
"Semua,,pakai sekarang maskernya!"
Seluruh dari mereka menanggapi perintah Bian dari telinga dan langsung menutup mulut serta hidung dengan masker. "Setelah dupa ini gue bajar, kaluan harus bisa tahan bapas selama dua menit saja!" lanjut Bian.
"Ok, Bang!"
Sahut mereka satu per satu.
Menyatukan ujung pemantik api dan ujung dupa kemudian membakarnya, asap mulai melayang di udara mengoyangkan dupa sesekali menyebarkan aroma asap yang telah dicampur dengan obat tidur. Sementara Will dan Daniel berusaha menahan napas agar todak menghirup aroma asap, di luar juga sama menyengatnya.
"Sudah! Asap ini akan membuat mereka mengantuk!"
Ucapan Bian membuat mereka mai bernapas lega menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Boss! Aroma dari mana ini?" tanya salah seorang sembari mengendus udara dan tanpa sadar mulai mengikuti arah angin asal aromanya muncul.
"Gilaa! Wanginya bikin gue ngantuk, huammm!" salah seorang lagi mulai menguap menaiki meja ingin segera tidur.
"Coba perkisa keluar, pasti ada sesuatu yang mencurigakan!" titah sang boss masih duduk sekuat tenaga menahan rasa kantuk.
Salah seorang anggota berjalan ke luar kelas mencubit tubuhnya sendiri agar tetap sadar, membuka pintu memandang bingung di luar kelas.
"Kok terang ya," gumamnya bingung melihat lampu teras tiba-tiba hidup.
Semenit kemudian lamou teras berkedip-kedip menambah kesan horor pada gedung sekolah. Orang yang tadi berdiri gemetaran pikiran tidak karuan, mulutnya terasa berat ingin berbicara apa lagi munculnya bayangan putih dari balik pohon yang ada di tengah lapangan.
"Ha-hantu!" tanpa sadar jeritnya histerus berlari kocar-kacir kembali ke dalam kelas.
"Bo-bos, ada hantu di bawah di lapangan," ucapnya gagap ketakuran.
Brakk!
Aldi, namanya! Memukul meja dengan tangan kosong. 'Kita dijebak! Ada orang lain yang menyusup ke gedung ini!" amuknya emosi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mereka ber enam justru sudah tertidur di sini?" tanya salah seorang yang lain.
"Tinggalkan, selamatkan diri-sendiri," ujar Aldi tanpa iba. Cowok itu pergi meninggalkan anggotanya dengan rasa panik.
Sial luar biasa! Aldi bukanlah biss yang bisa diandalkan dalam menggantikan abangnya, lihatkah sekarang betapa pengecutnya dia. Sistem keamanan geng mereka menjadi sangat lemah semenjak dia ditunjuk jadi boss mereka.
"Ahkk!" raungnya frustasi. Pagar besi penutup tangga darurat, siapa yang menguncinya? Keringat sebesar biji hagung membasahi seluruh wajahnya, tangannya memukul engsel besi yang sudah berkarat tapi justru ia yang terluka. Menoleh kiri ke kanan, tidak ada jalan lagi. Melompat pun itu tidak mungkin.
Brukk!!
"Suara apa itu?" tanya salah seorang dari mereka ber tiga yang masih terduduk ketakutan di dalam.
Brukk,,brukk,,bruukk!
Suara gaduh semakin kencang dari atas atap, sisa runtuhan asbes berjatuhan mengotori tubuh mereka.
"Banggunn! Bangunn,, bangunn!"
Tidak ada dari mereka ber enam yabg mau bangun.
"Siall! Semenjak boss kita ganti, nggak ada yang bisa dibereskannya," ucap salah seorang merutuki bossnya.
"Terpaksa kira harus meninggalkan mereka! Cepat simpan barang obat-obatan ini!"
Tiga orang menyusun segala barang yang masih bercecer di atas meja, kartu joker, berbagai jenis jarum suntik senjata tajam yang seharusnya bisa mereka pakai, obat-obatan yang sudah terbuka dari bungkusnya. Memasukkannya ke dalam satu plastik menyelipkannya di antara tumpukan barang kelas yang sudah lapuk di pojok ruangan.
Keluar berlarian tidak juga mendapat jalan, lampu remang di lorong sekolah tingkat tiga sudah dimatikan. Semua gerbang tangga darurat sudah ditutup, rumpur yang menjalar di dinding semakin membuat mereka payah.
Membuka paksa kelas lain pun, percuma.
Salah seorang memutuskan bersembunyi ke dalam toilet lantai tiga gedung, namun sayangnya ada seseorang yang berhasil membekap mulutnya sedetik berlalu ia langsung jatih pingsan.
"Dan, satu orang pingsan!" seru Will dari dalam telinga Daniel.
Sekarang gilirannya, ia harus mengalihkan perhatian ke tiga orang yang masih berkumpul saling berdebat. Menekan sesuatu dari ponselnya, suara gemuruh angin terdengar aneh muncul dari dalam ponselnya.
__ADS_1
"Boss, lakukan sesuatu!"
"Gue nggak tahu. Lebih baik selamatkan diri-sendiri aja, pergi sana!"
"Nggak guna lo jadi orang, sialan!"
Aldi tetap merunduk di bawah kaki meja dengan tubuh gemetar hebat, dua orang itu sudah berpisah menyelamatkan diri, yang satu ke lorong kiri, yang satu ke lorong kanan.
Bukk!
Rio dan Sofan berhasil memukul punggung orang itu, lalu menyeretnya ke arah luar.
Nasib yang satunya juga sama. Sekali pukulan dari Willangga juga berhail melumpuhkannya.
"Al-aldii.." suara panggilan dan jejak kaki itu membuat Aldi semakin meremang.
Bian menantang kegelapan dengan bengis menendang meja sampai terbalik, Aldi sudah tunduk gemetaran di bawahnya. Menarik tubuh itu berdiri mendorongnya terjerambab ke belakang, memukul wajahnya berkali-kali.
"Kok bisa lo ditunjuk sebagai pengganti abang lo? Lemah!" ejeknya membuang ludah.
"Lo si-siapa?" Aldi tetap bertanya walaupun takut dihatinya. Mengusap rasa sakit di pelipisnya yang sudah memar.
"Gue, Bian. Musuh bebuyutan abang lo yang udah di penjara itu!"
Aldi terkesiap, menyeret kakinya mundur ke belakang. Mencengkram rasa ngilu yang teramat di lututnya. Bodoh, sungguh bodohh! Mengapa ia bisa sebodoh ini, mereka belum mempersiapkan apa pun sebelumnya. Ia terlalu abai percaya saja dengan ucapan perlindungan dari orang baru itu, nyatanya sekarang? Mana diaaa!?
Baru saja ingin berdiri, ia jatuh lagi di didoring Bian.
"Apa mau lo nyerang kami?"
"Apa maksud lo menculik adik gue, hah?" mencengkram kerah jaket Aldi sembari duduk santai di lutut Aldi.
Satu menit...
Dua menitt...
Tiga menitt..
Tangan Aldi diputar dan sepertinya sudah bengkok.
"Jawabb!!" Bian mencakar wajah Aldi dengan satu kukunya yang senfaja dipanjangkan, darah segar menetes mengotori wajah Aldi.
"Ba-baik, gue ngaku," ucapnya terbatuk-batuk. "Gue nggak tahu pasti orang yang udah memperdayai anggota gue buat nyuruh menculik adik lo itu." dia terbatuk lagi rasanya kerongkongannya mau keluar saja.
Bian memincingkan mata belum percaya pengakuan cowok ini. Merogoh tas kecil yang terlilit di perutnya, menyemprotkan ke wajah Aldi. "Jujur lo!"
Air cuka asam itu semakin menambah oerih di bagian lukanya. "Gue ada simpan nomor hpnya. Dia yang menanggung penculikan adik lo, dia yang nyuruh kami dengan imbalan setimpal." gerakannya gemetar meraih ponselnya lalu memberikannya pada Bian.
"Awas kalau lo sampai berani menipu gue," ancam Bian. Menyentuhkan sidik jari Aldi mencari kontak yang disebutkan, menghubungi rasa tak sabaran.
"Nomor yang anda tuju, salah!"
"Bang, sumpahh!! Orang itu yang nyuruh kami, dia-dia kabur tidak mengaktifkan nomornya lagi," Aldi berujar cemas karena nomor itu tidak bisa tersambung.
"Lo, akan gue bawa ke penjara, bergabunglah bersama abang lo dan anggota yang bodoh itu. Dan, narkoba itu yang akan memberatkan hukuman lo," tukas Bian menendang perut Aldi.
Meninggalkan tubuh Aldi yang sudah tidak sadarkan diri, membawa ponsel itu menyimpannya.
Sementara di tempat ruang kelas di mana anggota yang lain masih tidur, Daniel dan Will menyuntikkan obat bius lagi pada mereka.
"Dan, lo cari semua narkoba-narkoba itu. Biar gue fokus mencari surat yang ada pada mereka," ucap Will napas memburu.
Pasalnya ke tiga orang sebelumnya sudah digeledah, surat itu tidak ada di sana.
Anggukan Daniel menjawab. Sibuk tangannya menjelajahi laci meja lalu ke kolong kursi menggeser pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara gaduh.
Untubgnya mereka semua sudah dibekali sarung tangan, tidak perlu kuatir kemungkinan sidik jari yang tertinggal. Daniel berhasil menemukan kantongan plastik membukanya, benar saja ada peralatan lengkap untuk memakai barang haram itu.
Willangga mencakar setiap sudut pakain, menagan rasa geli bercampur jijik ia melakukannya. Mengibas tangannya menghendus aroma alkohol dari mulut salah seorang mereka, berdecak sebal berpindah pada orang berkutnya.
__ADS_1
Senter mungil yang diikat dikepalanya sangat membantu pengeligatannya dengan kegelapan ruangan ini, samar ia melihat ada sebuah kertas yang bukan termasuk identitas yang tersimpan dalam dompet lelaki kekar ini. Mendapat anggukan dari Daniel, ia mengambil kertas itu lalu merapikan isi dompet lelaki itu mengembalikannya ke dalam saku celananya.
"Mana kantungan plastiknya?"
"Itu di atas meja guru."
Cepat-cepat mereka keluar dari ruang kelas, waktu operasi mereka hampir habis.
"Guys,,polisi sudah hampir sampai! Cepat keluar dari gerbang depan, Sofan dan Rio akan membantu kalian dari sana. Sementara gue dan Bembi akan menipu jejak polisi agar tetap masuk dari gerbang belakang."
"Iya, Andreas!" Willangga yang menjawab.
Bian sudah ikut bergabung dengan mereka, membuka rantai yang mengikat engsel besi pagar tangga darurat. Berlari kecil menuruni anak tangga, berbaris melewati rerumputan dan semak duri yang mereka lewati.
Menahan napas bau abu beserta bau bangkai busuk menusuk sampai ke hidung. Yang benar saja, geng aneh ini menempati lokasi di tempat semengerikan ini!
"Hah, leganya kalian semya selamat!" ucap Bembi menarik napas panjang. Wajahnya yang tadi tegang kini kembali seperti biasa, hampir gila menunggu di luar mengawasi situasi.
Masuk mobil Will membuka mengotak-atik ponselnya, menunjukkan layar tontonan pada teman-temannya. Beberapa anggota kepolisian sudah masuk ke dalam gedung sekolah dengan cara memanjat seperti mereka tadi, mendapati beberapa orang yang sudah terbaring sembarang di atas lantai. Dari sudut lorong, terlihat salah satu polisi membopong sesrorang yang tubuhnya lunglai terluka, Bian menaikkan alis acuh tak acuh dipandangi sedemikian pertanyaan.
"Ya hallo, Pak. Terima kasih atas kerja samanya," ujar Rio membalas telepon dari dalam layar ponsel Willangga.
Bertepuk tangan gembira misi mereka berhasil, Rio dengan kemampuan meniru suara dapat memanipulasi polosi seolah-olah Rio adalah warga perempuan yang melaporkan ini, padahal?!
Tekk!
Sekali sentuhan, seluruh aliran listrik yang tersisa di dalam gedung rusak begitu saja, Willangga adalah pelakunya.
Mobil melaju menuju rumah Willangga tempat paling aman, mereka akan menginap di sana, Bian yang nanti habis mampir ke rumah Will diantar ke rumah sakit bergantian menjaga Neva.
"Ini ponsel Aldi, lacak semua aktifitas yang ada di dalamnya. Nomor si penyuruh menculik Neva sudah tidak aktif lagi, dia kabur meninggalkan mereka yang harus menanggung kesalahan. Sementara orang itu? Sampai ke ujung dunia pun, gue harus menemukannya."
"Iy-iya, Bang," gugup sendiri ngeri menelan saliva kasar. Wajah Bian bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.
Willangga mengesah panjang.
"Surat yang kalian bilang tadi mana?"
"A-ada kok, Bang," Daniel juga sama takutnya.
Mengulurkan tangan yang terbuka meminta surat itu, tatapan intimidasi mampu mengalahkan Daniel dan Willangga yang tadinya ingin menyembunyikan surat itu.
"Jangan coba-coba menyembunyilan sekecil apa pun dari gue. Paham!" seru Bian tegas.
Surat sudah berpindah ke dalam tangannya.
Mereka ber enam menunduk segan.
Satu menit...
Dua menitt..
Tiga menitt
Empat menitt...
Lima menit...
Suara tawa mengelegar Bian di ruang tanu rumah Willangga, menatap lucu pada teman-teman barunya ini. Will dan yang lainnta mengangkat kepala heran, ada apa dengan Bang Bian?
"Jangan tegang seperti itu, Broo! Abang cuma bercanda ngancem tadi," ucap B7an di sela tawanya.
"Oh-ohh," jawab mereka bersama nenghela napas lega.
"Sudah, kita baca suratnya bersama-sama," ujar Bian tersenyum kecil.
Seketika suasana mencekam kembali, kalimat deni kalimat yang keluar dari mulut Bian membuat mereka menahan sesak dan amarah yang memuncak.
"Tolong jangan beritahu ini dulu pada Neva, sampai waktu yang telah tepat. Kita tunggu papah dan Om Valensis pulang," lirih Bian sendu.
__ADS_1
ššš
Maaf kalau part ini kurang 'aksi',,,