Kisah ABG

Kisah ABG
Putus


__ADS_3

Aku sangat mengapresiasikan diriku, sejauh ini mampu menulis cerita samoe 81 episode dengan berbagai macam tokoh. Sedikit bercerita pengalaman. Awalnya aku berspekulasi tidak mungkin otakku mampu menulis cerita sepanjang ini, aku juga bukan seaktif seperti author lainya.


Banyak halangan yang ku alami untuk memyempurnakan cerita ini agar terlihat menarik. Aku tidak tahu dan fasih untuk buat promosi, bikin edit-editan foto atau vidio, sosial mediaku juga nggak serame orang lain. Ke dua, aku juga nggak terlalu kenal artis atau foto untuk di jadikan visual. Ke tiga, aku kurang bisa bikin 'dialog' baper ada kata-kata mutiaranya, susah aja merangkainnya. Ke empat, aku penyandang disabilitas tuna netra jenis low vision ( pengelihatanku rendah dan sangat terbatas ), makanya banyak typo ketikan salah, mataku nggak bisa menjangkau semuanya untuk mengedit, minta bantuan temen yang melihat itu nggak segampang itu.


Tapi seperti yang kubilang tadi, bangga sama diri sendiri mampu membuat cerita ini sampe segini episode dengan keterbatasanku..Hehehe...


Makasih atas dukungannya ya teman-teman..


@Nadine_Wulan, @Kayla_Saqueena, @Irma_Wati, @Sulastri_Tri, @Putri_Angelina..dan masih banyak lagi yang nggak kusebut nama yg sering like ceritaku. Semoga kalian sehat selalu...


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Ini diminum dulu." Andreas meletakkan sebotol minuman dingin di depan Jhena. Cewek itu masih asik berkuat dengan kertas bertumpuk di atas neja tidak menyahut ucapan Andreas.


Menarik napas panjang memilih duduk di samping Jhena. "Aku bantuin ya," ujarnya meraih tumpukan kertas, namun dihalangi tangan Jhena. "Kenapa?"


"Nggak usah, nanti kamu nggak tahu bisa salah lagi," sahutnya tanpa memandang wajah kecut Andreas.


"Oh, gitu ya. Haha." Andreas sangat tersinggung tersenyum miris pada dirinya sendiri. Kenapa Jhena selalu menolaknya dan meragukannya, itu hanya kertas nomor peserta ujian akan digunting, semua orang bisa melakulan itu, apanya yang bisa salah?


Lihat lagi, Jhena tidak mengucapkan satu kalimat untuk membujuknya. Tidak tahan lagi akhirnya ia melongos keluar dari ruang osis dengan tatapan terluka.


"Aduh. Eh-eh, Andreas lo mau kem-. Oh, astaga!" Chatryn datang dari pintu berpapasan dengan Andreas. Ia tahu sekarang apa yang terjadi.


Ia geram sendiri melihat perilaku Jhena yang sok itu, semenjak jadi ketua osis dia berubah sekarang.


"APA-APAAN SIH LO MAIN RAMPAS KERJAAN GUE!" bentak Jhena berdiri melotot pada Chatryn yang mrrampas kertas dari depannya.


"LO YANG ANEH TAHU NGGAK, JHEN! INI ITU TUGAS SKETARIS BUKAN TUGAS KETUA, LO HANYA CUKUP MENGAWASI UDAH SELESAI ATAU BELUM. SENGAJA YA MENGAMBIL ALIH YANG BUKAN TUGAS UNTUK MENGHINDARI ANDREAS!" cecar Chatryn tak kala kuat suaranya. Mengumpulkan kertas menjadi satu memindahkan ke meja yang di depannya.


"Bukan urusan lo," balasnya sengit. Wajahnya mersh padam menahan amarah, ingin pergi namun dicekal Chatryn memaksa duduk menekan kuat ke dua bahunya.


"Tryn!" pekiknya melawan namun kekuatan Chatryn tidak sebanding dengannya, ia hanya bisa pasrah.


"Lo sengaja menyibukkan diri dengan urusan osis-osis lo untuk memghindari Andreas, padahal nggak sesibuk itu jadi ketua. Hohoho! Hari ini Andreas ngajak lo kencan'kan tapi lo nolak alasan sibuk! Huuh! DIA RELA NGGAK JAJAN SELAMA BERHARI-HARI DEMI NGUMPULIN DUIT UNTUK BIAYA KENCAN KALIAN, UDAH NYIAPIN BARANG SPESIAL DARI HASIL KERJA PARUH WAKTU, BERUSAHA BUAT LO BAHAGIAIN LO! Tapi lo nggak menghargai itu!" seru Chatryn berapi-api seraya berkacak pinggang.


Terdiam menyimak ucapan Chatryn ia tidak menyangka sebegitu kekehnya cowok itu pada hubungan abu-abu ini. "Tapi gue memang nggak pernah suka sama dia," gumamnya menunduk.


"APA, BILANG SEKALI LAGI!"


Jhena masih diam.


"GUE BUDEK, ULANGI APA YANG BILANG TADI LEBIH KENCANG!"


Masih diam meremas ujung roknya.

__ADS_1


"WOII!"


Masih diam.


"GUE NGGAK PERNAH SUKA SAMA ANDREAS! IYA GUE NGAKU!" teriak Jhena napas memburu menantang Chatryn.


Di luar Andreas belum benar-benar pergi, ua mendengar jelas teriakn dari dalam. Hatinya remuk redam merasa dikhianati cewek itu apa dia yang terlalu membawa perasaan? Kacau terluka, pacarnya cinta pertamanya, tidak menganggapnya dia pacar bukan juga cintanya. Ia masih bertahan untuk mendengar selanjutnya.


Chatryn memukul dadanya sesak, terbahak tapi juga menangis perih dalam hati. Sekarang- "Lo masih cinta sama Daniel?" tanyanya lirih. Sudah berdiri membelakangi Jhena.


"Tid-tid-"


"BOHONG LO!" berbalik lagi mencapit dagu Jhena. "NOMOR TANPA PENGENAL YANG ADA DI HP DANIEL, ITU PUNYA LO'KAN? LO MASIH SERING STALKING NGE-CHAT DIA TIAP HARI!" bentaknya lalu melepas capitannya berdiri menghadap papan tulis mrngusap air matanya. "Sekian banyak cewek yang suka Daniel, justru sahabat sendiri yang jadi saingan terberat gue," lanjutnya menahan air mata.


Jhena menunduk takut, ia itu dia.


Mendengar itu lagi dan lagi hatinya bagai dihumus belati, berat hati ia melangkah masuk ke dalam berjalan lunglai. Ternyata Will dan yang lain sudah menyusul dari belakang, Fajar si wakil ketua osis yang melapor pada mereka.


"Andreas," lirih Chatryn juga tidak menyangka cowok itu datang dari luar.


Andreas menghampiri mereka dengan tatapan terluka pada Jhena.


Jhena berdiri membeku gugup sorot mata itu, mulutnya kelu untuk membela diri.


"Maaf gue belum mampu menjadi cowok terbaik buat lo. KITA PUTUS!"


Rio menyusul temannya Andreas.


Chatryn tersenyum kecut nenyaksikan keadaan ini. Apa lagi ini? Teman yang lain juga muncul tiba-tiba begini.


"Kalian!"


"Gue yang manggil temen-temen lo kesini. Maaf, Jhen," ucap Fajar merasa tidak enak hati.


"Chatryn! Puas lo mempermalukan gue di depan temen-temen!" seru Jhena marah.


Ha? Chatryn tersulut emosi.


"Mempermalukan apa? Gue juga nggak tahu mereka datang, lo denger sendiri tadi Fajar yang membawa mereka ke sini. Lagian ya, lo memang harus putus dari Andreas, cowok baik seperti dia nggak pantas bersanding dengan cewek yang nggak mencintainya balik," ungkapnya menggebu-gebu. "Jangan merasa malu sama temen sendiri yang melihat putusnya kalian. Tapi harusnya lebih malu, malu udah membohongi perasaan Andreas, perasaan gue, perassan lo sendiri yang berpura-pura terima cinta Andreas. Dan lo udah menghianati persahabatan kita!"


Daniel dari tadi ingin melerai tapi Willangga selalu menahannya, mereka berjejer berdiri cemas


"Emang gue salah kalau suka sama Daniel, Tryn?" tanya Jhena spontan. Duduk lagi kakinya terasa lemas.


Daniel terpaku mukanya memerah, lagi Will menahannya, menunggu jawaban selanjutnya bisik Will padanya. Si Neva dengan santainya duduk di atas meja di samping Chatryn, makin dekat lebih seru.

__ADS_1


"Enggak salah, lo suka sama siapa aja itu hak lo. Tapi kenapa lo nggak jujur dari awal? Gue tiap hari curhat tentang Daniel, respon lo biasa-biasa aja. Gue ngejar Daniel, lo dukung gue semangatin gue. Sekarang? Lo seolah-olah paling tersakiti di sini, sok merasa paling dicintai! Hung!" Chatryn meledek Jhena. "Apa jangan-jangan lo ketawain gue dalam hati, ngejar cinta Daniel seperti perempuan kecintilan yang nggak laku! Iya, Jhena? Atau kalian semua juga mikirnya gitu?" ungkapnya mengatakan apa yang menjadi pergolakan dalam batinnya selama ini.


Jhena menangia sudah, mengigit bibirnya menahan isakan. Sampai Yulan datang menyentuh bahunya, ia mengusap air matanya.


Will melepas cekalannya, Daniel menghampiri Chatryn. Mengemgam tangan cewek itu menenangkannya mengelusnya.


"Selesaikan semya ini bicaralah baik-baik!" Neva bersuara dari tempatnya.


"Jhena!"


Yang dipanggil menoleh ke arah suara Daniel.


"Maaf, gue harus ngomongin ini. Mulai selarang lo harus lupain perasaan ke gue, sesuai dengan perjanjian kita saling melupakan satu sama lain. Jujur, gue sedang belajar membiasakan diri dan menyukai Chatryn, dan hampir mencapainya. Tegaskan hati Jhena, gue udah move on dari lo," ungkapnya tegas menghela napas lega. Chatryn tersenyum tipis membalas gemgaman Daniel.


"Semudah itu?"


"Jhen, maaf."


"Dan," panggilnya lirih. Daniel membawa Chatryn keluar dari ruangan.


Beberapa saat berlalu semua terdiam.


Fajar permisi duluan membawa kertas kartu ujian yang dikerjakan Jhena tadi.


Jhena menolak ajakan Yulan untuk pulang bersama, keluar dari ruangan dengan wajah menyedihkan.


"Bembi, Sofan. Ikutin Jhena sampai ke rumahnya ya."


"Iya, Will." Mereka mengangguk serempak.


Neva, Yulan dan Will masih berkumpul di parkiran sekolah.


"Mumet ini kepala! Tadi masalah Arman yang mau rebut kalung gue, barusan masalah orang si Jhena. Ck, hah!" desah Neva.


"Jangan pikirin masalah orang lain dulu, perkara diri sendiri aja dulu," tegur Yulan.


"Mereka teman kita bukan orang lain," sahut Neva.


"Iya, tahu. Tapi masalah kalung kamu itu lebih penting. Paham!"


"Iya, Bawelku!"


Bercanda sebentar, Will datang dari dalam mobilnya. "Nev, ayok pulang. Lo naik motor lo, nanti kami ikutin dari belakang. Ngerti ya maksud gue melakukan ini."


"Ok, thanks pengawalannya! Jangan lupa kabarin ke gue tentang penyelidikan kalung itu, jangan hilang!" peringat Neva mengancam.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2