Kisah ABG

Kisah ABG
Arman


__ADS_3

Satu kelas dihukum duduk di lapangan mata pelajaran Geografi berlangsung selama dua les, ketahuan mencontek masal dari salah satu murid si juara pertama. Bu Guru marah kecewa, akhirnya mereka ada tiga puluh siswa semua tanpa pengecualian duduk di pinggir lapangan menjadi bahan perhatian siswa yang lainnya. Hanya saja Yulan dapat kompensasi duduk sendirian di bawah pohon cherry tidak jauh dari tempat teman-temannya, kesehatannya tentu yang menjadi alasannya, toh juga temann satu kelasnya tidak mempermasalahkannya justru mereka tadi yang menawarkan kompensasi itu pada ibu guru.


"Panasnya!!" seru salah satu siswa cewek mengibaskan tangannya sebagai kipas.


"Pinjem karet dapur dong mau ikat rambut," ujar salah satu cewek yamg memegang rambut panjangnya.


Ada beberapa murid cowok yang justru tiduran di atas rumput lapangan tertawa menikmati gerutuan yang kepanasan, ada yang membentuk kelompok kecil saling mengobrol, ada yang asik menganggu temannya. Neva menatap Yulan yang berwajah murung dari tempatnya, pasti dia sebenarnya ingin bergabung bersama di sini, kasihan dia sendirian di sana hanya memeluk jaketnya.


Melihat teman cowoknya yang tiduran, ia juga jadi berpikir melakukan hal yang sama. "Woii! Geseran dong, mau tiduran juga," seru Neva menepuk salah satu temannya menggeser ke samping. Melipat memanjangkan kaki, menggunakan ke dua tangannya sebagai bantalan, melepas dasi silangnya menutup mata dari sengatnya matahari.


"His. Neva,,Neva!" Chatryn berdecak.


"Pijitin kaki gue dong."


"Ogah!" tolaknya memukul lutut Neva.


Tiga menit ia mukai terbuai mengantuk mulai terlelap, sampai-


"PERHATIANNYA! BAGI SISWA YANG MEMDAFTARKAN PEMBUATAN KTP BERKUMPUL DI AULA, JANGAN LUPA MEMBAWA KARTU KELUARGA!"


Pengumuman dari mikrofon sekolah mrmbangunkan Neva dari ngantuknya, mengesah sejenak merenggangkan ototnya duduk perlahan.


"Huy, yang mau punya KTP!" ledek cowok yang di sebelahnya. Neva melirik sekilas malas menanggapi.


"Semangat Neva! Di sana kelas tiga semua pasti pada buat KTP juga, siapa tahu Endru datang, terus kalian bisa ketemu deh." ucapan Chatryn sukses membuat Neva sadar sesadar-sadarnya rasa ngantuknya hilang seketika.


"Semoga saja," sahutnya seraya merapikan bajunya mengancing dasinya, berdiri mengibaskan sisa rumput yang menempel di roknya.


"Eyy, KKmu!" seru cowok sudah ikut bangun duduk.


"Udah ada sama Bu Priska," jawab Neva lalu melanjutkan langkahnya.


"Enak banget lo, Neva. Udah bebas dari hukuman," gerutu salah satu temannya.


Neva tidak mendengar lagi, menyeberangi lapangan masuk ke dalam aula sekolah.

__ADS_1


Untung bukan hanya dia murid kelas dua duduk mengantri, ada empat teman lainnya juga. Setelah menghampiri Bu Priska meminta KK, ikut duduk di samping temannya menunggu semuanya bersiap. Manik matanya terus mengamati kumpulan kelas tiga yang masuk dari pintu aula, mana Endru?


Bukannya Endru yang terlihat, justru Jhena yang tersenyum manis padanya lalu menghampiri kepala sekolah, sepertunya dia sedang ikut berpartisipasi membantu petugas ini.


Karena dari kelas dua hanya ada lima orang, jadilah mereka yang pertama kali dibuat, di sebelah kanan aula ada juga satu lagi. Neva berjalan lesu duduk di samping salah seorang petugas menyerahkan KKnya, ternyata dia benar-bebar tidak ada.


Membiarkan si petugas merapikan tatanan wajah dan rambutnya, sedikit tersenyum simpul menghadap kamera yang terdeteksi di laptop yang diarahkan ke wajahnya. Setelah layar berkedip tiga kali dan berbunyi, sesi foto selesai dan hasilnya sangat memuaskan. Selanjutnya menjawab beberapa pertanyaan dari petugas kemudian membubuhkan sidik jari meletakkan ke tiga jarinya di atas mesin pendeteksi berbentuk layar segi empat sampai layar berkedip membentuk sidik jari berwarna ungu layar fotonya di laptop. Selanjutnya membubuhkan tanda tangan menggunakan pena elektronik yang terikat tersambung dengan mesin pencetak sidik jari tadi, menggores layar sampai tanda tangan tercetak di layar laptop.


E-KTP selesai.


Menghirup udara segar di belakang aula, bersandar lesu pada dinding.


Neva terkejut merasakan tepukan di bahunya, menoleh ke samping. "Kak," panggilnya pada murid cewek yang datang menghampirinya.


Ini adalah cewek satu kelas Endru yang ditemuinya di perpustakaan bersama pacarnya kemarin.


"Endru nggak datang. Dia mengerjakan tugas di rumahnya, ada guru yang menjemput memeriksanya di sekolah ini," tutur cewek itu menerangkan keadaan.


"Oh, iya Kak. Thanks atas infonya," sahutnya sopan.


Cewek itu mengangguk berlalu masuk ke dalam aula.


Orang itu membuka kaca mata hitamnya mengamati suasa sekitar, tersenyum sinis mendapati celah untuk ia memgikuti Neva masuk ke sekolah tanpa harus dicurigai. Ia berhasil memyelundup meminjam seragam salah satu petugas pembuat KTP, bernapas lega berjalan santai menutupi kegugupannya.


"Masnya petugas juga, tapi kok pakai topi dan kaca mata hitam?" tanya salah seorang guru yang menghentikan langkah saat mengikuti Neva.


"I-ia, malu kepala saya ada bisul, iya bisul. Te-terus mata saya itu, takut kena debu," jawab pria itu asal mengelak gugup memandang arah berlawanan.


"Mirip suara Arman," gumam guru itu menatap lekat pria ini.


"Saya permisi!" ujar pria itu terburu-buru menibggalkan guru itu.


Tanpa menaruh curiga lagi, guru itu melanjutkan tugasnya.


Pria itu kini mengikuti jejak Neva yang berjalan ke arah kantin, ia harus bisa mendekati Neva dan merebut kalung yang tergantung di lehernya.

__ADS_1


Sudah kosong, teman-temannya pasti sudah masuk ke kelas, ia sudah terlanjur malas melanjutkan belajar, sebentar lagi juga istirahat. Cabut skuyy! Ada kantin kelas satu tempat teraman untuk bersembumyi.


"Boleh saya ikut duduk?"


Neva terkejut kedatangan pria yang tidak dikenali di sekolahnya. Memutar matanya menatap curiga, tidak menjawab justru melanjutkan acara minumnya mengaduk jus dengan sumpit.


"Boleh saya duduk? Saya ingin mengobrol sedikit, malas rasanya harus duduk seorang diri padahal ada meja yang bersisi untuk teman minum. Saya kabur dari tugas, istirahat sebentar karena capek," bujuk pria aneh ini.


Neva mendengus menatap tajam pada pria ini, ia risih dilihati seperti ini. Coba bermain mata sebentar, pasti pria ini ada hal yang terselubung. Tuh'kan, wajahnya terlihat gugup.


"Duduklah," sahutnya dingin.


Pria ini tersenyum sembarangan duduk di depan Neva, meneguk minumannya.


Bukannya Neva tidak peka dengan situasi, ia bisa merasakan ada yang tidak beres di pria ini.


Pelototi terus Neva, agar dia terintimidasi. Tersenyum menyeringai menyeruput jusnya, pria ini sudah gelisah.


"Di sekolah ini boleh pake kalung?" tanya pria ini.


Ha? Pertanyaan macam apa ini? Ladeni sajalah. "Boleh, asal nggak berlebihan," jawabnya masih menatap mengintimidasi pria ini.


"O-oh," sahut pria ini.


Mengeluarkan kalung dari celah kerah bajunya menunjukkan ke wajah pria ini. "Ini kalungnya," ucapnya.


"Bagus! Beli di mana? Boleh aku memegangnya sebentar?"


Oh, ia sudah paham. Bodohnya pria ini tidak tahu berbasa-basi melakukan kejahatan, langsung berbicara membahas pada intinya menginginkan kalungnya. Masih pemula, perlu latihan banyak lagi.


"Beli di toko. Dan kalung ini ada kramatnya, nggak boleh disentuh sembarang orang. Sudah ya, gue mau bayar minuman gue dulu." langsung pergi menemui ibu Kantin dan membisikkan sesuatu pada ibu itu. Neva berjalan keluar tersenyum puas. Tapi siapa pria itu? Perawakan badannya mirip dengan seseorang yang permah dilihatnya di ponsel Endru. Dan apa maksudnya mengincar kalung ini, kalung pemberian Endru.


Ibu Kantin menghampiri pria itu.


"Apa-apaan ini!" pekik pria itu berdiri terkaget tiba-tiba ia disiram air membasahi topi kepala dan wajahnya. Spontan membula topi dan kaca matanya.

__ADS_1


"ARMAN!!" Ibu kantin tercengang melihat wajah pria itu.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2