
Raganya bisa saja bangun tapi tidak dengan jiwanya.
Tatapannya kosong mengarungi ruang rawatnya, mulutnya bungkam untuk bicara, wajahnya datar tanpa ekspresi. Endru bagaikan mayat hidup duduk bersandar di atas brankarnya seperti tidak mempedulikan sekitarnya, menurut saja saat dibersihian badannya juga tidak menolak makananannya namun menelannya gerakan lambat.
Semenjak ia sadar dan mengetahui kondisinya sekarang, cowok ini menjadi mengubah alur hidupnya lebih pendiam seperti tidak bernyawa. Lebih baik melihatnya marah memecahkan barang apa pun, lebih baik ia melampiaskan pada ke dua orang tuanya, apa pun lah yang mampu menggambarkan bahwa ia belum terima keadaannya. Dari pada seperti ini, semua sudah berusaha membujuknya untuk membangunkan jiwanya, hanya helaan napas kecewa menghembus tak kala tangan dan mimik wajah Endru menolak mereka.
"Nak, ini ayah kamu sudah datang. Mau berkenalan?" Tetap saja tidak ada sahutan. Endru hanya menoleh sekilas lalu kembali murung, tidak peduli dan ingin tahu menghindar uluran tangan Michael.
"Gue abang lo, ingat kan?" Endru mengangguk kecil kembali lagi ke mode datarnya.
Menyuapi makanan, bahkan sengqja Mitha memberi cabai pedas siapa tahu ada reaksinya. Ia ada realsi, namun hanya mengeluarkan cabai dari dalam mulutnya meletakkannya dalam piring memundurkan makanan ia tidak berselera lagi.
Michael duduk mengajak bercerita, sayangnya Endru menanggapinya keluar kuping kiri masuk kuping kanan, antara mengerti atau tidak. Mengalah, ia keluar dengan raut wajah kecewa.
Inilah Endru sekarang.
Duniannya terasa hancur mendengar kabar kakinya patah tidak bisa berjalan lagi ia terpukul sangat jauh, mentalnya pun ikut terjatuh, trauma kecelakaan dan ingatan saat mobil terjun ke dalam jurang. Bagaimana kehidupannya setelah lumpuh nanti? Apa masih ada orang yang mencintainya lagi? Apa ia tidak bisa menyelesaikan sekolahnya lagi? Apa teman-temanya masih mau menerimanya? Neva, cewek itu masih mau berpacaran dengannya?
Kakinya lumpuh,
Kakinya tidak bisa berjalan, ia sekarang cacat! Merintih dalam hati belum dapat menerima takdir. Suara dentuman mobil terngiang di telinganya.
Terlalu larut dalam pemikirannya sendiri, membayangkan yang belum tentu terjadi, kekhawatiran lebih mendomunasi batinnya. Sampai menekan semua ingatannya, ia lupa penjelasan dokter mengatakan kemungkinan sembuh masih ada. Tertekan! Ia tidak menyadari orang sekitarnya, ia masih ingat tetapi tidak merasakannya. Yang ada dipikirannya hanya tentang kakinya yang patah dan hanya bayangan di dalam benaknya.
Sudah dua hari semenjak hari Endru sadar dari masa koma, selama itu juga pihak keluarga menutupi tentang kondisi anaknya. Ia tidak mau mereka semua cemas, lebih baik berbohong mengatakan
bahwa Endru belum sadar dan masih dirawat di ruang khusus tidak boleh dikunjungi banyak orang.
Mitha menutup pintu ruangan duduk lemah di atas kursi tunggu pasien, berat rasanya menghadapi situasi ini. Sentuhan halus membuat ua menoleh.
"Mungkin dengan membawa Endru dirawat di rumah dan bertemu temannya mampu membuatnya hidup lagi dan melupakan traumanya. Kamu ingat'kan, Endru bangun setelah temannya menjenguknya." Michael merangkul Mitha menyandar kepala kekasihnya pada dadanya.
"Apa itu salah satu caranya?" gumamnya bertanya masih ragu.
"Mah, tidak salah kita mencobanya," sahut Arnan ikut membujuk.
Baiklah.
Dengan beberapa pertimbangan dan persyaratan dari dokter, Endru diizinkan rawat di rumah saja didampingi satu perawat pria yang akan ditugaskan ikut bersama mereka.
Kursi roda? Tatapan Endru terpaku pada kursi rida yang sedang didorong oleh Arman, ini tidak mimpi melainkann nyata. Menegangkan tubuhnya menolak saat ingin digemdong untuk didudukkan ke atas kursi roda. Terpaksa disuntik tidur agar mau dibawa, sudah berbagai macam jurus bujukan tetap menolak.
"Arman, hubungi Neva agar datang ke rumah bersama teman-temannya nanti malam."
__ADS_1
Arman mengangguk patuh.
š¹š¹š¹
Priska mengusap kaca pelindung foto suaminya lembut seraya tersenyum lega, menyimpannya kembali pada tempat semula di dalam kotak khusus peninggalan mendiang suaminya. Bercermin dori memperhatikan lagi riasan di wajahny, ini sudah lebih baik dari kemarin.
Ketukan pintu dari luar menyadarkan dari lamunannya menyahut mempersilahoan masuk. Neva muncul dari pintu mengembangkan senyum cerah pada ibunya, berjalan menghampiri memeluk dari belakang, wajah-wajah sepasang ibu dan anak ini terlihat lebih segar dari hari kemarin terlebih Priska.
Membalas membelai pipi Neva.
"Ibu harus bahagia, harus! Pak Septer memang bukan seperti ayah, dan mungkin juga tidak bisa menggantikan posisi cintanya ayah di hati ibu. Tapi Neva yakin, Pak Septer mampu membawa hal yang baru untuk keluarga kecil kita. Sifat bertanggung jawab dan sudah menyimpan rasa cintanya pada ibu membuatku yakin akan kesetiaan, berani melangkah memdekati seorang istri yang masih sangat mencintai mendiang suaminya. Bu, cobalah membuka hati untuk Pak Septer secara perlahan-lahan," ujar Neva memberi nasihat pada ibunya.
"Jika kamu sudah menyetujuinya, ibu akan lakukan," jawab Priska memutuskan setelah memikirkan ucapan Neva.
"Kencan pertama. Wajahnya senyum dong, Bu," ucap Neva menggoda ibunya
Malam ini adalah malam kencan resmi pertama Priska dan Septer, untuk memulai hubungan baru yang lebih serius.
Datang dengan kemeja yang membalut tubuh mapan itu, Septer secara 'pria' menjemput kekasihnya meminta izin pada Adi Putra.
Neva memberi jempol cap semangat melayangkan kepalan tangan di udara pada calon ayah tirinya ini, pikirannya melayamg membayangkan kebahagian segera hadir pada ibunya.
"Ehhemmm!!"
"Papah," Neva terkejut kedatangan papahnya.
Neva langsung berlari meninggalkan papahnya begitu saja seraya wajahnya dihiasi senyum bahagia.
Endru sudah sadar, tadi sore Arman mengabarinya. Ia harus berpenampilan, umm lebih menarikalam ini. Menggerutu tidak jelas memilih bajunya sampai berantakan di atas tempat tidur, tidak cocok lempar saja. Akhirnya tetap menjadi diri sendiri, tidak nyaman berpenampilan sok feminim begini. Huh, ada celana jeans dipadukan baju lengan panjang ada lagi pakai jaket segala. Menyisir rambut mengikatnya lagi, bedak tipis pelembap bibir, menyemprotkan parfum sedikit saja biar wangi.
"Astaga, Neva! Kirain lo mau berdandan cantik-cantik pake gaun ya kann, pake sepatu hak tinggi, ber mekap ria ala-ala selebriti.. Eh ternyata! Hungg!!" ujar Bembi sewot sekali gus jengkel. Sudah jamuran menunggu yang katanya sedang berdandan, ternyata sama saja tidak ada yang berubah.
Terkekeh lebar saja menjawabnya, seketika pandangannya tertarik pada plastik yang dipegang Jhena. "Itu buah-buahannya?"
Jhena menangguk, membuka kantungan plastiknya. "Ada jeruk, apel, pir, juga satu sisir pisang," jawabnya mengabsen buah yang ada di dalam plastik.
Mereka berangkat pamit pada Adi Putra dan Bian. Cewek-cewek menaiki mobil Chatryn, Neva yang menyetir ada Yulan di sebelahnya, sementara Jhena dan Chatryn sengaja di buat duduk berdekatan di bangku penumpang belakang pelan-pelan membuat orang ber dua itu baikan lagi. Aslika duduk senang sendirian di bangku tengah.
Mitha membuka pintu kamar Endru menemani masuk, mengusap pucuk kepala agar Endru membuka matanya.
Ia, memang cowok ini membuka matanya menurut dibantu duduk di sandaran tempat tidur, namun bukan seperti biasanya. Will tercengang tidak ada respon hanya sekilas lirikan dengan tatapan kosong.
Saling pandang bertanya meminta penjelasan dari Mitha.
__ADS_1
Neva mendorong kursi roda Endru megelilingi taman pekarangan rumah, sementara teman yang lain menunggu di seberang sana. Menahan tangis tidak tega pada kekasihnya, tetapi ia pun juga belum direspon.
Sambil menceritakan hal yang sama saat koma, Neva tidak menyerah berusaha terus mengisi kekosongan jiwa itu. Hampir satu jam mengwlilingi taman rumah, cuaca angin malam membuat temaganya terkuras, emosinya tidak stabil ingin membentak salah imgin marah salah, tidak tahu lagi cara apa.
Melepas tangannya dari sandaran kursi roda, berlari menyeka air matanya menuju parkiran kembali ke dalam mobil.
"Kalian susul Neva, tapi jangan langsung pulang."
Cewek-cewek menurut menyetujui ucapan Willangga.
Daniel dan Willangga menghampiri Endru memutar kursi roda menghadap mereka. "Boleh gue marah sama lo," Daniel berucap menekan suaranya. Tahu akan ada sedikit amarah Daniel, Will mundur berdiri di belakang Endru.
"Gue tahu lo trauma berat, lo belum bisa nerima keadaan lo. Itu wajar-wajar saja, kami memahami perasaan lo. ENDRU DENGERIN GUE, JANGAN SEPERTI INI TERUS, DIAM KOSONG SEOLAH-OLAH DUNIA MENGHINDAR. ENGGAK! DI SINI MASIH ADA KAMI, KELUARGA LO, DAN NEVA PACAR KAMU! SEMUANYA MENUNGGU LO SADAR, BANYAK YANG MASIH SAYANG SAMA KAMU. Lihat mamahmu menangis terus, ada ayah yang ingin memelukmu, mereka sangat mencinta Endru sangat. Kami teman-temanmu, Gue, Willangga, Andreas, Rio, Bembi, Sofan, Jhena, Chatryn, Yulan dan Aslika, kami ada buat lo di sini. Neva pacar lo, dia hampir menyerah menghadapimu. Mau lo putus dari cewek sekuat Neva, banyak.waktu yang diluangkan untuk lo. Lo jangan asik sama dunia lo sekarang, bangun dan lihatlah kami yang sangat merindukan Endru teman kami. ATAU, GUE AKAN PATAHIN KAKI GUE BIAR KITA SAMA, IYA! GUE SIAPP KOK!" Ada sedikit titik terang saat Endru mengerjapkan mata menunduk melihat kakinya. "LO TETAP TIDAK BERGEMING!" Daniel tertawa ironi mengusap air matanya yang sudah jatuh di pipinya."Gue menyerah, Will. Gue duluan," lirihnya pamit pergi menuju parkiran.
Will memberi kode pada teman lainnya menyusul Daniel, berjongkok memijit pelan kaki Endru tanpa bersuara.
Endru samar-samar mulai terbangun mendengar suara amarah mengangum di telinganya mengganggu tidurnya. Ma-mah, A-ayahnya sudah pulang berarti, itu-itu Daniel ya, Daniel. Ketika satu nama terdengar mampu meremas jantungnya, Neva! Janji, ia pernah berjanji pada gadis itu. Tapi kakinya?
Tidak! Endru jangan egois membuat twmannya harus mematahkan kakinya agar bisa merasakan hal yang sama sepertinya.
Mamah...
Ayahh...
Bang Arman...
Teman-temannya...
Neva!!
Ada orang-orang yang sudah menunggunya.
Will berteriak kencang tak kala Endru menunduk mencengkram tangannya yang sedang memijat, mendongkak padanya. "Jangan tinggalkan aku," lirih Endru memohon pada Willangga.
Suasana haru di dalam rumah memeluk Emdru memberi semangat, mamahnya menangis tidak henti-hentinya membelai pucuk kepala Endru.
Michael mematung terdiam kaku di hadapan putranya.
"Ayah, Aku rindu, peluk aku." permintaan itu membuatnya berhambur memeluk menamgis di pundak putranya. Lama saling memeluk menyalurkan hasrat kerinduan.
"Neva." Michael mendorong menuju Neva memilih berdiri di depan pintu. Meraih tangan cewek itu mengucapnya berkali-kali mengatakan beribu maaf rasa penyesalan.
Neva luluh. Menunduk memeluk Endru erat-erat.
__ADS_1
"Sayang," bisik Endru.
ššš