Kisah ABG

Kisah ABG
Rencana Chatryn part 1


__ADS_3

"GUE GAK MAU TURUN SEBELUM LO NGASIH SARAN KE GUE, GIMANA CARANYA GUE IKUT KE OLIMPIADE BUAT DUKUNG YULAN NANTI!!" Ucap Neva meninggi, dari tadi abang kesayangannya ini tidak memberi solusi apa yang menjadi pertanyaannya.


"UHK.. LO, TUH YA." jawab Bian menggeram kesal sambil memukul setir yang tak bersuara. "MANA ABANG TAU SOAL MASALAH LO ITU. DARI TADI MALAM LO NGOCEH KE ABANG MINTA IKUT KE OLIMPIADE ITU, ABANG AJA NGGAK KENAL SIAPA TEMEN LO YANG NAMANYA SI YULAN ITU. LO SALAH ALAMAAT, NENG. KALO LO MAU IKUT, MINTA SAMA GURU LO SANNA, BUKAN SAMA ABANGG. NGERTI TIDAKK!!"


Neva diam. Benar juga, ngapai dia minta saran ke abangnya ini.


Dengan tak sabaran Bian melepas sabuk pengaman adiknya. "Dah. Mening Lo turun sekarang, semangatin temannya sanna!. Kalo Lo ikut juga nggak ada ngaruhnya."


"IHHHHH. ABANG NYEBELLINN!!"


"AUHHHH!! CUBITAN LO UDAH KAYAK MAK TIRI!"


BUUKKK!! pintu mobil ditutup dengan kuat.


Begitulah Neva pada abangnya satu ini, manja menggemaskan kadang juga menyebalkan tapi rame. Bian sangat merasa bahagia melihat perkembangan Neva, dia sudah mempunyai teman baik di sekolahnya. Jarang adiknya itu bersikap seperti ini, mau ikut mendukung temannya secara langsung. Biasanya mah bukan. Ahhk, sepertinya gadis yang bernama Yulan itu telah berhasil melunakkan Neva. Jadi penasaran seperti apa rupa si Yulan itu?


..........


"Neva. Ini tadi aku nemuin kotak ini di loker kamu, sepertinya itu dari seseorang, deh." Yulan memberikan kotak warna hitam itu kepada Neva.


"Hum." Neva tidak menghiraukan kotak itu, diletakkanya aja di atas meja. "Eh, Yulan? Maaf ya nggak bisa ikut nemenin Lo ke sana, nggak di izinin sama Bu Priska , nih." tadi ia menyempatka waktu untuk bertemu dengan Bu Priska agar di izinkan ikut, siapa tahu auntynya itu bisa ngomong sama pak kepala sekolah. ya kan. Ternyata 'Kamu di sini saja belajar.'


"Eh, iya nggak apa-apa." jawab Yulan lagi tersenyum. Cukup tersanjung dibuatnya, kekeh sekali temannya ingin ikut.


Mereka berdua sedang asik bercerita. Sementara Chatryn yang sedari tadi mencuri dengar sudah pergi ke luar kelas dengan terburu-buru, merasa panas pastinya. Ia akan melakukan sesuatu yang licik agar Yulan tidak berangkat ke olimpiade itu, sekalian saja agar sekolahnya di diskualifikasi.


"PERHATIAN KEPADA SISWA-SISWI YANG IKUT SEBAGAI PESERTA OLIMPIADE IPS TINGKAT NASIONAL, AGAR SEGERA BERKUMPUL DI PARKIRAN SEKOLAH. KITA AKAN SEGERA BERANGKAT. TERIMA KASIH."

__ADS_1


"Semangat, Nak. Yakin kepada dirimu sendiri kalau kamu pasti bisa menjawab soalnya dengan baik. Kami semua di sini mendoakan dan mendukung kamu." Bu Prita mbelai surai Yulan, memberi semangat untuk muridnya Yulan.


"Iya Yulan. Kamu pasti bisa."


"Semangat Yulan."


"Cahyo Yulan."


Semua murid di kelas itu berseru lantang memberi dukungan kepada Yulan.


Yulan melangkah dengan pasti menuju pintu, berbalik sebentar tersenyum menatap. semua temannya yang ada di kelas. Sampai matanya melirik ke samping, ada Will yang sedang menunggunya di balik tembok.


"Ini gelang buat kamu."


"Untuk?"


"Emang di gelamg ini ada jawabannya?"


"Nggak sih. Hehehe. Tapi ada aku di dalam gelang ini. Aku akan menjadi bayangan penyemangat kamu di dalam gelang ini."


"Iiih, gombalmu terkadang tidak nyambung."


"Jangan gitu dong. Anggap aja aku ada di dalam gelang ini.. Yah, yah, yah!"


"IYAAAA!"


"Asiikk. Makasih, Yulan."

__ADS_1


Cup.


Will mencium gelang yang sudah ada di pergelangan Yulan.


ROMANTIS BUKAN!!!


Kembali ke kelas.


Dengan alasan yang panjang kali lebar dicampur drama akting yang meyakinkan, akhirnya Neva diizinkan untuk ke toilet sekolah.


Bukan tanpa alasan dia melakukannya. Setelah beberapa menit kepergian Yulan, Chatryn datang ke kelas dengan senyum misteriusnya. Tadi mata mereka sempat bersitegang, pasti ada apa-apanya.


Sebelum terjadi sesuatu yang sangat gawat, ia harus mengetahui rencana licik apa yang sudah dilakukan perempuan itu.


"BAGAIMANA BISA INI TERJADI PAK EKO? APA SEBELUMNYA TIDAK DILAKUKAN PENGECEKAN ULANG, BAGAIMANA KITA BISA PERGI KALAU BAN BUS ITU KEMPES!" bentak Pak kepala sekolah pada pria paru baya yang bertugas sebagai satpam juru parkir.


APAAAA!!


"Lapor, Pak! Ban mobil bapak juga kempes, Pak." ucap salah satu guru yang sedang melapor keadaan.


"Taksi onlinenya datang sekitar 10 menit lagi, ini tidak terkejar, Pak. Satu mobil saja tidak akan cukup untuk menampung 10 orang. Sekarang, kita butuh satu mobil lagi untuk menampung tim Geografi."


Ini di luar rencana. Bagaimana bisa ban bus sekolah dan ban mobil kepala sekolah kempes secara bersamaan? Sementara dua mobil sudah berangkat terlebih dahulu membawa peserta yang lain, untunglah masih ada dua mobil yang tidak kempes.


"Ini pasti ulah Chatryn." lirih Neva yang sedang mengintip di sudut parkiran.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡

__ADS_1


__ADS_2