Kisah ABG

Kisah ABG
Lohan


__ADS_3

Dengan hati-hati mobil yang mereka tumpangi masuk melalui jalan gang sempit, untung tidak ada kendaraam yang lain berpapasan dengan mobil mereka. Ternyata benar, perkampungan ini ada di balik sebuah gang padat perumahan. Jika dilihat-lihat, perbedaan kasta sosial-lah yang menyebabkan terjadinya seperti ini. Rumah di gang terbilang masih sederhana layak huni. Di sini? Terlihat kumuh tidak dirawat, banyak sampah, becek juga mungkin habis hujan, rumah terbuat dari bahan seng dan papan.


"Iuhh! Becek banget, sih," keluh Chatryn. kakinya hampir menginjak genangan air.


"Balik ke mobil sana," usir Daniel.


"Tuntun dia ke jalan yang benar, Dan. Biar nggak kena air kakinya," Bembi menimpali.


"Ogah. Bukan tugasku," jawabnya. Malas bersampingan dengan Chatryn, ia memilih berjalan sejajar dengan Jhena dan Andreas yang sedang asik bergandengan.


"Ck, Dani nyebelin," Chatryn cemberut.


Tidak jauh berjarak di depan meerka, Endru, Neva dan Will memimpin jalan paling depan.


"Lihat ke belakang," bisik Neva pada mereka ber dua.


"Sungguh rumit," gumam Will.


Jhena yang berjalan di tengah Daniel dan Andreas jadi gugup, tanpa sengaja kakinya tersandung batu.


"Jhe-"


Daniel menangkap tubuh Jhena.


Satu detik,,,.


Dua detikk,,.


Tiga detikk,,,.


Dani tersadar, mata tenan-temannya menatap horor. Chatryn melotot.


"Maaf, gue hanya-um. Nangkap badan lo yang hampir jatuh," ucap Dani gugup.


Jhena menunduk.


"Kamu nggakpapa?" tanya Andreas mengusap tangan Jhena.


"Nggak," tidak berani melihat wajah Andreas. Perasaanya campur aduk, malu juga salah tingkah, tidak enak. Baru kali ini ia berani menatap mata Daniel, posisi mereka tadi? Tapi ini menang tidak sengaja.


Chatryn sekuat mungkin menahan cemburu, Jhena pacarnya Andreas! Menghela napas berpikir positiv.


Melanjutkan perjalanan, Dani memilih bersama Neva dan yang lain.


Kampung yang mereka datangi adalah kampung yang terpencil di ujung Jakarta, diapit perumahan padat dan pasar tradiosanal. Kepala keluarga yang tinggal di kampung ini tidaklah banyak, mereka hidup hanya memanfaatkan lahan yang tersisa.


Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa warga berkumpul menghalangi jalan mereka.


"Kita mau diapain ini?" tanya Chatryn bergumam.


"Maaf adek-adek. Kami mau bertanya, kalian dari warga mana?" tanya salah satu dari mereka.


"Pasti mereka dari gang yang di depan sana, mau cari.gara-gara sama kita,"


"Mereka tidak akan pernah berhenti menganggu kita, sebelum kita setuju kampung kita dijadikan seperti rumah mereka. Itu sama saja kita digusur!"


"Ini tidak bisa dibiarkan!"


"Lihat jam tangan laki-laki itu," menunjuk Endru. "Pasti anak orang kaya,"


Semakin ramai membicarakan mereka, suasana kampung jadi riuh.


Will melangkah kedepan. "Ibu-ibu, bapak-bapak! Kami murid dari SMA DHARMA BAKTI, berkunjung ke mari ingin menemui salah satu warga kalian!" Will bersuara sekeras mungkin.


"BOHONG! KALIAN PASTI ORANG SURUHAN ORANG-ORANG PEMERINTAH MAU MENGGUSUR TANAH KAMI!"


"Bukan, Pak," jawab Will.


"AH, TIDAK MAU JUJUR! LEBIH BAIK KITA BAWA MEREKA KE BALAI, KITA TAHAN MEREKA SAMPAI KETUA MEREKA DATANG! AYOO,,!"


"Bu, ka-kami tidak,,Aadduhh!" Neva meringis dua warga menyeretnya.


"Lepasin!!" pekik Chatryn ketakutan.


Andreas diam saja saat tangan mereka dipisahkan oleh warga, ia tahu Jhena sempat menoleh ke arahnya.


Mereka ber sembilan dikurung ke dalam gudang yang pengap. Banyak debu, papan yang dimakan rayap. Ini bukan balai tapi gudang! Ahk, kenapa jadi begini?


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Daniel menutup hidungnya tidak mau menghirup debu.


"Ihk, kok gini amat sih," Chatryn menggerutu lagi. Chatryn bergerak gelisah, tiba-tiba badannya menyenggol Bembi yang sedang berdiri di dekat jendela.


Krekk!


Untung saja tubuh besarnya menabrak jendela yang terbuat dari papan, tidak terjungkal ke lantai yang berdebu itu. "Chatryn!! Untung aja gue nggak nyungsep," ucap Bembi jengkel.


"He he, sorry," Chatryn terkekeh.


"Ini, si Bembi yang terlalu bertenaga? Atau, papannya yang udah reot, sampa-Aaaaaa! Kita bisa keluar dari jendela ini!" Rio girang.


Will tersenyum sinis, idenya langsung muncul di kepala.

__ADS_1


Menggoyang-goyangkan engsel pengait daun jendela, mengetuk papan berkali-kali. Engsel besi itu terlepas dari jendela.


Mengintip dari celah papan. Di belakang gudang ini hanya semak-semak, tidak ada rumah warga. Gudangnya sepi tidak ada yang menjaga.


"Siapa di antara kita yang hapal sama jalan kampung waktu kita diseret dibaea ke sini tadi?" Will bertanya.


"Aku hapal," Jhena yang menjawab. Lagian dia memang pernah ke alamat ini.


"Harus ada salah satu yang keluar dari sini. Tapi justru Jhena yang tahu keadaan kampung ini." Will berpikir.


Semua saling pandang.


"Gue,"


"Endru?" Neva belum yakin.


"Jelasin ke gue di mana rumah Pak Lohan di kampung ini." Endru sendiri yang memutuskan.


Will dan Jhena bergantian menjelaskan, Endru menyimak dengan teliti.


"Tapi," Neva belum yakin juga. Ia ingin ikut, dilarang Will demi keselamatan mereka.


Merangkul Neva mengusap bahu gadis itu. "Tunggulah di sini bersama yang lain. Jangan cemas, aku bisa jaga diri."


"Janji?"


"Hung," Endru tersrnyim manis.


"Bee! Kejombloanku meronta-ronta!" Rio mengusap dadanya.


"Cari cewek," Bembi menyahut.


"Gue dighosting terus," Rio pura-pura menangis.


"Virtual lagi," Andreas meledek.


"Lo sekalinya ngomong, nusuk sampe ke jantung. Kejam banget lo, Ndre." Rio jengkel.


Suasana sedikit mencair karena bercandaan dari teman yang lain.


Endru melepas jam tangan dan jaketnya, mengacak tatanan rambutnya, menyisakan kaos partai warna putih yang dipakai Daniel dan celana traning olahraga, mengganti sendal menukarnya pada Andreas. "Udah cocok belum?"


Semua menutup mulut menahan tawa, ini sungguh menggelikan.


"Neva," Endru merajuk. Neva ikut menertawainya.


"Ahk, kamu kayak bukan Endru." Neva mengatur napas menahan tawanya.


"Sudah, ahk. Kasihan dia." Neva mengelus pipi Endru.


"Makasih." wajahnya berbinar.


Will membeti ponsel pada Endru. "Pake."


Sementara ponsel yang satu untuk menghubungi Pak Brama.


"Waktu kita hanya tiga puluh menit sebelum Pak Brama sampai ke sini. Usahakan lo nggak dikenal warga kampung, dan harus kembali ke sini sebelum Pak Brama datang."


"Iya, Will." Endru mengangguk.


HAP!


Endru mendarat melompat dari jendela. Mengotori wajah dan kakinya, agar terlihat seperti warga kampung. Walaupun merasa jijik, namun ia menepis pikiran itu dengan wajah sedih Neva.


Ada sarung lusuh tergeletak di tanah, mengambilnya menyingkirkan pasir dan tanahnya.


Berjalan menyusuri semak melewati genangan air, di depan sana ada warga. Endru bersembunyi di balik pohon, lolos! Mengelus dadanya merasa lega.


Warga kampung banyak yang sedang berkegiatan di depan rumah, Endru tidak tahu mereka melakukan apa. Ia hanya berjalan tertunduk menutupi wajahnya dengan sarung.


"Hei,"


Astaga! Jantungnya hampir melompat.


Berbalik menghadapi seorang lelaki paru baya yang memandangnya curiga.


"Kenapa menutupi wajah pake sarung?"


Jantungnya gemetaran, ia harus menjawab apa?


"Hei, jawab!" bapak itu membentak.


"Sa-saya-"


"Buka sarungnya!"


"Jangan! Nanti abang jijik lihat wajah saya."


"Mencurigakan,"


Endru mundur mempererat sarungnya, ia tidak boleh ketahuan.

__ADS_1


Tangan bapak itu menarik sarungnya kuat-kuat.


Endru harus cari cara melarikan diri dari orang ini, tapi untungnya ada suara wanita yang menanggil-manggil bapak itu. Wajah lelaki itu sepertinya ketakutan, melepas tangannya dan langsung berlari menghampiri wanita itu.


Suami takut istri!


Menghirup udara dalam-dalam mengisi pasokan oksigen di paru-parunya. Membuka ponselnya, waktunya tinggal sedikit lagi.


Rumahnya dekat lagi.


Rumahnya berada di ujung perkampungan, terbuat dari kayu dan gedek bahan bambu. Berbeda dari bangunan sebelumnya, rumah ini terlihat lebih besar dan bersih. Tetangganya juga tidak ada, pekarangannya sepi. Beberapa kali ketukan tidak ada sahutan, mengintip dari jendela.


"Kosong!"


Endru gelagapan. Berpacu dengan waktu, mendobrak pintu.


Menyusuri seluruh isi ruangan, tidak ada kehidupan di sini. Perabotannya juga sudah tidak lengkap, tidak ada alat makan dan lemari. Ruang tamu kosong, tidak ada sofa atau sejenisnya.


Kemana dia?


Saat ingin keluar menutup pintu, matanya terpaku pada kertas yang terjatuh dari atas pintu. Membuka lembar dan membacanya.


Melipat kembali kemudian berlari menemui teman-temannya.


🌹🌹🌹


"Saya adalah Bramasta selaku kepala sekolah SMA Dharma Bakti, mereka ini adalah murid-murid saya," Pak Brama datang memberi penjelasan pada warga.


Warga yang lain saling memandang, ada yang mengangguk, ada yang masih belum yakin.


"Apa tujuan kalian ke kampung kami?" tanya salah satu warga.


Pak Brama bungkam, meminta penjelasan dari muridnya.


Willangga membungkuk hormat. "Kami datang ke sini untuk mencari salah satu warga kampung ini, kami ingin menemuinya."


"Siapa namanya?"


"Pak Lohan," jawabnya jujur.


Lagi, warga saling berbisik.


"Ada urusan apa sama beliau?"


Willangga mendengus kesal. "Beluau teman papi saya," jawabnya berbohong.


"Tapi Pak Lohan udah nggak di sini, pindah tiga hari yang lalu," sahut ibu-ibu yang ada di antara kerumunan warga.


"Pindah?" Willangga terkejut.


Sepertinya warga mulai percaya, wajah mereka memancarkan rasa lega.


"Warga sekalian! Karena kita sudah salah sangka dengan adik-adik ini, ada baiknya kita minta maaf telah mengurung mereka di gudang," ujar pemimpin dari warga ini.


"Kami minta maaf ya," ucap mereka tulus.


"Iya, dimaafkan," Will mewakili.


"Boleh saya bicara sebentar?" Pak Brama berdiri paling depan untuk mengungkapan sesuatu.


Warga diam menyimak.


"Maaf sebelumnya warga kampung sekalian, bukan maksud saya ikut campur atas permasalahan di kampung ini. Di sini saya ingin menjelaskan apa maksud dan tujuan pemerintah ingin memindahlan rumah-rumah di kampung ini? Pemerintah bukan ingin menggusur kalian, apa lagi sampai menjual tanah kalian. Tidak! Kampung ini berada di tengah-tengah lokasi maju dan sedang berkembang. Agar kampung ini bisa di tata dengan rapi dan bersih, mengganti rumah kalian dengan hunian yang layak. Pemerintah berniat membangun kampung ini agar tidak tertinggal lagi, kampung ini akan terlihat lebih maju. Itulah sebabnya, warga sekalian akan dipindahkan ke rumah susun yang sudah disediakan."


"Tapi pekerjaan kami?"


"Jangan takut. Kalian akan diberikan bantuan tiap bulannya. Nanti setelah kampung sudah selesai, kalian bisa kembali lagi."


Warga akhirnya memahami.


Pak Brama dan yang lain pamit pulang, menuju mobil yang mereka tumpangi. Pak Brama sudah berangkat naik mobilnya sendiri.


Setelah sampai dengan selanat ke rumah Bang Teguh, mereka berkumpul untuk membahas usaha Endru.


"Jangan cari saya, saya hanya menjalankan tugas. Saat kamu terus nencari, kakimu akan terluka." Lohan.


"Papah sebenarnya ada di mana?" ujar Neva bingung.


Bang Teguh mengambil surat dari tangan Neva, mengamati isi suratnya. "Sepertinya papahmu sedang menghindari sesuatu, atau mencari sesuatu di tempat lain. Dan jangan mencari dulu, papahmu pasti baik-baik saja. Dari surat ini, abang memahami. Bahaya sedang mengincar papahmu. Ads orang kain yang ikut mencari papahmu."


"Papah," badan Neva luruh di pundak Endru.


Bang Teguh memberi mereka makan malam dan membersihkan diri. Setelah selesai, mereka pamit pulang. Anak asuh Bang Teguh memeluk mereka satu per satu. Endru dan Will memberilan sedikit uang, dipaksa harus menerima.


Ting!


Willangga membaca pesan masuk di ponselnya. Wajahnya langsung cerah bahagia, berjingkrak kegirangan.


"YULAN UDAH SADAR!" serunya bahagia.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2