
Hari ini adalah pembagian hasil rapor pembelajaran siswa SMA DHARMA BAKTI, semua murid diwajibkan datang, menggunakan seragam olah raga karena ini memang hari Jumat, lagi pula nanti ada kegeiatan kebersihan kelas mengisi waktu menunggu pukul 10:30 jam pembagian rapor.
"Senyum woi, jangan muram begitu!" ledek Arman membantu memakaikan sepatu Endru. "Nah, udah cakep," pujinya mengelus sepatu hitam mengkilap bersih.
"Makasih," ucap Endru membersihkan tangan Arman dengan tissu basah. Tindakan sederhana sebagai balasan kebaikan abangnya.
"Masama," jawabmya seraya mengacak rambut Endru.
"Jangan diacak rambut gie, udah rapi-rapi gue nyisirnya. Lagian kayak bocah aja digituin," protes Endru kesal.
Mereka ber dua menyempatkan saling bercanda di dalam kamar Endru. Mitha tersenyum bahagia melihat putra-putranya sudah kembali akur seperti sebelum ia kecelakaan, mengusap air mata terharu membuka lebar daun pintu. Dulu ia yang tidur di iamar ini dirawat Endru, sekarang Arman yang menemani Endru tidur satu kamar.
"Anak-anak, sudah ya. Ayo sarapan, semua sudah pada menunggu tuh," peringat Mitha menghentikan kejahilan Arman yang sedang mengolesi menghabiskan gel rambut favorit Endru.
Tapi tunggu, semua! Endru dan Arman saling tukar pandang bingung, siapa yang dimaksud mamahnya mengatakan, semua sudah menunggu.
Belum sempat bertanya, mamahnya sudah keluar dari kamar tersenyum aneh.
"Surpraisee!!"
Baik Arman mau pun Endru terkesiap mendapat semua teman-temannya berkumpul duduk mengelilingi meja panjang.
"Selamat pagii!"
Lagi mereka tidak dapat berkata-kata, serempak mengucap selamat pagi. Michael mengambil alih kursi roda menyandarkan di samping Neva, cewek itu langsung merangkul Endru dari samping.
"Lo ngapain ikut juga? Bagian dari geng mereka?" tanya Arman menatap tajam oada Bian yang duduk tenang di samping Michael. Sungguh ia tidak suka dengan Bian maupun adiknya Andika. Semasa mereka SMA dulu, Arman dan Andika bersaing ketat dalam segala bidang di sekolah, sementara Bian selalu sigap melindungi adiknya dan itu membuat Arman juga ikut memusuhinya.
"Santai, brother. Duduk dan mari sarapan bersama," sahut Bian terkekeh.
Arman berdecak kesal, duduk menyentakkan badan tepat di hadapan Bian.
"Ayo, ambil makanannya masing!" seru Mitha bersemangat.
"Makan yang banyak, Endru. Biar cepat sembuh!" ucap Neva mengisi piring untu Endru kemudian meletakkannya hati-hati.
"Disuap, lebih nikmat kali ya," Endru menggoda. Mendapat tatapan tajam dari Neva, memerah malu dengan sorak seruan seisi rumah, Neva menglurkan sendok suapan pertama pada Endru.
"Ahahayy! Yang jomblo memangis di pojokan!" ledek Sofan membanting sendok pada gelas minum.
"Arman, suapin gue juga dong. Ayo dong, jangan nau kalah sama mereka!" Bian memanas-manasi Arman tatapan jahil menganggu.
"Iiihh, singkirin tangan lo dari bahu gue. Jijik twhu nggak, lo kira gue homo," hardik Arman ekspreai seram.
Semua terbahak dengan pertengkaran abang-abang ini.
"Lan, kamu itu harus makan yang sehat-sehat, biar cepat kelar pengobatannya. Hum, ada sayur ada ikan ada daging ada buah, wahh!" Willangga memgisi piring Yulan. Tersenyum penuh cinta, pasangan ini terlihat serasi sekali.
"Chatry! Lo kira-kira dong buatin gue makanan sebanyak ini, Bembi yang cocok makan segini banyak!" protes Daniel melihat isi piringnya menggunung.
"Umm, enakk!!" sahut Bembi memonyongkan bibir pada Daniel.
"Sengaja! Biar kita makan sepiring berdua," jawab Chatryn mengambil dua sendok.
"Ada yang terbakar tapi bukan api!" ledek Sofan.
"Apa tuhh!" sahut Rio dari kursinya.
"Cemburuu!" jawab Sofan sudah dipahami mereka semua mengarah pada Jhena.
__ADS_1
"Lo enggak ngisi piringnya si Andreas, Jhena?" tanya Aslika kompor.
Sontak Jhena terkesiap memalingkan wajah. "Enggak, i-itu dia udah makan," ucapnya seraya melirik pada Andreas yang sudah memulai makannya. Andreas hanya menoleh sekilas memandang biasa saja pada Jhena.
"Aihh!! Jangan mengisi piring, mengisi hati si Andreas saja Jhena sudah gagal," ujar Aslika dramatis.
"Oh kasihan, oh kasihan,,,aduh kasihan!" sambung Rio menyanyikan senandung lagu itu.
"Udah, cepetan makan. Nanti terlambat!" seru Andreas mengalihlan pembicaraan tentang Jhena.
"Santai, Ndre. Yang punya sekolah aja masih makan itu," sahut Rio melirik Endru.
"Ya udah. Ini masih makan pagi, nggak usah ribut-ribut," ujarnya lagi.
"Lo yang sewot, tuan rumah qja nggak ngomong apa-apa tuh!" Rio lagi menjawab.
Andreas kalah.
Mitha dan Michael menikmati makanan dengan wajah bahagia, suasana ramai membuat selera makan tambah nikmat.
"Om, Tante. Terima kasih bantak sudah memgundang kami sarapan bersama, senang banget rasanya mendapat kehormatan seperti ini," ucap Willangga si ketua geng.
"Justru tante yang berterima kasih, berkat kalianvEndru sudah ceria lagi, rumah juga tadi terasa ramai. Ya'kan Mas?"
Michael tersenyum hangat menyetujui ucapan kekasihnya. "Jangan lupa datang dipernikahan kami nanti." Michael mengemgam tangan Mitha.
"Pastiii!" jawab mereka serempak.
Berpamitan menaiki mobil. Seperti biasa cewek-cewek menumpang mobil Chatryn, jangan lupakan si supir handal Neva. Sementara Endru, dibantu tim cowok-cowok menaiki mobil Willangga, menyimpan kursi roda di bagasi. Daniel dan Sofan berboncengan naik motor, Bembi dan Rio juga menaiki motor.
š¹š¹š¹
Willangga, Daniel dan Meva berjalan menaiki lift mengantar Endru ke dalam ruang kelasnyaz teman yang lain sudah menuju ruang kelas masing-masing.
š¹š¹š¹
Berat hati Inggrisa harus hadir tanpa seragam hanya berpakain formal di pembagian rapor hari ini, sekalian mengurus surat kepindahannya. Perasaannya menjadi takut naik ke ruangan kelas tiga, pasalnya di ponselnya saja dia diteror habis-habisan, apa lagi di sekolah.
Benar saja!
Pintu lift kelas tiga terbuka, sudah disambut oleh kerumunan teman seangkatannya. Dan ada empat temannya yang diwawancarai di depan gerbang rumahhnya waktu itu. Apa mereka mau balas dendam?
"GUYSS, SI TUKANG BULLYING SEKOLAH UDAH DATEMG NIH! KOK NGGAK ADA SAMBUTAN SIH, SEPERTI WAKTU DIA BARU PUPANG DARI LUAR NEGETI PAKE TROMPET SEGALA!" teriak si cewek ini tatapan mengejek pada Inggrisa.
"Dia masih berani muncul di sekolah."
"Iyalah, bapaknya yang punya yayasan! Suka-suka dia dong!"
"Jangan-jangan nilai rapornya masih dipalsuin lagi, menyogok!"
"Uuuuu!!"
"Lihat wajahnya tampang kasihan! Nggak bisa melawan ya, takut karena lo udah sendiri? GITU JUGA YANG GUE ALAMI WAKTU LO NGEBULLY GUE KEROYOKAN SAMA SI RATU DAN ANTEK-ANTEKNYA! LO SEKARANG SENDIRIAN'KAN! RATU UDAH MASUK REHAB, DUA CEWEK GENGNYA ITU NGGAK BISA NGAPA-NGAPAIN LO BAHKAN BELAIN LO AJA NGGAK BISA, MEREKA SEMUA UDAH NINGGALIN LO SAAT BUTUH BANTUAN SEPERTI INI, MEREKA TIDAK PEDULI SAMA PENDERITAAN LO! Sekarang lo gemetaran berdiri di situ, enggak bakalan ada yang muji-muji lo lagi. Jijik!" Dengan kasar si cewek tadi menarik tangan Inggrisa mendorongnya ke lantai.
Semua tertawa menikmati adegan penderitaan Inggrisa. Inggrisa tidak bisa berkutik, mau menangis pasti ia semakin malu. Mencengkram lututnya terasa berdenyut, rambutnya sudah berantakan tidak secantik biasanya.
"LEMPAR DIA SEKARANG!"
Seperti hujan bola salju, remasan kertas-kertas itu melayang menghampiri tubuh Inggrisa terduduk tidak berdaya.
__ADS_1
"Kami tidak akan menyentuh tubuh indah lo itu, takut difisum terus dipenjara. Mending lo buka semua kertas itu, baca isinya dengan suara kuat, ya untuk sekitaran lorong kelas tiga ini. Cepat!"
Meraih kertas berhamburan di lantai, gemetar tangannya membuka membacanya suara terbata menahan isakan ingin menangis.
Kata-kata ejekan serta cacian tertulis di dalamnya membuat mulutnya berat bersuara dan kerongkongannya parau kering membaca puluhan kertas, emosi mengepul di ubun kepalanya. Namun suara bersiki orang di depannya mekaksa untuk melanjutkan mebaca. Harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
Kertas terakhir. Menelan ludah pahit, huruf demi huruf menghantam jantungnya, tidak mungkin ada orang yang tahu ini selain keluarganya?!. Apa tulisan ini harus dibacanya juga? Tetapi ini mungkin jauh lebih mamalukan dari yang sebelumnya.
"A-AKU INGGRISA, PE-PERNAH MELAK-KU-KHAN,,! Tatapan tidak sabaran mereka-mereka membuatnya ketakutqn.
"Lanjutt woii!" hardik salah seorang membentaknya.
"ME-LAKU-KAN-"
"APA-APAIN INI!" seruan dari orang yang baru muncul dari dalam lift menghentikan mulut Inggrisa.
"Endru," lirih Inggrisa bahkan sudah menangis.
Neva, Will dan Endru tercengang melihat pemandamgan Inggrisa sedang duduk di lantai penampilan acak-acakan dengan kertas bertebaran.
"Endru tunggu di sini," bisik Neva berlari meninggalkan Endru menghampiri Inggrisa memapah untuk berdiri. Sementara Will memungut satu kertas membaca tulisan itu. Tidak bisa melakukan apa-apa, mungkin ini balasan dari mereka adalah korban bullying dari Inggrisa. Membiarkan kertas melayang di udara.
"BUBAR SEMUANYA!!" titah Endru murka.
Semuanya berhamburan membubarkan diri menatap cemooh pada Inggrisa dan Endru.
Membawa ke dalam toilet, Neva merobek kecil-kecik kertas yang kasih gemgaman Inggrisa kenudian membuangnya ke sampah. Menggeleng tidak.percaya dengan apa yang dibacanya.
"Lo nolongin gue?" Inggrisa membasuh wajahnya. Lihat bayangan dirinya terlihat aneh pagi ini.
Berdiri di sebelah Inggrisa bersedekap tangan tatapan mereka bertemu di dalam cermin, Inggrisa memutar arah pandangnya. "Endru yang suruh. Baik banget'kan cowok gue," ucap Neva membanggakan Endru sengaja di depan mantan pacar Endru.
Wajah cewek ini langsung pias dari dalam cermin, tertawa kecil.
"Lo nyindir gue?!"
"Kalau lo merasa, ya itu anggapan lo."
Terdiam sejenak, Inggrisa mencuci tangaanya mengeringkan dengan mesin pengering kemudian kembali menghampiri Neva lagi seraya mengulurkan tangannya.
"Apa?" Neva bingung.
"Gue minta maaf," ungkapnya.
Belum percaya, tidak menerima uluran tangan itu.
"Baiklah," pasrahnya melepas uluran tangannya. "Terserah lo mau maafin gue atau enggak, hak lo. Gue cuma mau bilang, besok gue resmi pindah keearganegaraan dan pindah dari sini ikut orang tua gue. Bokap bahkan udah menjual sahamnya dibeli sama bokap lo-"
"Ha?" terkejut Neva. "Sejak kapan bokap gue punya uang banyak buat beli saham segede gitu," tanyanya pada diri sendiri.
Tersenyum kecil merasa lucu ekspresi Neva. "Gue nggak tahu soal itu. Btw, selamat atas kemenangan lo mendapat Endru beserta keluarganya. Doa yang terbaik buat kalian."
"Dia bukan perlomba pake selamatan segala. Kami tulus saling mencintai."
Tersenyum kecut, "Semoga kalian langgeng. Gue permisi! Dan salam untuk semuanya," ujarnya. Berjalan meninggalkan Neva berlari cepat-cepat ingin menumpahkan tangisan di dalam mobil.
Inggrisa kalah, dia tidak mendapatoan apa pun dari perbuatan liciknya. Menyogok untuk mendapat nilai, sudah gagal sebelum ijazah SMA tercetak. Endru tidak mencintainya lagi, pertunangan gagal karena ulahnya juga. Papahnya sudah memblokir semua akses karier modelnya, bahkan melanjutkan pendidikan di asrama nanti. Membenci mamah tirinya juga tidak ada artinya, ia belum sepenuhnya menerima pengganti mommynya sudah meninggal meskipun sesungguhnya ibu tirinya itu sangat menyayanginya, ini hanya masalah waktu.
ššš
__ADS_1