
Masih mau lanjut baca cerita ini?? Yang pastinya lejat dan bergiji..Yukk,,simak bareng-bareng,,cekidot!!..
š¹š¹š¹
Ā
Apakah rasa sukanya sudah hilang? Memang belum sepenuhnya, tetapi Jhena masih mencoba melupakannya. Tidak mudah menghilangkan perasaan bertahun yang dipendam. Ada sedikit rasa senang di hatinya ia duduk ber dua di samping Daniel di taman belakang sekolah, rasa khawatir lebih mendomunasi, merasa canggung tidak enak kalau Chatryn sampai tahu.
"Makasih udah meluangkan waktu lo untuk ngobrol sama gue," Daniel membuka suara dengan tatapan lurus ke hamparan rumput manis taman.
"Iya. Santai aja, tugas osisnya udah kelar, kok," Jhena tersenyum kaku. Menoleh ke samping, Daniel tidak menggubrisnya.
"Gue nggak pintar basa-basi. Apa yang lo tahu tentang penculikan Neva? Daniel menatap menyelidik Jhena dengan aura mengintimidasi.
Jhena terhanyak, tangannya saling meremas, perasaannya panik luar biasa. "Eng-enggak ada," jawabnya terbata.
Menyugar rambutnya kasar, berdecak kesal menghadapi Jhena yang masih mengelak. Menarik napas dalam-dalam mengeluakannya lagi. "Neva diculik dan dipukuli oleh si penculik, memar dalam perutnya lumayan parah, persendian tangannya hampir patah, wajahnya lebam bekas tamparan, dia kritis selama beberapa jam, Bu Priska menangis sejadi-jadinya. Untung sampai tidak dilecehkan. Kalau tidak?" sorot mata Daniel memaksa Jhena agar mau berterus terang, memberi tahu kondisi Neva dengan gaya dramatis.
"Ne-Neva," ujarnya lirih. Matanya berkaca-kaca mengetahui kondosi temannya, mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Kalau lo belum mau cerita sama kita-kita, itu artinya, lo ikut melindungi penculik-penculik itu. Sementara Neva temen lo, mungkin tidak mendapat keadilan karena si penculiknya tidak tertangkap," ujarnya menohok.
Jhena tertunduk lesu, keringat mengucur membasshi pipinya. Tatapan tajam Daniel membuat nyalinya menciut.
"Aku beneran nggak tahu siapa penc-"
"Lo masih nggak mau ngomong?" Daniel menyela ucapan Jhena menyentak cewek ini hingga badan Jhena merapat ke pinggiran kursi.
Sebenarnya ada rass iba melihat wajah ketakutan Jhena, namun ia harus tegas menghadapi Jhena. Dan jujur saja, rasa sukanya pada Jhens menguap begitu saja setelah ia mencoba iklas pada kenyataan dari Andreas yang jauh lebih baik darinya.
Mengemgam erat pegangan ujung kursi, air mata lolos begitu saja. "Aku-a-aku memang nggak tahu. Tapi aku nemuin sesuatu da-dari perpustakaan," ungkapnya bergetar ketakutan.
Memundurkan badannya, Daniel tersenyum sinis. "Apa itu?"
Duduk ke posisi semula, menarik napas sebelum bercerita mengungkapkan semuanya. Biarlah ia mengaku saja, toh tidak ada sangkut pautnya juga untuknya, hanya saja Jhena yang terlalu takut untuk ikut terlibat dalam urusan ini. Tetapi setelah mendengar kabar tentang Neva, ia merasa bersalah. Jhena merasa telah menjadi sahabat paling pengecut di dunia.
"I-ini." mengeluarkan secarik kertas dari saku roknya memberikannya pada Daniel.
"Jangan buka di sini." Aku akan menceritakan bagaimana aku bisa menemukan surat ini."
Memperhatikan suasana taman. Hanya ada beberapa siswa SMP Dharma Bakti yang sedang berkumpul di sini, mengangkat tangan melihat jam melingkar di pergelangan tangannya. "Jam istirahat 15 menit lagi!"
Awalnyaa...
Setelah kesepakatan berdamai dengan Chatryn. Jhena pamit keluar sebentar ke toilet, berlari menuju toilet terdekat di bawah tangga sesudah melewati ruang perpustakaan.
Setelah menyelesaikan kegiatan di dalam, keluar berjalan santai melewati perpustakaan untuk kembali ke ruang Lab. Namun ada yang aneh! Kok engsel pintunya terkunci, padahal jam penutupan perpustakaan belum tiba, memang sedang mati lampu, tapi'kan tidak ada pengaruhnya untuk sekedar membaca di perpustakaan, tinggal buka jendela untuk penerangan, ini juga masih siang. Mengintip dari lubang cela pintu, badan Neva sedang berjalan mengelilingi lemari buku. Berpikir positif, mungkin Neva sedang ingin menyepi menyendiri di dalam.
Menggeleng mengnyingkirkan firasat buruknya, ia kembali menemui Chatryn lagi.
Setelah mereka memutuskan pulang dan mengunci Lab, Jhena dan Chatryn berdiri saling berangkulan menuju mobil jemputan Chatryn. Di situlah pandangan mereka menyaksikan Neva dibopong ke dalam mobil pribadi berwarna hitam. Berteriak memanggil orang-orang, sayang mobil itu telah melesat jauh tidak terkejar lagi. Jhena tersentak mengingat, ruang perpustakaan. Sendirian karena Chatryn sempat pingsan, berlari masuk ke dalam. Tidak ada yang melihatnya. Jhena menemukan sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang, gemetar secarik terhempas di lantai. Membacanya sekilas, mulutnya tertutup membaca kata demi kata yang mengisahkan sebuah kejadian yang sudah lama tidak terdengar lagi, atau lebih tepatnya kasus yang diungkap dalam surat ini tiba-tiba hilang entah bagaimana.
Apakah ia harus ikut terseret dalam kasus ini?
Neva! Bagaimana cewek itu mengetahui kasus sekolah ini, padahal dia saja tergolong murid baru?
__ADS_1
Ternyata,,ternyata Pak Arifin! Beliau!!!
"Jhena, Jhena!!" pekik Daniel panik merangkul tubuh cewek ini yang sudah berkeringat tubuhnya gemetar ketakutan. Mengusap bahunya mencoba menenangkan Jhena, "Sudah. Jangan dilanjut ceritanya kalau lo takut."
"Aku terlalu takut, Dan. Aku takut terseret dalam kasus ini, aku takut berhadapan dengan polisi pengadiln atau Pak Arifin. Aku tahu aku salah menyimpan bukti surat ini. Aku teman yang memintangkan diri sendiri, hanya memikirkan kebaikanku saja. Pecundang, aku pengecut," racaunya terisak merasa bersalah penuh penyesalan.
"Sekarang surat ini sudah di tanganku. Biarkan kami yang menyimpannya."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang murid perempuan tersenyum jahat di balik punggung mereka.
š¹š¹š¹
Jika Daniel sedang mengintrogasi Jhena. Will sedang mencari tahu siapa pemilik kalung yang ada dalam gemgamannya, seperti pernah melihat?
"Coba lo ingat, Ndru. Siapa tahu lo famiar sama nih kalung." Endru sigap menangkap kalung yang dilempar Willangga.
Ingatan Endru jatuh pada saat ia beserta Dani dan Rio sedang memukul laki-laki bertato di depan gudang Bang Jack, kalung ini sangat persis seperti yang dipakai tergantung di leher pria itu, bentuk gambar kepala tengkoranya, sama persis. Ia tidak salah ingat, soalnya ke dua lelaki yang terkapar akibat hantaman balok memakai kalung yang sama.
"Anggota geng motor Jack Black!"
Sontak itu membuat mereka tercengang.
"Lo yakin? Tapi, apa iya?"
"Banget, Will," jawab Endru mantap.
š¹š¹š¹
Priska memutuskan tidak sekolah hari ini, menemui Arifin mendatangi rumahnya langsung.
"ARIFIN, KELUAR SEKARANG JUGA!!"
"ARIFIN, TEMUI SAYA!" ARIFINN!!"
Teriakan Priska sekuat tenaga membuat kerumunan tetangga pemasaran, berbisik saling bertanya kenapa orang ini berani meneriaki si pemilik rumah.
Priska tidsk peduli. Sekuat tenaga mendorong ke dua satpam yangenghalangi jalannya, menggedor besi pagar yang tinggi sekencang-kencangnya. Bahkan Septer kehabisan tenaga menghalangi gerakan Priska memegangnya erat.
Yang dipanggil dari dalam keluar dengan ke dua bodyguardnya, membuka gerbang menatap tajam pada sosok perempuan yang sudah mengusiknya.
Priska tidak gentar sama sekali, melangkah menghampiri tubuh tinggi Arifin. Namun kekuatannya tidaklah sebanding dengan kibasan tangan kekar Arifin. Priska hampir jatuh terjungkal ke belakang apa bila Septer tidak sigap menanahan tubuh itu agar tidak mrnghantan tanah.
Tetangga yang lain sudah ikut mengerumini walau pun tidak memasuki wilayah dalam gerbang.
"Ada apa datang kemari?" Arifin bertanya nada tajam. Gerakan halus tangannya melambai ke arah dua bodyguard agar semakin merapat padanya. Septer menatap sekeliling dengan was-was, menoleh ke belakang mengisyaratkan pada salah satu orang tetangga memohon agar jangan meninggalkan tempat ini.
"ANDA PENCULIK KEPONAKAN SAYA NEVA!" tuduh Priska bersuara lantang.
Wajah Arifin mengeras menggertakan gigi, ternyata perempuan ini adalah adiknya Putra juga salah satu staf yang mengajar di sekolahnya. Pantas saja wajahnya tidak asing, musuh datang sendiri kehadapannya. Tetapi apa ini? Lagi-lagi dirinya tertuduh atas pemculikan Neva.
"Saya tidak tahu penculikan itu!" tandasnya menggeram.
Telinga Priska sudah tertutup oleh rasa benci yang memuncak, pengakuan Arifin sama sekali tidak mengubah pemikirannya untuk menuduh pria ini.
"Saya tidak percaya!" serunya melawan.
__ADS_1
Arifin semakin tersulut emosi. Sayangnya ada orang-orang di depan sana menyaksikan mereka, kalau tidak??!
"Tahan emosi anda, Tuan," ujar salah satu bodyguard berbisik.
Arifin menghembuskan napas kasar. "Aps bukti dari tuduhanmu?"
Priska terdiam. Memang benar dia tidak punya bukti kuat untuk menuduh lelaki ini, tapi hanya dialah orang yang memiliki alasan kuat untuk dituduh.
"Karena hanya anda yang punya dendam pada keluarga kami, bahkan anda telah-"
"Ccukupp!" menyela membentak Priska. Hampir saja Priska mengungkit masalah keluarga, di depan orang banyak ini. Reputasinya bisa hancur kalau sampai mereka tahu.
"Pak, tolong jangan kasar terjadap wanita!" pekik Septer menghadang Arifin yang hendak memcengkram dagu perempuannya.
"Anda takut saya mengatakan kalau anda adalah-"
"DIAMM!" Arifin mundur sedikit dengan wajah pucat. "Sekali lagi saya katakan, saya tidak ada hubungannya dengan penculikan Neva. Tapi saya berjanji akan mencari tahu siapa orang itu, saya sendiri yang akan mengantar orang itu ke dalam penjara. Anda cukup puas?! Jadi, sipahlan pergi dari sini!" memberi penawaran.
"Saya tidak mempercayai ucapan anda."
"SAYA ARIFIN DALVENSO BERJANJI, BAHWA SAYA SENDIRILAH YANG AKAN MENCARI TAHU SIAPA DALANG PENCULIKAN NEVA, DAN SAYA SENDIRILAH YANG AKAN MENGANTARKANNYA KE PENJARA SEKALIAN MENGANTARNYA KEHADAPAN KELUARGA ADIPUTRA!" serunya lantang.
Para tetangga saling pandang, mereka menjadi saksi atas janji Arifin.
"Saya harap anda percaya, Bu Priska, mereka ini adalah saksi dari janji saya!"
"Saya tunggu tiga hari lagi. Anda punya banyak uang dan relasi untuk mencari tahu," putus Priska mencoba percaya.
Septer masih merangkul menahan tubuh Priska, tetapi pandanganya tetap waspada.
Sampai pada matanya bertemu pada sosok perempuan berseragam pelayan berdiri di balik jemdela dari atas lantai dua bangunan rumah, mulut perempuan itu bergerak menyebutkan nama M-I-T-H-A kemudian memberi isyarat tangan yang mengatup melirik memohon padanya, perempuan itu terlihat seperti menangis.
Setelah beberapa menit akhirnya Septer mengedipkan matanya halus, perempuan itu berlalu menutup gorden kamar.
"Pris, ayo pulang. Neva di rumah sakit sendirian," ajaknya mengalihkan emosi Priska.
"Baiklah!" Arifin menyetujui mengangguk mantap. Berbalik melangkah, teringat sesuatu lagi berbalik badan lagi menghampiri Priska tersenyum sinis.
"Ada satu hal lagi yang harus saya katakan. Hubungi AdiPutra dan suruh dia kembali ke negara ini, karena dia tidak akan bisa membawa Michael ke sini. Kalau tidak, biar saya yang memaksa AdiPutra pulang dengan kondisi yang me-nya-kit-kan," ujarnya mengancam.
Priska membalas tersenyum tak kalah sinisnya. "Sekali saja anda menggores luka di tubuh keluarga saya, sekolah milik anda taruhannya," senyuman itu dapat membuat wajah Arifin memucat.
"Kau?"
"Ayo kita pulang, Septer. Kita tunggu janjinya tiga hari lagi," ujarnya tegas.
Di balik pintu rumah megah Arifin, Arman mencengkram engsel pintu ketakutan. "Papah!!" berjalan tergesa menelepon sesrorang.
"Lo udah pastikan tidak jejak yang tertinggal di gudang itu?"
"Tidak ada. Sudah dulu ya, kalung Jack Black gue hilang entah di mana."
Sahutan dari seberang sana membuat perasaan Arman gelisah.
ššš
__ADS_1