
APA-APAAN INI!!
Semua orang heran melihat penampilan Endru yang tidak berpakain rapi saat maju ke depan panggung untuk memberi kata sambutan, bahkan name tage tanda kepemilikan osis tidak tergantung di lehernya, lelaki ini seperti tidak serius maju ke depan.
"Pak Brama! Bagaima bisa Endru maju ke depan dengan berpakain seperti itu?" tanya Pak Arifin cemas. Beliau duduk gelisah di atas sofanya.
"Sa-saya juga tidak mengerti, Pak." jawab Pak Brama gugup.
"Ehemm,,," di atas panggung Endru menggaruk kepala belakang yang tidak gatal, cengengesan tidak jelas.
"MEMALUKAN!" ucap Pak Aristo geram.
Brama dan Arifin mendengar umpatan itu.
"Se-selamat,,"Endru berulah lagi, menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Selamat si- eh, pagi srmuanya!" sengaja ia menjauh dari mikrofon dan berucap terputus-putus agar suaranya terdengar pelan.
"Pagi!" sahut penonton tidak semangat, ada di antara mereka yang sudah tertawa di bangkunya.
Tak ter kecuali Neva dan teman yang lainnya.
Satu menit,,
Dua menit,,,
Tiga menitt,,,
Empat menit,,,.
__ADS_1
"Kok gak ngomong ketua osisnya?"
"Kelamaan woii!!"
"Brama, cepat ambil tindakan. Lihat, semua sudah kasak-kusuk menunggu kata sambutan dari Endru. Waktu yerus berjalan." titah Arison.
Mata Arifin bertemu pandang dengan mata Endru, ayah dan anak ini saling bertatapan tajam.
"Uhum, baiklah."
"Ahh, akhirnya dia memukai kata sambutannya." ucap.Neva lega.
"Sebenarnya bukan saya yang ber hak untuk memberi kata sambutan di perayaan ini, sebab saya bukanlah ketua osis yang baik. Saya adalah ketua osis yang buruk, saya tidak bisa berpidato di depan. Selama persiapan perayaan ini, saya juga jarang mengikuti rapat, bahkan saya tidak memberikan ide maupun gagasan atau bantuan untuk hari ini. Saya ketua osis yang buruk, bukan?" semua tercengang mendengar pengakuan spontan Endru dari atas panggung, guru-guru SMA DHARMA BAKTI jauh lebih malu, Arifin di tempat sudah jantungan setengah mati, tetapi ada satu guru wanita yang tersenyum menikmati semua ini. Endru melanjutkan ucapannya "Untuk itu! Saya akan memanggil siapa orang yang lebih pantas menjabat sebagai ketua osis, sekali gus yang pantas memberi kata sambutan. DIA ADALAH SHANJHIENA WIDLY!"
Deggggg!!! Tiba-tiba suasana menjadi hening.
"Jhena!" Chatryn memanggil menyadarkan Jhena yang mematung di sampingnya.
Semua mata menuju ke arah Jhena yang duduk di ujung kursi, tentu siswa sekolah ini tahu seperti apa Jhena yang pada dasarnya adalah 'siswa kalangan biasa' hanya bermodalkan bea siswa untuk masuk ke sekolah ini. Jhena diterima dalam kepengurusan osis pun adalah usulan dari Endru sendiri, tak heran sebelumnya Jhena dipandang rendah oleh teman osis lainnya.
"WHATT!! JHENA YANG BAPAKNYA MANTAN SUPIR SEKOLAH KITA'KAN?" pekik Ratu mengejek heboh dari tempat duduknya.
Yang mana membuat mereka mendengar apa yang diucapkan Ratu barusan.
"SHANJHIENA WIDLY,,JHENA!" panggil Endru dari atas panggung.
Chatryn menggemgam tangan Jhena memberi semangat, ia sudah memahami situasi yang terjadi saat ini. "Kak Endru akan menunjukkan siapa kamu sebenarnya, Na. Kak Endru tahu kemampuanmu, kamu pantas menggantikan Endru di depan sana. Majulah!"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan maju sekarang!" ucap Jhena semangat.
"Semoga kamu berhasil, Jhena. Kak Endru rela mempernalukan dirinya sendiri demi kamu, sudah pantasnya ini terjadi." ucap Chatryn mendoakan sahabat yang masih menerimanya sampai saat ini membatin. Sedetik kemudian ia mengingat, bahwa Endru adalah salah satu orang yang akan menjadi incarannya.
Jhena berjalan selayaknya perempuan yang berwibawa, gaun indah pemberian Emdru memberi kesan menarik dan mempercantik dirinya. Jhena yang sedang melangkah ke depan, adalah Jhena yang berbeda dari biasanya. Semua mata menatap takjub akan kecantikan Jhena hari ini, saling berbisik memuji perubahan penampilan Jhena.
"Itu Jhena cantik banget," ucap Andreas tanpa sadar.
"EH, WOIII! ANDREAS MUJI JHENA DONGG!!" pekik Bembi heboh. Dan yang lain ikut menggoda Andreas yang sudah merona wajahnya.
"Enggak,,enggak." Andreas menepis malu.
"Ck, udah udah. Jhena udah di atas panghung itu." Will memperingati.
Kembali ke atas panggung. Jhena tersenyum manis menerima microfon dari tangan Endru, menunduk hormat pada penonton yang di bawah. Ia merasakan tepukan pada bahunya, Endru memberikan semangat berbisik di telinganya.
Endru berjalan menuju belakang panggung.
Semua bertepuk tangan mendengar sambutan Jhena, lidahnya tidak melakukan kesalahan saat mengucapkan sambutannya. Isi sambutannya pun sangat bagus dan terperinci, guru-guru baru mengetahui kemampuan Jhena sekarang. Jhena benar-benar sudah layak menggantika posisi Endru, murid sekolah ini juga berbisik-bisik untuk memberi petisi penaikan habatan Jhena dari sekretaris menjadi ketua osis.
"Lebih baik Jhena yang jadi ketos dari pada si Endru itu!"
"Kenapa?" tanya murid dari sekolah lain.
"Dia ketua osis juga karena bapaknya pengurus yayasan sekolah kita, padahal mahh si Endru gak cocok jadi ketos."
Dialog mereka bergosip di bangkunya.
__ADS_1
Arifin dan Brama dibuat malu di tempatnya.
ššš