Kisah ABG

Kisah ABG
Hampir Saja


__ADS_3

Bian tidak ikut turun di depan rumah mereka, hari ini ia bertugas shif sore-malam sebagai pelayan di salah satu restoran terbesar di kota ini. Mengemban tanggungjawab sebagai anak pertama membuat ia harus ekstra keras dalam mencari pekerjaan, selain menggeluti pekerjaan utamanya sebagai penyiar radio.


Neva yang turun dengan wajah lusuhnya melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelum mengetuk pintu, terlebih dulu ia merapikan penampilannya. Neva harus tetap seperti biasa saat di rumah, ia tidak mau membawa masalah tadi ke dalam keluarganya terutama papahnya.


"Hai, Chil!" sapa Neva dengan riang.


"Hung. Kata papah cepat ganti baju, kita makan siang bareng." ujar Gio membalas saapaan sang kakak. Gio meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu lalu pergi ke arah dapur.


Aaaaa. Muncul ke usilan Neva melihat ponsel adiknya yang ditinggal begitu saja, ia mengambil lalu mengotak-ngatiknya.


Neva tersenyum geli dibuatnya, apa yang dilihatnya dalam berbagai aplikasi di ponsel Gio. Ternyata Gio menginstal aplikasi yang katanya dapat menghasilkan uang apa bila menonton vidio di dalam aplikasi tersebut.


"Bocilll. Gila!! Koinnya udah ratusan ribu!" pekiknya.


Neva terlalu asik berselancar dalam dunua ponsel Gio sampai ia tidak menyadari


"KAKAKKK, JANGAN MAININ HP ORANG TANPA MINTA IZIN!!"


BUKKK


Satu pukulan bantal sofa melayang tepat di wajah Neva.


Neva justru tertawa lebar melihat tingkah konyol adiknya ini, sudah lama sekali seisi rumah tidak mendengar suara lantang dari Gio.


"HA HA HA. MAAP, CHIL. HABISNYA HPMU NGANGGUR DI SINI, JADI KAKAK MAININ, DEH." Neva semakin menambah ke kesalan Gio.

__ADS_1


Wajah renaja SMP ini memerah malu, bibirnya manyun ke depan. Ohh, sungguh menggemaskan dengan wajah imutnya. Gio meraih tangan Neva tapi tidak berhasil.


Akhirnya ke dua kakak beradik ini saling mengejar mengelilingi ruamg tamu, Gio masih berusaha merampas ponselnya sambil berteriak kencang, sementara Neva berlari menghindari kejaran Gio sambil tertawa lepas.


"NEVA CEPAT KEMBALIKAN HP ADIKMU ITU, GANTI BAJUMU LALU KITA MAKAN SIANG BERSAMA!"


Seruan papahnya dari dapur menghentikan ulah mereka. Gio duduk di sofa dengan nafas ngosngosan sudah lelah mengejar kakanya, wajah cemberutnya terlihat manis. Neva menghampiri adiknya lalu merangkul dari samping.


"Jangan lupa tukar koinya, kita belanja online aja. Ya ya ya," bisik Neva menggoda adiknya.


Cup


Neva memberi ciuman sayang di pipi Gio yang masih memerah, lalu naik ke atas tangga menuju kamarnya.


Di sudit ruang dapur Pak Putra tersenyum bahagia melihat tingkah ke dua anaknya, tidak sia-sia beliau menyempatkan waktu pulang ke rumah di sela-sela kesibukannya sebagai dosen. Tontonan seperti ini sangat jarang terjadi teruta Gio, anak itu kehilangan keceriaannya saat mengetahui bahwa ibu mereka meninggal setelah melahirkan Gio. Anak bungsunya ini merasakan kecewa yang sangat dalam, tetapi tidak dapat menyalahkan siapa pun. Akibatnya, Putra harus menerima Gio yang mengalami trauma hebat.


"Neva," Pak Putra mengelus rambut kuncir kuda putrinya dengan sayang. Tiba-tiba saja Neva datang dan langsung memeluknya dari belakang. Ia tersenyum bahagia.


"Mana tahu, dengan pelukan ku lelah papah jadi hilang. Iya nggak?" tanya Neva masih memeluk erat papahnya. Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam pundak kokoh itu, menghirup aroma tubuh papahnya.


"Ya sudah. Perut papah sudah keroncongan, tadi kelamaan masaknya. Eh tambah lama saja kita makanya karena ulah putri papah ini. Kira-kira kapan yah, yang sedang manja ini mau belajar masak?"


Jlep.


"AAA, PAPAHH!!" raung Neva tersindir.

__ADS_1


..........


Dengan syarat yang stengah hati diterima papahnya, motor gede yang sudah lama tidak dipakai akhirnta mengasapal kembali.


Neva berhasil merayu papahnya agar mengantar Gio les dengan mengendarai motor kesayangannya ini. Tentu ia juga harus menerima syarat balik, harus memakai helem dan jangan ngebut di perjalanan.


Tapi semua itu tidak berlaku.


Waktu mengantar Gio. Ok lah, itu masih bisa dilaksanakanya, adiknya ini manti mengadu lagi. Bisa-bisa ini motor di jual lagi. Tetapi tidak saat pulang.


Neva mengendarai mogenya dengan berkarisma, celana jeans hitam, baju kaos oblong hitam, helem hitam, sepatu model laki-laki, tatanan rambutnya yang acak-acakan. Ditambah badan yang tegap dan terlihat santai tanpa merasa berat mengendarai motor yang cukup besar ukurannya.


Setelah beberapa meter dalam perjalanan, Neva menyadari sesuatu.


Netranya melirik ke belakang dari celah helemnya, ada motor yangengikutinya dari belakang.


Neva mengatur kecepatan laju motornya di atas rata-rata, menyusup ke tengah mobil yang berlalu-lalang di aspal yang sama. Walaupun sedikit ketakutan, tetapi ia harus segera menghindar dari orang yang mengejarnya.


Tanpa peduli suara klakson yang meneriakinya, Neva tidak kehilangan fokus dalam mengendarai motornya.


Ia tidak boleh pulang sebelum berhasil menghindar, ia tahu siapa yang mengejarnya. Sebenarnya Neva memberikan alamat palsu ke dalam data saat mendaftar jadi anggota geng motor 'Black Jack'


Citttt.


Neva menghentikan motornya di depan mall, menepi ke parkiran lalu masuk ke dalam mall. Tidak mungkin orang itu mengejarnya sampai ke keramain orang seperti ini, biarlah ia menunggu saat orang itu tidak mengejarnya lagi.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2