Kisah ABG

Kisah ABG
Pertunangan


__ADS_3

Para tamu berbisik-bisik membahas acara pertunangan yang tidak kunjung dimulai, bahkan si pria dan keluarganya juga belum sampai. Aristo brrjalan gelisah mendesah kasar duduk di samping putrinya, menunduk malu tidak bernyali membalas pandanfan ke arahnya. Bukan main undangan yang datang adalah teman rekan bisnis dan fotografer terkemuka disewa untuk mengabadikan, dan sialnya lagi tamu undangan lebih banyak dari pihak Arifin. Belum lagi para paparazi sudah berkerumun mencoba msduk menerobos gerbang rumah, semuanya sangat kacau tidak terkendali.


Seseorang berpakain seragam pengantar chatring memasuki area taman dengan menundukkan wajah berjalan hati-hati disusul beberapa temannya menyusuri meja-meja memberikan makanan pembuka sambil menunggu acara dimulai. Ekor matanya melirik ke depan di mana Aristo sedang duduk bersandar gelisah, tersenyum tipis seraya bergeser ke meja berikutnya.


Tidak berapa lama datang juga seseoramg pria yang mengaku sebagai tamu bersikap biasa saja seolah dia memang tamu bergabung memberi salam satu sama lain. Memilih meja di sudut kiri paling depan, menyentuh gelasnya memutar menyembunyikan seringai licik di baliknya.


"Kapan acara dimulai? Saya sengaja datang terpambat ternyata belum juga dimulai," ucap pria itu bertanya pada salah seorang pria yang satu meja dengannya.


"Entahlah, Tuan. Sudah hampir dua jam lebih kami menunggu, bosan sekali. Mau pulang tidak diizinkan, banyak sekali alasannya," jawab pria itu ketus merasa kesal.


Mereka bertukar cerita sejenak menunggu lagi menunggu. Sampai satu tamu dari tengah taman berdiri berseru nyaring menjadi pusat perhatian.


"Kapan ini dimulai? Buang-buang waktu!" hardiknya berjalan menuju pintu keluar taman. Aristo menahan memberi pengertian begitu juga Nyonya Aristo mendekati yang lain membujuk duduk kembali. Inggrisa duduk gelisah menyaksikan semua ini dan meremas ponselnya menerima pesan beruntun teror dari teman seangkatannya, ia tidak menampik rasa bersapah pada papahnya membuat malu nama papahnya. Semuanya menjadi runyam bercampur aduk menelan pil pahit ini.


Arifin muncul di belakangnya ada Paramitha digandeng Endru dan sketarisnya, meminta maaf pada tamu menunduk berkali-kali.


Duduk kembali berdecak kesal MC memulai sambutan.


Endru dan Inggrisa duduk berdampingan tidak saling menatap, justru terlihat seperti yang musuhan saja.


Di sudut belakang barisan meja, pria berpakain seragam chatring terpaku menatap pria remaja di depan sana. Hatinya berdesir hangat ternyata mata dan perawakan tubih mereka sangat mirip, Michael kecilnya sudah tumbuh menjadi pria tampan, sayangnya dibesarkan oleh pria Arifin si jahat itu. Tidak sabar ingin rasanya memeluknya.


"Ahk, maafkan saya, Nyonya. Saya melamun tadi, yang bertunangan itu cantik dan tampan," ucapnya tergagap memberi alasan, tadi wanita ini menghampirinya dan menepuk punggungnya hingga dia terbangun dari lamunannya.


Mendorong troli tingkat ke sebelah kanan taman, menyusun makanan, lagi pandangannya terpaku pada sosok wanita yang masih sangat dicintainya, duduk di sebelah Arifin wajahnya pucat dan sorot matanya sangat sendu sekali. Mencengkram tiang troli erat, bergemuruh menahan rindu bertwhun sangat ingin berlari merangkul wanita itu lagi. Banyak pertanyaan muncul dibenaknya, mengapa badan Mitha sudah seperti tinggal tulang? Setelah mengumpulkan beberapa kemungkinan, pasti Mitha tidak bahagia bersama Arifin. Humm..

__ADS_1


Merasa diperhatikan, Mitha menoleh ke samping. Panik Michael menunduk merapatkan masker sibuk menyusun makanan lagi, jantungnya berdebar hampir saja ketahuan.


"Ada apa?" tanya Arifin melihat istrinya memandang fokus ke arah samping.


"Tidak, hanya mulai bosan saja," jawabnya berbohong. Mendengus kasar memperbaiki posisi duduk, suapa orang yang melihatiku dari tadi ya?


Tidak ada lagi sahutan, acara mau dimulai MC mengumumkan agar para orang tua berkumpul mendampingi anaknya.


Jantung Endru tidak karuan memulai semua ini, selama acara pemberian nasihat dari orang tua, ia hanya diam sesekali melirik ujung dekorasi taman. Apa yang akan terjadi setelah ini?


"Kita lanjut acara tukar cincin!" seru si MC bersemangat tersenyum lebar seraya memainkan mikrofon.


"Eeh, maaf. Apa saya boleh izin ke kamar mandi bentar, saya gugup jadi kebelet," ujar Endru pura-pura meringis.


"Silahkan," jawab Aristo mempersipahkan.


Hampir lima belas menit lamanya menunggu, berjalan kembali dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Padahal tamu undangan sudah resah mengatai si tuan rumah dan ke dua mempelai tunangan.


Di luar gerbang juga sedang ribut berdesakan memanjat gerbang rumah yang cukup tinggi demi meliput pertunangan dari jarak dekat, tapi sayangnya pihak penjagaannya sangat ketak tidak memberi masuk sekecil apa pun kemngkinannya.


Hingga perhatian mereka teralih pada beberapa anak sekolah turun dari mobil, hendak masuk tapi gagal sama saja dengan si wartawan.


Mereka ada empat orang siswa perempuan berjejer bingung setelah mendengar pertanyaan si wartawan dan sama-sama tidak boleh masuk.


"Jawab aja pertanyaannya, lumayan msuk tipi," ungkap salah seorang dari mereka berbisik pada teman yang paling maju menghadapi mikrofon yang berkumpul di depan wajahnya.

__ADS_1


Ini waktunya balas dendam, cewek berambut lurus ini tersenyum sinis, mereka ber empat tidak lain adalah korban pembulian Inggrisa dan Ratu and thegeng selama sekolah. Dengan lancar dan temang semua cerita Inggrisa memperlakulan mereka tidak baik di luar sekolah, menjadikan bahan cemoohan, keangkuhan Inggrisa yang masih tersimpan di memori. Dia selalu selamat dari hukuman karena wakil kepala sekolah yang sudah buyut itu, dan sekaranglah waktu yang tepat. Teman yang lainnya juga ikut ambil cerita, berita ini dengan cepat meluas di berbagai portal berita. Wartawan itu cukup puas, reporter pun turut meliput dari tempat kejadian. Ke empat cewek tersebut masuk mobil meninggalkan rumah Inggrisa dengan rasa lega. Pak Satpam terlambat datamgnya.


Tanpa mereka sadari, seorang pria berhasil melompat menyempatkan waktu yang sedikit saat si Satpam memarahii wartawan dan yang lainnya. Arman berlari menyusiri pekarangan rumah.


"Michael Alvendru, pasang cincinnya yang benar sedikit dong, dari tadi salah terus," umpat si MC dari mikrofon. Endru selalu melakukan kesalahan saat melingkarkan cincin di jari Inggrisa, mulai dari jatuh berguling ke tanah sampai salah pasang jari.


Sampai merasakan cubitan kasar dari jari papahnya yang memberi peringatan, meringis tertahan mengesah berat terpaksa memasang cincin tanpa senyum wajah datar.


Setelahnya giliran Inggrisa memasangkan cincin di jari manis Endru, menunduk wajah tidak berani membalas sorot tajam dari cowok di depannya ini. Meraih pergelangan tangan dengan hati-hati, tangan gemetar memasang melepas pergelangan tangan itu cepat-cepat. Tanpa seuntai kata, pasangan ini resmi bertunangan tanpa rasa cinta dan bahagia di dalam diri masing-masing.


Tepuk tangan meriah mengakhiri acara tukar cicin, ke dua pasangan berputar memghadap tamu tersenyum terpaksa tetapi tidak ada bergandeng tangan serta ciuman.


Si MC mengucapkan selamat dengan riang, Arifin menjabat tangan Aristo erat tersenyum bahagia hanya saja ia tidak menyadari atau tidak peduli dengan Aristo tidak seantusias dirinya.


Paramitha menerima uluran tangan mamah tiri Inggrisa biasa saja, sedari tadi bola matanya berputar mencari sosok bayangan pria pekerja chatring yang terus menarik perhatiannya.


Aristo membuka ponselnya yang terus bergetar menganggu konsentrasinya, membuka pesan yang beruntun di aplikasi hijau lalu menyentuh link yang tertera di dalam layar. Matanya memincing membaca berita tentang putrinya yang baru saja terpublis, dan sepertinya para tamu membaca hal yang sama, terdengar bisikan mengejek di antara mereka memandang rendah pada Inggrisa.


"Okeehh! Sekarang silahoan duduk dan nikmati hidangan yang tersedia. Karena kita akan bersama-sama mendengarkan dan menyaksikan, ummmm!" seru MC menggoda tamu membuat penasaran. "Ada yang menghadiahkan sesuatu untuk pasangan kita ini, tidak mau disebut namanya. Tetapi orangnya ada di sekitar kita, bersama kita juga. Apa kira-kira yaa!!"


Kali ini Arifin menegang, apa ketakutannya terjadi? Mana Adi putra, dia tidak melihatnya? Mengamati gerakan tangan si MC yang memasang benda menyambungkannya pada kabel loudspeaker.


Semua orang berseru mencaci kebencian pada Arifin, bahkan ada yang sudah merekam vidio kekacauan peata ini, rekaman suara itu diputar ulang volume lebih besar, membuat tamu semakin mengabadikan kejadian yang otomatis hasil rekaman itu juga terputar di dalam vidio tersebut.


"Ternyata seorang Arifin adalah pembunuh!" teriak salah seorang dari kursinya berdiri menggemparkan seluruh orang yang ada di taman.

__ADS_1


šŸ‘‡šŸ‘‡šŸ‘‡


__ADS_2