Kisah ABG

Kisah ABG
Menuju Lokasi


__ADS_3

Sudah dua hari Endru dibantu Daniel dan Willangga mencari tahu tentang Adi Putra dan kasusnya, semuanya seperti ada yang mengganjal. Hari itu Endru mendatangi salah satu kantor polisi, keterangan polisi mengatakan tidak ada nama Adi Putra dan kasusnya tercatat dalam daftar. Mereka mendatangi lembaga tahanan, juga tak ada tertulis nama itu. Padahal sebelumnya, Endru rela menguras uang tabubungannya membayar tebusan dan jaminan. Endru dimaki papahnya, ia tidak peduli. Endru sebenarnya sudah hampir diusir lagi oleh Arifin, namun Paramitha ibunya menahan agar anaknya tetap tinggal di rumah. Endru menepis semua penjelasan papanya yang mengaku tidak pernah merencanakan itu, Endru tidak percaya sama sekali.


Siang ini mereka sedang berkumpul di rumah Will, makan siang bersama di situ. Will bilang papinya sedang di luar kota tiga hari yang lalu berangkat.


Sampai mereka memberi spekulasi, Adi Putra diculik.


"Kenapa nggak dicari aja polisi yang menangkap papamu itu?" tanya Andreas menyela pembicaraan mereka.


"Maksudnya?" Neva belum mengerti.


Andreas menoleh ke arah Willangga.


"Neva, lo yang jaraknya paling dekat dengan polisi itu," ujar Will pelan-pelan.


"Iya," Neva mengangguk.


"Lo ingat wajah orangnya seperti apa? Atau, ada yang lo ingat dari tubuhnya?" Will mengintrogasi.


Neva mengingat-ngingat polisi yang dihajarnya malam itu, yang lain harap cemas menunggu jawabannya


"Namanya! Namanya Lohan sodiartjo, iya itu tang sempat kubaca."


"Pangkatnya?" tanya Will meraih tabletnya yang tergeletak di atas meja.


Neva mengingat lagi. "Nggak lihat. Tapi anehnya, seragam yang dipakainya bahannya beda dari seragam polusi yang biasa, seragamnya lebih tipis dan warnanya juga beda."


Endru merangkul Neva, mengusap-ngusap punggung cewek itu. Neva begitu rapuh akhir-akhir ini, memikirkan papahnya dan sikap abangnya yang menjauhi Neva kalau Endru dan Neva terus menjalin hubungan. Belum lagi tadi malam ia sempat menjaga Yulan di rumah sakit bergantian dengan Will. Neva menceritakannya pada Endru.


"Gue ambilin air minum lagi buat Neva," Chatryn menyodorkan diri pergi ke dapur.


"Punya ayah seorang pengacara, tapi nggak bisa bantu teman sendiri. Chattyn lo memang nggak berguna, bener yang Daniel bilang hidup gue kurang ada mabfaatnya," gumam Chatryn mengingat pertengkarannya dengan Daniel beberapa hari yang lalu, ternyata tindakanya di kelas tiga kenarin membuat Daniel merasa malu.


Daniel sangat marah padanya, dan belum menaafkannya.


"Sini biar kubantu," Jhena mengambil alih cangkir yang dibawa Chatryn, lalu memberikannya pada Neva. Chatryn diam saja, memang tanganya bergetar takut membawa minum takut tumpah. Mana pernah ia melakukan hal seperti ini.


"Gitu aja nggak bisa," Daniel mebcibir.


"Kok itu mulut jadi lemes kalau ngomong sama Chatryn?" tanya Bembi tidak terima melihat Chatryn diperlakukan begitu.


"Caper lagi kan lo," Daniel terus mencibir.


Suasanya jadi tidak enak!


Neva meneguk teh es yang dibuat Chattyn tadi "Enak, seger! Makasih ya Chatryn, udah repot buatin minum lagi buat gue," ucap Neva tersenyum.


"Iya," Chatryn bernapas lega.


Will mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk fokus memperhatikan layar ipadnya, ia tidak terganggu.


"Ternyata orang itu tidak terdaptar di data kepolisian. Gue curiga dia orang biasa, maksudku polisi jadi-jadian," Will mengungkapkan hasil penelusurannya.


"Be-berari pa-paku diculik," Neva ketakutan.


"Belum tentu! Karena kalau menculik papamu, pasti mereka menelepon salah satu anggota keluarga meminta tebusan mungkin. Dan kalau sesuatu terjadi, kenapa tidak ada satu pun tanda atau apapunlah yang membenarkan om Putra itu terluka. Seperti hilang begitu saja," Endru berpendapat.


Will mengerutkan kening. "Kita harus cari orang ini. Alamatnya udah ada di tangan gue," ucapnya bersemangat.


"Alamatnya tidak jauh dari perkampungan sudut kota Jakarta. Kita harus melewati beberapa gang dan menyusuri jalan becek agar sampai di rumahnya. Apa lagi kalau kita ke sana melewati kampung itu, kita tidak boleh berpakain terlalu mencolok," Jhena menjelaskan situasi alamat. Karena memang dia tahu alamat tersebut.


Mereka bersiap. Grup cewe menaiki mobil Endru, bonus Bembi bersana mereka.


Grup cowok menaiki mobil Willangga, mengikuti mobil cewek yang dikendarai Chatryn.


Andreas duduk gelisah di bangku belakang, perasaanya tidak enak. "Kita pulang aja ya," ucaonya pelan.


"Kalau lo takut mending nggak usah ikut," sahut Daniel menohok.


"Bukannya takut. Tiba-tiba perasaan gue nggak enak," ujarnya.


"Alasan. Turun srndiri sana, kalau mau pulang," Daniel menyentak.

__ADS_1


"Ck, jangan berdebat," sahur Rio dari kursi belakang.


"Sial! Sinyal gue dirusak!" wajah Will cemas. Sinyal yang ada di ipadnya tiba-tiba hilang.


"Ada yang ngikitin kita dari belajang!" ujar Rio juga panik.


"Ndru," Daniel pucat pasi. Will mengotak-atik ipadnya.


"Coba nyalakan semua hp kaliam,"


Mereka menyalakan ponsel, dan sama sinyal kosong.


"Gimana kita kasih tahu tim cewek ada yang ngikutin dari belakang? Gue yakin, hp mereka juga pasti disadap. Sial! Siapa yang udah gangguin rencana kita?" Will menggeram. Melihat ke belakang, mobil penguntit itu sepertinya berada beberapa meter dari mobil mereka.


Endru mulai melajukan mobil sedikit kencang. "Yang nyetir Chatryn," ujar Endru.


Sementara di dalam mobil tim cewek, mereka juga merasakan hal yang sama. Bembi yang asik bermain ponsel, sinyalnya tiba-tiba hilang.


"Chatryn, gantian nyetir. Lo pindah ke sini," Neva menginstruksi


"Nggak mungkin berhenti, Nev. Kita lagi ada di jalan besar," sahut Chatryn mulai tidak fokus menyetir.


"Nev, mobil tim cowok ngasih kode ke kita. Tapi itu Will goyangin tangan," Jhena bingung. Menoleh ke belakang mobil melihat bayangan Will duduk di depan melambaikan tangan ke arahnya.


Endru berhasil mendekatkan jarak mobil mereka tepat di belakang mobil tim cewek, melewati satu mobil yang ada di tengan menghalangi mobil mereka.


"Kita diikutin orang lain," jawab Neva sambil berpikir keras.


"Tryn, lambatkan laju mobilnya!"


"Buat apa Nev?"


"Bembi, pindah ke bangku belakang!"


"Iya, Neva," Bembi menurut. Pelan-pelan Bembi mundur dibantu Jhena. Badannya yang gemuk lumayan menyulitkan, tapi Jhena tetap berusaha.


"Chatryn lo mundur ke belakang. Lambatkan laju mobil!"


"CHATRYN!"


Chatryn ketakutan melihat wajah Neva yang menyeramkan. Gugup tangannya menyetel kecepatan mobil, gemetar dibantu Jhena akhirnya Chatryn berpindah ke belakang. Dengan sigap, Neva melomoat duduk di kursi kemudi. Cekatan tangannya mulai menyetir.


"Ada yang main-main sama gue,"


Chatyn dan Jhena merinding melihat seringai Neva dari kaca depan.


"Mobil tim cewek udah ngebut. Gue yakin Neva yang udah nyetir, gue nggak tau caranya gimana," ucap Endru tersenyum bangga melihat kemampuan Neva. "Kita mulai!"


"Cccitttt,,,ciitt!!"


Baik Neva dan Endru mengendarai mobil dengan kencang menghindari mobil yang mengikuti mereka. Layaknya pembalap, tim cowok menganga melihat kemampuan Neva. Endru tidsk mau kalah, temannya meledeknya membuatnya semakin merasa tersaingi.


Neva melesat melewati tikungan tajam dengan mulus, Endru juga sama. Mobil tim cewek terguncang menerobos polisi tidur, Jhena dan Chatryn ketakutan, Bembi berdoa.


Will memperbaiki transmitter yang memang disediakannya tadi, mengumpat kesal karena aksinya gagal. Sepertinya semua alat komunikasi sengaja dirusak.


"Kita berhenti dimana, Nev?" suara Jhena yang gemetaran.


Neva tetap diam fokus memperhatikan jalan. Rupanya mobil itu masih mengikuti, mobil mereka, lincah juga! Tapi Neva lebih lincah lagi. Itu ada truk gandeng yang sedang melaju.


"NEVA, GUE BELUM MAU MATII!" Benbi ketakutan. Jhena dan Chatryn saling berpelukan, menggumam sesuatu yang tidak digubris Neva.


Aaaaaaaaaaaaa!!


Menghitung kecepatan mobil dan truk, membuat Neva harus berhati-hati melakukannya. Neva berhasil menyelip di bawah di tengah truk yang ada di depan tadi, dengan mulus mobil berjalan melewati truk.


Endru tidak mungkin melakukan itu, ia bukan orang profrsional. Mobil sepertinya masih fokus mengikuti mobil Neva, waktunya mengambil kesempatan.


Mobil melaju membelah kerumunan mobil lainnya. Kini mereka ada di jarak aman.


"Turun! Masuk ke dalam kamar mandi. Jangan lambat jalannya."

__ADS_1


Jhena menarik Chatryn dan Bembi untuk keluar, melesat mereka melakukan apa yang diperintahkan Neva.


Neva menggulung rambutnya, berlari menghampiri mobil Will yang sudah berhenti. "Kalian tunggu gue di kamar mandi. Sepi kok!"


"Percaya sama gue," ujar Neva meyakinkan teman-temannya.


Endru dan Neva memarkirkan mobil di gerbang belakang, sudah minta izin tentunya.


"Kak Neva!!" sambut anak-anak itu antusias memeluk Neva.


"Jangan heran anak muda! Neva udah baek sama kite-kite, nyelamatin rumah kami dari si Jack nyang begandalan ntu.' ucap salah satu dari merrka dengan logat betawinya.


"Bukan hanya itu, Bang. Kak Neva juga udah ngasih kita uang buat perbaiki bengkel kita," satu anak kecil menimpali dengan srnyum tulusnya.


"Abang masih bisa bantu, meskipun lo udah jarang maen ke sini," sindir pria rambut gondrong. Yang tidak lain adalah auah asuh anak-anak ini.


"Gua ngarti alasan lo apa, lo harus jaga diri dari bokap lo."


"Ini abang pinjamin mobil box buat kalian pake. Tapi inget jangan sampai rusak!"


"Iya bang Teguh," Neva menerima kunci mobil dengan tersenyum hangat.


Neva menitipkan mobil di bengel Bang Teguh, meminjam pakain mereka yang layak pakai untuk mengganti penampilan. Meminjam ponsel mereka, Will bilang bituh beberapa waktu untuk memperbaiki transmitternya.


Neva yang akan menyetir mobil barang yang mereka pinjam.


"Neva,"


Neva menghentikan langkahnya, berbalik badan. Membalas senyum manis Endru.


"Aku malu, malu belum mengenal kamu sepenuhnya," ucap Endru menatap terpesona.


Neva salah tingkah. "He. Nanti lama-lama kamu semakin tahu aku gimana orangnya."


"Asalkan kita saling bertahan."


"WOII! MALAH ROMANTIS-ROMANTISAN. JALAN, JALAN!!" Bembi berteriak dari celah jendela mobil.


Mereka ber dua tersenyum manis, kemudian mengambil tempat duduk di bangku pengemudi. Neva menyetir dengan sempurna!


Perjalanan ke alamat tersebut, membutuhkan waktu hampir satu jam. Mengingat aksi ugalan di jalan raya tadi sangat membuang waktu.


Yang jadi pertanyaannya sekarang. Siapa yang mengikuti mereka tadi, apa alasannya?


Will menghela napasnya lelah, bersandar pada badan mobil memejamkan matanya.


"Pak Arifin," lirih Andreas tiba-tiba.


Will bangun dari kantuknya. "Maksudnya?"


"Mungkin Pak Arifin mengikuti kita. Mungkin juga dia mencari di mana om Putra. Yang kita tahu, Pak Arifin bilang dia tidak pernah melakukan penjeblosan itu. Kemungkinan besar di sini dialah yang mengikuti rencana kita, mencari tahu keberadaan om Putra."


"Kita harus lebih hati-hati lagi," Willangga mengusap wajahnya.


..


Sementara di sisi lain di sebuah gudang. Pria paru baya itu sedang memukuli orang suruhannya, telah gagal menjalankan tugas.


Buk, Buk, Buk!


"Maaf boss, kami kehilangan jejak mereka." jawab pesuruh sambil terbatuk-batuk.


"Tidak berguma!! Keluar kalian!" bentaknya.


Ia mengamuk, merobek foto putranya sampai hancur berkeping-keping. Wajahnya berkerut marah, melampiaskan emosinya.


"Dimana kau Adi Putra! Aku harus mendapatkanmu lebih dulu, anak ingusan itu menganggu rencanaku. Oh, iya iya! Kau akan keluar dari persembunyianmu, ketika mengetahui adik kesayanganmu Priska terluka!!"


Arifin tertawa ironi.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2