Kisah ABG

Kisah ABG
Pencarian


__ADS_3

Inggrisa memejamkan matanya erat menahan rasa panas yang berasal dari dalam pori-pori kulitnya, mengerang gelisah harus bertahan dengan kondisi seperti ini, keringat membasahi permukaan wajah membuat rambutnya lepek bahkan sampai menembus sprai ranjang. "Panas," keluhnya dengan napas yang tertahan di kerongkongan.


"Inggrisa," Endru menyapa gadis itu.


Inggrisa membuka matanya, mencoba tersenyum namun sulit karena otot wajahnya terasa lengket ditarik seperti ada lem yang mengikat. Bola matanya menatap nanar memamdangi Endru yang seperti enggan untuk berdekatan dengannya, cowok itu justru membuang muka dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca memasulan ke dua tangan ke dalam kantung celana seragam sekolah.


"Lo tahu. ke dua orang tua lo sekarang sedang bersama dokter yang merawatmu, menjelaskan semua yang terjadi tentang kondisimu. Coba lo bayangin deh. Kira-kira apa ya yang dikatakan dokter itu tentang penyakit aneh lo ini? Lo juga nggak tahu apa yang terjadi sama lo, iya'kan?"


Inggrisa tidak bergeming, rasa was-was menyelimuti hatinya. Bagaimana kalau sampe dokter mengatakan hal hina yang sudah dilakukannya seeaktu di luar negeri sana? Kejadian itu baru setahun yang lalu pasti bekasnya masih jelas ada. Wajahnya terlihat semakin pucat, gelombang tubuhnya mulai mengeluarkan rasa panas itu karena rasa terlalu cemas.


"Lo mau ngomong apa?" tanya Endru mencibir melihat mulut Inggrisa yang hanya setengah terbuka. "Gimana ya reaksi om Aris mengetahui kalau putrinya pernah hamil dan-"


"End-Endru, ap-apa yang. Uhukk!" rasanya kulit wajah ini seperti ditarik paksa. Giginya menggertak emosi terkejut, tangannya mencengkram sprai hingga kusut, darahnya mendidih melihat seringai Endru menandang hina pada tubuhnya.


Dari mana dia tahu?


Melangkah membungkuk di dekat telinga Inggrisa, membisikan sesuatu yang spontan membuat tubuh Inggrisa menegang. "Gue punya buktinya," bisik Endru menyeringai tajam.


"Ha-ahk. Ka-kau!" napasnya tersengal-sengal nyeri di wajahnya semakin menjadi.


Merogoh ponselnya membuka galeri mencari folder rahasia dalam file tersembunyi, mengarahkan layar ke hadapan wajah cewek ini. Vidio mesum Inggrisa sedang bercinta dengan rekan pria di dunia modelingnya.


"Ahk-Ummppphh,,ummphhh!"


"Mau teriak lo, humm??!" Endru menggeram menutup mulut Inggrisa dengan tangannya.


Inggrisa meronta napasnya tersesak dengan wajah yang memerah marah. "Hahhh!" tarikan bapas lega setelah beberapa menit akhirnya Endru melepaskan tangannya. "Lo nggak akan bisa sebarin vidio it- ENDRU!! SHAKITT!" rintihnya meraung Endru menyucukkan kukunya pada perban di kakinya.


"Siapa juga yang nyebarin vidio ini!" ujarnya dengan nada penuh arti matanya menyorot tajam.


"A-apa maksud kamu?" tanyanya terbata. Rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi.


"Batalkan pertunangan ini. Kalau tidak-" Endru membuka ponselnya lagi dan menunjukkan layar yang sama, mencari ikon 'berbagi', "Vidio ini langsung tersebar luas di sosial media. Dan tentunya, itu membuat karier lo hancur," ujarnya penuh ancaman.


"Tidak semudah itu!" hardiknya.


"Ohhw. Lo menolak rupanya!" cowok itu sekarang bukan Endru yang biasa dilihat banyak orang. Rasanya ada yang berbeda pada cowok ini, hari ini Endru terlihat seperti orang jahat di muka Inggrisa.


Inggrisa masih diam menatap langit-lanngit atap rumah sakit. Pikirannya kacau memilih ancaman yang dilanturkan Endru. Dia sudah sangat berhati-hati melakukan semua itu di luar sana, bahkan ia rela membayar penjaga khusus agar dapat melindunginya dari orang yang mungkin akan mengenalinya. Dia jufa sukses mengarang cerita berbohong pada ke dua orang tuanya, memperdaya orang suruhan dari orang tuanya. Semuanya cukup menutup untuk melakukan perbuatan bebas ini'kan? Tapi Endru, dari mana dia bisa tahu bahkan mempunyai buktinya juga?


"Satu!"


Inggrisa tergagap seperti orang yang tenggelam.


"Dua!"

__ADS_1


"Ti-gue posting ya!"


"Tig-"


"Okkeh, baiklah!" seru Inggrisa dalam satu tarikan napas. "Aku akan bicara pada orang tuaku nanti," ucapnya lirih.


Endru melihat apakah ada kebohongan di sana, mungkin memberi sedikit keringan tak apalah.


"Buka mulut!" perintahnya tegas.


Inggrisa masih belum mengerti.


Dari pada makan waktu banyak, mending sekarang dilakukannya. Mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kapsul pil warna putih susu, mengambil air minum dari atas nakas, memaksa Inggrisa membuka rahangnya, memasukan kapsul tersebut secara kasar ke dalam mulut Inggrisa.


Inggrisa tidak bisa melawan dalam posisi seperti saat ini, obat apa pun itu sekali pun racun, ia sudah bisa menerimanya meskipun nanti ia bisa mati.


"Lo nggak enggak.perlu tahu, dari mana gue punya buktinya.Vidionya udah gue hapus ya. Eh, tapi di laktopku masih ada salinannya! Jadi lo masih harus nurutin beberapa permintaan gue. Permisi!"


Cewek ini tidak berkutik, mengumoat Endru dalam hati. Siall!! Mengapa ia bisa harus berurusan sampai seperti ini menghadapi mantan pacarnya ini? Inggrisa mebangis merutuki dirinya sendiri.


Setelah beberapa menit kepergian Endru, Inggrisa mulai merasakan hawa panas dari tubuhnya sudah mulai beekurang, rasa gatal di permukaan kulitnya mulai bisa ditahannya. Sebenarnya obat apa yang diminumnya tadi?


🌹🌹🌹


"Septer, aku takut Neva kenapa-kenapa. Di mana mereka menyembunyikan Neva, siapa yang menculiknya, apa tujuan mereka?" tangis pilu Priska dalam dekapan kekasihnya. Septer memeluk Priska mengelus surai wanita itu penuh rasa sayang.


"CCTV di depan gerbang mati pada saat kejadiannya, itu menyulitkan kami untuk mencaritahu nomor plat mobil yamg telah membawa putri anda," ungkap pria berseragam itu dengan rasa sesal.


"Apa tidak ada cara lain, Pak?" Septer bertanya dengan harapan besarnya.


Polisi itu tersenyum sekilas "Ada. Coba kita telusuri dulu siapa-siapa saja pihak yang berkemungkinan tidak menyukai saudari Neva, atau mungkin rival dari orang tuanya."


Priska terhanyak, melepaskan diri dari rangkulan Septer kemudian mengusap air matanya. "Arifin," jawabnya.


"Tim kami sudah berangkat menuju lokasi kejadian. Dan untuk selanjutnya kita tunggu perkembangannya. Apakah ada orang yang mengancam anda, atau meminta tebusan?"


"Sampai saat ini belum ada, Pak. Tapi saya yakin, orang yang sebutkan tadi ada sangkut pautnya dengan penculikan keponakan saya," jawab Priska menggebu-gebu. Tangannya mengepal geram membayangkan lelaki itu yang sudah berani main licik menyentuh putrinya.


"Kami akan menelusuri ini."


Mereka semua keluar dari kantor polusi dengan berbagai macam pikiran.


Willangga, Rio, Andreas, Bembi dan Yulan sudah merasa cemas menunggu kabar selanjutnya. Mereka juga masih belum menyangka penculikan Neva bisa terjadi.


Pak Septer langsung pulang membawa Bu Priska yang sudah kehabisan tenaga. Sementara mereka ber tujuh memilih berkumpul di taman depan kantor polisi.

__ADS_1


"Chatryn, Jhena, kalian ber dua benar-benar nggak tahu di mana Neva sebelum penculikan itu terjadi?" Willangga bertanya dengan menatap ke dua temannya ini lamat-lamat.


"Will, gue bener-bener nggak tahu. Setelah Neva nganterin gue ke Lab Kimia terus kami pisah dia pamit pulang duluan sama gue. Udah sampe situ doang," jawab Chatryn dengan lantang.


Yulan menatap netra Chatryn dalam-dalam, tidak ada kebohongan di sana. Menoleh ke samping tersenyum ke arah Will.


"Lo Jhena? Tadi katanya lo sempat ke toilet waktu kalian ber dua masih sama-sama di ruang lab. Siapa tahu lo ada lihat Neva di mana gitu?" Will bertanya dengan nada biasa dengan tetap menunjuk wajah tenangnya.


"Enggak ada," jawab Jhena menunduk.


"Ditanya itu lihat orangnya, jangan nunduk," timpal Rio menatap curiga pada Jhena.


Jhena menangkat wajahnya akan tetapi tidak berani membalas tatapan mata teman-temannya, tangannya mencengkram roknya.


"Enggak ada aku bilang, ya enggak ada!" ulangnya lagi meninggikan suaranya.


"Yang dibilangin ngangkat wajah, bukan membentak. Gimana sih," sahut Rio lagi menghardik.


"Kamu ngelihatin aku seperti menuduh aku ada dibalik penculikan Neva, aku memang gak tahu di mana Neva tadi. Aku dan Chatryn hanya melihat waktu Jhena dibawa orang itu ke dalam mobil. Itu saja! Tapi kamu entah dasar dari mana nuduh aku," Jhena mencerca menatap marah pada Rio.


"Siapa juga yang nuduh lo, PD!" Rio tersenyum geli.


"Tapi ya, Jhena, Chatryn. Masa kalian ber dua nggak lihat nomor plat mobilnya?" Will bertanya lagi.


"Hah," Chatryn menarik napas. "Gue nggak sempet lihat, yang pasti itu mobil warnanya hitam, body mobilnya bentuk mobil Kijang yang udah keluaran lama," Chatryn menjawab lugas.


Lagi, Yulan tersenyum kecil menoleh ke arah Will.


"Lo, Jhen?"


"Ya sama saja jawabannya dengan jawaban Chatryn. Lama-lama kalian seperti polisi yang mengintrogasi tadi, nuduh aku seenaknya," jawab Jhena nada meninggi.


"Eh. Bukan gitu, Jhen. Kaluan ber dua adalah saksi mata dari penculikan Neva, wajar kami bertanya seperti itu," ucap Yulan memberi pengertian.


"Udahlah, aku mau pulang aja," Jhena mendelik marah. Kakinya berlari meninggalkan teman-temannya.


"Amdreas," Will berkedip mengisyaratlan sesuatu pada Andreas. Andreas pergi menyusul Jhena, untung saja Jhena langsung terbujuk dengan rayuan Andreas.


Will menarik napas lelah setelah melihat tubuh Jhena sudah berada di atas motor yang dikendarai Andreas. "Ada yang tidak beres dengan Jhena," ungkapnya.


"Apa ya? Kok gue nggak yakin sama ucapan lo barusan, Will. Wajarlah dia marah kayak tadi, kalian tadi menyudutkan dia," bela Chatryn.


"Terus kita harus buat apa sekarang?" Bembi menimpali.


"Daniel sudah bersama Emdru sekarang. Kata Daniel, mereka ber dua lagi dalam perjalanan ke kantor Pak Arifin." Yulan menunjukkan layar peasan dari Danuel dalam ponselnya.

__ADS_1


"Semoga Daniel berhasil menyelipkan alat perekam suara itu di dekat Pak Arifin, itu juga salah satu cara yang harus kita buat," Will menenggelamkan wajahnya berharap akan rencananya dengan baik.


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2