
Perdebatan di meja makan membuat jantung Endru berdebar-debar, rasa makanan seperti menelan batu.
"Kenapa mengunci Arman?" tanya Mitha pada suaminya.
Arifin berwajah datar tidak peduli dengan tatapan sedih istrinya. "Jangan banyak tanya dan jangan ikut campur dengan urusan anakku," sargahnya.
Mitha tercengang, dadanya seperti dihantam menerima jawaban suaminya. "Arman juga anakku, jadi aku berhak tahu apa pun tentang dia. Ingat Pah, semenjak kita menikah Arman dan Endru sudah menjadi tanggung kita berdua," sahut Mitha mempertegas ucapannya.
Arifin tertawa lebar membanting sendok ke atas piringnya. "Mulai hari ini, kau tidak lagi berhak mengurus semua keperluanku mau pun Arman. Cukup dampingi putramu sampai bisa menikahi Inggrisa, itu tugasmu tidak ada perbantahan! Itu alasanya saya mengizinkanmu kembali beraktivitas di rumah ini, Paham!"
Wajah Mitha merah emosinya sampai ke ubun-ubun, tanpa sadar ia memukul meja bangkit berdiri menatap nyalang pada suaminya, sementara Endru menghentikan makannya bergeser ke samping mamahnya. "Jadi kau memanfaatkan putaku Endru untuk keuntunganmu sendiri, agar kau bisa memperbanyak hartamu. Iya'Kan!" serunya emosional.
Arifin hanya bersikap santai, bahagia sekali melihat Mitha kembali mengamuk yang pasti akan memperlambat proses pemulihannya. Menyeringai tipis mengusap dagunya. "Endru, bawa mamahmu kembali ke dalam kamarmu. Dan jangan lupa obatnya," ujarnya mengejek.
Mengerang pelan ulu hatinya terasa nyeri, namun usapan Endru mampu meredam rasa emosinya. Menghela napas panjang menetralkan degup jantungnya. "Tunggu saatnya, semua yang kau rebut akan kembaki kepada yang berhak memilikinya. Arifin, tidak ada kejahatan yang sempurna. Ingat itu," ucapnya sebelum meninggalkan meja makan.
Arifin mengepalkan tangannya, cepat-cepat masuk ke ruang kerja untuk memikirkan rencana selanjutnya.
Hati-hati Endru membaringkan mamahnya membantu meminum obat, setelah itu menyeka sisa air mata di pipinya. Tak berapa lama mata sayu itu mulai menutup ke bawah alam sadar.
Dipikir sudah tidur, hendak melangkah keluar namun terhenti saat merasa mamahnya mengemgan erat jemarinya.
"Michael." Tertegun dengan gumam mamahnya, Endru semakin mempererst pelukannya.
"Iya, Mah. Ini aku," jawabnya lirih.
Mata itu masih terpejam namun gumaman nama Michael terdengar tiga kali, barulah ia paham bukan ia yang dipanggil. "Mamah rindu ayah Michael, aku juga," bisiknya berlinang air mata. Melepas pelukan, membuka galeri ponsel memutar vidio yang biasa menjadi obat penenang. "Ayah kapan datang menjemput kami?" tanyanya pada diri sendiri.
"Bi, apa bang Arman sudah makan siang?"
"Belum, Den. Tuan besar tidak mengizinkan kami membawa makanan selama satu harian ini," jawab Bibi menunduk sedih.
__ADS_1
Endru menggeram emosi, benar-benar si tua! Membuka kulkas mengeluarkan dua bungkus roti dan sebotol air mineral, tidak memperdulikan larangan si Bibi dia tetap berjalan ke kamar Arman.
Arman mundur ketakutan melihat engsel pintu yang bergerak, bernapas lega setelah menoleh Endru datang.
Pandangannya terpaku pada tubuh Arman yang terlilit perban di kakinya, lebam membiru di ke dua pipi, rambut yang berantakan, dan luka yang belum mengering di tangan Arman. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan si tua itu?
Sorot mata abangnya ini seperti orang yang ketakutan saja. Melangkah pelan menuntun badan Arman agar duduk di tepian tempat tidur.
Pandangan Arman kosong ke arah lantai, Endru telaten membersihkan lukanya dengan perlatan P3K yang tersimpan di dalam lemari miliknya, mengganti perban, mengolesi salap pada memar di pipinya.
"Makan dulu." Arman tidak bereaksi hanya memperhatikan roti yang sudah terbuka di dekat wajahnya.
Endru semakin merapatkan roti pada bibir Arman. "Gue yang akan hadapi si tua itu, jangan takut ya. Ayo makan," bujuknya lembut.
Perlahan gigitan demi gigitan roti dua bungkus habis, meneguk air dingin dengan rakusnya.
Setelah selesai Endru duduk di samping abangnya, menatap serius pada cowok ini.
Arman sudah lebih bertenaga setelah makan dan lukanya sudah diobati, tubuhhnya semakin segar setelah adiknya membantu membersihkan diri. Ia tahu, adiknya menuntut sesuatu penjelasan darinya.
Mengamati ruangan kamar.
"Sudah aman, nggak ada yang curiga gue ke sini. Ada sih tadi Bibi Meli tahu gue ke sini, tapi gue udah menjamin Bibi bisa diajak kerja sama," ucapnya bisa membaca pikiran Arman.
Sabtu semalam ia berpura-pura menyamar menjadi petugas pembuat KTP di sekolah adiknya Endru, dia berhasil masuk. Tapi tujuan utamanya ke sekolah tidak tercapai, justru ia ketahuan dan dilaporkan pada papahnya. Arman habis dipukuli pegawai papahnya dan berakhir dikurung di kamar ini, bahkan kakinya hampir patah dan tulang-tulang remuk semua. Papahnya mengamuk dan memgatai dia dengan bahasa kasar meludahi wajahnya.
Mendengar penjelas itu Endru manahan emosi, ternyata nasib mereka ber dua sama saja.
"Pa-pah merebut bu-buku diary itu."
"Buku? Apa maksudnya?" Mengerinyit Endru belum puas dan paham.
__ADS_1
Apa Arman mengaku saja? Lebih baik dia mengaku, dari pada memendamnya seorang diri. Apa nanti reaksi Endru ketika ia mengaku tentang penculikan itu, ia sudah pasrah. Membaca isi buku iru membuat mentalnya jungkir balik.
"Gue akan diam hanya mendengar penjelasanya," ujarnya meyakinkan Arman yang terlihat ragu.
Awalnya ia bersikap biasa saja saat mengetahui warisan mamah sambungnya akan dirampas papahnya, sebagai anak penurut ia ikut alur orang tuanya. Semakin bertahun ia diajarkan papahnya tentang warisan itu semakin ia mulai membuka pikiran, apa jadinya jika yang memiliki harta sebanyak itu seorang diri? Pertanyaan itu muncul di benaknya, tidak bisa disangkal ia sudah merasa lelah dengan aturan papah yang mrngikatnya. Papahnya tidak menyadari, semakin mengekang menuntut Arman, niat egois itu juga membuncah di hatinya. Hingga satu rahasia yang dibongkar papahnya tentang harta itu, ada satu buku diary mamahnya yang tersimpan di sekolah, buku itu adalah saksi kunci tertulis siapa nama pemgacara menyimpan seluruh surat kuasa milik keluarga Paramitha, surat kuasa yang ada di tangan mereka sebenarnya belum sempurna untuk dialihkan nama. Hingga ia memanfaatkan Ratu untuk menjadi mata-mata di sekolah, siapa siawa yang akan berani masuk ke ruang perpustakaan yang diyakininya sebagai tempat menyembunyikan buku tersebut Dan itu terbukti. Ia yang menculik Neva untuk merampas buku itu.
Arman terbatuk di tengah jalan cerita, sigap Endru membantunya minum. Cerita berlanjut. Mulutnya bungkam seperti janjinya tadi, padahal kepalan tangannya memgeras di balik bantal yang dipangkuannya. Menarik napas meredam amarahnya. Cerita berlanjut.
Sampai ia memutuskan pergi dari rumah karena takut ketahuan. Membaca isi buku diary dengan perasaan yang menghujam jantungnya, ini jelas tulisan Mamah Mitha dan tanggal penulisan juga sangat jelas di situ, dipastikan semua ini tidak ada kebohongan. Arifin yang membunuh opah dari Mamah Mitha saat berada di luar negeri. Arifin juga berencana membunuh Endru kecil, selalu gagal karena ada saja Mitha yang diam-diam mengawasi menjaga anaknya. Arifin meracuni makanan omah dari Mamah Mitha perlahan meninggal. Tulisan itu juga menjelaskan ancaman-ancaman Arifin untuk membuat Mitha semakin tertekan dan sengaja membuat konspirasi kecelakasn yang membuat mamahnya tak sadarkan diri dua tahun. Dan yang membuatnya terguncang ialah, Arifin papah kandungnya adalah pembunuh ibunya sewaktu Arman madih satu tahun, agar Arifin bisa menikahi Mitha.
Dan satu rahasia lagi. Kalung yang dipakai Endru dan Neva adalah kunci dari harya karun yang tersimpan entah di mana.
"Lo harus mampu menguatkan diri, agar bisa melawan si tua itu. Gue harap lo setuju bergabung untuk membalaskan dendam pada Arifin. Gue harus menggagalkan pertunangan dengan Inggrisa, agar Pak Aristo tidak jadi memberikan dukungan saham yang akan memperluas kekuasaan Arifin. Mau?"
Arman mebgangguk yakin.
Sesampainya di kamarnya, Endru mencari ponsel rahasianya. Mengabari pada Will agar mereka menjaga Neva, takut Arifin melakukan hal yang sama seperti Arman tadi.
Epilog:
Tidak seperti yang dikatakan Will, berkencan ala anak muda padahal sudah tidak muda lagi. Priska dan Septer turun di sebuah fila yang tersembunyi di tengah perkotaan dengan menukar mobil agar tidak dicurigai anak-anak.
Priska menangis terharu memeluk Michael sahabatnya, untung Michael bisa mengingatnya.
Adi Putra merestui hubungan Septer dan adiknya, namun harus persetujuan dari Neva dulu.
Valensis cemburu tentunya, dia sudah kalah. Namun itu hanya sekadar saja, Willangga adalah satu-satunya orang yang harus dibahagiakannya.
Arlinton, ayah Chatryn, sudah memberikan surat kuasa Mitha dan resmi bergabung untuk melawan Arifin.
Sekarang rencana mereka semua adalah, menggagalkan pertungangan itu, sudah mempersiapkan rencana yang matang. Priska menyeringai licik setelah berhasil mengirimkan sesuatu pada salah satu reporter berita yang terkenal di negeri ini.
__ADS_1
"Aku sudah siap mundur dari sekolah itu, semoga rencana kita berjalan lancar," ucap Priska mendesah kasar.
ššš