasa kasihan dan langsung menjatuhkan metal Chatryn.
Mendengar itu tawa Aslika langsung mengelegar, air matanya hampir keluar samgkin ia merasa lucu.
Buk!
"Ahaha, Chatryn, sakit tahu," ringis Aslika meraba keningnya yang terkena bogeman Chatryn.
"Ck. Gue mau keluar dulu ya, nggak boleh ada yang ikut," ucap Neva lalu keluar dari bangkunya.
"Semoga yang terbaik buat mereka," gumam Chatryn.
Menenangkan diri di perpustakaan, enak kali ya. Neva menyusuri lorong perpustakaan sesekali melirik membaca judul buku yang tersusun rapi di dalam rak, ah tak ada yang menarik di matanya. Bukan, bukan! Dia bukan type perempuan yang hobi membaca sekali pun itu novel, baginya itu membosankan dan cepat buat ngantuk.
Bibirnya melengkung tak kala pandangannya terpaku pada sepasang sejoli yang sedang asik belejar bersama, ke dua orang itu adalah pasangan paling populer di sekolah ini, mengalahkan kepopulerannya dengan Endru. Andai saja yang duduk di situ adalah mereka, entah mereka sedang membaca buku yang sama, membantunya mengerjakan tugas, memb- Astagaa! Neva memukul-mukul keningnya merutuki kekonyolannya, tak bisalah dia melupakan Endru sebentar saja? Hah! Lagian apa enaknya sih pacaran di perpustakasn gini, nggak sekalian berduaan di museum saja, biar sekalian study tour. Tuh'kan, Neva mendumel dalam hati. Tadi pagi juga dia tidak fokus belajar, pertemuan di balkon sekolah tadi menggangu konsentrasinya
Semenit pun tak bisa tidak memgingatmu.
"Mau belajar bareng kami?"
Eh, Neva tersadar dari lamunanya.
"Engggak kok, Kak. Hehe! Lanjut, Kak. Lanjut," ujarnya tersenyum lebar. Malu dia sekarang.
Cewek cantik yang menegur Neva tadi menggeleng melihat tinglah Neva, kembali membaca bukunya.
"Lo pacarnya Endru'kan?"
Langkahnya berhenti mendengar pertanyaan dari cowok yang bersama cewek tadi.
"Iya, Bang. Kenapa?" jawabnya seadanya.
Cowok itu tersenyum miring ke arahnya, Neva mulai merasakan aura yang kurang enak. "Endru bolos sekolah tadi pagi. Bilang sama dia jangan pernah lari dari tugas, cowok tidak bertanggung jawab itu tidak dipertahankan," hardik cowok itu padanya.
"Yang," gumam pacarnya memperingati.
Neva tidak paham maksud ucapan cowok ini barusan, yang ditangkapnya hanya Endru bolos dari sekolah pagi tadi. "Oh," jawabnya singkat. Hanya itu, tanpa basa-basi dia meninggalkan sejoli tersebut.
Memilih duduk di sudut perpustakaan, menyembunyikan tubuhnya di balik lemari buku. Kenapa Endru bolos? Kemana dia sekarang? Hatinya mulai cemas memikirkan Endru lagi, apa yang sedang dilakukan cowok itu sekarang, jangan sampai membuat keadaan jadi semakin kacau. Semoga dia tidak kenapa-kenapa di luar sana! Neva menghela napas kasar.
Kakinya tidak sengaja menendang kaki meja, untung saja suaranya tidak gaduh, jadi orang-orang tidak ada yang mengerumuninya. Jantungnya hampir mau melompat ketika kakinya merasakan sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Eh, apa ini?" ucapnya pelan. Ada secarik kertas melayang jatuh di dekat kakinya, sepertinya ini berasal dari dalam lemari reot ini.
Pelan-pelan ia mengambil secarik kertas itu.
__ADS_1
Foto rupanya. Netranya mengamati selembar foto seorang wanita dan pria yang sedang duduk saling merangkul, sepertinya ini foto lama deh, mirip seseorang ya? Membalikkan kertas dan terkejut membaca tulisan kecil yang ada di sudut foto.
Michael dan Paramitha!
Wanita ini'kan tante Mitha ibunya Endru, foto waktu masih muda terlihat masih cantik. Tidak mungkin dia salah perhatikan. Pria ini? Nama dan perawakannya persis dengan foto di KTP di laci aunty Priska. Pasti ada yang tersembunyi di sini!
Matanya memincing melihat lemari reot yang sedang disandarinya saat ini, rasa penasarannya ingin membuka lemari ini. Tapi tidak mungkin ia membukanya sekarang, cctv perpustakaan dan pasti ketahuan. Cepat-cepat ia menggerakan tangan di bawah meja menyelipkan foto disimpan dalam saku roknya. Pastikan kamera cctv itu tidak menjangkau merekam tindakannya tadi.
Bersikap setenang mungkin Neva berhasil keluar dari perpustakaan, tanpa ada satu orang pun yang tahu apa yang sudah didapatkan Neva.
š¹š¹š¹
Ccciiitttt!!
Mobil Will berdecit berhenti tepat di restorant tempat keterakhir Endru dan mamahnya makan semalam, di mana kejadian nekatnya Inggrisa bunuh diri.
Tentu saja mereka sudah berganti pakain, Willangga meminjamkan mereka bajunya.
"Sebenarnya kita mau ngapain ke sini?" tanya Daniel pada Will.
"Mau cari tahu kejadian semalam. Ada yang janggal di sini," ungkap Will memberikan pendapatnya.
"Oh, kirain mau makan," Daniel beroh ria.
"Tadi Yulan ngirim screanshotan ke gue, ada sesuatu yang cukup mencurigakan di vidio Inggrisa bunuh diri itu. Lihat ini," ucap Will memberikan ponselnya pada mereka.
"I-itu tali yang di belakang badan Inggrisa!" pekik Endru tercengang. Ada bayangan tali memanjang turun dari arah belakang badan Inggrisa, tali itu terlihat hanya tampak sekilas di vidio.
"Iya," sahut Will membenarkan.
"Licik! Bagaimana caranya dia ngelakuin ini semua?" tanya Daniel menggeram tidak habis pikir. Ponsel itu sudah berpindah ke tangan si empunyai.
Will menelepon Yulan lalu me-loudspeaker agar temannya ikut mendengarcapa yang akan diucapkan Yulan.
"Tapi tubuhnya berlumuran darah," jawab Endru.
"Badanya memang membentur lantai dasar, tetapi nggak separah yang dikatakan dokter," Will memberilan argumentnya.
"Cari rekaman cctv restoran itu sekarang, sebelum pihak mereka menghapus jejaknya. Ikutin semua arahan yang aku sampaikan dari sini, agar kalian tahu di mana letak ruangannya. Inggrisa nggak sebodoh itu menngambil tindakan, dia sudah memikirkan tempat dan situasi untuk melakukan rencananya."
"Kalian semua siap?"
"Siap Will!" jawab mereka serempak.
"Di dekat parkiran ada toilet , masuk dari situ saja. Lurus belok kanan, curi seragam pelayan."
Will memasang earphone mini di telinganya, menyelipkan ponsel yang berukuran mungil di dalam kemejanya. Melompati dinding toilet yang kebetulan tidak terlalu tinggi, melesat menuju ruangan penampungan air.
Sepi! Sepertinya restoran ini tidak menempatkan penjagaan di tempat ini, sedikit bermain tidak apa'kan?
Kkrekkk!!
Daniel memutuskan aliran pipa air kenudian mematahkan, menutupi dengan batu agar terlihat seolah batu tersebutlah yang menghantam pipa sampai patah. Kerja bagus Daniel.
Ada orang penjaga di dekat pintu ruang ganti, mari alihkan perhatiannya. Tugas Endru yang sengaja menjatuhkan tangga besi yang berdiri kokoh di balik dinding, orang itu terkecoh secepat kilat Endru melompat masuk ke dalam membuka menggeser engsel pintu agar Daniel dan Will bisa masuk juga. Tidak lupa menguncinya kembali.
"Buka lemarinya!" bisik Will.
Mereka ber tiga sukses menyamar menjadi pelayan restoran, selanjutnya harus berhati-hati.
Pengunjung restoran sedang ramai sekali siang ini, mereka hilir mudik melayani yang singgah makan chef juga sangat sibuk memasak. Mereka hanya sekilas bertanya begitu saja pada Endru, lalu percaya tanpa merasa curiga ada orang baru.
__ADS_1
Endru dan ke dua temannya berpencar melayani pengunjung, berakting selayaknya pekerja di tempat ini. Saling melirik memberi kode satu sama lain dari kejauhan, mereka ber tiga berjalan ke arah yang berbeda bukan kembali ke dapur.
"Will, minuman buat siapa itu?" tanya Daniel heran melihat secangkir minuman ada di atas nampan yang dipegang Will.
"Kita itu harus menjadi pelayan juga untuk masuk ke ruang staf, makanya gue sediakan minuman ini. Udah gue campurin obat tidur di dalam" Will berujar menyeringai di bibirnya.
"Otak lo cepat juga mempersiapkan ini semua," Endru berdecak kagum.
"Hehe! Yulan yang memberi saran untuk ini semua. Iya nggak, Yang?" Will menggoda Yupan dari telepon
"Ya,ya, ya,,,"
Daniel dan Endru tersenyum-senyum menanggapi.
Tingg.
Lift berhenti di lantai 3, mereka bersiap untuk melakukan aksi selanjutnya.
"Ruang cctv ada di dekat ruang manager restoran, lurus terus saja. Hati-hati ya."
Will berpencar memisahkan diri menuju ruang manager, Endru dan Daniel menjaga situasi sekitar.
"Kami pelayan baru di sini, lagi melihat-lihat semua yang ada di restoran ini. Sepertinya ini bukan restoran biasa, mewah sekali kalau disebut restoran," ucap Endru satu tarilan napas. Jantungnya berdegup kencang saat bicara, sungguh alasan yang konyol pelayan baru katanya.
"Ya sudah, mari saya bantu untuk menuntun jalan kalian. Nanti kesasar lagi," ujar wanita sexy tersenyum genit pada Daniel. Lihat, air liur wanita ini mau menetes memandang ketampanan Daniel.
"Dan," bisik Endru menoel lengan Daniel.
"I-iya, ayo," Daniel gugup. Sumpah demi apa pun, risih sekali dekat dengan wanita ini. Demi menjalankan misi, terpaksa ia menurutinya.
"Gunakan ketampanamu untuk mengalihkan wanita ini, gue nyusul Will di sana."
"Ck, iya," jawabnya ketus.
Wanita menor ini bergelayut manja di lengan Daniel, berceloteh mendesah menggodanya. Sembarangan sekali, Daniel merutuki dalam hati.
Ini lorong apa?
Kamar VIP!
Sepertinya ini adalah fasilitas tersembunyi restoran ini. Wanita ini terus mengajaknya menyusurinlorong gelap, makin ke depan makin sepi dan gelap.
Ada yamg tidak beres!
Tidak, tidak. Wanita ini makin gencar mengajaknya masuk ke dalam kamar ini, menempel-nempelkan dada di lengannya. Bukannya terangsang, Daniel justru panik.
Ting,,!
"Mbak, aku ambil ponselku dulu ya." menyingkirkan tubuh wanita ini. Berbalik membaca pesan di ponselnya.
"Dani, cepat keluar dari lorong itu sekarang juga. Itu lorong kamar prostitusi, cepat keluar! "
Ini gila!
Pesan singkat dari Endru membuat perasasnya sangat gelisah, apa yang harus dia lakukan?..
ššš
Hayy teman-teman, ngerti nggak sih sama part ini?
Maaf ya kalau naskahku kurang menjiwai setiap adegannya, maaf kalau pembaca jadi kurang nyaman juga.
__ADS_1
Kemampuan menulisku nggak sebagus taman author lain, inilah yang memang semampuku.
Terima kasih banyak banyak untuk kalian yang udah like, vote, dan comen di ceritaku. Aku sayang kalian! Jangan lupa mampir membaca karyaku ya,,,..