
Endru harus berdebat dulu dengan Willangga mengantar pulang, pada akhirnya ia pulang naik angkuran umum demi menjamin keselamatan temannya dari para pengawal papahnya yang kemungkiban besar mematainya diam-diam. Entahlah, dia hanya memikirkan kemungkinannya saja.
Dan lagi, ia belum pulang langsung ke rumahnya Mampir sebentar menjenguk mamahnya.
"Selamat malam Den Endru," sapa mamang satpam yang menunduk hormat padanya. Lalu membuka gerbang membiarkan tuannya masuk, tuannya ini hanya tersenyum sopan membalas sapaannya tadi.
Lampu utama sudah mati hanya menyisakan cahaya remang yang berasal dari lampu kuning dari yang tersisa, suasana rumahnya juga sudah sepi sepertinya sudah pada masuk kamar semua. Apakah ia selamat dari amukan papahnya hari ini? Oh tentu tidak, lihat ada bayangan papahnya yang berjalan menghampirinya di ujung tangga.
"Baru pulang kau?" mata Arif menajam memandang wajah putranya yang lusuh masih memakai seragam sekolahnya.
Endru berbalik menghadap papahnya balik juga menatap sengit papahnya, tidak ada ketakutan atau rasa hormat yang ia berikan pada orang tuanya ini. "Papah lihat sendirikan, aku sudah ada di sini?"
Arif menggertakan gigi mendengar jawaban kurang ajar putranya, tangannya sudah mengepal di dalam saku celana tidurnya. Seandainya ini bukan putranya, sudah ia cakar wajah perlawanan dari Endru. Arif menarik nafas meredam emosinya. "Kau bolos lagi dari rapat osis demi menjenguk keponakan dari wanita sialan itu, sampai berani melawan dari perintah papah lalu kabur dari telah menipu pengawal yang papah kirim." mulutnya bergerat mengucapkan perkataannya.
Rasa laparnya menghilang mendengar ucapan papahnya. "Wanita sialan siapa yang papah maksud? Aku tidak berurusan dan tidak peduli dengan hubungan papah deng wanita sialan yang mungkin adalah Bu Priska aunty dari Neva. Aku hanya melakukan apa yang aku suka, itu saja." jawab Endru santai.
Kalimat terakhir yang diucapkan putranya adalah sindiran untuknya, hanya saja Arif tidak terlalu memusingkan itu. "Perlu kau ingat! Nama baik keluarga kita, nama baik orang tuamu, perlu kau jaga agar tidak mencoreng martabat kehormatan keluarga kita. Dengan kau mendekati anak dari keluarga rendahan seperti mereka, sama saja kau mengotori wajah papah!" ucap Arif berapi-api. "Jangan pernah melakukan satu kebodohan di hari perayaan ulang tahun yayasan nanti yang bisa membuat papah malu."
"Itu kata papah, kataku tidak," ujarnya datar. Baru saja ia ingin menaiki anak tangga, ucapan papahnya menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Besok Inggrisa sekolah lagi. Papah tidak mau tahu, perjelas hubungan kalian bicaralah dengan Inggrisa."
"Cih, aku nggak peduli dengan gadis itu lagi. Kalau hubungan bisnis papah dengan keluarga Inggrisa hancur, itu bukan urusanku juga." sahutnya tanpa menoleh menghadap papahnya.
Arif tersulut emosi, dengan kasar ia menarik tubuh Endru terjungkal ke belakang tanpa basa-basi menampar putranya cukup meninggalkan bekas di wajah Endru. "JAGA UCAPANMU, ENDRU. INI ADALAH TAMPARAN PERTAMA KARENA KAU BERANI MEMBANTAH PAPAH!" teriakan Arif menggema ke seluruh ruangan. Tanpa mereka sadari ada satu lelaki yang menangis di ujung ruang gelap sana.
Endru meringis pelan, ujung jarinya mengelus bekas tamparan dari papahnya. Rasa sakit hatinya berkali lipat terlebih memikirkan ketegaan papahnya yang sudah menampar wajah serta hatinya, tanpa sadar air matanya mengenang di wajahnya mengalir di bekas jari yang membiru menodai wajah tampan itu.
"Dan aku Endru anakmu, akan menyiapkan berlapis wajah untuk ditampat berkali-kali, karena ini bukanlah perlawanan yang pertama." ucap Endru bergetar menahan rasa sakit di hatinya. Kakinya berjalan dengan tatapan benci kepada Arif papahnya, mengeratkan gemgaman tangannya pada besi penyangga tangga.
Arif menatap sendu punggung putranya terus menjauh menaiki tangga, rasa sesal membuncah melihat tangannya yang telah menodai Endru. "Apa yang sudah kulakukan?" monolognya sendiri.
š¹š¹š¹
Masih terlalu pagi Endru sudah terburu-buru membuka gerbang sekolah menggunakan kunci cadangan, duduk di kursi ketua osis kekuasaannya sedang menunggu seseorang yang ia hubungi tadi malam.
Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian Endru dari ponselnya, memandang datar pada murid perempuan yang sedang ketakutan menunduk dihadapannya. "Baca ini."
Murid perempuan ini tersentak, tangannya gemetar membuka map yang membuat matanya terbelalak. "A-apa-apaan ini, Kak?" tanyanya takut bercampur kebingungan. Tidak kuat melihat mata Endru yang seperti ingin menelannya hidup-hidup, ia menunduk melihat meja.
__ADS_1
Endru menyeringai menyaksikan perempuan ini ketakutan, memangku dagunya pada tangan. "Jhena, sekretaris kesayanganku. Jangan terlalu khawatir begitu, santai saja."
"Maaf, Kak Endru. Apa aku sudah melakukan kesalahan pada kaka? Tolong jangan cabut beasiswaku, Kak. Aku mohon," ucap Jhena tersendat menahan tangisannya.
Sungguh Jhena selalu berusaha melakukan yang terbaik selama berdampingan mengurus osis di bawah pimpunan Endru, ia memahami status orang tua Endru yang mempunyai wewenang atas beasiswanya selama ini. Selalu berusaha menjaga nama baik Endru di depan anak-anak anggota osis lainnya, selalu membela Endru sampai ia dicap wanita rendahan yang ingin mendekati Endru. Tubuhnya gemetar ketakutan membayangkan apa yang ia bayangkan kalau Endru mencabut beasiswanya melalui Pak Arifin.
"Hahahaha!" Endru tertawa sumbang memperhatikan reaksi Jhena yang sudah berdiri ketakutan, map itu adalah kelemahan untuk membuat jhena tak berkutik. "Uhum," menghentikan tawanya. "Lo tidak melakukan kesalahan sama sekali, bahkan lo membuatnya begitu sempurna. Entah diperintah seseorang atau dari tindakanmu sendiri, kau membuat file seluruh kegiatan perayaan ulang tahun ini menjadi atas namaku sendiri, padahal itu semua adalah hasil kerja kerasmu." Jhena terhanyak mendengar ungkapan Endru. "Apa lo tidak merasa ketidakadilan di sini? Maunya kau dibodohi. Yang kerja siapa, yang menerima upahnya siapa." Jhena tetap bungkam, itu memang benar tetapi ia pun juga tidak bisa membela diri. "Gue Endru, bisa saja dengan mudah mencabut beasiswa ini, bisa juga tetap mempertahankannya. Keputusan ini tergantung apa jawabanmu, Jhena."
Jhena mulai cemas, jarinya saling meremas. "Baiklah," jawaban itu keluar dari mulutnya demi mempertahankan sekolahnya.
"Lo harus berani tampil di depan menggantikan gue kata sambutan besok, dan lo harus menghapal isi teks pidato yang gue tulis di sini." mengeluarkan kertas lipatan dari saku celananya.
"Uhmm," Jhena berpikir serius. Sebenarnya setelah ia membaca isi pidato itu tidak ada memuat yang aneh-aneh, tapi menggantikan posisi sang ketua osis sepangkat Endru butuh tanggung jawab besar.
"Gue yang akan melindungi Lo nanti, jika ada yang berani macam-macam sama lo," Endru melembut meyakinkan Jhena.
Jhena menghela napas kasar "Baiklah."
Endru tersenyum tipis mempersilahlan Jhena keluar. "Maafkan anakmu yang pembangkang ini papah."
__ADS_1
šššš