Kisah ABG

Kisah ABG
Rencana Untuk Pulang


__ADS_3

Semua berkumpul di rumah sakit dengan selamat.


Neva sudah dibaringkan di brankar masih dalam keadaan tidak sadar, perban menempel di keningnya dan ada goresan di siku tangan yang memanjang sampai ke pergelangan tangannya. Kata dokter keadaanya baik-baik saja hanya sedikit syok saja.


"Huff!" Bian menghela napas kasar. Papahnya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah ia mengabarinya dan tentunya memberikan cerita bohong kenapa Neva bisa sampai terluka.


"Jangan sampai Papah kami mengetahui cerita yang sebenarnya," ujarnya lugas kepada Endru dan teman-temannya. Mereka mengangguk patuh.


Untuk saat ini tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruangan tempat Neva dibaringkan, mereka sedang menunggu di kursi ruang tunggu pasien. Dokter sengaja menyuntikan obat tidur agar pasien bisa beristirahat terlebih dahulu tanpa gangguan.


"Kalian tidak pulang?" tanyanya menatap mereka satu per satu.


Semuanya diam tak ada yang menjawab.


"Kalau boleh, aku ingin menunggu Neva sampai sadar," Endru yang bersuara pertama kali.


"Aku juga," Wilangga ikut menimpali.


Dan pada akhirnya semua ikut mengangguk setuju pada Wilangga.


Bian tersenyum hangat pada mereka semua, adiknya sudah mempunyai teman di sekolah barunya.


Sementara Yulan yang terap diam di kursinya, wajahnya terlihat mulai pucat dan keringat mulai membasahi permukaan kulitnya, hawa dingin mulai menyelimuti suhu tubuh yang hanya dibalut baju lengan panjang.


"Yulan, kamu kenapa?" tanya Wilangga panik setelah menyadari perubahan wajah Yulan.


Yulan tersenyum mengangguk menjawab Willangga, dingin ini masih bisa ditahannya.


Beberapa menit berlalu mereka hanya mengobrol ringan dan makan camilan yang baru saja dibeli dari kantin rumah sakit. Satu jam berlalu papah Bian sudah tiba dengan langkah tergesa-gesa, langsung mendereti pertanyaan pada Bian.


Setelah dokter kembali memeriksa barulah mereka diperbolehlan masuk menjenguk Neva yang sudah sadar, dengan tenang mereka mengantri memasuki melihat Neva yang sudah melepaskan selang oksigennya.

__ADS_1


Mata Neva melirik satu per satu dengan tatapan ling-lung, ternyata nasibnya masih mujur tidak seburuk seperti apa yang dibayangkan tadi. Neva sudah berada di rumah sakit dengan selamat dan masih melihat keluarga dan temannya, masa depannya pun masih terjaga, hanya badanya saja yang masih terasa sakit.


Mencoba tersenyum menenangkan papahmya yang sedang mengelus puncuk kepalanya. "Neva baik-baik aja kok, Pah," ungkapnya meyakinkan.


Setelah berhasil meyakinkan papahnya, Neva tersenyum lagi melihat penampilan abangnya yang sudah berantakan. Ada empat orang yang dikenalnya sebagai teman satu geng Willangga yang memberi cengiran padanya. Giliran Willangga yang tersenyum manis ke arahnya di ikuti Yulan yang memberi jempol tanda memberi semangat. Sampai pada netranya tertuju pada Endru yang berdiri di samping nakas, senyumnya luntur. Endru tetap melanjutkan senyumnya walaupun tidak dibalss oleh Neva, hatinya tersentil saat Neva buang muka darinya.


"Ya sudah. Ini juga sudah malam, lebih baik kalian pulang saja." ucap Pak Putra dingin. Tiba-tiba suasanya jadi tidak enak, Bian memberi tatapan ke arah pintu menyuruh mereka untuk pulang.


"Kami permisi, Om," Endru berpamitan mewakili semua.


"Iya, pergilah!" sahut Pak. Putra datar.


"Pah," Bian memperingati papahnya yang tidak ramah pada teman adiknya terlebih Endru.


Sebelum benar-benar keluar, sekali lagi Endru menoleh ke belakang melihat wajah Pak Putra yang datar, dengan langkah lesu ia mengikuti temannya yang sudah terlebih dahulu berjalan.


Mereka ber enam berkumpul di parkiran. Endru yang membawa mobil Yulan bersama teman yang lainnya, Willangga memaksa Yulan ikut naik mobilnya.


"Bukan ke kita. Maaf, tapi lebih ke kak Endru," sahut Yulan menanggapi. Menoleh pada Endru yang masih bersandar lemah di mobil miliknya.


"Udahlah, nggak usah dibahas. Kita pulang aja sekarang!" jawab Endru murung.


Mereka memasuki mobil yang mereka tumpangi. Kalau Rio dan ke tiga temannya harus menahan napas dalam mobil karena Endru yang sedang tidak baik, lain lagi dengan Willangga yang tersenyum puas bisa satu mobil dengan Yulan.


Merecoki Yulan adalah hobbi barunya, ingin sekali memgelus pipi Yulan yang menggembung karena ngambek padanya.


Mobil Yulan dikendarai Endru di depannya berhenti mengantar satu per satu temannya sampai ke rumahnya, lalu berlanjut menuju rumah Yulan.


"Kamu masuk gih, langsung tidir istirahat."


"Sok perhatian kamu,"

__ADS_1


"Ya harus perhatian dong samaa--"


"Sama apa, haa?"


"Hehehe!" Willangga terkekeh lucu merutuki kalimatnya sendiri, mengusap tengkuknya yang tidak gatal.


"Huf..Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu juga harus tidur yang nyenyak malam ini ya, jangan begadang."


"Pasti! Kalau sudah ketemu kamu, baik tidur maupun makan pasti akan selalu terlaksana dengan baik."


"Iya deh," Yulan tersenyum cerah melihat tingkah konyol lelaki yang di depannya ini.


Yulan masih berdiri memastikan Willangga masuk ke dalam mobilnya yang sudah ada Endru di dalamnya juga, mobil itu keluar dari gerbang.


"Auuhh!" ringis Yulan merasakan kepalanya mulai berdenyut. Tangannya meraba gagang pintu berjalan tertatih menuju kamarnya, rasa mual menjalar melalui tenggorokkannya. Yulan segera menelan obat yang sudah tersedia di nakas.


Sementara di belahan negara lain, mengamuk menghancurkan barang-barangnya, ia harus segera pulang dan kembali bersekolah lagi. Ia geram sendiri membaca artikel yang sedang dibicarakan semua siswa di sekolahnya, dan semua yang sudah diceritakan Ratu padanya.


Seisi kamarnya berantakan, semua berserakan di lantai.


"Bibi, atur kepulanganku ke Indonesia."


"Tapi masih banyak yang harus kau kerjakan di sini, pemotretanmu belum selesai!"


"AKU TIDAK PEDULI! AKU MAU PULANG!" bentaknya pada managernya.


"MAAF, NOMOR YANG ANDA TUJU SALAH"


Pranggg!! Ponsel mahal itu tidak terbentuk lagi menghantam lantai.


"ENDRU!!!" teriaknya frustrasi.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2