
Di sekolah.
Kekacauan masih terjadi, Pak Brama memohon pada wakilnya agar mau turun menemui anak-anak, ia tahu Beliau adalah guru yang selama ini melindungi Inggrisa alasannya karena masih keturunan.
Lelaki tua yang sudah pantas pensiun itu masih enggan menuruti ucapan Brama, tetap egois dengan pendiriannya duduk tenang memandang datar pada Brama.
Guru yang lain ada yang sibuk mengawasi yang sedang ujian, ada yang sibuk menenangkan yang masih ribut di lapangan, Priska tetap duduk manis di ruang kerjanya sudah malas juga melerai murid ini. Hanya Septer dan Eporus masih setia mendampingi Brama untuk berbicara dengan wakil kepala sekolah yang sok berkuasa ini.
"Jika Aristo dan Arifin memberi perintah pada saya untuk turun, maka saya turun. Saya hanya mendengarkan perintah mereka, bukan anda!" ujarnya lantang pada Brama.
Ini tidak boleh dibiarkan, melihat raut wajah Brama membuat Septer merasa iba. Berbisik pada Eporus pamit keluar sebentar. Berjalan masuk ruangan Priska, meminta agar kekasihnya itu yang turun tangan langsung membungkam pria tua itu.
Wanita itu masuk dengan langkah elegan menghampiri kursi kebesaran si wakil kepala sekolah, tersenyum miring menunduk berbisik pada pria itu. "Cepat temui anak-anak itu! Kalau tidak, saya bisa langsung menyebarkan percakapan anda dengan Arifin dan bukti anda dulu pernah melakulan penyuapan jabatan di sekolah ini! Cepat!"
Si pria tua itu menegang semakin memperjelas kerutannya di wajahnya, napasnya tercekal ancaman dari guru ini. Tidak mau itu terjadi, ia berdiri mengayunkan tongkatnya berjalan keluar dari ruangan.
"Pak Brama tenang saja, sebentar lagi akhir dari si tua itu akan terjadi. Mari keluar," ajak Priska menuntun Pak Brama berdiri.
Benar saja! Sambutan untuk pria tua itu disuguhi kalimat cemooh dari siswa kelas tiga, sumpah serapah agar dia tidak berpijak lagi di sekolah ini, menghina mengatai guru yang modal diam tidak pernah bekerja, guru yang gila hormat bisanya hanya berbicara tanpa ada perbuatan, kakek peyot yang menyukai pedofilia seumuran Inggrisa. Satu murid menyeret paksaembaea ke tengah-tengah kerumunan, kemudian mebuka ponselnya dan membacakan artikel sekolah tersembunyi terbitan beberapa tahun silam.
Wajah tua itu pias, keringat membanjiri seluruh tubuhnya, berdiri kaki gemetar. Priska guru licik itu telah menipunya, pasti dia yang memulihkan artikel yang sudah dihapusnya menghilangkan jejak kejahatannya.
Serempak beramai-ramai mereka melempari kertas yang sudah diremas, melayang tepat pada tubuh tua itu. Guru yang lain tidak mampu melerai lagi. Untung saja murid-murid itu benar-benar malakukan persyaratan negoisasi dengan guru, agar tidak merekam kejadiann ini dan menjaga tidak tersebar ke mana-mana demi menjaga nama baik bersama.
"Sekarang, pungut kertas-kertas itu dan baca semua tulisan yang ada di dalamnya!" seru sisea yang menyeretnya.
"Kalian!" pekik pria itu geram.
"Tolong lakukan, Pak. Jika tidak, mereka akan mem-viralkan semua ini," pinta salah seorang guru pria yang mendampinginya.
Sudah tidak ada sifat kearogananya dan sok berkuasanya, dibantu mengambil kertas ia membaca tulisan berisi hinaan dam memintanya agar turun dari jabatan keluar dari sekolah. Sampai berpuluh kertas yang dibantu guru yang lain, ia memilih menyerah dan menandatangani surat pengunduran diri yang diserahkan Pak Brama padanya.
Dengan tidak hormat melepas jabatan dan mengembalikan fasilitas sekolah tanpa harus menuggu balasan dari yayasan, pria tua itu pulang diiringi sorakan menaiki taksi online. Ia kehilangan mukanya dengan cara tragis seperti ini.
Beberapa saat siswa kelas tiga membersihkan kekacauan mereka perbuat, dan menerima ponsel yang sempat dikumpul pada Pak Septer, kecuali si murid cowok yang menjadi pemeran utamanya.
Mereka dipulangkan saja.
Ini sejarah kelam akan tertulis di forum catatan yayasan, Brama menghela napas dalam-dalam duduk bersamdar lelah menghadapi kekacauan ini.
__ADS_1
Priska duduk di depannya, menyodorkan sepucuk surat resmi di meja.
"Saya adalah dalang dari kekacauan ini. Membocorkan nilai Inggrisa di internet, dan menghasut murid kelas tiga untuk membuat kerusuhan ini, saya juga telah lancang membuka situs terlaramg di wab sekolah. Saya juga pantas dipecat, Pak," ungkap Prisla jujur. "Saya tidak pantas mengajar lagi, Pak, karena saya telah menghianati sumpah guru di sini untuk menyimpan rahasia bahkan aib di sekolah."
Brama hanya menggeleng kecil, ia sudah menebak ini sebelumnya. "Apa ada yang tahu selain saya, tentang pengakuanmu ini?"
"Hanya anda dan Pak Septer saja, selebihnya belum ada. Silahlan tanda tangani surat ini."
Brama masih diam, tangannya membuka surat dan membacanya pelan-pelan.
Priska terbelalak tidak menyangka, Pak Brama merobek surat pengunduran diri itu dan mencelupkannya pada kopi yang madih tersisa di dalam gelas. "Pak?"
"Ibu tidak bersalah sama sekali, melainkan kebenaran ini patut dibuktikan dengan hadirnya Ibu sebagai pahlawan guru sekolah paling berani dan tegas. Biarkan ini tetap menjadi rahasia kita ber tiga, karena kami para staf dan guru lainnya akan mempromosilan sebagai jabatan wakil kepala sekolah."
Sementara Neva di ruang ujiannya. Menggaruk keningnya menjawab soal, entah mengapa perasaan gelisah bayangan Endru menganggu konsentrasinya.
Kerjakan cepat! Rutuknya dalam hati. Berdoa lagi menghilangkan perasaan cemas itu, dan berhasil menjawab soal sampai selesai. Masalah benar atau tidak, itu tidak menjadi pergumulannya. Ia menggeser papan ujiannya ke sudut sebelah kiri meja, minum mengurangi ketegangannya. Menulis mencoret soal ujian menggunakan pensil.
Mata pensil patah melukai kulit jari telunjuk Neva, perasaan gelisah itu kini lebih mendominasi. Semoga tidak terjadi apa-apa di sana, doanya dalam hati.
š¹š¹š¹
Satu cangkir gelas melayang hampur mengenai kepala Arifi, dia cepat menghindar gelas itu terpelanting membentur tanah.
Arifin memggeram karah meja tamu, jiwa iblisnya keluar bak bara api yang menyala dari kepalanya. Membanting tongkat mikrofon melempernya ke arah meja tamu, tidak ada yang terluka semua sigap menghindar.
Inggrisa panik histeria dirangkulan mamahnya, ia tidak sadar dengan perlakuan dari wanita itu. Mitha mundur ditarik seseorang menjauh dari amarah Arifin.
Lain dengan Endru, cowok itu mendekati papahnya langsung memberi bogem pada wajah lelaki itu sampai tersungkur menghantam meja.
Panik berlarian para tamu keluar meninggalkan taman, meja berantakan makanan berhamburan mengotori rumput taman. Menggila Endru terus melawan papahnya, mengungkung menarik kerah jas memukul lagi.
"Ternyata anda yang membuat mamah celaka," serunya seraya melayangkan kepalan tangan memukul perut papahnya dengan tatapan benci.
"Iy-iya. Tapi sayang tidak jadi mati," sahutnya terbata. Cairan hangat mengalir dari hidungnya, memgusap dengan punggug tangannya.
Mitha berteriak histeris memanggil nama Endru untuk memgkentikan pukulannya menghampiri namun ditahan oleh pria yang memperhatilanmya dari tadi.
"Hubungi polisi!" seru Aristo kalang kabut. "Mah, bawa Inggrisa masuk, kurung dia di kamar," lanjutnya.
__ADS_1
"Enggak nau, Pah. Endru," racaunya tersisak. Apalah daya kekuatannya dibanding dua satpam yang menyeret tubuhmya menuju rumah.
Adi putra mencoba menenangkan Endru merangkulnya membawa menjauhi Arifin, sementara Arifin masih tersungkur di tanah mengusap darah masih mengalir dari hidungnya. Seluruh bagian tubuhnya terasa mau patah akibat pukulan Endru, bahkan ia yakin tidak bisa bertahan lama menahan rasa ngilu di dalam perutnya, kanker lambung kambuh memutar melepas paksa organ bagian dalam. Dia tidak mau dipenjara atau pun menjadi buronan pasti akan membuat hidupnya tidak tenang, berpikir lebih baik mati saja toh semua yang dilakukannya selama ini sia-sia sudah. Namun, ia juga tidak begitu bodoh di dalam rasa putus asanya sekarang, Arifin tidak mau mati sendirian, ia akan lebih puas jika mengajak salah satu anggota keluarganya ikut bersamanya, sekali gus menghancurkan perasaan Mitha dan ke dua lelaki yang sudah bersatu melawannya. Harus melakulan sesuatu sebelum polisi itu tiba lalu menangkapnya. Matanya memincing melihat ada pisau daging masih terlihat tajam di atas meja chatring tidak jauh dari jaraknya. Kesempatan ini tidak ada yang menyadari, mereka semua asik menangkan Endru dan Mitha.
Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, menyeret bokong dan kakinya meraih pisau tersebut, berdiri mengumpulkan tenaga berjalan mendekati Endru yang membelakanginya.
"Endru!!" teriak mereka terbelalak, Arifin melingkarkan tangan mendekatkan pisau di leher Endru.
"Ja-jangan lakulan itu, Arifin. Bunuh aku kalau kau mau, jangan putraku!" ujar Mitha terisak histeris.
Tawa Arifin memggelegar di udara menyorot tajam pada Mitha. Endru menahan napas agar tidak bergerak banyak, perasaan takut di hatinya harus ia tutupi harus berpikir tenang melepaskan diri dari jeratan pisau ini.
"Biarkan Endru ikut denganku, akan kutunjukkan kehidupan yang sebenarnya. Jangan mendekat, pisau ini akan memutuskan leher anakmu!" ancamnya.
Kekuatan tenaga yang tersisa, membawa Endru menyeret masih ada pisau yang siap membunuhnya di sini. Saat Michael memdekat, pisau itu hampir menggores leher Endru. Mitha nekat maju, kaki Arifin memendang wanita itu sampai terjungkal.
"Jangan ada yang mendekat lagi, aku akan baik-baik saja," ucap Endru meyakinlan semuanya. Telapak tangannya berdarah menahan pisau, tenaganya terkuras habis setelah memukul Arifin tadi. Adrenalin di dalam otaknya membuat pikirannya menjadi sempit.
Semuanya seperti orang bodoh tidak bisa berkutik melawan Arifin, rasa cemas terkejut menutupi akal mereka semua. Hingga Arifin berhasil masuk ke mobil bersama Endru melewati gerbang rumah.
Semenit mobil polisi langsung ikut menyusul mengejar mobil Arifin.
Aksi kejar mengejar pun terjadi, dengan handal Arifin melesatet menyusuri jalan raya.
Mengemudi asal-asalam membuat Endru semakin panik, saling merebut setir mobil. Napas memburu harus berakhir seperti ini? Pintunya dikunci, pisau itu masih di tangan Arifin. Tangannya semakin terasa perih sekali tidak mampu merebut pisau itu lagi
Terlalu nekat akan melakulan ini, membuat rasa sakit itu menguap begitu saja justru menambah tenaganya mengemudi. Pandangannya mulai mengabur tidak mampu melihat jalan raya dengan baik lagi, Endru mencengkram sabuk pengaman mengepalkan tangan berdoa dalam hati.
"Kita mati bersama!" kekeh Arifin membanting setir menjerumus mobil ke dalam jurang.
Mitha dan yang lain berteriak melihat mobil itu masuk ke dalam jurang.
Sebelumnya mendengar laporan dari Aristo, kepolisian semakin ramai datang bersama timsar setempat.
Will menghentikan mobilnya, Neva melompat keluar menghampiri bibir jurang. Hampir ikut terguling, kalau saja Will dan Daniel tepat waktu menangkap tangannya menjauhkan Neva dari bibir jurang. Inggrisa menghubungi nomor Jhena, yang paling mudah dicari karena ketia osis. Merela sedang berkumpul pulang bersama, kabar dari ponsel Jhena merubah tujuan mereka.
ššš
Maap, adegannya kurang ada rasanya..hehehe
__ADS_1