Kisah ABG

Kisah ABG
Dalam Buku Harian


__ADS_3

Setelah memastikan.Jhena dan Chatryn sudah masuk ke dalam ruangan tempat pertemuan mereka, Neva beranjak pergi berjalan ke arah koridor sekolah. Memperhatilan sekitar yang mulai sepi karena siswa sudah kebanyakan pulang dan guru mungkin masih ada di dalam ruang kerja mereka. Di lapangan masih ada anggota Pramuka yang sedang bersama Bu Priska di sana, termyata auntynya belum pulang.


Yang sekarang dalam pikirannya adalah, bagaimana ia bisa menyelinap masuk ke dalam ruang perpustakaan, ada cctvnya di sana. Memutar otak memcari ide cemerlang agar ia bisa selamat masuk tanpa ada yang curiga.


"Ahaa!!" pekiknya menjentikkan jari tersenyum miring.


Tekk,,Tekk,,Tett!!


Neva dengan sengaja menurunlan panel listrik untuk mematikan beberapa sistem aliran listrik di sekolah, setelahnya ia berlari secepat kilat agar tidak ada orang yang melihatnya.


Guru dan pegawai yang masih berada di sekolah panik, Neva mempunyai kesempatan untuk mencuri kunci cadangan ruang perpustakaan yang tersimpan di dalam laci tata usaha.


Secepat kilat ia melesat masuk ke dalam perpustakaan, ruangannya sudah dikunci, untung saja kunci cadangan sudah berada dalam gemgamannya.


Amann,,cctvnya pasti ikut mati,,tadi'kan sambungan listriknya sudah diputus. Neva tersenyum miring mengemdap masuk berjalan menuju lemari usang yang diincarnya.


"Uhhukk,,uhhukk!" terbatuk suaranya tenggelam dalam masker. Lemarinya sudah sangat berdebu sekali, tangannya sudah tercium aroma debu dan kukunya terasa berat karena debu telah masuk menempel di dalam.


Jantungnya berdegup kencang membuka pintu lemari yang ternyata tidak dikunci, tangannya meraba mencari sudut lemari dengan penerangan seadanya.


Tidak! Jangan menyerah dulu Neva, yakin kalau memang ada sesuatu di sini. Menarik napasnya menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menghalang pandangannnya dengan punggung tangan. Udara sudah mulai pengap dan panas, AC sudah jelas mati.


Isinya hanya buku-buku lama mungkin sudah tidak ada yang minta baca, buku syair lama puisi lama, kertas soal ujian usang yang sudah menguning. Beberapa alat tulis yang sudah rusak tidak terpakai lagi. Matanya meneliti lamat-lamat, tangannya mencari satu-persatu, membaca judul buku dengan pelan. Hampir lima belas menit lamanya, ia harus segera menemukan sesuatu sebelum waktunya habis. Suara orang di luar perpustakaan sana sedang memperbaiki apa yang telah dirusaknta tadi.


Menggeser bangku lalu menaikinya, membuka laci lemari paling atas. Tepat sekali! Ada buku tulis bersampul warna coklat tertumpuk diantara buku-buku lainnya, dan itu sangat mencolok mebarik perhatiannya. Tanpa ragu Neva meraih buku tersebut dan membaca judulnya.


"Paramitha & Michael"


Neva kegirangan dalam hati. Menutup lenari lalu turun dari kursi, mengembalikan posisi lemari seperti semula agar jejak tangannya tidak terdeteksi. Membuka membaca sebentar tidak apa kali ya.

__ADS_1


Oh, ini buku catatan harian tante Mitha tetapi ditulis di dalam buku tulis biasa. Lembar pertama hanya ada tenrang data diri yang tertulis, tidak semua dapat terbaca karena cahaya yang kurang. Eh, ada foto di tengah halaman bukunya! Bergeser ke arah jendela untuk mengambil cahaya yang lebih jelas. Loh, ini'kan foto mamahnya, foto aunty Priska dan tante Mitha! Sedang berangkulan sambil memegang piala, kalau tidak salah seragam sekolah yang mereka pakai itu seragam Dharma Bakti waktu dulu. Soalnya aunty pernah cerita, kalau dulu auntynya juga bersekolah di sini.


Apa mereka ber tiga dulunya sahabatan?


Lalu foto tante Mitha dan Michael yang kemarin ditemukannya?


Membuka lembar berikutnya Neva sangat terburu-buru, sampai-sampai ia tidak menyadari ada satu kertas yang jatuh terhempas di lantai.


"Aku akan merawat putra kita dan memberinya nama Michael, sama seperti namamu. Lekaslah pulang dan jemput kami agar kita bisa bersama, aku akan menerimamu kembali dalam keadaan apa pun itu."


"Orang tuaku menjodohlanku dengan pria yang seorang duda beranak satu, Michael cepatlah pulang! Arifin bukan pria baik yang pantas menggantikanmu sebagai ayah untuk putra kita, Michael."


Neva tercengang mengetahui fakta ini, ternyata Michael itu adalah ayah kandung pacarnya. Yang sekarang menjadi pertanyaanya adalah, ada kisah apa di balik foto wanita bertiga ini?


Kepalanya terasa pusing memikirkan pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Membuka baju kemeja seragam sekolah, menyelipkan bukunya di antara perut dan pinggang, merapikan kembali penampilannya. Ia harus keluar sekarang juga.


Tidak ada yang bisa menyangka kesempatan dan waktu. Begitu pintu terbuka lebar, sesuatu yang membekap menutup mulut gadis itu, berhasil melumpuhlan Neva dengan bius yang tercium di hidungnya.


🌹🌹🌹


"Endru! Apa yang kamu lakukan pada putriku, hah? Mengapa kulitnya menjadi melepuh seperti ini?" tanya dengan nada membentak Aristo pada lekaki remaha yang berada di hadapannya sekarang.


"Kenapa tanya saya, Om? Tanya sama dokternya lah, saya mana tahu apa-apa. Baru saja Endru datang dari sekolah, Inggrisa udah seperti ini," jawabnya tanpa dosa.


"Tetapi kamu yang terakhir kali menjemguk dia semalam," ujarnya menuduh curiga.


"Loh, emang Om dan Tante nggak nemenin Inggrisa setelah Endru pulang?" tanya Endru memastikan.


"Tidak, Nak. Inggrisa tidak pernah suka kalau tante yang menjaga dia di rumah sakit, makanya tante ragu datang," sahut mamah Inggrisa dengan wajah sedih bercampur rasa bersalah.

__ADS_1


"Oh," jawabnya singkat. Tentu saja dia tahu tentang itu. Kalau tidak, dari mana datangnya keberanian memberi pelajaran sedikit pada gadis manipulatif seperti ini? Tentu dia bisa mencuri kesempatan.


Seorang dokter muncul dari balik pintu ruang rawat Inggrisa, membenarkan kaca matanya menghampiri mereka.


"Kita bicara di ruangan dokter saja," ajak Aristo pada dokter paru baya tersebut.


Dokter menangguk lalu berjalan mendahului mereka.


Meninggalkan Endru sendirian. Ini sangat bagus, mari kita bermain lagi!


"Dia alergi obat yang menyebabkan reaksi gatal dan panas seperti terbakar pada kulit bagian dalam, sejenis obat yang sangat berat atau obat yang seharusnya belum pantas ditelannya. Sekarang saya ingin bertanya pada orang tua Inggrisa, usia berapa anak anda sekarang?" tanya dokter dengan pandangan yang serius.


"Tujuh belas, Doktet," jawab Aristo.


"Ini sangat fatal," sahut dokter dengan menghela napas kasar.


"Apa yang terjadi sebebarnya," gumam Aristo. Rasa takut menjalar ke hatinya.


"Setelah kami melakukan tes darah, Inggrisa mengonsumsi sejenis obat tidur yang berdosis tinggi, dan sepertinya-" wajah dokter mulai menunduk ragu. "Inggrisa pernah hamil dan mengonsumsi obat pengugur kandungan," lanjutnya.


"A-apa, ha-hamil?" Aristo mulai te-rengah mendengar penjelasan dokter ini. Tangannya berkeringat, pandangannya mengabur. Menggeleng menyangkal penjelasan dokter ini, tapi tidak mungkin dokternya salah.


"Lanjutkan dokter," ujarnya setelah berhasil menguassi diri. Istrinya sudah terisak di sampingnya.


"Obat tersebut terlalu tinggi dosisnya yang justru membuat alergi pada kulit Inggrisa, menciptakan rasa panas di kulit lapisan dalam, sampai menimbulkan lepuhan di kulit bagian luar," lanjut dokter itu lagi.


Ke dua orang tua ini tak mampu menyangkal apa pun keterangan si dokter, hadil keterangan lab rekam medis yang di tangan mereka memperjelas semuanya.


Aristo hancur melihat putri kesayangannya seperti itu.

__ADS_1


"Tolong rahasiakan ini!"


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2