
Plung!
Suara batu kerikil tenggelam ke dalam air danau yang dilempar Neva, mengisi keheningan yang melanda di antara mereka berdua. Hari ini Endru terlihat aneh, wajahnya murung mendiaminya. Ditanya kenapa, tidak mau jawab.
"Lo kenapa dari tadi diam aja, sih? Nyesel gue diajakin jalan tapi justru didiamin," gerutu Neva.
"Cariin gue kerja dong!"
"Ha?" otak Neva belum konek.
"Gue mau cari kerja," ulang Endri.
"Lo, kerja? Mak-maksudnya, cari loker?"
"Hum," sahut Endru singkat.
Neva ketawa ngakak, dia masih belum memahami apa yang dimaksud Endru.
"Uhm," meredakan sedikit suara tawanya merasa bersalah melihat mimik wajah Endru yang terlihat serius. "Kenapa mau cari kerja? Kan situ punya banyak duit?"
"Mulai tadi malam gue ngekos bareng si Dani, diusir bokap."
Neva tercengang. "Kok bisa?" suara Neva gemetar.
"Karena masalah di sekolah semalam, papah marah dan ngusir gue lalu menarik semua fasilitas yang gue pakai."
"Sebegitu marah papah kamu?"
"Um,"
Neva bergeming, tidak bisa memberi saran atau masihat untuk Endru.
Ting!
Endru merogoh ponsel dari dalam saku celananya, membaca pesan sekilas lalu memasukkan ke sakunya.
"Dari siapa?"
"Nggak penting! Pulang aja yuk, kita nyusul temen-temen udah nunggu di rumah Will." Endru berdiri membersihkan celananya dari rumput dedaunan. Disusul Neva mengikuti langkah Endru menuju motor yang dipakai mereka tadi, sedikit perdebatan akhirnya Endru yang membawa motornya.
Hari libur ini Endru mengajak Neva jalan-jalan ke danau dekat rumah Willangga, sekaligus berkumpul bermain di rumah Willangga. Neva memeluk erat pinggang Endru dari belakang, sementara Endru tersenyum bahagia di balik helemnya. Menikmati angin dan melintasi jalanan dengan motor, aroma tubuh khas Endru menyeruak di hidung Neva. Um, rasanya aroma tubuh ini terasa nyaman dan membuatnya lebih rileks, dekapan Neva memberi kesan hangat pada Endru. Rangkulan tangan itu sangat pas melingkar di pinggangnya, ia menikmati saat seperti ini. Bolehkah perjalanan ini lebih lama lagi? Um, bisakah dibilang ini semacam kencan?
"OIII, SEPASANG SEJOLI UDAH BALIK NIHH!!" teriak Bembi heboh menyambut motor Endru dari gerbang rumah.
Seisi rumah jadi heboh, mereka semua ikut keluar merecoki Endru dan Neva, Endru biasa saja Nevanya yang malu.
Ada Dani, Rio, Andreas, Bembi, Yulan yang dijemput dengan seribu akal, tentunya tuan rumah Will beserta papihnya yang lebih heboh dari mereka.
"TES,,TESS!!"
Semua menoleh ke arah ruang tamu, tampak seorang lelaki paru baya bertubuh gemuk sedang memegang seperangkat akat karoke di tangannya. Bembi langsung berjalan menyusul papi Will yang sedang memasang kabel, "KITA KAROKEAN KUYY!!" teriak Bembi heboh.
"AYO,,ÀYOO!! KITA KAROKEAN, JOKET SAMA-SAMA! AHAHAHA!" pak Valen berseru heboh. Will sudah memerah malu, papanya ini memang sangat lincah walau usia tidak mudah lagi.
Baru saja suara Bembi mengalun mengisi ruangan, tiba-tiba suara mikrofonnya melengking mendengung di telinga. Sontak semua orang menutup telinga dan memprotes nyanyian Bembi.
"EEE,,YA UDAH,,KALIAN YANG NTANYI AJA DAH!! GANTIAN GANTIANN!" ucap Bembi merengut.
"Ayolah guyss! Jangan malu-malu!!" pak Valen memberi semangat sambil bertepuk tangan.
"Yulan ajalah, kan dia anak kesinan, pasti bisalah sedikit nyanyi," usul Neva tersenyum tengil ke arah Yulan.
"Nggak. Kamu aja, Neva." tolak Yulan halus.
"Ahk, kok nggak mau? Padaha papi mau denger suara merdunya calon mantu," celetuk pak Valen nyeleneh menggoda Willangga yang duduk di samping Yulan.
Yulan memalingkan wajah malunya. "Apa-apaan sih, Pih," ucap Will malu-nalu.
"CIE,,CIEE!! CALON MANTU..AHAHAY!! ADA YANG UDAH DAPAT RESTU NIHH!!"
Rio ikut menimpali.
"Jadian aja belum," sahut Daniel dari tempat duduknya.
Mereka semua mulai mengolok-olok Will dan Yulan, sampai akhirnya berhenti karena Endru meraih mikrofon yang ada di samping Pak Valen.
"Endruuuuu!!" seru mereka girang.
"Baiklah, aku ingin menyanyikan sebuah lagu yang berjudul takkan pisah," Endru memulai lagunya.
saat nanti kita tak bisa
saling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
__ADS_1
berusaha menjauhkan kita
Suara Endru mengalun sesuai irama, seisi ruangan hening mendengar lagu yang dinyanyikan Endru.
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini
Tatapan Endru terkunci melihat Neva, sedetik kemudian Neva membalas tatapan itu sambil memberikan senyuman manis. Siapa pun yang ada bersama mereka sekarang pasti dapat melihat tatapan penuh cinta dari Endru, bahkan orang yang mengenal Endru mungkin tidak menyangka akan melihat tatapan lembut kepada seorang wanita.
saat nanti kita tak bisa
saling menyentuh, memandang wajahmu
kuatlah sayang karna mereka
berusaha menjauhkan kita
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
Endru mengalihkan perhatiannya, tiba-tiba ia teringat pertengkaran dengan ayahnya tadi malam. Dengan hati bergemuruh ia mencoba untuk tidak menangis saat ini. Apa lagi mengingat kata-kata papahnya yang membawa nama Neva dengan kalimat kebencian.
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
ku kan selalu mencintaimu
takkan ku bohongi hati ini
hanya kamu yang ku mau
cuma kamu yang ku rindukan
saat kau tak di sini. "Neva, makna lagu ini adalah kita yang sesungguhnya" gumamnya dalam hati.
PROKK PPROKKK,,!!
"Bagus suara lo, Ndru!" puji Daniel tulus.
"Lagu yang sesuai dengan hati," Andreas ikut bersuara.
Endru tersenyum manis, tidak menyangka juga bisa sebagus ini. "Thanks semuanya."
"Oi Neva, suara Endru bagus nggak?" tanya Will penasaran.
"Ung. Ba-bagus kok," jawab Neva tergagap.
"Hanya itu?" Rio ikut mengompori.
"Bagus,,bagus,,bagus!! Udah ahk!" ujar Neva salah tingkah. Endru terang-terangan menyorot wajahnya, membuatnya salah tingkah sendiri. Endru tersenyum lucu di tempatnya, padahal ia juga penasaran menunggu tanggapan Neva.
"Duetlah!" celetukan Andreas sukses membuat seisi ruangan gaduh lagi.
🌹🌹🌹
Makan siang telah selesai dipenuhi canda tawa meramaikan suasana, merecoki dua pasangan Yulan-Will dan Endru-Neva, Bembi yang banyak makan, Rio yang pasrah saja disuruh melayani Daniel, Andreas selalu tentram di tempat. Pak Valen ikut meramaikan memberi lelucon petuah-petuah ala anak muda.
Masing-masing mereka mendapatkan tugas. Endru dan Neva merapikan meja makan, Will dan Yulan mencuci piring, Daniel dan Rio membersihkan sampah sisa, Andreas merapikan peralatan karoke, Bembilah yang paling tersiksa mengipas Pak Valen yang sudah duduk bersantai tepian kolam renang.
"Melamun," Yulan tersentak merasakan dingin usapan jari Will mengelus pipinya.
"Uhg, akhirnya selesai juga." Yulan menggantungkan lap tangan yang baru saja dipakainya.
"Capek?" tanya Will menopang badan di dinding wastafel.
Yulan tersenyum simpul, "Enggak. Aku seneng banget hari ini, kita bisa main rame bercanda bareng teman-teman." Yulan membuang pandang menutupi raut sedih wajahnya.
Will cemas Yulan sedih, ia tahu Yulan sedang memikirkan penyakitnya. Will meraup pipi Yulan "Yulan," suaranya tercekal di kerongkongan "Mulai hari ini saat ini detik ini aku berjanji, aku akan selalu ada di samping kamu," menyeka air mata Yulan yang sudah jatuh "A-aku akan berusaha semampuku untuk terus melindungi ka-"
"Willangga," Yulan memotong ucapan Will. Menurunkan kedua telapak tangan Will dari wajahnya, menetralkan degung jantungnya yang sedikit nyeri. "Jangan berjanji seperti itu," ujarnya terisak lirih.
"Kenapa kamu ragu?" Karena penyakit kamu? Itu bukan halangan untukku," lugas Will sangat yakin.
Yulan tiba-tiba menangis, sigap Will membenamkan isakan Yulan dalam pelukannya mengusap punggung Yulan yang bergetar.
"Aku mengidam kelainan jantung bawaan, jantungku rusak."
__ADS_1
DEG!
Bagai disambar petir di siang bolong, ini terlalu mengejutkan. Dunia seolah runtuh menghentikan waktu, Will mencengkram tangannya sendiri, isakan Yulan membuatnya terasa sakit, mulutnya tak mampu berucap.
"Aku akan dibawa berobat ke luar negeri, Will. Aku nggak bisa bersama kamu lagi, bareng teman-teman lagi, main di ruang kesenian lagi, sekolah di Dharma Bakti lagi. Aku a-aku,," tidak mampu mengungkapkan perasaanya. Yulan terus menangis dalam pelukan Willangga, seluruh ketakutannya ia curahkan di bahu Will lelaki yang dicintainya. Tangannya memeluk Willangga erat.
"Kapan kamu berangkat?" tantanya tidak iklas.
"Seminggu lagi," jawab Yulan.
Will tercekal. Ia melepaskan pelukannya, membasuh wajah Yulan dari air keran wastafel, menyeka air mata Yulan agar tidak merusak suasana wajah cantiknya. Ia harus tetap tersenyum agar Yulannya juga tersenyum Ia tidak boleh tetlihat panik agar Yulan tidak panik.
"Kita masih punya waktu seminggu lagi untuk menghabiskan waktu, kita akan hadapi bersama-sama."
Yulan mengangguk.
"Will!"
"Iya?"
"Aku suka sama kamu!"
"A-apaa! Aku lebih menyukaimu, aku cinta kamu Yulan."
Will memeluk Yulan dan mencium keningnya lama.
"Nggak romantis banget nembaknya di wastafel," gumam Yulan terkekeh kecil dalam pelukan Will.
🌹🌹🌹
"Gimana, apa kata orang tuanya Yulan?" tanya Will begitu Neva sudah masuk ke dalam mobil yang baru saja mengantar Yulan pulang sampai ke depan pintu rumah.
"Aman kok. Mamahnya sih tadi yang nongol di depan pintu, nggak dimarahi kok. Senyumnya lembut banget tadi, calon martua kamu Will. Untung mamahnya percaya sama alasan yang gue bilang."
"Ok,,kita lanjut perjalanan!" Will melanjutkan melajukan mobil. Daniel pindah dari bangku penumpang belakang ke bangku depan samping Will yang menyetir, kini Endru dan Neva yang duduk satu bangku.
"Ndru, lo jadi cari kerja?" tanya Neva sedikit tergelak.
"Nggak jadi, tadi abang gue udah transfer uang ke nomor rekening." jawab Endru fakta.
"Mantap itu!" sahut Will dari depan.
"Besok kita naik angkot, siap-siap aja lo Ndru! Turun di gerbang sekolah, ya kan!! Yang biasabya datang turun dari mobil kalau enggak naik motor, taunya besok lo turun dari angkot. Gempar satu sekolahan!" tutur Dani ngakak sendiri membayangkan.
"Bener tuh, Dan. Tiba-tiba jatuh bangkrut." Will ikut mengompori.
"Cewek yang ngefens sama lo, auto panik!" Daniel lagi.
Dikatain seperti itu membuat Endru sejenak berpikir, "Lo ilfil nggak kalo gue miskin, Nev?"
"Engg- Eh," Neva menutup mulutnya terjebak pertanyaan Endru.
"Enggak! Ahaha, Neva menjawab enggak! Lo berarti salah satu cewek yang ngefans sama Endru!" Will menggoda ke dua temannya.
Daniel dan Will tertawa ngakak, Neva malu-malu, Endru tersenyum mempesona nengedipkan mata merayu Neva.
Obropan abstrud mereka berhenti di gerbang rumah Neva, Neva turun dari mobil.
Endru membuka kaca mobil melihat Neca melangkah masuk, masih sempat saling melemparkan senyum sebelum gerbang itu tertutup. Namun senyuman itu langsung luntur ketika melihat pandangan papahnya Neva yang menusuk dari jauh, dari nada suaranya sepertinya Neva diomeli papahnya.
Endru menutup kaca jendela mobil bersandar lesu menghela napas lelah, pikirannya menerawang kemana-mana.
"Ck, kasihan nasib cinta kalian berdua!" ucap Daniel memecah keheningan. Tidak ada yang menyahut, mobil melaju menecah jalanan sore. Dari pada krik krik, Dani memainkan ponsel membuka aplikasi chat WhatsApp, kepalanya mulai gatal melihat ada nomor baru pagi.
"Will, lo nyebarin nomor wa gue sama si Ratu?" tuduh Daniel.
"Ya nggak lah! Kok dari tadi lo nanyak itu terus? Tadi nomor Chatryn sekarang nomor si Ratu, dapat dua cewek sekaligus lo. Ngeri juga!" cerocos Will tertawa mengejek.
"Ahk, sialan lo! Gue nggak suka diginin, mau ganti nomor nggak mungkin juga. Ck,,SIALL!! RATU NELPON GUE!!" ujar Dani stres sendiri.
"Ladenin aja dua-duanya!" Endru memberikan usul.
"Nggak mau, ogah gue!" jawab Daniel mendumel.
"Kenapa? Dua-duanya sama cantik, Chatryn murid pintar Ratu murid populer di kelas tiga," ungkap Endru.
Daniel tidak menjawab, berat rasanya untuk jujur. Iya sih. Baik Chatryn maupun Ratu bukan perempuan yang tergolong idamannya atau tipenya, tetapi ada alasan lain yang membuat ia menutup diri untuk membuka lingkup berpacaran.
"Gue tau! Dan, dengerin nasihat gue. Lo harus move on dari Jhena, Andreas bilang dia menyukai Jhena."
"Basi banget nasihat lo, gue udah lama lupa sama Jhena. Bukan itu alasannya, memang gue masih nggak mau pacaran. Titik!" bantah Daniel.
"Apa iya? Gue belum bisa pastikan itu, gue harus mengalah demi persahabatan."
"Oh gitu!" Endru yang menyahut.
__ADS_1
👇👇👇
Â