
Penjelasan situasi tempat yang terekam dari benda tipis terselip dalam gelang ini sudah dipahami oleh mereka, ada banyak strategi yang akan dilakukan untuk menyelematkan Neva dari bahaya. Layaknya sekelompok para intel yang hendak menangkap penjahat kelas kakap, mereka membawa pasukan untuk menambah personil dalam misi ini. Bagaima tidak? Melawan Jack sama sulitnya melawan penjahat yang pernah ada di tv, Jack memang sekuat itu membuat penjagaan geng motornya.
Dari rekaman yang tersambung di ponsel Willangga baik Neva dan Jack masih saling mengobrol biasa, tapi ada kecurigaan terlihat dari intonasi suara Neva yang lebih jelas terdengar seperti orang ketakutan. Klik! Willanga menyentuh tanda ceklis untuk menyimpan hasil rekaman nanti sebagai bukti.
Mereka ber tiga berpencar melaksanakan tugas masing-masing.
BBBRAKKK!!
Terlihat kaki tegap muncul dari pintu mobil melangkah keluar mengintimidasi, menghampiri lelaki yang terduduk lunglai bersama motor yang menimpa sebagian kaki lelaki itu.
"Siapa lo?" tanya Bima sarkastik. Mobil hitam ini telah sengaja menabrak motornya hingga terjatuh, untung lukanya tidak parah. Perlahan tangannya menyingkirkan badan motor yang menimpa kakinya dan menopang tubuh untuk berdiri. Telapak tangannya tergores aspal serta lututnya terasa nyeri terbentur aspal, pergelangan kakinya terkilir karena terjepit ban motornya. Walaupun begitu Bima sudah berdiri menatap sengit orang ini, susah payah harus menahan rasa sakitnya.
Willangga mengangkat tangan membuka kaca mata hitamnya menyeringai sinis memulai perlawanan, mendekat kemudian menepuk pundak Bima tiga kali.
Bima menepis kasar tangan Willangga tidak terima tangannya mencengkram leher baju Willanga, dengan sekuat tenaga ia menghempaskan tubuh Willangga.
"Eits! Santai broo, lo nggak kenal'kan siapa gue?" ujar Willangga nada mengejek. Sepertinya lawannya ini bisa dengan mudah dihadapinya, semakin mudah emosi semakin bagus diajak berlawan.
"PPPWWIIITTTTT!!!" itu suara siulan Willangga memanggil dua temannya dari dalam mobil.
Yang dipanggil sigap keluar langsung memborgol tangan Bima, menghampit agar tidak bisa kabur.
"APA-APAAN INI? LEPASIN GUE!!" pekiknya panik. Usahanya melepaskan diri sia-sia karena orang berdua ini.
"NDRE, SENENG KAGAK LO UDAH KEK POLISI BORGOL ORANG BEGINI? CITA-CITA LO MAU JADI POLISI'KAN?"
"YO I, CUYY," jawab Andre bangga. Lalu tersenyum mengejek Bima yang masih berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
""BAWA DIA KE MARKAS..INGAT, JANGAN SAMPAI LOLOS!"
"SIAP KOMANDAN WILLANGGA, LAKSANAKAN!" ucap Andre dan Sofan bersamaan. Mereka menarik paksa badan Bima untuk berjalan membawa masuk ke dalam mobil. Sementara Willangga mengikuti mobil yang tadi mengendarai motor milik Bima.
Tidak jauh dari tempat Willangga tadi, Endru dan Bian sedang mencari ancang-ancang untuk memasuki pekarangan tempat Neva ditahan. Mereka memutar otak untuk mengalihkan anak buah Jack yang sedang berjaga di depan gerbang, bagian ini tugas Endru.
Badan anak buah Jack berotot semua, seperti preman pasar yang pernah dilihatnya, Endru tidak gentar ini demi menyelamatkan wanita pujaannya Neva.
"Will, apa yang gue harus lakukan untuk mengalihkan preman-preman yang berjaga di sini?"
Drrett!
"Dwonload pesan suara yang kukirim ini, pergi ke semak yang ada di dekat pohon itu."
"Ok,"
Menutup mulutnya rapat-rapat menahan tawanya.
"Abeng. Lo denger ada suara ******* cewek nggak di semak itu?" tanya salah satu dari mereka sambil menunjuk semak yang berada empat meter dari belakang tempat mereka.
Yang dipanggil Abeng mengikuti arah telunjuk temannya menyimak dengan seksama, "Gilaa! Ngapain mereka ***** di tempat yang beginian? sore aja belum ganti malam," ujarnya terheran.
"Lo tahu sendirikan, ini tempat jarang banget didatangin warga, sepi."
"Iya juga ya. Tapi mereka nggak tau kalau ada kita. Ngintip yok!"
"Haaayuukkk!!!" jawabnya antusias.
__ADS_1
Mereka melupakan tugas yang sebenarnya, sehingga memudahkan Bian masuk ke dalam pekarangan gudang ini.
Endu berjalan mundur pelan-pelan, suara itu semakin lama semakin jauh. Anak buah Jack dengan kebodohannya tetap mengikuti arah suara yang mereka dengar, sesekali mengobrol yang membuat Endru harus menahan kekehannya.
"Kagak ada Beng mana sih mereka?"
"Mana gue tau,"
"Di sana!! Itu rumputnya goyang-goyang tuh!"
Mereka berdua tetap berjalan mengikuti arah suara menuju rumput bergoyang yang ditunjuk salah satu dari mereka.
BUK! BUK!
Dengan sekejap mata ke dua preman ini jatuh pingsan karena hantaman balok kayu dari belakang mereka.
"Rio! Dani!" pekik Endru kegirangan karena usaha mereka berhasil.
"Cepat ikat mereka," titah Endru.
Rio dan Dani dengan jahil menyatukan tubuh ke dua pria berotot ini dan mengikat dengan tali yang biasa digunaksn untuk mengikat hewan lembu.
Endru dan Dani terkekeh geli mendengar penjelasan dari mana Rio berhasil mencuri tali ini dari kandang lembu emaknya.
"Sudah beres semua. Sekarang kita susul bang Bian!"
ššš
__ADS_1