
Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Michael untuk menikahi bersanding dengan perempuan cinta sejatinya, Paramitha. Lika-liku percintaan yang dihadapinya selama ini telah membuatnya pesimis, dipisahkan oleh status sosial, difitah pun untuk ia menjauh dari kehidupan perempuan itu. Selama tujuh belas tahun hidup terkurung rasa bersalah serta kerinduan terpendam membuat hatinya membeku tidak mampu merasakan jatuh cinta pada apa pun itu, tekat hidup sebatang kara seperti manusia diselimuti kesepian dan kegelapan.
Namun kenyataannya pada hari ini juga pandangannya berubah, cahaya itu telah kembali padanya memberi penerangan jalan untuk menjadi Michael seutuhnya.
Begitupun dengan Paramitha, wanita paru baya ini tersenyum bahagia menerima Michael seutuhnya. Debaran jantungnya bergelora padahal ini pernikahan ke dua kalinya, bak renaja jatuh cinta ia pun berbunga mekaer setepah disiram oleh cintanya yang kembali datang memeluknya. Tidak ada halangan lagi untuk mereka bersama, semuanya gugur berperang dengan cinta mereka yang kuat tangguh.
Mereka ber dua akan menjadi satu dalam cinta ikatan janji suci pernikahan, kehadiran dua putra yang sudah beranjak dewasa adalah anugerah dan hadiah besar di tengah-tengah keluarga ini.
Semuanya bertepuk tangan ada yang menangis terharu, Michael mencium kening Mitha di depan altar setelah mengucap janji suci. Tampak malu-malu Mitha menunduk wajahnya merah berseri, sementara Michael berdiri gagah rapi merangkul erat sekarang sudah resmi menjadi istrinya.
Acara pemberkatan diakhiri dengan berfoto bersama, satu per satu bergantian untuk berfoto bersama pengantin. Berpakain serba putih Endru dan Arman kompak merangkul mesra kedua orang tuanya. Tatapan penuh rindu jelas terpancar saat Michael berpose berjongkok memsejajsrkan badan mengelus pucuk kepala putranya mengemgam tangan remaja itu, spontan Arman membantu mamahnya ikut mensejajarkan badan merangkul Endru di sebelahnya, Arman merapat setengah badan dari belakang merangkul ke tiganya tatapan hangat, tak lupa bunga tangan berpindah dalam pelukan Endru.
Ceklekk!!
Satu foto keluarga bahagia terabadikan dengan indah dalam kamera.
Setelahnya disusul berfoto bersama keluarga Adi Putra sebagai wakil dari Michael, dan keluarga pengacara keluarga besar Mitha sebagai pendampingnya. Disusul ada beberapa teman dekat bisnis Adi Putra dan bisnis keluarga Paramitha.
Sesi yang keterakhur ada Will dan teman-temannya berseragam yang sama juga ikut berfoto, berjejer bergaya anak muda foto diambil.
Yang diundang memang hanya kerabat terdekat, ada beberapa teman panti asuhan Michael dulu, pengurus yayasan dan beberapa guru pengajar, serta rekan bisnis. Tentunya tanpa media, hanya ada satu kamera khusus dioerbolehkan untuk meliput pernikahan ini. Mitha tidak ingin terekspos sebagaima di media, cukup mereka megetahui pernikahan ini, sudah.
Berangkat bersama menuju gedung resepsi terasa lebih meriah, mobil pengantin dan iring-iringannya mengikuti dari belakang. Willangga dan teman-temannya berada di dalam mobil angkot bersama, ribut bercanda ria.
Alunan musik romantis menyambut kedatangan pengantin, taburan bunga bak limpahan berjatuhan dari atas di dalam balon besar. Saling menggandeng tangan seraya memarkan senyum indah, pasangan pengantin melangkah maju ke hadapan panggung resepsi kemudian duduk di atas pelaminan.
Sembari diiringi nyanyian dari penyanyi yang memang khusus diundang, acara salam-menyalam pun dimulai. Arman maju mendorong kurai roda Endru pelan-pelan maju pertama kali memberi ucapan selamat.
"Mulai sekarang kami, aku dan Endru memutuskan mengganti nama panggilan untuk orang tua kami. Apa Ndru?"
"Bunda dan Papih, tidak ada bantahan. Memang terdengar agak alay, tapi ini terkesan lebih cocok aja."
"Kita ber empat akan memulai kehidupan baru sebagai keluarga, tanpa bayangan masa lalu. Dengan nama panggilan yang baru ini, kita berharap keharmonisan dan kerukunan beserta keluarga kita."
Baik Mitha dan Michael terharu mendengar penuturan anak-anaknya, saling merangkul kembali membuat seisi gedung bersorak ria.
"Mitha!" Priska memeluk erat sahabatnya ini. Terisak terharu ikut ambil penyatuan cinta persahabatan ini, banyak cerita berbisik harapan untuk Mitha.
"Tidak sabar rasanya tiga hari lagi pesta pernikahan kalian juga menyusul," ungkap Mitha tersenyum menggoda Priska.
Pernikahan Priska dan Septer dipercepat tiga hari setelah pernikahan Mitha, sebelum hari keberangkatan keluarga Michael ke luar negeri.
Di tempat para undangan, semua sedang larut bercanda menyaksikan acara yang sedang terlaksana. Endru sudah bergabung bersama teman-temannya, ulah repot merapatkan beberapa meja menjadi satu agar mereka tidak terpisahkan selama di pesta.
"Endru,,Endru! Sebentar lagi ada yang mau punya adik baru," ujar Neva menggoda menoel-noel lengan Endru terkikih geli.
Makanan yang sedang dikunyah Endru langsung masuk ke dalam tenggorokan tersedak batuk mendengar celetukan sembarang Neva.
"Ahahaha! Maap,,maap. Sampe keselek segala, hehe," ucap Neva mengusap punggung Endru memberi segelas air.
"Adik baru, yaaa!" Will ikut menimbrung tertawa lucu.
"Abang gedde, dong ya." Bembi sudah tertawa lepas.
__ADS_1
Adik baru,,,adik baruuu! Membayangkan saja membuatnya merinding, usia sudah segini tujuh belas tiba-tiba ada adik bayi?
Menutup wajahnya memerah malu, "Jangan sampe terjadi, ahlkk!!"
"Enggak boleh gitu lo Endru! Bagaimana pun juga pasti orang tua lo eeee, ya gitulah. Nah, pasti akan terjadi pembuahan," ujar Willangga terang-terangan.
"Pembuahan, kelapamu!" Endru kesal. Melirik orang tuanya sedang berbincang bersama yang lain di depan sana, otaknya tiba-tibaa..
"Jjhhiiyyaaa! Bayangin apa lo, Endru!" ledek temanya.
"Ck. Udah-udah jangan dibahas lagi, kasihan cowok gue ampe malu begitu," bela Neva merangkul Endru menyusupkan kepalanya di bahu cowok itu seraya mengembangkan senyuman jahilnya.
"Senangnya dibela pacar teecinta." Endru mengusap pucuk kepala Neva. Membuat Bembi memegang perutnya seolah mau muntah.
"Perasaan yang mulai tadi kamu deh, Nev," ucapan Yulan membuat Neva terdiam.
"Padahal dia sendiri pun mau punya adik baru juga," timpal Chatryn ikut meledek Neva.
"Nggakapa-apa, gue nau aja punya adek lagi." Jawab begini sajalah dari pada menahan nalu.
Di hari terakhir sebelum ia pergi untuk berobat nanti, teman-teman Endru semakin sering menghabiskan waktu bersama. Seperti tadi malam bahkan semua mereka menginap di rumah Endru dan mendapat baju couple dari Paramitha. Tidak jalan-jalan, hanya di rumah saja terapi memgisi kegiatan hal-hal kecil saja.
Acara melempar bunga adalah yang ditunggu-tunggu semua undangan, merapat mengambil posisi maju ke depan sudah disediakan. Neva membawa Endru bergeser ke samping, teman yang lain ingin ikut tetapi dihalangi belum cukup umur katanya.
"Bang Bian, semoga abang yang dapatkan bunganya!" seru Neva memberikan semangat untuk abangnya.
Bian tersenyum mengangkat jempolnya, cowok itu berdiri tegap di kerumunan orang-orang.
Sementara Adi Putra memilih mundur tidak berniat ikut, ia duduk di bangkunya seraya menikmati pertunjukan ini. Priska cemberut Masnya tidak mau ikut, mau bagaimana lagi?
Duaa!!
Suasana tegang, tangan bersiap sedia menangkap bunga.
Tiiggaa!!
"Aaaaaa!!"
Bunga melayang di udara melewati satu per satu kepala orang-orang yang kecewa tidak meraih, melewati mereka dann..
"PAPAH!!" pekik Neva histeris berjingkrak.
Bunga mendarat di pangkuan Adi Putra.
"Kok sayaa!" ujarnya terbata menunjuk dirinya sendiri.
"Papah gue mau dapat jodoh baru!!" celetukan Neva mendapat toyoran dari papahnya.
Semua tawa lepas merasakan kebahagian ini.
š¹š¹š¹
Acara telah berakhir tepat pukul 18:00 WIB, semua pulang kembali ke rumah meninggalkan gedung kecuali keluarga baru ini.
__ADS_1
"Ndru, jangan lupa, intip dikiiittt! Siapa tahu kamu dapat inspirasi untuk malam pertama kita," bisik Neva jahil mencari gara-gara pada cowoknya sendiri.
Endru tersenyum jahil seraya menarik kepala Neva dan berbisik "Kamu mau tahu cara latihan malam pertama sekarang, hmm?"
Neva tidak menyadari seringai licik di balik telinganya, dipikurnya Endru dalam mode bacanda. Tetapi sejurus kemudian wajahnya memanas, deru napas hangat Endru menjalar di permukaan tubuhnya.
"A-apa." Dan lucunya mulutnya justru meladeni.
Jarak wajah mereka sangat dekat, Neva bertumpu tangan pada gagang pegangan sisi kiri kursi roda. Menit demi detik tidak disadari, sekejap jemari Endru mengarahkan wajah Neva berhadapan dengannya dan,,,,..
Cup!
"Enddruu, siallann!"
Pekik Neva merengut, Endru kembali mencium bibirnya dua kali kecupan.
Baru saja romantisan sedang dipuncaknya, sungguh para dedemit ini menganggu mereka ber dua.
"Sesadd,,,sesadd!! Uyyyy!" ejek Will menjulurkan lidah.
Neva menarik kepalanya, menelungkupkan wajah di kaki Endru merasa malu seubun-ubun. Endru justru tersenyum bahagia membelai rambut Neva. "Will iri, belum bisa cium Yulan. Cepat pulih, Lan, supaya bisa kasih jatah sama babang Willangga! Gue aja udah dua kali dapat jatah dari Neva, di rumah sakit pertama kali. Iya kan, sayang!"
"Endruuu!" Cubitan mesra mendarat di lengan Endru, mana sakit rasanya, justru ini manis sekali.
Will tidak terima, teman yang lain jadi beralih menggodanya, Yulan bersembunyi di belakang Willangga malu iniii. "Wwaahh, berani lo ngechengin gue. Ok!" Gawat, Will tersenyum mengerikan. "PASSUKANN!! SERET NEVA PULANGG! GOOO!"
Menurut.. Chatryn dan Aslika bersemangat menarik Neva dari dekapan Endru, saling dadah-dadah pamit pulang.
"ENDRUU,,GUE MALING ISI RUMAH LOO, YAA!" Itu teriakan Bembi dari dalam mobil. Mereka masih akan tibggal di rumah Paramitha.
"Ayo Nak, kita masuk sekarang." Papinya datang membuyarkan oamunannya kemudian mendorong kursi roda untuk membantu memandikan Endru.
Setelah semua beres, kini keluarga itu memutuskan makan malam bersama di balkon kanar yang telah disewa, sudah dihiasi berbagai macam lilin mungil bermacam bentuk warna-warni, menu makanan tertata di atas meja.
Makan dengan lagap sesekali Arman memberi sedikit candaan dan menggoda ke dua orang tuanya.
"Bunda, Papi. Arman dan Endru ada satu kado spesial untuk ber dua," ucap Arman membuka obrolan setelah selesai makan dan meja sudah bersih.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Michael antusias.
Masuk sebentar ke dalam kamar jaraknya tidak jauh dari balkon, kembali dengan membawa sesustu amplop berwarna coklat. Arman tersenyum meletakkan amplop di depan Bundanya.
Mitha dan Michael saling tukar pandang, terulur tangan Mitha meraih amplop hati-hati membukanya.
Sungguh tidak disangka. Pada akhirnya apa yang telah hilang direbut Arifin kini telah kembali pada pemiliknya. Mungkin nyawa orang tua tidak bisa kembali, biarlah Arifin yang menanggung dosanya.
Surat kuasa yang asli telah berada di tangan Mitha, beberapa tahun lamanya tersimpan bersama Arifin. Air mata bahagia itu tidak dapat dibendung lagi, hampir saja aset itu semua jatuh pada orang yang salah. Dan satu hadiah lagi dari Endru, surat persetujuan dokter telah tertanda tangan untuk dipindahkan ke rumah sakit pengobatan terapi untuk kakinya.
Ke dua paruh baya itu bersyukur Endru sudah bersedia untuk terapi, padahal kemarin hampir menyerah membujuk anak iitu agar menyetujui pengobatannya.
"Ta-tapi, Bunda. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan." Endru masih canggung menyebut panggilan Bunda.
"Apa?"
__ADS_1
"Tolong ja-jangan sampai ada ad-adik ya," ungkap Endru malu.
ššš