Kisah ABG

Kisah ABG
Ciuman Pertama


__ADS_3

"Gue duluan, ya! seru Endru dari dalam mobil jemputan sudah melaju meninggalkan lokasi sekolah.


Will dan Yulan sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit melakukan pemeriksaan ulang check up jantung Yulan.


"Kenapa kalian nggak pergi bareng-bareng aja, sih? Inggrisa, Neva, dan Yulan'kan satu rumah sakit yang sama?" tanya Rio bingung.


"Endru sekarang udah diawasin ketat sama bokapnya," jawab Will sambari tangannya memasukkan sesuatu pada jam tangan Daniel yang dipeganya saat ini.


"Seperti anak kecil diawasi," ujar Rio terkekeh kecil.


Bembi baru saja muncul dari kelasnya dengan wajah masam dan bau keringat menyeruak dari badannya. "Maaf, lama. Bete banget gue, dihukum nyapu kelas sendirian jam pulang sekolah," keluhnya mengibas-ngibaskan kertas kardus di wajahnya.


"Makanya belajar," timpal Daniel datar bersandar enteng melipat tangan di badan mobil Will.


"Gue udah berusaha ngerjain prnya, tetap aja salah mulu. Huh, kapan gue bisa punya otak topcer kayak kalian?" Bembi melenguh masam masih mengipas badanya.


"Hah. Lo masih mending tahu, Bim. Semua orang mungkin tahu lo itu akademiknya kurang mampu, jadi guru juga nggak curiga-curiga terus sama nilaimu, kan'tinggal lo-nya aja yang harus lebih giat lagi belajar. Lah, gue? Nilai rendah, diledek digosipin sama guru. Nilai gue tinggi, dibilang palsu karena bokap gue orang dalam di sekolah ini. Yah, aing kudu naon?" Chatryn curhat dengan wajah menyedihkan, sedetik kemudian senyumnya merekah tidak enak telah menganggu perasaan Yulan yang langsung menunduk bersalah mendengar ucapannya tadi.


"Eheheheh! Hanya sekilas curhat," ujar Chatryn cengengesan menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Um, Bembi, Chatryn, Rio! Gimana kalau kita mengadakan acara belajar bersama, entah di rumah siapa gitu? Nanti mulai setelah Neva pulih, dan urusan osis Jhena yang sebentar lagi juga agak berkurang katanya. Setuju?" Yulan memberi ide tersenyum hangat pada temannya.


"Boleh, dah!" Chatryn bersemangat.


"Gue mau!" Bembi tak kalah antusias.


"Eh, woi! Betewe, Andreas sama Jhena nggak keluar kelas dari tadi?" Rio menelisik ke arah kelas Jhena.


"Andreas mau nungguin Jhena katanya," Daniel menjawab. Tidak! Lebih tepatnya Daniel sengaja menglur waktu pulang Amdreas agar bisa memantau Jhena, ia masih sedikit parno mungkin benar ads bahaya yang mengancam Jhena karena telah menyimpan surat itu.


"Oohhhh! Ngomong dari tadi, dong! Kita betdiri di sini itu, mau nungguin si Andreas dan si Jhena, makanya kita belum pulang!" Will mendengus sebal.


"Ya udah, kuy kita pulang!" Chatryn berdiri dari jongkoknya menggendong tasnya.


"Chat, kita jalan, yuk!"


Seketika suasana menjadi riuh, Bembi dan Rio terbahak menggoda Chatryn yang memerah.


🌹🌹🌹


Jika memang pertunangan dilanjutkan, itu tidak bisa dilawan juga. Tetapi setidaknya ia harus bisa mengulur waktu tanggal pertunangan mereka, memcari cara lain untuk benar-benar menggagalkan perjodohan ini.


"Ka-kamu setuju mau melanjutkan pertunangan kita?" Inggrisa bertanya menatap tak percaya pada Endru yang sedang berdiri tegap di sampingnya.


"Hum," jawabnya singkat sembari menghembuskan napas jengah.


"Kok bisa?" tanyanya pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Bokap gue yang maksa," suaranya darar. Menarik kursi lalu menghempaskqn bokongnya, menggeser memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan wanita ini.


"Bekas!" ucapnya menyindir.


"A-apanya yang bekas?" Inggrisa tergagap menelisik seluruh tubuhnya.


"Semuanya bekas, tubuh lo!" sahut Endru meledek.


Sekarang ia mengerti maksud ucapan Endru. Tangan kirinya mencengkram sprai menekan rasa emosinya menggertakkan giginya, wajahnya merah padam.

__ADS_1


"Lo nggak terima? Tapi itu nyata! Kulit putihmu yang lo jaga selama ini, terlihat kotor karena bekas luka gatal. Terlebih lagi?,,,," Endru memberi jeda ucapannya.


"Cukup, Endru. Berapa kali kamu menjenguk aku, kamu berhasil memancing emosiku. Lebih baik kamu keluar dari sini!" hardiknya suara penekanan.


"Memang aku mau keluar," jawabnya enteng. Sebelum bangkit dari duduknya, Endru menyempatkan sekecil waktu menyentuh selimut yang berada di dekat tangan Inggrisa. Tanpa berucap lagi, ia langsung meninggalkan Inggrisa tersenyum bahagia.


"Ahkk!! Gue akan semakin tersiksa nurutin kemauan ke dua bokap egois itu!! Sialann!" rutuknya. Tanpa sadar tangannya mengulur menyentuh bagian ujung selimut yang disentuh Endru tadi.


Serbuk yang dibeli Endru diam-diam, mampu memperlambat pemulihan kulit Inggrisa.


Di sinilah Endru sedang di dalam toilet masih diawasi ke dua orang berbadan kekar berpakain hitam-hitam. Membersihkan tangannya melakukannya berulang lalu menyemprotkan pembersih anti kuman.


Membaca pesan singkat dari Willangga yang sudah selesai check up Yulan, mereka menunggu di dalam ruangan dokter.


Memutar otak agar bisa menghindar dari dua penguntit ini, menjentikkan jari tersenyum licik.


"Bang, tolong belikan gue minum ya ke kantin sana! Beli aja untuuk kita ber tiga." menyodorkan selembar uang pada lelaki ini. Sigap, pria itu berlalu berjalan ke arah kantin.


"Duduk, Bang. Kita nungguin orang tua Inggrisa yang mau datang ke sini." Endru tersenyum sopan duduk santai di kursi tunggu depan ruang Inggrisa.


Masuk lagi ke dalam ruangan Inggrisa dengan tampang datar. Tidak mempedulikan panggilan Inggrisa berjalan lurus ke ruang obat yang ada berada di ujung kamar, fasilitas mewah kamar Inggrisa memiliki ruang penyimpanan obat khusus.


Kembali duduk santai menerima botol minum.


Membuka tutup botol minum, gesit memasukkan sesuatu ke dalam.


"Bang, punya gue kurang seger. Tukaran ya."


Tanpa merasa curiga, pria itu memberikan botol minum yang belum disentuhnya. Glekk,,minuman lolos membasahi kerongkongan.


Endru mengulangi hal yang sama, mengatakan yang ini juga kurang enak karena memang rasa minumannya berbeda dari rasa minuman mereka ber dua. Menukarnya lagi, rasa segan akhirnya minuman itu habis diteguk.


Di kamar Neva.


"Bu Priska, Willangga tergelincir waktu ke kamar mandi. Sekarang dia dibawa ke ruangan pasien di lantai satu. Tadi kami mau pulang, terus Willangga ke kamar mandi bentar, ternyata dia tergelincir tidak hati-hati. Dokter di sana membawanya untuk diobati, Willangga minta tolong Ibu untuk menjadi walinya. Karena hanya Ibu yang kami kenal di sini, papinya masih di luar kota," cerocos Yulan menceritakan kejadian Willangga.


Priska tercengang. Memberikan mangkuk bubur pada Yulan, pamit berjalan cemas menuju lantai satu.


Neva memandangi Yulan heran, mengerunyit bingung melihat senyum aneh temannya ini.


Oh ya ampun, Endru! Cowok itu tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan tampang senyum lebar.


"Nih, kasih dia makan. Aku nungguin di luar. Ingat, aktifin pinsel rahasia kita." Yulan tersenyum memberi jempol semangat. Berkedip menggoda pasangan ini, berlalu keluar menutup pintu.


"Apa kabar?" Endru tersenyum manis duduk di samping brankar Neva menatap penuh rindu mengusap pucuk kepalanya sayang.


Neva membalas tersenyum manis. Menyentuh mengusap perutnya pelan, memejamkan mata menikmati usapan Endru di kepalanya, bibirnya bergerak kecil mengungkapkan sesuatu.


Yulan telah menjelaskan keadaan Neva padanya. Neva belum bisa berbicara banyak, otot perutnya seperti ditarik saat berbicara.


"Kangen tahu," ucapnya mengelus pipi Neva. Neva menggerakkan bibirnya sekali, tersenyum kecil. "Kangenan aku dari pada kamu. Sekolah rasanya sepi kalau nggak ada yang kugangu tiap jam istirahat," lanjutnya menggoda.


Neva menggerakkan jari-jarinya. Endru meraih mengecup tangan Neva berkali-kali, mengusapnya lembut. " Cepat sembuh ya," bisiknya kembali mengecupnya.


"Unghng," lenguhnya lirih.


Endru medekatkan wajah, wajah mereka sekarang sudah semakin dekat. Deru napas hangat bertukar menerpa pipi mereka, saling mengunci pandang.

__ADS_1


Cup...


Endru mengecup tiga kali bibir kering Neva.


Neva terbelalak matanya mau keluar melotot ke arah Endru. Ciuman pertamanya! Astagaaa! Dalam keadaan jelek seperti ini?


"Ciuman ini adalah obat mujarap yang mampu mengangkat semua rasa sakitmu, benerr! Mau lagi?" tersenyum lebar menikmati saat ini.


Bola matanya semakin melebar memdelik, memiringkan wajahnya yang sudah merona malu.


Tertawa lebar mengacak gemas rambut Neva. "Kamu cantik juga gerai rambut. Selama ini ikat rambut terus, ternyata cantik banget lepas rambut," ucapnya mengelus helai rambut Neva.


Cemberut bibir itu terlihat menggemaskan.


"Serius, aku nggak bohong."


Berkedip tidak percaya.


"Kamu makan ya," bujuknya membereri sendok bubur mendarat di bibir Neva.


Kunyahan kecil bubur itu tertelan.


Telaten suapan demi suapan bubur hampir habis, menyeka bibir Neva dengan ibu jari, ada bubur tertinggal di sana. Ibu jari itu masuk ke dalam mulut Endru, menyengir tidak mempedulikan respon mengamuk Neva.


"Enak tahu bekas bibir kamu. Umm!!"


Sebelum sempat tambah marah lagi, dengan cepat Endru menyuapi lagi dan kini bubur habis tandas bersih tidak tersisa dalam mangkuk.


"Minum obat!"


Seperti seorang perawat profesional, membantu memberi beberapa butir kapsul secara satu per satu.


Neva tersenyum bahagia setelah semuanya selesai.


"Nev, aku harap apa pun yang terjadi ke depannya nanti, kamu tetap percaya dengan perasaan cinta untukmu," ucapnya lirih menunduk tidak berani membalas pandangan Neva.


"Mu-mungkin selama sebulanan ini kita tidak bisa bertemu lagi. Aku harap kamu mampu meredam amarahmu saat kamu tahu alasannya, aku melakukan semua ini memiliki alasan yang kuat. Maafkan aku," isakan kecil lolos dari mulut Endru.


Sekuat tenaga jemari Neva menyatu mengerat jari Endru, sedikit bergetar mereka saling mengemgam menyiratkan perasaan masing-masing.


"Aku mentipkan sesustu pada Yulan untukmu. Jika kamu merindukan aku, benda itu adalah aku, pasangannya ada padaku. Kita sama-sama berdoa ya, semoga pasangan itu dapat bersatu saling melengkapi." sekali lagi ia membungkulan badan mencium kening Neva lama.


Ting!


Nada itu adalah tanda dari Yulan.


"Aku harus segera pergi," ujar Endru lirih.


Neva semakin mengeratkan gerakannya, berkeringat tidak mau melepaskan. Air mata itu lolos membanjiri wajah Neva.


"Ki-kita harus saling percaya dan saling menguatkan cinta kita. Izinkan aku menitipkan cinta untukmu, aku akan datang lagi meraih mengambil cinta itu."


Mulut Neva meracaukan sesuatu.


Endru membungkuk lagi mendekat ke telinga Neva. Menghela napas panjang membisikkan sesuatu kemudian mengatakan "Salam dari Binjai."


Detik demi detik jari itu saling melepas, sisa ujung jari telunjuk Neva juga terlepas dari gemgaman telapak tangan Endru. Mereka saling manatap tidak rela.

__ADS_1


Neva menangis dalam hati, tubuh Endru menghilang di balik daun pintu.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2